Sabtu, Oktober 17, 2020

Transit Girls (Japan Drama)

Ini ceritanya sederhana dan manis. Tentang Sayuri, seorang anak SMA yang sedang mengahadapi ujian akhir menjelang kelulusannya. Ibunya sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Kemudian ayahnya menghadirkan seorang wanita yang memiliki anak perempuan cantik yang usianya 3 tahun di atas Sayuri. Tante Madoka ini pun sangat cantik, Sayuri bisa mengerti kenapa ayahnya jatuh cinta. Mereka pun tinggal bersama di rumah Sayuri.


Yui, nama kakak tirinya itu, sangat pendiam dan tidak bisa ditebak. Dia adalah seorang fotografer. Awalnya Sayuri sangat membencinya tanpa alasan, namun suatu hari Yui mengecup bibir Sayuri dan peristiwa itu sangat membekas di hati keduanya dan sangat mengusik batin Sayuri yang mulai mempertanyakan orientasi seksualnya sendiri.


Sayuri memiliki sahabat masa kecil yang tinggal di sebelah rumah, Nao. Saat Nao menyatakan perasaannya, Sayuri mulai menyadari bahwa hatinya sudah tertaut pada kakaknya, Yui. Begitupun Yui yang baru pertama kali memiliki perasaan pada wanita, ia pun mulai menemukan dirinya yang baru, karena sebelumnya dia menjalin hubungan dengan pria.


Konflik ringan pun terjalin antara ayah Sayuri, Tante Madoka, dan Yui. Ada pula konflik ringan persahabatan Sayuri dengan teman sekolahnya yang naksir Nao, tapi Nao malah naksir dirinya.


Well, overall cerita ini ringan dan manis. Karakter Yui yang tenang telah menaklukkan Sayuri yang emosional dan secara tidak langsung mendewasakan caranya berpikir dan bersikap. Pun adegan kissingnya cuma lite-kiss aja, ngga ada yang vulgar, jadi ceritanya manis gitu deh.



Suka banget sama Tante Madoka dan Yui di film ini. Ibunya hot mama banget, anaknya andro kece yang gayanya cool banget, tapi hatinya hangat. So sweet filmnya.



~ Will Twilite ~

Senin, Oktober 05, 2020

Mistress - short review


Bercerita tentang 4 orang sahabat sejak masa SMA yang saat ini masih terjalin erat dengan latar belakang karir masing-masing.


Jang Se Yeon (Han Ga-in) adalah pemilik coffee shop tempat berkumpul dengan para sahabatnya. Ia seorang single parent yang masih memecahkan misteri suaminya yang telah menghilang selama 2 tahun. Tiba-tiba saja sering muncul telepon gelap yang mengaku suaminya. Belum lagi kemunculan wanita misterius yang menawarkan diri menjadi pengasuh anaknya, dan seorang pria yang merupakan ayah dari teman sekolah anaknya mulai mendekatinya secara intens.


Kim Eoun Soo (Shin Hyun-bin) adalah seorang psikiater yang tengah menghadapi kegelisahan atas kematian misterius dari pria selingkuhannya. Anak laki-laki dari pria itu terus mendatanginya di tempat praktek dan menuduh Eun Soo telah membunuh ayahnya. Konflik batin yang menghantuinya belum juga usai, ia harus terlibat dalam persoalan lain yang dihadapi oleh para sahabatnya juga.


Han Jeong Won (Choi Hee-seo) adalah seorang guru SMA yang mulai tergoda dengan rekan kerjanya yang lebih muda. Namun hal itu menjadikan rumah tangganya semakin rumit dan terungkapnya beberapa misteri tentang sang suami seiring hal itu. Ia juga bingung menghadapi kehamilannya yang menyisakan misteri anak siapakah yang tengah ia kandung.


Do Hwa Yeong (Goo Jae-yee) adalah seorang pengacara yang tengah menyelidiki kasus perselingkuhan yang ternyata melibatkan mantan pacarnya sendiri dan membuat mereka jadi CLBK. Hwa Yeong adalah seorang playgirl yang tidak suka berkomitmen. Berbagai kasus yang terjadi di sekitar para sahabatnya membuat dia mulai memikirkan masa depannya sendiri setelah terlalu banyak bermain-main dalam urusan percintaan.


Konflik pribadi masing-masing tokoh nantinya akan bertautan menemukan benang merahnya sendiri. Ada ujian dalam karir, persahabatan, dan cinta para tokohnya. Awalnya aku pikir ini hanya drama tentang affair saja, ternyata lebih dalam dari itu. Justru tentang persahabatannya yang lebih menyentuh karena mereka berempat merupakan pemain watak yang keren dan chemistry persahabatannya dapat banget. Film ini diawali dengan adegan penuh desah, diikuti konflik yang mengaitkan semua persoalan, dan klimaks yang penuh kejutan. Really an interesting one.


