Jumat, Agustus 23, 2013

Kekasih Bijak; a love letter...

Kamu adalah kekasih bijak. Caramu memahamiku begitu indah. Caramu melihatku begitu dalam, seolah mampu menyelami palung jiwaku. Empatimu mengagumkan. Aku tunduk dalam pesonamu. Kau anggun. Sikapmu sangat dewasa. Kau memenuhi segala ekspektasiku akan figur seorang wanita pendamping hidupku. Segala keindahan yang kudamba dari seorang wanita, semua ada padamu, dalam dirimu.

Kamu terbuka dan jujur. Hal yang tak pernah kutemukan sebelumnya dari seorang wanita. Keterbukaanmu mengagumkan, begitu jujur ungkap hatimu menuturkan segala rasa yang ada. Senang, sedih, marah, kecewa, kesal. Semua kau ungkap lewat caramu, itulah keunikanmu. Tetaplah menjadi seperti itu. 

Kau teladan. Kemampuanmu menjalankan semua peran dalam kehidupan dengan baik. Kodrat tak kau kesampingkan, sebagai seorang istri, ibu, dan juga kekasih. Kau begitu sempurna di mataku, kau penyempurnaku. Kau ajarkan padaku begitu banyak hal. Menjadi kakak, guru, teman mengisi waktu, dan pujaan hatiku. Kamu tempatku bermanja, teman bicara dan bertukar pikiran yang menyenangkan, serta teman diskusi yang paling responsif. Kamu, semua yang kubutuhkan.

Kamu salah satu anugerahNya dalam hidupku, sepatutnya kusyukuri di sepanjang sisa usiaku menapaki waktu. Ku ingin kau temani aku, dan aku menemanimu, melewati jejak waktu yang tersisa pada peta usia kita.

Aku mencintaimu, dalam segenap waktu yang ditasbihkanNya seiring ku makin mengenalmu. Aku mencintaimu, dalam tiap jengkal jarak yang membentang diantara kita. Aku mencintaimu, dalam setiap rindu yang mengalun indah pada lantun perbincangan. Aku mencintaimu, dalam untai aksara yang mengukir makna dari ujung jemari. Pada permulaan hari ketika ku terbangun mengingatmu dan mengingatNya, hingga penghujung hari nan hantarkan katup mata ke peraduan, memimpikanmu, tiada henti aksaraku mengalirkan bulir rindu melintasi bentang jarak.

Ku ingin mendekapmu setiap saat, hangatkanmu ketika hujan membasah di sudut langkahmu. Ku ingin berjalan disampingmu senantiasa, lewati liku jalan yang kadang menyesatkan langkah-langkah kita. Ku ingin kamu, bersamamu, dan mencintaimu hingga nafas ini terhenti pada saatnya nanti. Teduhlah, kekasih, di istana hatiku. Engkaulah permaisuri yang selama ini kudamba 'tuk bertahta di sana.



*) a love letter to my dearest one...


~ Wil Twilite ~

Tidak ada komentar: