...jika aku kehabisan daun...

kau jangan berhenti berteduh. Ingatkan saja padaku bahwa di sini masih nyaman yang sama.

Coming Out Story

Inilah saat yang bikin aku deg-degan, karena tujuan utamaku ngajak dia ketemu saat ini adalah untuk coming out ke dia.

Anti Cewek Tomboy

Aku benar-benar syok dengan pernyataannya. Dan semua mata memandang ke arah kami sambil bisik-bisik.

Rabu, Agustus 02, 2017

Mataku, Telaga...

Katamu,
mataku adalah telaga jernih
yang hendak kau selami..

Namun kedalamannya
mampu menenggelamkanmu
dalam gelisah yang panjang..

Kadang kubiarkan airnya tenang
untuk kau renangi..
Kadang riaknya pun
mengusik relungmu..

Mengapa tak hendak kau berdiam
di telaga mataku?

Mengapa kau tak meyakinkanku sekali lagi,
seusai kau beranjak petang kemarin,
bahwa kau akan selalu kembali?

~ Wil Twilite ~
Kamis, Juli 27, 2017

Save Me...

Pada satu masa.
Aku tak berharap tersesat di sini.
Di tempat tak seorang pun mengenalku,
atau kukenal...

Aku berharap kembali
pada kenyamanan persinggahan.
Hmm.. persinggahan.
Apakah semua tempat
sejatinya hanyalah persinggahan?

Lalu dimana kelak aku akan menetap?
Dimana kelak aku merasakan
tak perlu lagi beranjak,
atau mencari-cari celah untuk pergi?
Dimana kelak aku akan berdiam
tanpa pernah merasa kosong dan hampa?

Haruskah hidup ini memaksa langkahku
untuk kerap melarikan diri
dari kenyataan yang terhampar di hadapan?
Lalu untuk apa aku berada
di tempat terasing ini, saat ini?

Haruskah aku kembali mengenal
orang-orang asing ini,
untuk kemudian kecewa dan terluka, lagi?
Rasanya sudah cukup lelahku
dihadapkan pada segala yang mengoyak jantungku.

Jiwaku hampir saja memucat
bila tak ingat ia bukanlah raga.
Dan jantungku?
Masih berdetak disana.

~ Wil Twilite ~
Jumat, Juli 21, 2017

Dia...

Dia. Mungkin aku terlalu memujanya, dulu. Hingga aku memikirkannya setiap malam, setiap detik yang berlalu di hela nafasku. Aku selalu mengingatnya dalam setiap doa yang kubisikkan. Selalu berharap kelak 'kan ada perjumpaan lagi dengannya. Ruang di hatiku untuknya, tak pernah kuizinkan 'tuk disinggahi oleh sesiapa, selain kenangannya yang kubiarkan tetap tinggal dan menjadi ratu di sudut paling istimewa hati. Namun waktu bergulir dan ia tak pernah kembali. Kutanya angin apakah ia menitipkan pesan, angin pun berlalu begitu saja, mengabai pada tiap hela gelisahku, menantinya.

Kini tujuh musim telah bergulir, hatiku membeku di musim yang bimbang. Hujan turun dan mataku berair. Sudah tak dapat kubedakan antara air mata dan hujan. Bayang wajahnya pun pudar dalam ingatan, seperti tersapu kekecewaan atas penantian yang tak berujung. Dia, 'kan kukembalikan kepada takdir yang tak lagi menautkan langkah kami untuk bersimpang kembali. 'Kan kubiarkan wajahnya dipudarkan ingatan, sebagaimana kenangan yang terlalu lama beranjak. Pada akhirnya waktu 'kan membuka jalan lain menuju kisah-kisah yang baru.

~ Wil Twilite ~
Jumat, Juli 14, 2017

That Aftertaste

Aku tak pernah mengira bahwa perbincangan kita pagi ini akan menyisakan aftertaste yang lebih pekat dari biasanya. Tertinggal kesan, menorehkan sejuta rasa yang mengambang di awang-awang. Satu tahun ternyata merupakan jeda yang cukup panjang untuk memungkinkan terjadinya banyak hal yang menimbulkan gejolak rasa dalam kehampaan.