~ Wil Twilite ~

Kamis, September 17, 2020

Jo Yi Seo in Itaewon Class; Wanita dan Karakter


Itaewon Class
adalah salah satu drakor yang sudah saya tonton beberapa waktu lalu. Saya tertarik untuk menuliskan kesan tentang first female lead dalam film ini, yaitu tokoh Jo Yi Seo yang diperankan oleh Kim Da Mi.


Kesukaan saya terhadap drakor selain karena jalan ceritanya menarik dan pemaparan konfliknya bagus, tentu saja tidak terlepas dari aktris pendukungnya, dan terutama aktris wanitanya, dong.. hehehe..


Saya tertarik nonton Itaewon Class atas rekomendasi dari partner. Park Seo Joon (as Park Sae Royi) yang merupakan first male lead, bukan salah satu aktor fave saya, tapi saya akui aktingnya di film ini bagus. Kemudian tokoh wanita yang pertama kali dimunculkan adalah Oh Soo Ah yang diperankan oleh Kwon Nara. Di awal, saya mengira dia akan jadi first female lead karena muncul sebagai cinta pertama Sae Royi. Pastinya dia tampil cantik dan sangat dicintai oleh si tokoh utama. Tapi dari awal saya biasa aja sama karakter Oh Soo Ah ini, ngga ada gregetnya gitu deh.


Jo Yi Seo muncul di episode ke-3 film ini. Kesan pertama ngeliat penampilannya sungguh enggak banget deh. Anak berandalan banget yang bersikap seenak udelnya dan lagaknya tengil abis, plus dia tidak secantik Oh Soo Ah, pastinya. Tokoh Yi Seo ini mungkin sengaja dihadirkan ngga cantik dan ngga seksi, makanya Sae Royi sejak awal ngga naksir atau tergoda sama dia secara fisik kalik ya. Namun kemudian karakter Yi Seo ini semakin muncul dengan kejutan-kejutan yang bikin saya tersenyum, takjub, sampai jatuh cinta. Ya, Jo Yi Seo sungguh memiliki karakter kuat yang mengagumkan. Ternyata dibalik selenge'annya dia, dia sangat fokus ketika memiliki suatu tekad dan tujuan. Diawali dari dia naksir Sae Royi yang saat itu karakternya kacau balau, Jo Yi Seo berhasil mengubah Sae Royi beserta orang-orang terdekatnya menjadi manusia yang berbada dan bahkan menjadi think-tank kesuksesan usaha yang dijalankan oleh Sae Royi, dengan jalan berliku yang terjal penuh rintangan. 


Jo Yi Seo dan karakternya berhasil menyedot perhatian saya sepanjang film ini. Wanita memang tidak harus cantik untuk menjadi menarik dan loveable. Jo Yi Seo menunjukkan dan mengerahkan segala potensi yang ada dalam dirinya untuk membantu orang yang dicintainya, dengan bersedia pula menerima segala kekurangan orang itu, plus menerima paket lengkap "keluarga" Sae Royi yang karakternya unik-unik. Awalnya kehadiran Yi Seo dirasa sangat mengganggu mereka, hingga akhirnya semua orang menyayanginya dan berterima kasih karena Yi Seo lah yang membawa mereka mewujudkan semua hal yang selama ini sebatas angan dan mimpi semata tentang bagaimana meraih sukses setelah mengalami keterpurukan yang panjang dalam hidup.



Jadi, tidak melulu first female lead yang cantik menjadi daya tarik untuk menyaksikan drakor maupun film-film jenis lainnya. Wanita yang berkarakter jelas jauh lebih menarik dibandingkan wanita yang hanya cantik saja. Itu berlaku dalam kehidupan yang sesungguhnya. That's why saya juga ngga begitu tertarik sama wanita yang hanya cantik luarnya saja sebelum mengenal karakternya seperti apa. Inner beauty is the best part of a woman. Jo Yi Seo, sarange... 


~ Wil Twilite ~


Minggu, September 06, 2020

Ruang untuk Kenangan

Jika hati dan rasa dapat berubah, lalu apa yang abadi? Bahkan seiring laju usia, begitu banyak hubungan yang berubah. Hubungan dengan orangtua, keluarga, sahabat, pertemanan, apalagi hubungan kerja atau yang hanya berlandaskan kepentingan semata. Istilahnya, tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Mungkin, perjalanan hidup semakin membuktikan hal itu, mungkin.


Berbahagialah orang-orang yang hingga usianya mendekati 40 tahun dan masih memiliki hubungan yang begitu manis dengan kedua orangtua atau salah satunya saja, dengan kakak maupun adik, saudara sepupu dan sanak famili lainnya. Pun berbahagialah orang-orang yang pada akhirnya seiring bergulirnya waktu, menemukan siapa sahabat sejatinya, diantara begitu banyak kawan yang selama ini kita anggap atau menganggap kita sahabat. Berbahagialah juga orang-orang yang dalam perjalanan karirnya menemukan kawan yang secara langsung atau tidak, secara sadar atau tidak, mengantarkan atau mendampingi perjalanan menuju kesuksesan karir.


