Tampilkan postingan dengan label Autumn. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Autumn. Tampilkan semua postingan
Minggu, September 06, 2020

Ruang untuk Kenangan

Jika hati dan rasa dapat berubah, lalu apa yang abadi? Bahkan seiring laju usia, begitu banyak hubungan yang berubah. Hubungan dengan orangtua, keluarga, sahabat, pertemanan, apalagi hubungan kerja atau yang hanya berlandaskan kepentingan semata. Istilahnya, tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan abadi. Mungkin, perjalanan hidup semakin membuktikan hal itu, mungkin.


Berbahagialah orang-orang yang hingga usianya mendekati 40 tahun dan masih memiliki hubungan yang begitu manis dengan kedua orangtua atau salah satunya saja, dengan kakak maupun adik, saudara sepupu dan sanak famili lainnya. Pun berbahagialah orang-orang yang pada akhirnya seiring bergulirnya waktu, menemukan siapa sahabat sejatinya, diantara begitu banyak kawan yang selama ini kita anggap atau menganggap kita sahabat. Berbahagialah juga orang-orang yang dalam perjalanan karirnya menemukan kawan yang secara langsung atau tidak, secara sadar atau tidak, mengantarkan atau mendampingi perjalanan menuju kesuksesan karir.


Kemudian, apa yang tertinggal? Catatan perjalanan yang membentuk kenangannya sendiri. Sudah berapa lama kita melalui semua ini? Siapa saja orang-orang yang telah datang dan pergi dalam hidup kita? Siapa pun yang menorehkan luka dan bahagia, mereka tak terelakkan menjadi bagian dari kenangan, ketika mereka tak lagi kita perkenankan untuk terus berada di sisi langkah kita selajutnya. Hanya cukup menjadi bagian dari kenangan.


Lalu, patutkah, atau perlukan kita memberikan ruang untuk kengan-kenangan itu? Perlukah kita mengingat setiap luka pula, sebagaimana kita sering tersenyum bila mengingat kenangan manis saja? Tentunya kita dapat memilih hadirkan kenangan manis saja, bila kita kehendaki. Kita hanya butuh senyuman, penghiburan, dan pelipur lara dari semua itu. Namun, tak terelakkan kengan-kenangan getir itu pun seringkali muncul bersama kenangan-kenangan yang manis. Alasannya, tentu saja setelah kenangan manis itu usai atau berlalu, apa kemudian hal yang mengikutinya, yang menjadikannya berlalu? Ya, umumnya demikian.


Memberi ruang untuk kenangan bukanlah sesuatu yang seperti memberikan tempat bagi barang-barang agar tersimpan dengan baik dan memudahkan kita mencarinya tatkala kita membutuhkannya kembali. Ruang itu hampa, dan tiada memiliki batasan yang nyata. Apakah ruang itu gelap? Mungkin, karena cahayanya redup sebab merupakan sesuatu yang sesungguhnya sangat ingin untuk dapat kita lupakan. Dan, kenangan yang terang benderang? Itulah kenangan yang kan selalu menjadi alasan dan penguat bagi kita untuk terus melangkah ke depan.


Sejatinya, kita bukanlah diciptakan dari cahaya seperti malaikat. Kita hanyalah insan dengan sisi terang, sisi redup, bahkan sisi gelap yang terbentuk dari setiap langkah yang kita ambil sejak kita mulai menjalani hidup dengan pilihan-pilihan di setiap persimpangan jalan. Tak lepas pula dengan siapa saja kita telah berpapasan dan beririsan di daerah arsiran, dengan begitu banyak orang.


Mari terus melangkah, Jangan biarkan setiap kenangan muncul sesuka hatinya dan mengusik langkah kita ke depan. Berikan saja ruang yang cukup bagi mereka untuk tinggal. Ruang yang yang perlu kita pikirkan, apalagi terus menerus kita bawa. Sungguh itu hanya akan menjadi beban di langkah kita. Berdiamlah, wahai kenangan, di tempat yang telah disediakan. Janganlah pernah muncul tanpa diinginkan. Sebab kini aku telah memiliki perasaan dan pemikiran yang jaub berbeda dari sebelumnya, serta pengendalian diri yang lebih baik. Takkan kubiarkan diri ini larut dalam arus kenangan yang terlampau deras tak terbendung. Sssshhhhh... just be quite there, memories...