Kukira kita telah saling kehilangan. Namun, jemari takdir seolah mempertautkan kisah kita untuk kembali berpapasan pada beberapa persimpangan, lagi, dan lagi.

Pagi kemarin kamu membuka kisah yang tersembunyi dalam jeda kita, dan aku tertegun mendengarkanmu asik bercerita tentang dia. Awalnya aku mencoba menekan rasa cemburu yang tiba-tiba hadir mengusik tanpa permisi di relungku. Namun ketika pagi ini kamu kembali menyebut namanya dan bercerita lebih tentangnya, gemuruh di dadaku tak lagi terbendung. Ada semacam el nino yang tiba-tiba melanda lautan hatiku.

Pergolakkan batin pun kembali tak terelakkan. Menyusur jalan sunyi, jauh sebelum takdir kita saling berpapasan, pada perjumpaan syahdu kita kala itu, hingga akhirnya kita menutup kisah di satu musim penghujan yang membuat kita tak lagi mampu membedakan antara rintik hujan dan air mata yang jatuh melebur saat kita mencoba untuk menari dalam rinainya.

Sepekan kemarin di kotamu, pada satu senja temaram kala kita tengah menanti mentari jingga pulang ke peraduan, ditemani dua cangkir kopi yang kita biarkan uapnya dipermainkan angin laut, sebab kita larut dalam perbincangan syahdu yang katamu merupakan momentum tahunan cahaya... senja itu bagai meleburkan kenangan yang membentang di lembaran takdir kita, menguraikannya kembali, mengingat canda dan tawa yang pernah kita bagi, juga hal-hal yang menyisakan perih... maafkan, atas khilafku yang telah menorehkan luka di hatimu yang semestinya kujaga dengan baik... sungguh ku tak hendak menyimpan separuh hatimu yang kupatahkan itu di kotak pandora, membelenggu bahagia yang semestinya sangat layak untuk kau dekap dalam waktu yang tercuri...

Berjuta "seandainya" mengusik kalbuku... Namun pada akhirnya kita berdua hanya perlu menambatkan keikhlasan 'tuk menerima bahwa semua sudah tertulis dalam skenario Sang Maha. Semoga aku belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. Semoga pintu hati kamu belum tertutup rapat untuk seorang aku.

Karena sejatinya bagi L-Mom, kehadiran seorang perempuan istimewa merupakan penyemangat hidup untuk saling menguatkan langkah dalam menjalani kodrat.


~ Wil Twilite ~
Senin, Mei 29, 2017

#Rindu : Memiliki, Kehilangan, dan Melupakan



Wahai laut yang temaram, apalah arti memiliki?
Ketika diri kami sendiri bukanlah milik kami.

Wahai laut yang lengang, apalah arti kehilangan?
Ketika kami sebenarnya menemukan banyak saat kehilangan,
dan sebaliknya, kehilangan banyak pula saat menemukan.

Wahai laut yang sunyi, apalah arti cinta?
Ketika kami menangis,
terluka atas perasaan yang seharusnya indah?
Bagaimana mungkin, kami terduduk patah hati
atas sesuatu yang seharusnya suci dan tidak menuntut apa pun?

Wahai laut yang gelap,
bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan?
Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu?
Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja.


#Rindu
Tere Liye

#Rindu : Munafik?

Lihatlah kemari wahai gelap malam.
Lihatlah seorang yang selalu pandai
menjawab pertanyaan orang lain,
tapi dia tidak pernah bisa menjawab
pertanyaannya sendiri.

Lihatlah kemari wahai lautan luas.
Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak
untuk orang lain,
tapi dia tidak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri.

Sungguh boleh jadi dialah
orang paling munafik di kapal ini.