Kemudian, apa yang tertinggal? Catatan perjalanan yang membentuk kenangannya sendiri. Sudah berapa lama kita melalui semua ini? Siapa saja orang-orang yang telah datang dan pergi dalam hidup kita? Siapa pun yang menorehkan luka dan bahagia, mereka tak terelakkan menjadi bagian dari kenangan, ketika mereka tak lagi kita perkenankan untuk terus berada di sisi langkah kita selajutnya. Hanya cukup menjadi bagian dari kenangan.


Lalu, patutkah, atau perlukan kita memberikan ruang untuk kengan-kenangan itu? Perlukah kita mengingat setiap luka pula, sebagaimana kita sering tersenyum bila mengingat kenangan manis saja? Tentunya kita dapat memilih hadirkan kenangan manis saja, bila kita kehendaki. Kita hanya butuh senyuman, penghiburan, dan pelipur lara dari semua itu. Namun, tak terelakkan kengan-kenangan getir itu pun seringkali muncul bersama kenangan-kenangan yang manis. Alasannya, tentu saja setelah kenangan manis itu usai atau berlalu, apa kemudian hal yang mengikutinya, yang menjadikannya berlalu? Ya, umumnya demikian.


Memberi ruang untuk kenangan bukanlah sesuatu yang seperti memberikan tempat bagi barang-barang agar tersimpan dengan baik dan memudahkan kita mencarinya tatkala kita membutuhkannya kembali. Ruang itu hampa, dan tiada memiliki batasan yang nyata. Apakah ruang itu gelap? Mungkin, karena cahayanya redup sebab merupakan sesuatu yang sesungguhnya sangat ingin untuk dapat kita lupakan. Dan, kenangan yang terang benderang? Itulah kenangan yang kan selalu menjadi alasan dan penguat bagi kita untuk terus melangkah ke depan.


Sejatinya, kita bukanlah diciptakan dari cahaya seperti malaikat. Kita hanyalah insan dengan sisi terang, sisi redup, bahkan sisi gelap yang terbentuk dari setiap langkah yang kita ambil sejak kita mulai menjalani hidup dengan pilihan-pilihan di setiap persimpangan jalan. Tak lepas pula dengan siapa saja kita telah berpapasan dan beririsan di daerah arsiran, dengan begitu banyak orang.


Mari terus melangkah, Jangan biarkan setiap kenangan muncul sesuka hatinya dan mengusik langkah kita ke depan. Berikan saja ruang yang cukup bagi mereka untuk tinggal. Ruang yang yang perlu kita pikirkan, apalagi terus menerus kita bawa. Sungguh itu hanya akan menjadi beban di langkah kita. Berdiamlah, wahai kenangan, di tempat yang telah disediakan. Janganlah pernah muncul tanpa diinginkan. Sebab kini aku telah memiliki perasaan dan pemikiran yang jaub berbeda dari sebelumnya, serta pengendalian diri yang lebih baik. Takkan kubiarkan diri ini larut dalam arus kenangan yang terlampau deras tak terbendung. Sssshhhhh... just be quite there, memories...


~ Wil Twilite ~

Minggu, Agustus 02, 2020

Malam Panjang


Malam-malam yang panjang, kualami sejak awal pandemi ini membuatku menjalani work from home (WFH). Entah karena khawatir dengan pandemi ini sendiri atau karena sebab lainnya, aku menjadi insomnia setiap malam. Ya, setiap malam, tanpa kecuali. Biasanya pukul 22.00 WIB pada hari-hari kerja, aku sudah mengantuk. Mungkin rutinitas itu pada dasarnya memang melelahkan atau gimana, etahlah.


Dan malam-malam panjang pun kulalui dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Memang malam-malam itu selalu terasa tenang dalam keheningan yang menyelimutinya, but some quite nights are not peaceful nights. Not at all. Insomnia diikuti oleh overthinking, mostly. Ketika insomnia melanda, kemudia muncullah si overthinking ini. Mengusik dan mengganggu. I'm in a toxic relationship with my sleep

Sudah kucoba segala cara agar terlelap, salah satunya dengan nonton drakor yang kukira akan dapat membuat mata lelah bila ditonton pada jam-jam segitu. Ya, memang pada akhirnya mata lelah, namun kantuk tak kunjung jua menyapa. Huft. Hingga akhirnya aku tak tertahankan, mencari alternatif obat tidur apa yang aman untuk dikonsumsi. Sungguh selama ini ngga pernah terpikir bakalan mencicipi itu yang namanya obat tidur. Dan karena worry kalau sembarangan beli, aku memberanikan diri konsultasi dengan seorang teman dokter yang kukenal baik, dan dia menyarankan melatonin yang mg nya paling kecil saja. Aku pun nurut. Tapi tidak sampai sebulan aku kemudian menghentikannya karena ngga ingin keterusan. 


Malam-malam panjang yang tak terelakkan. Aku pun memilih untuk menghadapinya. This overthinking thing takes me to places I didn't plan to going. Aku seperti berselancar membelah ombak-ombak kenangan dalam ingatan yang terbatas namun meluas dalam ketidakterbatasan yang absurd. Aku sering seolah terbangun dari mimpi padahal ternyata aku bahkan belum sempat terlelap. Sick!! But I have to face it. This is my battle and I'll fight to win...!!


Kemudian waktu bergulir dan banyak hal yang terjadi. Istilah new normal pun mulai digembar-gemborkan sebagai sesuatu yang merupakan alternatif baru melewati pandemi ini. New normal? Really? Sepertinya sulit untuk memaknai normal itu sendiri setelah segala yang kita leati bersama dalam kecemasan yang panjang dan belum terlihat ujungnya pun.


Tapi ini sudah memasuki Agustus. Sudah semestinya kembali pada rutinitas baru yang tak terelakkan di kantor karena mulai diberlakukannya work from office (WFO) secara bertahap. Semoga sehat-sehat selalu dan senantiasa diberi kekuatan untuk melalui semua ini sebagai bagian dari proses pendewasaan dan pematangan diri. Dan semoga malam-malam panjang pun segera berlalu. Aku sungguh rindu pada waktu tidurku yang berkualitas. Aku sungguh rindu pada kehidupan yang wajar adanya seperti sedia kala. Aku sungguh rindu pada interaksi dengan manusia lainnya. Aku sungguh rindu berjalan-jalan di area terbuka diantara orang yang lalu-lalang, dan tentu saja menikmati makan dine in di restoran dan juga ngopi-ngopi cantik dengan sahabat sepulang dari kantor. Ah, kapan semua itu akan kembali seperti sedia kala?


~ Wil Twilite ~

Jumat, Juli 31, 2020

Demam Drama Korea (DraKor)

Semenjak diterapkannya work from home (WFH) oleh kantor di masa pandemi ini, aku jadi demam nonton drama korea lagi setelah sekian lamanya.


Ya, dulu sekitar tahun 2004, aku pernah ada masanya seneng banget nonton drakor. Pertama kali jatuh cinta sama artis cantik Song Hye Kyo di film Full House, terus lanjut nonton filmnya dia juga, Autumn In My Heart yang tiap episodenya menguras air mata tiada tara. Drakor berkesan lainnya pada masa itu Sassy Girl Chun Hyang, tapi aku ngga ikutan ngefans sama artisnya. Song Hye Kyo is the best lah pokoknya.


Seiring waktu bergulir dan aku mulai semakin disibukkan oleh begitu banyak hal seperti urusan keluarga, pekerjaan, pertemanan, dan urusan-urusan lainnya, maka boro-boro ada waktu untuk nonton serial yang panjangnya rata-rata 16 episode per judul. Sepupuku padahal selalu ngasih aku drakor setiap kali dia anggap ada yang bagus, bahkan aku selalu dikasih flashdisk yang isinya drakor-drakor pilihan dia, yang ternyata sudah ada puluhan banyaknya, namun tak satu pun sempat untuk kutonton. Hingga kini, akhirnya aku kembali merambah hobi nonton drakor.


Pilihan pertamaku jatuh pada film Crash Landing On You (CLOY) yang lagi happening di awal tahun 2020 ini. Aku pun langsung jatuh cinta pada tokoh Yoon Se Ri yang diperankan oleh Son Ye Jin. Jalan ceritanya pun menarik dan bisa dibilang cukup baru alias ngga pasaran. First lead male nya pun Hyun Bin yang tergolong kategori cowok banget kalau dibandingkan dengan aktor-aktor Korea yang mostly sweet or pretty boys. Intinya, aku jatuh cinta sama film ini dan kemudian mulai melirik judul-judul lainnya untuk mengisi waktu di sela-sela WFH.



Anyway, kenapa aku jadi nonton CLOY pada awalnya juga karena partner ikutan maksa-maksa aku nonton. Doi juga mulai nonton drakor saat WFH. Disamping itu anak-anak kami saat ini sudah beranjak remaja, jadinya suka deh sama korea-koreaan gitu. Demam korea pun tak terelakkan lagi melanda kami dan anak-anak gadis di rumah.


Setelah menonton beberapa film, selanjutnya yang bikin saya jatuh cinta adalah Hotel Del Luna. Drakor yang satu ini juga mengangkat tema yang ngga umum, dan menampilkan sisi gelap tokoh utamanya, yang saya suka banget, Jang Man Wol yang diperankan oleh Lee Ji Eun (IU). Saya pun kemudian jatuh cinta sama IU karena selain aktingnya bagus, dia juga cantik dan bersuara merdu. Dia juga penyanyi yang lagunya udah banyak. Aku pun jadi mendengarkan beberapa lagunya, tapi ngga banyak yang aku suka karena genre nya lebih ke abege. Beberapa lagu ballads nya bagus sih.


Kembali ke laptop, aku juga menonton film-film Song Hye Kyo pastinya. Setelah Full House yang produksi tahun 2003, udah jadul banget, aku nonton Encounter produksi tahun 2019. Sungguh takjub tiada tara melihat Song Hye Kyo yang ngga berubah dan tak menua sedikit pun di film itu. Amazing! Gimana bisa wajahnya bak di formalin begitu, coba? Ckckck!! Selanjutnya semua film Song Hye Kyo pun aku tonton.



Ada satu artis cantik lagi yang memanah hatiku.. eeeaaakkk bahasanya!! Jun Ji Hyun. Setelah nonton Legend of the Blue Sea dan My Love From The Star, aku pun klepek-klepek sama mommy yang satu ini karena seksinya ngga ketulungan banget, cantik pulak. Iya, dia udah menikah dan punya dua anak tapi body masih aja seksi bak perawan. No wonder juga sih secara dia artis dan kabarnya suaminya tajir melintir jugak. Ya udah lah yaa...


Sementara sekian dulu tema drakor kali ini. Next, kalau aku ada mood, aku akan nulis lagi.


~ Wil Twilite ~

Selasa, Juni 23, 2020

Generasi Sandwich

Belakangan ini sering muncul istilahnya "perempuan generasi sandwich", apa sih maksudnya? Mungkin tulisan dari Cosmopolitan ini bisa memberi pencerahan. 

 

Konsep dan Definisi

Istilah sandwich generation pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy Miller dan Elaine Brody di 1981 yang awalnya istilah itu merujuk pada kaum wanita di umur 30-an sampai 40-an yang selain harus merawat anak-anak mereka juga masih harus memenuhi kebutuhan orangtua mereka, bos, teman-teman, dan orang lain di sekitar mereka.

Namun, pada perkembangannya fenomena ini tak hanya dirasakan oleh kaum wanita saja, tapi juga lelaki dan cakupannya pun meluas, mulai dari umur 20-an sampai 60-an. Demografinya mungkin berubah, namun secara konsep istilah ini masih sama, yaitu generasi yang “terjebak” di tengah dan harus menyokong generasi di atas dan di bawahnya yang masih harus bergantung pada bantuan mereka.

Carol Abaya, seorang ahli di isu demografi Amerika Serikat lantas mengategorikan beberapa skenario berbeda yang mungkin dialami generasi sandwich saat ini, yaitu:

Traditional Sandwich Generation: Mereka yang berada di tengah orangtua yang menua dan butuh bantuan dan anak-anak mereka yang masih diasuh dan belum bisa mandiri.

Club Sandwich: Mereka yang berumur 40, 50, dan 60-an yang berada di tengah orangtua mereka yang di usia senja, anak-anak yang sudah dewasa, dan cucu mereka. Namun istilah ini juga bisa dipakai untuk orang berusia 20, 30, 40-an yang bertanggungjawab untuk anak-anak mereka, orangtua, dan kakek-nenek mereka. Intinya istilah ini dipakai bila lapisan generasi yang terlibat lebih bertingkat.

Open-faced Sandwich: Siapapun yang ikut terlibat dalam mengurus orang lanjut usia.


Tantangan Generasi Sandwich

Menjadi bagian dari Generasi Sandwich seringkali kita dihadapkan pada tekanan finansial karena memang pendapatan habis dipakai untuk membiayai banyak orang, mulai dari orangtua yang sudah pensiun dan mungkin mulai sakit-sakitan, anak yang butuh biaya sekolah, dan tentu saja kebutuhan untuk diri sendiri dan pasangan (kalau ada) yang juga harus diperhatikan dan dipenuhi.

Selain masalah ekonomi, Generasi Sandwich juga dihadapkan pada masalah menjaga kesehatan diri sendiri secara fisik dan mental, menikmati waktu personal, dan perkembangan karier yang mungkin terhambat karena harus berkorban secara waktu, contohnya memutuskan resign dari kantor untuk mengurus usaha keluarga atau kerja di rumah agar bisa punya waktu merawat orangtua maupun anak.

