Senin, Januari 30, 2012

Partner dan Kebahagiaan

Beberapa waktu lalu, ada seorang sahabat L yang curcol (curhat colongan) mengenai peran partner bagi L. She asks me, "Kak Wil, sebenarnya apa sih tujuan utama L mencari partner...? Standar kriterianya tuh kira-kira seperti apa, sih...?".

Aku bertanya, “Kalo kamu pribadi, kenapa kepengen banget punya partner...?”. Jawabnya, “Aku ingin bahagia, Kak. Sendiri tuh ngga enak. Kalau punya pacar kan enak, ada yang merhatiin, ada seseorang yang bisa kita kasih perhatian, sayang-sayangan gitu, deh, Kak...”. GUBRAAAKK...!! Tujuan memiliki partner untuk memperoleh kebahagiaan. Weleh-weleh. Itu artinya meletakkan kebahagiaan kita di tangan orang lain, dong...? Dalam hal ini partner. Ada partner kita bahagia, ngga ada partner kita ngga (berhak untuk) bahagia. Sedemikian dangkalnyakah makna kebahagiaan bagi L...?! Please deh, jangan sekali-kali memiliki tujuan semacam ini dalam mencari partner. Sebab kebahagiaan sejati itu datangnya dari dalam diri dan merupakan tanggung jawab kita sendiri sebagai lesbian dan sebagai manusia. Menyedihkan sekali orang yang hanya menggantungkan hidup dan kebahagiaannya kepada cinta orang lain. Betapa kosong hidupnya. Lebih baik menjomblo jika memang kita belum memahami benar tujuan memiliki partner. Cobalah terlebih dahulu kita mengenali dan menyayangi diri kita sebelum mengenal dan menyayangi orang lain, belajar mandiri serta meningkatkan kualitas diri. Orang yang tepat akan datang pada saat yang tepat, yang hadirnya mampu melengkapi kekurangan kita dan sebaliknya. Berhenti memimpikan “kekasih maha sempurna” yang akan datang membawa “paket lengkap kebahagiaan”, dan ketika dia pergi, “seluruh paket” kebahagiaan itu pun ikut pergi bersamanya. Tak bersisa.

Kriteria adalah ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu (artikata.com). Awalnya aku berpikir kriteria akan terbentuk setelah kita menjalani proses pengenalan diri terlebih dahulu. Ternyata aku salah. Kriteria bukanlah harga mati dalam menemukan pasangan yang cocok. Terkadang kita memiliki keinginan-keinginan dalam hati atau pikiran akan figur orang yang menjadi pasangan kita kelak. Dalam proses mencari dan menemukan cinta sejati, kita pun berpapasan dengan orang-orang yang mendekati kriteria kita.

Perjumpaan dengan Ms./Mrs. Right dapat terjadi dalam dua kemungkinan. Pertama, setelah melewati tahapan mengenal diri sendiri, kita mulai memahami kriteria partner yang kita butuhkan. Kemudian atas berkat rahmat-Nya, kita dipertemukan dengan seseorang yang sangat sesuai dengan kriteria yang kita butuhkan. Kedua, dalam kondisi masih labil dan dalam proses pencarian jati diri, dimana belum memahami benar apa yang kita butuhkan, datanglah seseorang yang hadirnya mampu membuat hidup kita lebih terarah dan bermakna, serta banyak membawa perubahan positif.

Namun tak jarang, hubungan kandas di tengah jalan karena berbagai alasan. Kemudian kita akan menemukan dan menjalin hubungan yang baru dengan perempuan lain. Begitulah siklusnya. Terkadang ada yang menganggap kita terlalu pemilih. Bagiku memilih dan menunggu datangnya orang yang tepat bukanlah suatu hal yang buruk. Sebab semua orang layak untuk bahagia dan mendapatkan “yang terbaik”, dalam konteks yang sangat personal tentunya. Yang kita butuhkan adalah dia yang bersedia menerima ketidaksempurnaan kita, dan hadirnya mampu menyempurnakan kita, begitu pun sebaliknya. Jangan membentuk kriteria pasangan yang terlampau sempurna. Sebab takkan pernah ada kesempurnaan di dunia ini. Kesempurnaan yang sejati itu hanya milik Tuhan. Hanya Dia Yang Maha Sempurna.