#Rindu
Tere Liye


#Rindu : Cinta Sejati


Kau pemuda malang yang terpagut harapan, terjerat keinginan memiliki, dan terperangkap kehilangan seseorang yang kau sayangi, Nak. Tiga hal itu ada di dirimu sekarang. Harapan itu belum padam, sejauh apa pun kau pergi. Pun keinginan memiliki itu belum punah, sekuat apa pun kau mengenyahkannya. Dan terakhir, kehilangan itu justru mulai mewujud dan nyata. Setiap hari, semakin nampak wujudnya, semakin nyata kehilangannya.

Apakah cinta sejati itu? Cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Bagaimana mungkin? Kita bilang itu cinta sejati, tapi kita justru melepaskannya? Tapi inilah rumus terbaik yang tidak pernah dipahami para pecinta. Mereka tidak pernah mau mencoba memahami penjelasannya, tidak bersedia.

Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Tapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.

Sekali kau bisa mengendalikan harapan dan keinginan memiliki, maka sebesar apa pun wujud kehilangan, kau akan siap menghadapinya. Kau siap menghadapi kenyataan apa pun. Jikapun kau akhirnya tidak memiliki gadis itu, besok lusa kau akan memperoleh pengganti yang lebih baik.


#Rindu
Tere Liye

#Rindu : Tentang Masa Lalu dan Penilaian Orang

Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia.

-----------------------------------------------------

Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapa pun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. Karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya diri kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.

Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita sebaik itu.


#Rindu
Tere Liye

Minggu, Mei 28, 2017

#Rindu by Tere Liye; My Review

Mengawali Ramadhan yang penuh rahmat, ternyata aku tidak salah memilih novel #Rindu sebagai bahan bacaan. Sudah lama aku membelinya, namun novel ini baru mendapatkan gilirannya untuk kubaca, tepat di awal bulan penuh rahmat.

Ada banyak hal tak terduga di dalamnya. Begitu banyak pesan yang menyentuh sanubari. Kisah yang bersetting tahun 1938 di atas kapal bernama Blitar Holland, mengajarkan begitu banyak tentang makna kehidupan. Tere Liye mengajak kita menelusuri sejarah bangsa sebelum kemerdekaan, menelusuri Makassar, Surabaya, Semarang, Batavia (Jakarta), Lampung, Bengkulu, Padang, Banda Aceh, hingga Kolombo (Sri Lanka). perjalanan panjang sebuah kapal haji sebelum tujuan akhir yaitu Jeddah, Arab Saudi.

#Rindu di sini pun bukanlah rindu pada kampung halaman, orangtua, keluarga, atau kekasih, melainkan rindu yang lebih besar dari semua itu, yaitu rindu pada Rumah Allah, kota suci umat Islam.

Ada banyak konflik batin yang mendera para pemeran utama dalam kisah ini. Diantaranya Daeng Andipati, seorang pedagang besar dari Kota Makassar. Pria muda yang kaya raya, berpendidikan tinggi, memiliki kehidupan yang nyaris sempurna. Ia ditemani istri dan dua putrinya, Elsa dan Anna (pas baca kedua nama ini tiba-tiba aku ingat film Frozen, ups!). Dibalik segala kesempurnaan itu, ternyata ia menyimpan kisah kelam.

Anna, putri bungsu Daeng Andipati bisa dibilang tokoh utama dalam kisah ini karena ia ada dimanapun dalam cerita ini. Gadis kecil usia 9 tahun ini memiliki karakter periang, penuh rasa ingin tahu, sangat peduli pada orang lain dan sekelilingnya, lugu, namun cerdas. Mengingatkanku pada lil' angel, puteriku.

Ada Ambo Uleng sang pelaut dari Makassar yang mengikuti pelayaran untuk melarikan diri sejauh mungkin dari kenyataan pahit yang baru saja dialaminya. Pemuda biasa saja, sederhana, pendiam, tidak berpendidikan, namun banyak pengalaman di lautan, dan penuh kejutan dalam kisah ini darinya.