Walaupun hal ini dialami baik oleh pria dan wanita, namun pada praktiknya ada perbedaan dari bagaimana masyarakat memandang fungsi keduanya. Kaum pria dianggap sudah bertanggungjawab bila mampu memenuhi kebutuhan ekonomi saja, namun bagi kaum wanita ada tekanan lebih bahwa mereka juga diharapkan untuk membantu secara emosional dan fisik. Ibaratnya, pria cukup menyisihkan gaji mereka namun bagi wanita selain mencari nafkah, mereka juga diharapkan mengerjakan pekerjaan rumah, mengasuh anak dan orangtua, hingga urusan dapur.

Merawat orangtua sekaligus mengasuh anak jelas bukan pekerjaan mudah dan menguras waktu, emosi, dan ekonomi. Ketika semua hal itu seolah tak ada habisnya dan rasanya selalu saja ada masalah baru dan pengeluaran yang harus dibayar hingga kamu tak sempat bersantai atau melakukan hal yang kamu suka, hal ini bisa berakibat negatif pada kesehatan mental dan fisikmu. Depresi, stres, dan kecemasan adalah momok yang menghantui Generasi Sandwich. Perasaan terisolasi, terjebak, tak punya tempat bercerita, dan perasaan bersalah pun sering menimpa Generasi Sandwich yang meskipun sudah berusaha keras namun merasa gagal dan belum bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga mereka.


Faktor Pendorong Generasi Sandwich

Meskipun istilah Generasi Sandwich berasal dari Barat, namun faktanya hal ini bukan asing bagi penduduk di belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia. Di Indonesia, Generasi Sandwich justru menjadi hal yang lumrah karena berbagai faktor, seperti:

1. Kultur Kekeluargaan

Indonesia masih menganut paham kekeluargaan yang kental di mana seorang anak yang sudah bekerja seakan wajib membalas budi orangtua dengan membiayai mereka di hari tua. Mayoritas dari kita tentu merasa itu hal yang sudah sewajarnya karena tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah dilakukan oleh orangtua ketika membesarkan kita. Walaupun berat, namun hal ini harus dilakukan dengan ikhlas. Kita pun mungkin mengharapkan hal yang sama dari anak kita kelak, namun sebetulnya hal ini bisa menjadi lingkaran setan yang tak putus dan hanya akan memberatkan generasi-generasi berikutnya.

Takut dicap durhaka juga membuat banyak orang Indonesia enggan memilih opsi panti jompo untuk orangtua lanjut usia. Hasil Survei Ekonomi Nasional 2017 yang dilansir Katadata (April 2018) mengungkap sebanyak 62.64% kaum lanjut usia di Indonesia tinggal bersama anak dan cucunya. Selain beban ekonomi, seringkali tinggal bersama dengan orangtua juga menyebabkan ketidakharmonisan antara mertua versus menantu yang menambah beban pikiran.

2. Perencanaan Finansial yang Kurang

Minimnya pengetahuan tentang perencanaan keuangan baik untuk masa kini dan masa depan menjadi alasan kenapa banyak generasi di atas kita yang di hari tua hanya menggantungkan nasib pada anaknya. Alih-alih menyiapkan tabungan pensiun, anak justru dianggap menjadi investasi masa tua paling ampuh. Begitu pun dengan obrolan soal finansial yang kerap dianggap tak perlu diketahui oleh anak. Anak cukup fokus memikirkan sekolah yang benar tanpa harus memikirkan soal ekonomi orangtuanya. Anggapan tersebut walaupun berlandaskan rasa cinta, namun dapat membuat anak tak siap dan peka bila kelak masalah ekonomi datang menimpa. Padahal lebih baik, anak-anak terutama yang sudah masuk usia remaja ikut dilibatkan dalam obrolan finansial dan diberi pemahaman soal mengatur uang. Ups, jangan lupa juga bercermin ke diri sendiri, apakah kita saat ini sudah mulai memikirkan rencana masa tua kita atau belum? Apakah kita cenderung hidup untuk hari ini atau bahkan terbiasa berutang?

3. Tuntutan Sosial

Selamat kamu sudah lulus kuliah dan berhasil mendapat pekerjaan dan penghasilan yang tetap. Berarti sekarang tinggal fokus mencari pasangan dan menikah dong? Kemungkinan besar kamu pasti pernah mendapat komentar seperti itu baik, baik dari saudara, teman, atau bahkan orangtua sendiri yang ingin kamu segera berkeluarga. Celetukan seperti itu memang bikin gemas ya? Di satu sisi terdengar polos dan tak punya maksud buruk, tapi di sisi lain bisa terasa begitu usil dan menjengkelkan. Masih banyak lho, orangtua yang berharap atau bahkan mendorong anaknya segera menikah tanpa melihat kondisi finansial sang anak. Bila dipaksakan, hal ini cuma akan menjadi beban pikiran di masa mendatang, terutama ketika buah hati telah datang.