January 27th, 2012
~ Wil Twilite ~
Jumat, Januari 06, 2012

Welcome Evanescence


Kemarin, sempat membaca di beberapa link berita favoritku, katanya Evanescence dipastikan akan hentak Jakarta pada 25 Februari 2012. Wow... what a great news...!! Secara aku udah ngefans berat sama Amy Lee Cs. semenjak album mereka yang Fallen. Selain lagu-lagunya yang oke punya (menurut aku), style misteriusnya Amy Lee tuh keren banget deh, plus lengkingan suaranya yang menggetarkan. Halah-halah, mulai hiperbola deh :p.

Intinya, aku berharap banget bisa nyaksiin konsernya secara langsung. Berharap ada yang ngajakin gitu. Ada ngga, ya...? Hehehe. Can't wait to hear "Bring Me to Life", in live concert... ^^


How can you see into my eyes like open doors...?
Leading you down into my core where I’ve become so numb
Without a soul my spirit's sleeping somewhere cold
until you find it there and lead it back home

Wake me up inside
Wake me up inside
call my name and save me from the dark

bid my blood to run
before I come undone
save me from the nothing I’ve become


(Bring Me to Life - Evanescence)



~ Wil Twilite ~
Selasa, Januari 03, 2012

it's your choice


Pada awalnya semua orang bangga dengan pilihannya. Tapi pada akhirnya tidak semua orang setia pada pilihannya. Ketika menyadari bahwa pilihannya mungkin tak sepenuhnya seperti apa yang diimpikan. Karena yang sulit dalam hidup ini bukan memilih, tapi bertahan pada pilihan. Sedikit waktu mungkin sudah cukup untuk menentukan pilihan. Namun untuk bertahan pada pilihan tersebut, bisa jadi harus menghabiskan sisa usia yang dimiliki.


a note by my friend,

June
December 12, 2011
Rabu, Desember 28, 2011

the precious one


How precious that someone for you,
your heartbeat doesn't always tells the truth...

So, which path should I follow
to find the answer...?



~ Wil Twilite ~
Jumat, Desember 16, 2011

Rumah, riwayatmu kini...


Malam minggu itu hujan turun tak henti, istilahnya awet. Di sela-sela membaca novel, aku pun iseng mainan twitter, membaca timeline yang sliweran di sana. Semua bicara tentang hujan. Dari versi romantisnya hujan hingga kemacetan jalan yang kerap terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Well, macet memang sudah tradisi, sih, yaaa... tapi semakin mantabs ketika di mix dengan hujan dan weekend, plus tanggal muda... hehehe...

Hmmm... itulah ironisnya zaman sekarang, dimana masyarakat urban cenderung tak betah dirumah. Buktinya, sekalipun diguyur hujan seharian, lalu lintas tetap saja padat. Semua mall pun dipadati lautan manusia. Fenomena ini selain menandakan daya beli masyarakat urban yang relatif tinggi, juga membuktikan bahwa mereka cenderung tidak betah dirumah dan lebih memilih menghabiskan waktu di luar rumah, salah satunya di mall.

Pemandangan seperti ini tentunya sudah tidak asing lagi, ketika banyak orang sliweran di mall, entah pasangan, teman, atau keluarga, sedang duduk-duduk di coffee shop, namun nyaris tidak berinteraksi satu sama lain, sibuk sendiri dengan gadget masing-masing (smartphone, tablet, notebook, playstation, dll). Pernah kulihat seorang ibu bersama 3 orang anaknya, masing-masing pegang notebook, termasuk ibunya juga. They don’t even have communicate to each other. Duh, Buuuu... mendingan dirumah aja, kaleee... ngobrol-ngobrol sambil minum teh dan menikmati cemilan buatanmu... Apalagi, kalau diperhatikan secara penampilan dan dari merk notebook yang mereka punya, kemungkinan besar mereka dari kalangan the have, rumahnya barangkali luas dan indah. Kalau orang Betawi bilang, rumah gedongan, dah... Tapi kenapa mereka prefer spending time at mall, yaa...? Dalam ‘kebersamaan’ yang sama sekali ngga berkualitas begitu, pulaaa...!! #TanyaKenapa...?