Dan sang ulama termasyur, Gurutta Ahmad Karaeng yang merupakan tokoh panutan dalam novel ini. Ia adalah tempat bertanya bagi siapa saja, pengalaman hidupnya sangat matang di usianya sudah 75 tahun, dan sudah menjelajah ke berbagai tempat di muka bumi. Tak disangka, manusia yang nampak paling sempurna pun di mata manusia lain, memiliki konflik batin yang demikian besar.

Ada beberapa tokoh lainnya dalam novel ini yang konflik batinnya tak kalah menyentuh sanubari, namun aku tak akan merinci semuanya di sini. Silakan nanti kalian baca saja, ya. Intinya, perjalanan haji pada masa itu sangatlah berat, hanya orang-orang yang benar-benar mampu atau terpanggil saja yang dapat melaksanakannya. Memakan waktu berbulan-bulan mengarungi lautan, karena pada masa itu belum ada pesawat.

Aku hendak menyimpan beberapa quote yang berkesan dari novel ini. Sebagai pengingat bagi diriku sendiri, dan mungkin juga dapat menyentuh siapa pun yang sempat singgah di blog ku dan membaca tulisan ini.

Tere Liye memang penulis yang brilian. Karya-karyanya begitu menggungah dan menginspirasi, dan satu lagi tentang #Rindu, telah menambah kecintaanku akan Islam. Aku semakin bersyukur karena terlahir dalam keluarga Islam. Sungguh karunia yang sangat indah.

Ramadhan Mubarak,
~ Wil Twilite ~

---------------------------------------------------------------------------------------

"Orang pendiam seperti kau ini kadang berbahaya. Tanpa disadari, kau telah membuat orang jadi banyak bicara."

Kita tidak pernah tahu akan bertemu dengan siapa dalam hidup ini. Orang-orang datang silih berganti. Ada yang menjadi bagian penting. Ada yang segera terlupakan.

Tidak selalu orang lari dari sesuatu karena ketakutan atau ancaman. Kita juga bisa pergi karena kebencian, kesedihan, ataupun karena harapan.

Semua kesibukan ini, pengalaman baru, tidak pernah mampu mengusir pergi kenangan itu.

"Apakah untuk menjadi penulis kita harus banyak membaca, Kakek Gurutta?" Elsa bertanya lagi, menatap hamparan buku.

"Tentu, Elsa. Jika kau ingin menulis satu paragraf yang baik kau harus membaca satu buku. Maka jika di dalam tulisan itu ada beratus-ratus paragraf, sebanyak itulah buku yang harus kau baca."

"Saudaramu sesama muslim, jika dia tahu, maka dia akan menutup aibmu. Karena Allah menjanjikan barang siapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat."

Kita sebenarnya sedang membenci diri sendiri saat membenci orang lain. Kenapa kau memilih benci, sedangkan orang lain memilih berdamai dengan situasi di sekitarnya? Pikirkanlah!

Saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati.

#Rindu
Tere Liye

Selasa, Mei 16, 2017

Perang Melawan Ego

Selama ini kita cenderung menjauhi segala hal yang kita benci atau tidak kita sukai. Alih-alih untuk menghindari penyakit hati, mencari ketenangan, dan keinginan dari dasar hati untuk bahagia. Maka lebih baik kita tidak dekat-dekat dengan segala yang membuat kita merasa tidak nyaman, orang-orang yang memancarkan aura negatif, misalnya, atau orang-orang yang bersikap tidak baik kepada kita dalam keseharian. Untuk apa berdekatan dengan mereka? Kalau memang mereka tidak suka, kita (merasa) juga tidak butuh. Jadi, ya, jauh-jauh saja. Hidup tentunya akan lebih bermakna.

Namun akhir-akhir ini aku menemukan pemahaman yang sebaliknya atas rasa benci. Mengapa harus dipelihara? Mengapa kita harus membatasi diri sesempit itu? Mengapa kita membangun benteng yang tinggi atas kebencian dan rasa enggan menghadapi mereka yang kita benci dan (kita duga) membenci kita? Apakah benar dengan demikian kita akan merasa damai di hati? Tidakkah sikap yang demikian sesungguhnya sama saja dengan tinggi hati?