Siasat Menjadi Generasi Sandwich

Memutus siklus Generasi Sandwich tampaknya memang harus dilakukan secara sadar dari kita sendiri dan mulai hari ini. Semua yang pernah atau sedang berada di kondisi ini punya cara masing-masing untuk mengakalinya, dari mulai mencari penghasilan tambahan sampai menunda menikah dan punya anak. Namun rasanya kita semua setuju kalau yang paling utama adalah menambah wawasan soal finansial.

Bagi kita yang masih di usia produktif, menyiapkan dana pensiun adalah hal yang mutlak. Selain itu, sempatkan juga waktu untuk mempelajari berbagai opsi investasi dan asuransi yang mungkin kita butuhkan baik untuk diri sendiri maupun untuk orangtua dan anak kita kelak. Tidak ada kata terlambat untuk mulai menabung, lho. Kebiasaan menyisihkan gaji untuk tabungan dan membuat bujet finansial yang jelas setiap bulan akan membantu kita menghadapi hal-hal tak terduga, mulai dari kebutuhan rumah, hingga biaya sakit dan mungkin pemakaman.

Yang penting juga adalah membangun mindset bahwa kelak kita harus bisa bertanggungjawab untuk diri sendiri dan tidak bergantung pada anak. Tanamkan pola pikir untuk mengizinkan anak-anak kita nanti menikmati kesuksesan mereka di masa mendatang dan fokus mengurus diri serta keluarga mereka nantinya.

Untuk orangtua kita yang terlanjur bergantung pada bantuan kita, yang bisa kita lakukan adalah coba membantu dengan seikhlasnya, meski kadang tak mudah. Namun, bukan berarti kita tak boleh bicara jujur tentang kondisi finansial dan beban pikiran yang kita rasakan. Berikan pemahaman yang baik tentang kesanggupan kita. Bila kita punya saudara kandung, kita pun bisa berdiskusi membagi tanggung jawab dan pengeluaran dalam membantu orangtua. Begitu juga bila orangtua termasuk yang suka mendorong kita cepat menikah atau punya anak, sampaikan dengan jelas bahwa prioritas kita saat ini mungkin belum di situ.

Nah, bagaimana untuk yang sudah punya anak atau adik yang masih harus dibiayai? Sebagai orangtua, kita mungkin harus siap memberikan edukasi keuangan kepada sang buah hati, terutama bila mereka sudah masuk usia sekolah atau remaja. Mulai dari kebiasaan menabung hingga mencari uang jajan sendiri, Cosmo percaya generasi penerus kita punya potensi dan kreativitas untuk mandiri secara finansial lebih dari generasi sebelum mereka,


Beberapa tips lain yang juga bisa diperhatikan adalah:

1. Hadapi Stres dengan Tepat

Merupakan hal wajar bila kita merasa burn out dan stres bila dihadapkan dengan maslaah atau pengeluaran yang seakan tak ada habisnya, baik di tempat kerja maupun di rumah. Seperti kata RuPaul, kalau kamu tak bisa mencintai diri sendiri, bagaimana kamu bisa mencintai orang lain? Well, salah satu kunci utama adalah jangan lupa peduli dengan diri sendiri sebelum membantu orang lain. Bila kamu merasa keteteran, beberapa hal yang bisa kamu coba adalah membuat daftar prioritas pekerjaan yang harus dilakukan dan pengeluaran yang harus dibayar, tidur yang cukup, jangan lupa olahraga, dan sisihkan waktu baik untuk personal time atau bersosialiasi dengan teman dan orang lain.

2. Jangan Merasa Bersalah

Jangan merasa bersalah bila kamu merasa butuh keluar rumah untuk sekadar bertemu teman atau menghabiskan waktu sendirian. Hal ini penting agar kamu tetap bisa fresh dan punya energi positif saat kembali ke rumah. Semua orang pun punya batasan masing-masing, merasa kurang maksimal menolong keluargamu adalah hal yang normal, namun jangan biarkan rasa bersalah itu menggerogotimu dari dalam. Kamu berhak untuk hal itu.

3. Komunikasikan Secara Terbuka

Bila orangtua termasuk punya dana pensiun dan tabungan pribadi, coba ajak komunikasi dan diskusi dengan terbuka. Bila semua orang tahu kondisi finansial masing-masing, kita bisa lebih mudah membuat rencana finansial untuk orangtua kita sendiri, khususnya tabungan pengobatan dan bahkan dana untuk pemakaman. Bukan maksudnya mendoakan orangtua cepat meninggal, namun lebih baik sedia payung sebelum hujan kan? Belum lagi karena beberapa adat pemakaman di Indonesia menelan biaya yang tak sedikit. Namun, meskipun misalnya kita diberi tanggung jawab untuk mengatur keuangan orangtua, kita tetap harus ingat bahwa itu adalah uang hasil keringat mereka sendiri dan semua keputusan harusnya sesuai persetujuan atau pendapat dari mereka.