Rumah oh rumah, riwayatmu kini... Sudah semakin banyak rumah-rumah yang tak berjiwa, hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan raga setelah lelah beraktivitas seharian. Secanggih apapun inovasi teknologi menyediakan alat-alat rumah tangga modern nan praktis, tidak lantas membuat penghuninya betah di rumah, dan masih mencari hiburan di luar rumah.

Jadi, apakah fungsi rumah saat ini, selain sebagai tempat persinggahan semata...? Sebagai aset...? Sebagai tolak ukur tingkat kemapanan seseorang...? Atau hanya sekedar sebagai tempat menampung dan meletakkan barang-barang saja...? Oh, nooo...!! Kasihan nasibmu, rumah... :(

--------------
A house is made of walls and beams; a home is built with love and dreams ~ Anonymous

Home is not where you live, but where they understand you ~ Christian Morganstern

I long, as does every human being, to be at home wherever I find myself ~ Maya Angelou

Home is the place where, when you have to go there, they have to take you in ~ Robert Frost

Home is the place where it feels right to walk around without shoes ~ Anonymous

There's nothing half so pleasant as coming home again ~ Margaret Elizabeth Sangster

A man’s homeland is wherever he propers ~ Aristophanes

Not going home is already like death ~ E. Catherine Tobler

Luxuries are never so comfortable as are familiar, ordinary things of home ~ Eucharista Ward

Mid pleasures and palaces though we may roam, be it ever so humble, there’s no place like home ~ John Howard Payne

There is a magic in that little world, home; it is a mystic circle that surrounds comforts and virtues never known beyond its hallowed limits ~ Robert Southey

Home, the spot of earth supremely blest, a dearer, sweeter spot than all the rest ~ Robert Montgomery



~ Wil Twilite ~
December 10th, 2011
Senin, Desember 12, 2011

Coming Out Story (3) ~ Finish


August 23rd, 2008


Akhirnya, hari ini datang juga. Setelah janjian lebih awal dengan Gieza untuk cari kado buat Tata, kami berdua langsung menuju tempat janjian. Sambil menunggu Tata dan Nanda, kami memesan minuman sambil melanjutkan obrolan tentang cowok gebetannya Gieza. Kurleb 30 menit kemudian, Tata muncul, kami bertiga cipika-cipiki sambil pelak-peluk bak teletubbies, tak peduli tatapan sirik orang-orang di sekeliling kami, hehehe.

Lumayan lama kami ngobrol bertiga sebelum akhirnya Nanda datang. Dari jauh dia sudah melambaikan tangan ke arah kami, Gieza dan Tata membalas lambaian tangannya, cuma aku aja yang tampak menunduk, seolah sedang asik (akting) menyeruput minumanku, dan mulai merasa ngga nyaman, entah kenapa.

Setelah bergabung, Nanda ngga langsung duduk, dia cipika-cipiki dulu sama Tata, ketawa-ketiwi, terus dia nyamperin Gieza, mengacak-acak rambut Gieza yang rada di highlite. Akhirnya, sampai deh ke aku, dia sempat melirikku sekilas sebelum akhirnya menghampiriku sambil menyapa, “Wil…”, aku berdiri dan langsung disambut pelukan hangat plus cipika-cipiki juga, seakan ngga terjadi apa-apa diantara kami. Aku pun berusaha mengimbangi sikapnya dihadapan dua teman kami ini, kubalas sapanya, “Nda…”.

Kami memesan makanan dan mulai ngobrol macam-macam, bercanda dan saling meledek. Terasa sekali suasana hangat layaknya reuni kecil yang berjalan menyenangkan karena aku dan Nanda sama-sama mampu menjaga sikap dihadapan Tata dan Gieza. Hingga adzan maghrib berkumandang. Tata dan Gieza bergegas ke musholla mall, sedangkan aku dan Nanda secara kebetulan sama-sama sedang periode. So, we’re alone now.

“Ehem, sehat, Wil…?”, Nanda mulai membuka percakapan.

“Alhamdulillah. Lo sendiri, kemana aja...?”, jawabku sambil berusaha rileks.

“Ada. Gue emang sibuk belakangan ini, sorry ya kalo gue terkesan menghindar...”

“Ngga apa-apa sih. Gue bisa ngerti kok, pengakuan gue pastinya ngga bisa langsung lo terima gitu aja. Well, sekarang, selanjutnya kita akan gimana, Nda...?”