Suka dan benci adalah dua sisi, hitam dan putih. Memang Allah Yang Maha Membolak-balikkan Hati, namun kita juga memiliki kendali atas perasaan. Kita bisa menyukai atau membenci seseorang atau sesuatu, dan perasaan ibarat tanaman, dapat ditumbuhkan asalkan kita mau merawat dan rajin menyiraminya. Apakah kita mau berusaha menumbuhkan rasa suka itu?

Bersediakan kita mengubah persepsi yang selama ini terpatri di hati? Menurunkan ego untuk menyapa duluan seseorang yang selama ini begitu menyebalkan, dan senantiasa memancing emosi kita setiap kali berinteraksi dengannya? Seseorang yang begitu angkuh dan tidak mungkin mendekat duluan ke kita, berkenankah kita menurunkan ego untuk terlebih dulu menyapanya? Dengan segala resiko penolakan yang mungkin terjadi?

Mungkin terkesan memaksakan diri, awalnya akan menimbulkan perasaan tidak nyaman, seperti secara sadar sedang merendahkan diri. Namun rasa benci harus kita lawan, demi tujuan yang mulia. Menguji ketahanan emosi dan menuju proses kematangan jiwa dan kedewasaan. Waktunya bergerak bukan semata atas dasar rasa suka atau benci. Tak kenal maka tak sayang. Sudah saatnya kita memaknainya lebih dalam. 

Seseorang pernah menyampaikan kepadaku, “Sekian lama kita lost contact, dan akhirnya kita bertemu kembali. Ada satu hal yang tidak berubah darimu, kamu tetap menulis. Aku tidak menemukan blog-mu terhenti sejak pertama kali, bertahun lalu aku mengenal kamu dari tulisan-tulisanmu”.

Kuncinya adalah, kita selalu punya waktu untuk hal yang kita sukai. Aku suka menulis. Tak peduli saat itu sedang tidak ada inspirasi, atau aku hanya menulis sekedarnya saja, tidak tajam atau sarat makna, pokoknya aku ingin menulis, sekalipun itu sekedar sebait perasaan atau sejumput pemikiran yang melintas, akan kutuliskan di sini. Kemudian perasaanku, dan pikiranku terbebaskan.

Aku menulis saat aku senang, sedih, bahkan marah. Menulis, bagiku, mengalirkan ketenangan tersendiri. Pun awalnya blog ini kubuat sebagai curahan isi hati, menulis untuk merelease perasaanku sendiri, untuk dibaca olehku sendiri. Namun seiring waktu blog ini memiliki pembaca, bahkan mendatangkan teman. Alhamdulillah.

Back to topic, intinya kita perlu meluangkan waktu, bukan sekedar untuk melakukan hal yang kita sukai, namun juga untuk berusaha mengalirkan rasa suka, pada apa yang sebelumnya kita benci atau tidak sukai. Memang tidak akan mudah. Jalan menuju kebaikan tidaklah dijanjikan mulus, kita akan menginjak kerikil tajam, atau bahkan tersandung dan terjatuh.

Perang terbesar dalam hidup adalah ketika kita harus melawan ego diri sendiri. Untuk membuktikan apa? Kepada siapa? Lakukan itu untuk diri kita, buktikan pada diri sendiri bahwa banyak hal di sekitar yang ternyata tak seburuk dugaan atau prasangka kita. 

Suka dan benci adalah perasaan. Yakinlah bahwa perasaan dapat dikendalikan, sebagaimana pikiran. Mari runtuhkan dinding tinggi yang menjulang bernama ego, mulailah membuka diri lebih luas dan lapang, ringankan langkah.

Kumpulkan keberanian dan besarkan hati untuk mendekat lebih dulu, untuk menerima, berusaha menyukai, atau paling tidak, lepaskan rasa benci yang pernah ada, tanpa syarat, tanpa perlu alasan apapun selain untuk membersihkan hati, jiwa, dan pikiran.


~ Wil Twilite ~