Source Generasi Sandwich

 

Jumat, April 24, 2020

Stay at Home or Dance with Us




Setelah sebulan work from home (WFH), yang awalnya ngga begitu mudah untuk "dinikmati" karena penambahan kasus positif setiap harinya yang semakin mengkhawatirkan, hingga berita-berita kematian yang lebih banyak dari biasanya, sekarang sudah mulai bisa untuk "dinikmati" secara cooling down.


Adanya trending akhir-akhir ini yang membuat tersenyum diantara sliwerannya pemberitaan, yaitu Coffin Dance Meme. Video dari sekelompok pengusung jenazah mengenakan setelan outfit warna hitam yang mana personilnya juga berkulit hitam, sungguh merupakan suatu hiburan tersendiri, deh. 


Ternyata ini merupakan tradisi pemakaman dari negara Ghana, dimana proses pemakaman dengan menari diiringi lagu semacam itu memang benar-benar dilakukan, bahkan menjadi suatu tradisi yang diyakini dengan prosesi yang demikian, orang yang meninggal akan ikut merasakan bahagia di alam sana. Hmm...


So, during this pandemic, just stay at home or dance with us. Ini emang pas banget ya gaes, supaya orang-orang tuh mikir deh kalau mau keluar rumah untuk hal-hal yang ngga penting. Ngga mau kan jadi bagian dari pasiennya si coffin dance ini? 😷



Yakin masih mau keluar rumah untuk hangout...? Ada yang nungguin tuh di depan pagar, lho... 😈


~ Wil Twilite ~

Sabtu, April 04, 2020

Perjumpaan Singkat di Bandara

Tanggal 18 Februari 2020, akhirnya kebersamaan yang semestinya kita habiskan dua hari satu malam, dipersingkat menjadi beberapa jam saja, dan itu pun di bandara.


Takdir memang lucu. Manusia boleh berencana, akhirnya Allah yang menentukan. Tiba-tiba saja aku harus menghadiri acara penting dari kantor pada tanggal itu, menggantikan bos yang berhalangan. Dengan kesal, kamu pun langsung membatalkan hotel dan meminta stafmu untuk reschedule penerbangan menjadi sehari sebelum kepulangan yang direncanakan sebelumnya. Aku pun mencoba menyesuaikan flight schedule supaya masih mungkin untuk berpapasan denganmu di bandara, setidaknya kita masih sempat meluangkan waktu untuk makan siang bersama kemudian ngopi-ngopi. Dan akhirnya berhasil. Namun betapa sulit membujukmu untuk menyetujui hal itu. Aku sempat frustasi.


Senang rasanya ketika akhirnya kamu setuju untuk berjumpa di bandara. Kita habiskan waktu yang sangat berharga, hari itu. Manis terasa. Ternyata setelah hari itu, sulit bagi kita untuk berjumpa kembali. Momen itu menjadi kunjungan terakhirmu ke Jakarta, dan aku ke sebuah kota di Sumatera, yang ditugaskan oleh kantor kita masing-masing. Setelah itu pandemi hadir mengubah banyak hal. Tak terkecuali perjumpaan kita yang satu sampai dua kali sebulan, menjadi entah beberapa bulan ke depan kita harus didera rindu yang pilu.


Syukurlah saat itu kita mengambil banyak foto untuk dikenang. Setidaknya, komunikasi pun tetap terjalin manis. Memang ujian akan selalu ada selama kita bernafas, bukan? Ujian bagi hubungan kita pun rasanya tak pernah usai, tak hanya karena jarak yang membentang maupun karena keterbatasan yang sama-sama kita miliki satu sama lain, kini ditambah pandemi.


Semoga kita 'kan mampu melewati ini semua. Semoga kita beserta keluarga masing-masing senantiasa dilimpahkan nikmat sehat oleh Allah SWT. Amin.


~ Wil Twilite ~

Minggu, Februari 02, 2020

Mengerti Kamu

Butuh beberapa lama untuk mengerti kamu, pada isi di dalam ruang, pada spasi di dalam jarak, pada rindu yang berserak. ~Sapardi


Tidakkah waktu semakin mengajarkan kepada kita tentang semuanya? Perjumpaan dan perpisahan yang terus berulang, pertengkaran dari yang kecil hingga yang dapat dikatakan besar, kemudian hanya pemahamanlah yang menguraikan semuanya. Sejauh mana kita bisa untuk saling mengerti dan memahami segala alasan di balaik segala tindakan maupun peristiwa yang di luar kehendak kita.


Setelah ini, tak singkat waktu yang kubutuhkan untuk mengerti kamu. Pun tak singkat bagimu 'tuk hal yang sama. Kini usia kita pun beranjak, kuharap kau mengerti bahwa ku ingin hadirmu tetap mengisi hari-hari, seusai terbit mentari hingga terbenamnya, setiap hari.


~ Wil Twilite ~