“Hmmm, maksudnya...?”, tanyanya sambil mengerutkan dahi, tidak memahami pertanyaanku.

“Ya… lo masih bisa nerima gue sebagai sahabat lo, Nda...?”

Nanda terdiam beberapa saat sambil menyeruput juice-nya. “Hmmm, I’ve been thinking...”

“And….?”

“Ngga seharusnya gue merasa kecewa dengan jalan yang lo pilih, karena itu hidup lo. Dan gue juga sempat sharing sama Evan..….tenang, gue ngga nyebutin kalo itu lo…”, ralatnya saat melihat tatapan shock-ku mendengar nama Evan, bosnya yang gay itu, karena aku sudah kenal secara langsung. Lalu dia melanjutkan…

“Gue seharusnya bersikap lebih wise ke elo, Wil... Menghargai kejujuran lo itu... Bukannya malah lari dari lo bak seorang homophobia, sekalipun emang ngga mudah menerimanya, kalo sahabat gue ternyata lesbian...”

Aku menghela nafas panjang, kemudian kubilang, “Lo tau Nda, butuh waktu yang cukup lama buat gue sebelum akhirnya gue memutuskan untuk coming out sama elo... ini sangat sensitif… this is my big secret which is I don’t wanna let anybody knows... tapi gue butuh seseorang yang sangat gue percaya atas rahasia gue ini, untuk membuat gue merasa diterima, dengan perbedaan yang ada di diri gue... paling tidak, oleh sahabat gue yang udah seperti saudara buat gue, yaitu elo…”

“Iya, Wil. Maafin gue, ya. Gue kekanakan banget. Padahal gue aja banyak kekurangan, lo selalu mau memahami dan menerima. Lo adalah satu-satunya orang yang masih percaya sama gue, ketika orang-orang meragukan gue. That’s mean a lot for me, Wil. Sekarang gue sadar sepenuhnya bahwa perbedaan pada dasarnya ngga pernah jadi penghalang kedekatan kita selama ini...”

“Lo tau, Nda... Kemarin tuh gue udah pasrah loh, kalo lo akan menjauh dari gue setelahnya... Itu resiko gue coming out...”

Mata Nanda berkaca-kaca, seraya mengulurkan kedua tangannya, menggenggam erat kedua tanganku. Kehangatan persahabatan kembali mengalir diantara kami.

Sejenak kami terdiam, sayup-sayup terdengar lantunan lagunya Opick yang ‘Rapuh’ di resto itu. Setelah berapa lama, Tata dan Gieza pun kembali. Kami sempat cekakak-cekikik sebentar sebelum akhirnya waktu menunjukkan sudah jam 19.00 WIB, kami sepakat bubaran. Tata dan Gieza tempat tinggalnya searah dan naik bus yang sama sampai terminal Kampung Melayu, sedangkan aku dan Nanda biasanya menunggu bus di halte yang berbeda dengan Tata dan Gieza, jadi kami berdua masih jalan bareng sampai ke halte yang sama, dan melanjutkan obrolan.

“Wil…”

“Hmmmm….”

“Sebenernya, banyak yang mau gue dengar tentang masa lalu lo yang selama ini udah berhasil lo sembunyiin dengan sukses dari gue. Ya… kalo lo ngga keberatan untuk cerita sama gue, sih...”

“Ya…gue sih ngga keberatan, Nda. Kapan ya, gue certain semuanya ke elo...?”

“Gini aja, gimana kalo lo nginep di kost gue aja...? Lo kan udah lama tuh, ngga nginep di kost gue...”

“Sekarang juga, maksud lo…? Tapi kan gue ngga bawa baju, Nda...”

“Halah. Biasanya juga dulu elo sering nginep dadakan kaya gini, terus pakai baju kerja gue besoknya buat ngantor, hehehe...”

Akhirnya aku menginap di tempat kost Nanda, dan malam itu aku mulai membuka satu-persatu rahasiaku, tentang Luna, dan perjalanan rahasiaku menapaki dunia ‘the other’. Nanda mendengarkan dengan seksama cerita-ceritaku sambil sesekali berkomentar. Akhirnya, terlepas sudah satu beban di pundakku, sahabatku mau menerimaku apa adanya. Ternyata, bulan suci Ramadhan memang mendatangkan berkah, membuka pintu maaf antar sesama manusia, menjalin kembali tali silaturahmi yang sempat terputus, dan bahkan mengumpulkan 4 orang sahabat yang sudah cukup lama tidak berkumpul bersama, terlebih lagi akan ada pertemuan berikutnya untuk acara buka puasa bersama di bulan penuh rahmat ini.

