Kamis, Februari 02, 2012

Intermezzo


Aku menyukai pekerjaanku. Di sela-sela jam kerja yang menggila dan tekanan yang kadang membuat depresi, aku masih bisa menemukan kesenangan tersendiri. Salah satunya adalah membaca-baca beberapa surat kabar ibukota dan majalah wanita yang dikirimkan langsung oleh masing-masing redaksi ke meja bosku. My boss sesekali melirik jika halaman yang sedang kubuka adalah cerpen :D. Hehehe. Biarlah. Toh setiap kali dia menanyakan rubrik-rubrik tertentu yang ‘seharusnya’ aku baca, aku bisa menjawabnya.

Cuplikan cerpen berikut, cukup menarik. Setidaknya, cukup menarik untuk kusimpan di blog tercintaku ini.

-------------------------------------

Amarah Resti yang tersulut karena Kay, memancing perasaan asing yang selama ini tak mampu kuterjemahkan. Kay belum pernah berteriak ketika amarah menguasainya. Perempuan itu selalu memilih diam. Berbeda dari Resti yang selalu mengeluarkan apa saja yang berkecamuk dalam hatinya. Wanita itu selalu terus terang dalam segala hal, walaupun keterusterangannya terkadang menyakitkan.

Sesuatu dalam diri Resti mengeluarkan sisi diriku yang tak pernah kuketahui selama ini. Aku ingin dimengerti oleh wanitaku. Ada riak senang menyadari bentuk perhatian yang selama ini tak pernah kurasakan. Mendiamkan segala kegundahan hati ternyata tak pernah menuntaskan masalah. Menegurku dengan lengkingan suara prajurit di medan perang, justru membuatku sadar kalau aku tak boleh mengulangi kesalahan apa pun yang dapat menyulut emosi Resti hingga batas maksimal.



Cerpen: Second Wife (Rara Lingga, Kartini 2314, 2012)

2 komentar:

floo mengatakan...

Lg rajin posting ya jeng.... :D

Wil Twilite mengatakan...

hehehe... nyuri2 waktu ini juga... ^^