Cahaya-Nya, ternyata masih menyinari sisi kehidupan yang diliputi kegelapan, kasih sayang-Nya, ternyata benar-benar menyentuh kedalam kalbu umat-Nya, tanpa pilih kasih. Tak ada yang pantas dihaturkan kehadirat-Nya selain rasa syukur, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan diriku….Big Thanks, to the owner of this life, My Lord, Allah SWT.


~ Wil Twilite ~
Sabtu, Desember 03, 2011

hadirku untukmu


Aku adalah sepotong kayu yang terserak di hutan, dengan kayu itu kau sangga dahanmu yang terkulai...

Aku adalah butir-butir pasir yang mengisi rongga-rongga dan celah-celah karangmu yang terkikis hempasan ombak...

Aku adalah binar biru yang akan merangkum merah jiwamu menciptakan pendar jingga yang lebih indah dari warna-warni yang kita punya...

Aku adalah kisah yang hadir di sepenggal usiamu tapi kupastikan kenangan itu mengantarmu disetiap helaan nafas yang tersisa...

Aku adalah perbedaan yang akan menghiasi nuansa ruang hidupmu...

Maka, berhentilah mencari kisahmu di perjalanan waktuku dan biarkan keberadaanku melengkapi kata demi kata yang sedang kau rangkaikan menjadi sebuah cerita...

22.07.09
Me



Sahabat, aku menemukan puisi darimu ini masih tersimpan rapih di lembaran rahasia kita, dulu... Ternyata kangen, saat-saat kebersamaan kita dulu, ya...

~ Wil Twilite ~
Senin, November 28, 2011

kolam (ikan) air tawar


Kolam itu penuh (bayangan) ikan-ikan dalam keriuhan, berkecipak-kecipuk saling mencari perhatian. Mulut mereka megap-megap seolah berbicara, namun hening tanpa suara. Tak jelas mana ikan yang tua dan yang muda. Sebab dalam kata seolah semua melebur mewujud bayang semu yang bergentayangan seperti hantu.

Aku pun tak lagi mengenali mana species purba, mana species yang baru menetas. Di kolam itu semua ikan tampak seusia. Dan nama-nama purba sudah banyak ber-regenerasi.

Ikan-ikan kerap berdatangan, bermunculan, meramaikan kolam air tawar itu.



~ Wil Twilite ~
Rabu, Oktober 26, 2011

JoJoBa – semua akan indah pada waktunya


Jika diantara kalian saat ini ada yang bertanya-tanya, "Kenapa sih, aku masih saja menjomblo...? Padahal tampang ngga jelek-jelek amat, otak lumayan encer, wawasan boleh diadu, dari segi usia pun aku sedang lucu-lucunya untuk pacaran...” Halah, yang terakhir itu memang lebay deh... :p

Janganlah berkecil hati jika masih jomblo. Sebab jomblo itu tidak selalu mellow. Disaat sedang menjomblo, justru mata hati kita dapat lebih terbuka untuk melihat dan lebih memperhatikan sekeliling. Sebelum perhatian kita tercurahkan untuk seseorang berlabel “pacar”, marilah kita beri perhatian pada lingkungan terdekat kita, alih-alih sambil menunggu datangnya sang pacar impian yang kehadirannya masih ditangguhkan oleh Tuhan. Lalu, siapa sajakah lingkungan terdekat yang layak mendapatkan perhatian kita...?

Yang pertama adalah keluarga. Meluangkan waktu yang berkualitas di rumah bersama seluruh anggota keluarga bisa terasa lebih menyenangkan dari sebelumnya. Ngobrol-ngobrol dengan papa, mama, kakak, adik dan penghuni rumah lainnya menjadi lebih berarti disaat kita sedang jomblo. Kehangatan kasih sayang mereka akan selalu ada dan membuat kita merasa nyaman karena merasakan penerimaan seutuhnya, sehingga tak lagi merasa sendirian.

Yang kedua adalah persahabatan. Sahabat disini bisa sahabat lesbian maupun sahabat straight. Tergantung sisi diri kita yang mana yang lebih eksis, hehehe. Sahabat merupakan orang terdekat kita diluar keluarga, bahkan kedekatan hati dengan sahabat seringkali membuatnya memiliki arti yang sangat besar dalam hidup kita. Bagi mereka yang broken home, peran sahabat biasanya lebih besar dari keluarga. Kita dapat menjadi diri sendiri, bercerita tentang apa saja tanpa harus merasakan sungkan atau malu. Menangis dan tertawa disisinya, bersamanya.

Yang ketiga adalah aktivitas-aktivitas lainnya. Misalnya sekolah, kuliah, pekerjaan, atau hobi yang digeluti. Mumpung sedang jomblo, kita bisa lebih berfokus pada aktivitas-aktivitas ini. Bagi yang masih sekolah dan kuliah tentunya akan memiliki waktu belajar lebih banyak untuk meningkatkan prestasi. Jika berprestasi, bukan hanya diri sendiri yang merasa bangga, keluarga dan orang-orang terdekat juga akan ikut bangga atas prestasi yang kita raih. And then, hmmm... siapa sih yang ngga mau dekat-dekat sama orang berprestasi...? Tentunya peluang untuk dapat pacar jadi lebih terbuka dong... Yukmareee... ^^

Begitupun dalam dunia kerja, masa-masa jomblo sangatlah tepat dimanfaatkan untuk berfokus dalam pengembangan karier. Bisa lembur tanpa protes dari pacar yang merasa kurang diperhatikan, fleksibilitas waktu untuk bertemu klien pada jam kerja maupun diluar jam kerja tanpa intimidasi pacar lewat handphone, contohnya, “Darl, kamu ketemu klien yang mana lagi sih, masa tiap hari...?”. Halah-halah, rempong. Dengan demikian, kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang tentunya memungkinkan juga untuk ‘berpapasan’ dengan ‘seseorang’. Yah, kali-kali aja kita lagi hoki gitu, secara ngga sengaja ada klien atau rekan bisnis yang ternyata lesbian jojoba juga seperti kita dan sedang hunting partner, terus klik sama kita. Who knows...?

Dan melalui hobi yang kita tekuni, misalnya kalau hobi membaca, kita bisa ikutan klub membaca yang tentunya banyak member perempuannya dwooonk; atau kalau hobi nge-gym, bisa sambil cuci mata dan tepe-tepe ditempat gym, siapa tahu dapat kenalan baru. Berawal dari kesamaan minat, mungkin kelak bisa berlanjut kedalam hubungan yang lebih dekat lagi. Teuteuuuup ngareeep :D

Intinya, kesabaran kita menanti datangnya seseorang yang istimewa, kelak akan sebanding dengan kualitas seseorang yang akan menjadi pasangan kita. So, ngga perlu lagi kita mellow-yellow hanya karena masih jomblo. Lebih baik kita tanamkan satu keyakinan dalam hati, bahwa setelah masa-masa kesendirian ini terlewati, akan datang seseorang yang menenteramkan hati, memperkaya jiwa, menyempurnakan ketidaksempurnaan kita, kehadirannya dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik, serta menjadikan hidup kita lebih berkualitas dan bermakna. Insya Allah, semua akan indah pada waktunya. Amiin Yaa Robbal Alamiin.

Aku teringat satu quote milik seorang temanku, “There must be someone out there is waiting for you. Someone who fits to your characters. Someone who will understand and take you just the way you are” ~ Nepenthes Hutan. So... don’t worry be happy, JoJoBa all around the world... ^^

*)JoJoBa : Jomblo-Jomblo Bahagia


~ Wil Twilite ~
Selasa, Oktober 25, 2011

Lost In Space


Sometimes I get tired of this me-first attitude
You are the one thing that keeps me smiling
That's why I'm always wishing hard for you

'Cause your light shines so bright
I don't feel no solitude
You are my first star at night
I'd be lost in space without you

And I'll never lose my faith in you
How will I ever get to heaven, if I do

Feels just so fine
When we touch the sky me and you
This is my idea of heaven
Why can't it always be so good...?

But it's all right, I know you're out there
Doing what you've gotta do
You are my soul satellite
I'd be lost in space without you

And I'll never lose my faith in you
How will I ever get to heaven, if I do



*) a beautiful song of Lighthouse Family