~ Wil Twilite ~

Kamis, September 20, 2018

Dekat

Kedekatan itu tak dapat dipaksakan. Bila Allah berkehendak untuk mendekatkan dua hati, maka rintangan apapun akan luruh. Sebaliknya, sekuat apapun daya dan upaya dua hati ingin saling mendekat, bila bukan itu takdirnya, maka akan sulit untuk menyatu. Wallahualam.

Ilmu ikhlas-MU sungguh berat, Yaa Rabb. Sekali lagi hamba berusaha untuk lulus ujianmu tentang hati. Maka semoga Engkau perkenankan hamba untuk lulus. Amin.

Rasa ini sungguh seperti air. Mudah sekali ia berubah mengikuti ruang tak menentu. Kadang terbawa arus, kadang melawan arus. Kadang aku hanya ingin mengalir saja.

Lepaskan aku dari himpitan rasa ini, Yaa Rabb. Adakalanya aku tak sanggup menjalani sakitnya yang sesakkan dada ini, berulang kali. Dan lelah pula didera hawa nafsu yang memburu. Kadang begitu sulitnya untuk kujinakkan.

Jika sayang, maka akan abadi. Jika nafsu sesaat, maka waktu akan menciptakan jaraknya sendiri. Bukankah demikian?

Dan semua ini bagai misteri yang masih tersembunyi di lipatan takdirku dan takdirnya. Aku percaya, Engkau telah tuliskan kisah yang terindah untuk kami. Aku percaya kelak semua ini memiliki makna tersembunyi yang teramat manis. Insya Allah.

Wil Twilite
~diantara lantun tadarus menjelang adzan isya'
Selasa, April 17, 2018

Menjadi Baik



Ketika komunikasi hanya sebatas untai aksara yang menari, tanpa ekspresi lepas. Bagaimana zaman telah bergulir menggeser kedekatan menjadi jauh, dan tidak sebaliknya...?

Terkadang manusia memaksakan kehendak atas sesuatu. Mengungkapkan gulir paradoks yang tidak pada tempatnya. Entahlah. Mungkin akal sehat sudah terkontaminasi oleh polusi peradaban.

Aku hanya ingin menjadi baik, tanpa merusak tatanan. Dan aku tak berkenan untuk kau usik, pun sesiapa.

Bolehkah...?


~ Wil Twilite ~
Sabtu, Februari 24, 2018

Senja

Senja meronakan wajah langit, seperti tersipu. Semilir angin, lambaikan pepohonan diantara pasir pantai dan debur ombak. 

Langkah yang telanjang, menyusur di sepanjang tepian laut yang menderu. Tatap yang kosong, jiwa yang hampa, hati yang beku. Tak ada tempat ku tuju. Hanya langkah gontai yang tersesat.

Kilas balik jejak-jejak usia bergulir di ingatan bagai tayangan dokumenter usang ditelan peradaban. Waktu terus melaju namun seolah jiwaku terhenti dalam pusarannya yang entah di belahan bumi bagian mana.

Terkatung-katung terus kubawa langkah ini ke depan. Meski tanpa arah. Meski tanpa tujuan. Akan ku pastikan langkah ini tetap beranjak meninggalkan jejak-jejak masa lalu.

Semoga di depan sana ada secercah cahaya menuntunku. Dan Rabb-ku, tak pernah meninggalkanku dalam kondisi paling hampa sekalipun. Aku percaya itu.

~ Wil Twilite ~
Senin, Januari 29, 2018

Darkness

Mind: You keep yourself in the dark room of your soul. You've drown to your own darkness.

Heart: Am I...?

~ Wil Twilite ~

Rabu, Agustus 02, 2017

Mataku, Telaga...

Katamu,
mataku adalah telaga jernih
yang hendak kau selami..

Namun kedalamannya
mampu menenggelamkanmu
dalam gelisah yang panjang..

Kadang kubiarkan airnya tenang
untuk kau renangi..
Kadang riaknya pun
mengusik relungmu..

Mengapa tak hendak kau berdiam
di telaga mataku?

Mengapa kau tak meyakinkanku sekali lagi,
seusai kau beranjak petang kemarin,
bahwa kau akan selalu kembali?

~ Wil Twilite ~
Kamis, Juli 27, 2017

Save Me...

Pada satu masa.
Aku tak berharap tersesat di sini.
Di tempat tak seorang pun mengenalku,
atau kukenal...

Aku berharap kembali
pada kenyamanan persinggahan.
Hmm.. persinggahan.
Apakah semua tempat
sejatinya hanyalah persinggahan?

Lalu dimana kelak aku akan menetap?
Dimana kelak aku merasakan
tak perlu lagi beranjak,
atau mencari-cari celah untuk pergi?
Dimana kelak aku akan berdiam
tanpa pernah merasa kosong dan hampa?

Haruskah hidup ini memaksa langkahku
untuk kerap melarikan diri
dari kenyataan yang terhampar di hadapan?
Lalu untuk apa aku berada
di tempat terasing ini, saat ini?

Haruskah aku kembali mengenal
orang-orang asing ini,
untuk kemudian kecewa dan terluka, lagi?
Rasanya sudah cukup lelahku
dihadapkan pada segala yang mengoyak jantungku.

Jiwaku hampir saja memucat
bila tak ingat ia bukanlah raga.
Dan jantungku?
Masih berdetak disana.

~ Wil Twilite ~
Jumat, Juli 21, 2017

Dia...

Dia. Mungkin aku terlalu memujanya, dulu. Hingga aku memikirkannya setiap malam, setiap detik yang berlalu di hela nafasku. Aku selalu mengingatnya dalam setiap doa yang kubisikkan. Selalu berharap kelak 'kan ada perjumpaan lagi dengannya. Ruang di hatiku untuknya, tak pernah kuizinkan 'tuk disinggahi oleh sesiapa, selain kenangannya yang kubiarkan tetap tinggal dan menjadi ratu di sudut paling istimewa hati. Namun waktu bergulir dan ia tak pernah kembali. Kutanya angin apakah ia menitipkan pesan, angin pun berlalu begitu saja, mengabai pada tiap hela gelisahku, menantinya.

Kini tujuh musim telah bergulir, hatiku membeku di musim yang bimbang. Hujan turun dan mataku berair. Sudah tak dapat kubedakan antara air mata dan hujan. Bayang wajahnya pun pudar dalam ingatan, seperti tersapu kekecewaan atas penantian yang tak berujung. Dia, 'kan kukembalikan kepada takdir yang tak lagi menautkan langkah kami untuk bersimpang kembali. 'Kan kubiarkan wajahnya dipudarkan ingatan, sebagaimana kenangan yang terlalu lama beranjak. Pada akhirnya waktu 'kan membuka jalan lain menuju kisah-kisah yang baru.

~ Wil Twilite ~
Kamis, April 27, 2017

Reinkarnasi Cinta

Aku mencintaimu pada suatu masa yang sudah ditakdirkan. Pada satu hitungan waktu yang ku tak mengerti mengapa harus jatuh cinta padamu. Kamu kekasihku pada satu waktu di musim semi yang syahdu. Bagaikan mimpi, memilikimu, dan segenap cintamu yang begitu muda.

Namun pada hitungan waktu yang sudah ditakdirkan, aku harus pergi. Meninggalkanmu, menutup kisah kita yang masih bersemi dan merona. Aku tak pernah tahu mengapa harus berpisah sementara hatiku masih berdetak seirama denganmu dalam melodi yang indah. Apakah karena cinta kita terlarang? Cinta yang menyalahi kodrat? Apakah cinta ini tak diperkenankan menempati sedikit saja ruang di jagat semesta raya?

Berapa lama kita harus menunggu waktu, untuk kelak dilahirkan kembali dan dipertemukan dalam perjumpaan syahdu yang lain, di waktu yang tak mampu kita hitung dari sekarang? Sudah pastikah cinta kita kelak tak lagi terhalang sesuatu apa?

Mungkin dalam takdir, kita seumpama matahari dan rembulan yang butuh siklus reinkarnasi dalam jeda panjang, sebelum berjumpa dalam gerhana.

Kekasih, kau ‘kan kubawa bersama detak jantungku, denyut nadi, dan hela nafasku. Sampai pada waktu yang lain kelak.


~ Wil Twilite ~
Rabu, Desember 07, 2016

Rindu Menulis

Aku rindu menulis seperti aku rindu pada waktu-waktu yang lalu, ketika irama rintik hujan terdengar bagai senandung lagu pengantar tidurku.

Jemariku kaku seperti jemari manekin di etalase butik-butik bergengsi. Jiwaku mematung di sana, membiarkan zaman menggonta-ganti kostumku sesuai trend dan musim.

Tanah kelahiranku hanya memiliki musim penghujan dan kemarau, namun kemajemukan masyarakatnya begitu beragam. Aku pun tak butuh empat musim, jika dua saja sudah menyamankan.


~ Wil Twilite ~
Selasa, November 22, 2016

Detak Sunyi

sunyi berdetak pada jam dinding
sementara irama degup jantung
hanyalah kesunyian lain yang lebih liar


~ Wil Twilite ~
Senin, September 19, 2016

My Comfort Zone

Comfort zone adalah senyaman-nyamannya tempat untuk menetap selama yang kita inginkan. Namun akhir-akhir ini, atau bahkan mungkin sudah sejak entah kapan, banyak kita dengar istilah "keluar dari comfort zone".

Mengapa banyak orang justru berharap dirinya mampu untuk keluar dari comfort zone, dan atau "memotivasi" orang lain untuk keluar dari comfort zone. Why?

Bila sudah berada di tempat yang begitu nyaman, biasanya orang akan merasa enggan untuk beranjak. Paradoks sekali, comfort zone ini. Orang mencari kenyamanan, dan ketika sudah menemukan dan berada di zona nyaman itu, malah ingin meninggalkannya.

Hal atau situasi yang membuat nyaman semestinya tidak untuk membuat kita beranjak kemana-mana lagi. Sebab tak mudah untuk mendapatkan kenyamanan itu. Sebagian orang meraihnya lewat berbagai upaya dan usaha, sebagian lagi karena takdir.

Seorang teman berpendapat bahwa untuk tinggal dan menetap di zona nyaman mungkin terasa aman dan menenteramkan, tapi tidak akan membuat kita berkembang. Istilahnya, bagai katak dalam tempurung. Ruang gerak begitu terbatas.

Itulah sebabnya aku merenungkan kembali tentang comfort zone ini. Apakah aku harus mulai mengubah sudut pandangku tentang kehidupan yang kujalani?

Temanku kembali menanggapi, bahwa menurutnya, aku tak perlu mengubah apapun, cukup memperluas area comfort zone yang saat ini kumiliki, untuk meraih tujuan hidupku. Atau jika tidak bisa demikian, baiknya keluar saja dari comfort zone.

Adalah merupakan pilihan, untuk tetap berada dalam comfort zone, atau beranjak meninggalkannya. Namun bila memutuskan untuk beranjak, harus jelas kemana kaki akan melangkah kemudian, dan tentunya dengan alasan yang sangat kuat. Tidak hanya sekedar pergi dan berlalu begitu saja, tanpa tujuan yang pasti.

~ Wil Twilite ~


Minggu, Agustus 14, 2016

yang 'tlah jauh

Menari diantara waktu.

Seperti pikiranku, 
dan lantun kenangan 
yang mengalun syahdu.

Bukan kepada dia yang 'tlah berlalu, 
melainkan pada suatu masa yang dirindu.

...yang 'tlah jauh...


~ Wil Twilite ~
Kamis, Juni 16, 2016

Puisiku

Aku suka berpuisi,
disaat aku tengah jatuh cinta
dan disaat patah hati

Dua musim yang menggelorakan
dan menghempaskan rasa

Penaku mengalun


~ Wil Twilite ~
Rabu, Juni 15, 2016

mengerak, rindu

Spring

Kepada yang terkasih,
ini rindu yang tak tereja kata,
tak terlukis masa..

Tersemat kuat mengerak,
hingga sulit kulepaskan..


Autumn

Kata dan masa memiliki batas,
namun semat rindu yang mengerak
bagai dikekalkan waktu..

Teruraikan di perjumpaan syahdu..


~ Wil Twilite ~
Minggu, Juni 12, 2016

if you love me...

Menyukai saya,
mungkin ada batasannya..
Tapi kalau sudah mencintai saya,
kamu mesti sanggup
melampaui semua batasan
yang ada..


~ Wil Twilite ~
Sabtu, Juni 11, 2016

love me this way...

You may not be her first, her last, or her only.
She loved before she may love again.
But if she loves you now, what else matters...?

She's not perfect - you aren't either,
and the two of you may never be perfect together.
But if she can make you laugh,
cause you to think twice,
and admit to being human and making mistakes,
hold onto her and give her the most you can.

She may not be thinking about you
every second of the day,
but she will give you a part of her
that she knows you can break - her heart.

So don't hurt her, don't change her,
don't analyze and don't expect more
than she can give...

Smile when she makes you happy,
let her know when she makes you mad,
and miss her when she's not there...


Bob Marley

Minggu, April 03, 2016

My Calmness Moment

Keheningan yang aku suka, adalah berada di ruang kerjaku, keheningan yang menenteramkan. Satu tahun aku menikmatinya dalam menguraikan rasa. Rasa yang bergelombang bagai samudera di laut lepas. Menggulung, mengombang-ambing bahtera di atasnya.

Adakalanya aku menjadi gelombang itu, adakalanya aku menjadi bahtera itu. Sesuka perasaanku saja. Sesuka mood-swing-ku yang berganti kapan saja ia mau. Ya, aku sudah mengalami sebimbang dan selabil itu, membiarkan diriku dikendalikan perasaan, dan mengabaikan logika.

Kini, aku membiarkan semuanya berlalu. Sudah cukup rasanya waktu yang kubiarkan membelenggu perasaanku sedalam ia menusuk kalbuku. Ya, sudah cukup. Sebelum hatiku berkarat, kulepaskan perlahan pedang yang kubiarkan menancap di sana, kubalut sendiri lukaku, sebab hanya aku yang merasakan sedalam apa pedang itu menancap dan di bagian mana aku terluka di jantungku.

Atau mungkin, aku tak pernah menyebutnya luka. Itu kuanggap sebagai bagian dari sebuah proses pembelajaran, bahwa apa yang tak dapat disembuhkan, harus diderita... dan dengan sukarela aku menikmatinya... Ups! tapi jangan salah, aku bukan masokis, yaa...

Cukuplah keheningan ini memberi makna, ke dalam diriku, di luar diriku, kubiarkan semua bersinergi, untuk menyembuhkan lukaku di alur waktu, menjadikan diriku lebih kuat untuk menghadapi hari esok yang lebih baik. Dan tentunya, selamat datang kepada diriku yang lebih baik, yang sudah melewati fase-fase di belakang jejak-jejak langkahku.

Kini, aku sudah siap menyambut musim yang baru, serta kejutan-kejutan yang datang bersamanya. Bahwa setiap musim yang berganti, sejatinya tak abadi. Mungkin saja kita hanya akan berpapasan selintas lalu, atau kita akan duduk-duduk sejenak di sana sambil minum kopi dan menikmati setiap momennya... atau barangkali kita akan hanyut dalam pelukannya, entah untuk berapa lama, sehangat ia mendekap, sejauh ia sanggup menggeliatkan jiwa dalam roller-coaster bersamaku...

Sebab tak ada yang pasti, semua mengikuti musim yang tak setia. Namun, musim akan selalu berganti, dan kembali... sesederhana hadirnya mereka yang datang dan pergi...

"No matter how long the Winter, Spring is sure to follow" - Proverb


~ Wil Twilite ~


Jumat, Maret 18, 2016

Me and My Solitude

Ketika hanya malam
yang sanggup mengeja diamku,

selebihnya,
pagi hanya menyimpan semua mimpiku
dalam kebisuan yang lengang...


Sejatinya, pemahaman berproses dalam diam, ketika diri menilai sikap dan reaksi seseorang atas kata-kata maupun tindakanku. Dalam hal ini perlu kesinambungan antara hati dan pikiran.

Dalam diam tersirat keraguan, menimang segala aspek yang merujuk pada satu keputusan. Dan, keputusan mengambang di awang-awang bagai gugusan mega di lembayung senja yang perlahan menutup tirai kelam malam.

Ada kalanya aksaraku menjelma ikrar yang lain, tatkala ku takut ia menyerupa benang-benang ingatan yang tengah kurajut menjadi tautan rindu berjelaga, dalam termenung.

Rindu, yang tak semestinya dihadirkan...
Cukuplah sunyi ini mengintai sejauh pemahaman dalam diam.


~ Wil Twilite ~



Selasa, Maret 08, 2016

Sang Pelukis Senja

Ingatanku menelusuri kisah tujuh tahun silam. Ketika seorang sahabat, mengenalkanku dengan seorang pelukis wanita bernama Sheilla. Setelah beberapa kali saling berkirim email, lalu bertukar nomor handphone, Sheilla mengajakku bertemu di salah satu mall di Tangerang Selatan.

Saat itu Sheilla membawakan beberapa miniatur lukisan hasil karyanya, yang sebagian besar bertema bunga atau taman yang indah penuh bunga-bunga. Aku tidak begitu mengerti mengenai lukisan, kala itu. Maka ketika ia bercerita tentang aliran dan lain sebagainya, aku mendengarkan sekedarnya. 

Dengan tidak mengindahkan reaksiku yang biasa-biasa saja, Sheilla tiba-tiba mengambil kamera SLRnya, dan mengarahkan lensa ke wajahku. Aku kaget dan reflek menghindar, sambil sedikit marah. Dia kemudian minta maaf. Selanjutnya, ia menunjukkan foto-foto yang ada di kamera itu kepadaku. "Ini beberapa lukisanku yang lain, Wil", seraya merapatkan bahunya padaku dan memperlihatkan foto-foto lukisan lainnya, dan juga foto keluarga besarnya. "Aku dari keluarga baik-baik, Wil. Jadi, kamu tidak perlu merasa khawatir kalau aku akan melakukan hal yang aneh-aneh. Aku sudah mendengar dari Dhea tentang traumamu sama mantan kamu...". Ia menjelaskan tentang keluarganya. Ia tahu aku punya trauma dengan mantanku yang pertama, dari Dhea, teman yang memperkenalkan kami. Aku mengamati jemarinya menekan tombol forward dengan jeda yang pas. Aku merasakan ia merapatkan tubuhnya, dan hal itu membuatku merasa canggung.

Tak lama kemudian, handphone nya berbunyi. "Iya, Sayang... Mama ada di Starbucks sama teman Mama, kamu mau ke sini?", ucapnya penuh kelembutan yang aku duga kepada anaknya. Dan benar, ternyata ia turut membawa kedua putranya ke sini, mereka langsung ke Gramedia, sementara Sheilla menemuiku di Starbucks. Tak lama kemudian, kedua naknya muncul. "Ini teman Mama, Tante Wil. Ayo salim, ya". Setelah sekilas memperkenalkan kami, Sheilla mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, kedua anaknya ingin main Time Zone.

Ia melanjutkan ceritanya, sambil matanya intens menatapku. Jemarinya sesekali menyentuh lembut jemariku. Sorot matanya lembut namun terasa "mengundang". Aku merasa agak kurang nyaman. Tiba-tiba ia meraih ujung jemariku, "Menurutmu aku cantik?" tanyanya. Aku kaget, sungguh pertanyaan yang tiba-tiba dan tak kuduga. Aku menarik perlahan jemariku dari genggamannya. Ia nampak sedikit tersinggung. "Biasa aja", jawabku kemudian. Kini, aku merasa bodoh atas jawabanku kala itu. Sungguh tak beretika. Tapi itulah aku, dulu, di usia 25 tahun, masih sangat hijau dan muda, sementara Sheilla merupakan wanita matang yang usianya hampir 40 tahun.

Kemudian ia menggeser duduknya agak menjaga jarak denganku. "Menurut mantanku, aku cantik", ucapnya kemudian, tanpa senyum. "Ya, mungkin karena dia suka padamu", jawabku santai. "Lalu kamu tidak, Wil?", kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Aku terdiam. Ini pertama kali kami bertemu. Mana mungkin, kan? Kurasa dia agak terbawa perasaan saja. "Aku baru kenal kamu, Bu...", jawabku sekenanya. "Tapi sebelumnya kita udah sering telponan kan, Wil?". OMG! Lalu? Apakah lantas hal itu bisa membuat seseorang merasa jatuh cinta?, batinku.

Kami lanjut mengobrol dan menjadi agak garing rasanya. Tiba-tiba dia minta maaf, dan bilang kalau Dhea sudah melakukan kesalahan karena memperkenalkan kami yang usianya terpaut jauh. "Walaupun kamu seorang Ibu, tapi masih sangat muda, Wil. Padahal aku bisa mengajarkanmu banyak hal tentang menjadi seorang ibu. Tapi sudahlah, kamu melihatku mungkin tak sesuai harapan", ucapnya. "Bukan, aku pikir kita bisa berteman dulu...", jawabku. "Tidak. Aku mau lebih dari itu. Aku suka kamu, Wil. Sebenarnya kamu dewasa, lucu, menyenangkan. Tapi setelah bertemu aku, sikapmu dingin. Pasti ada yang salah denganku", ia mulai mellow. Lalu ia mulai meracau. Aku merasa tersudutkan. Ini sungguh gila. Ia terlalu cepat menilaiku, dan bahkan memutuskan untuk menyukaiku. Sementara kami belum lama kenal.

Sebelum berpamitan, ia mengeluarkan sebuah kotak manis berwarna pink dengan pita biru muda, "Ini untuk your lil' angel, yang awalnya kukira bisa jadi my lil' angel, too, karena anakku dua-duanya jagoan, ternyata...", ia menghela nafas, lalu menggeleng. Ada rasa bersalah berdesir di dadaku, melihat tatap kecewanya. Aku menolak kotak itu, dan dia bilang sama saja aku menghempaskan hatinya ke dasar jurang paling dalam. Lalu aku menerimanya.

Ia menelpon anak-anaknya, kemudian mereka berpamitan. Aku sempat terdiam di sana cukup lama setelah mereka berlalu dari hadapanku, merenung sejenak. Drama gila macam apa yang baru saja terjadi?, batinku. Tiba-tiba aku merasa sangat jahat, dan sangat bersalah padanya. Kemudian aku pulang. 

Keesokan paginya, aku menerima email dari Sheilla. Isinya permintaan maaf. Katanya, ia tak kuasa menerima penolakanku yang terlalu dini dan tanpa basa-basi, sehingga membuatnya menjadi emosi. Ia ingin menemuiku sekali lagi. Katanya, ia janji akan lebih tenang menghadapiku. "Aku berbincang dengan Dhea seusai aku menemui, Wil, dan Dhea menyayangkan sikapku yang terlalu impulsif kepadamu. Menurut Dhea, kamu harus dihadapi dengan ketenangan, bukan seperti yang aku lakukan kemarin terhadapmu. Beri aku kesempatan sekali lagi, Wil, untuk menemuimu". Aku terdiam. Kubaca berkali-kali email itu dengan perasaan yang silih berganti. Kenapa dia yang minta maaf? Yang benar saja. Sudah jelas aku yang salah. Aku sangat salah.

Kemudian dia menelpon, karena aku tak kunjung membalas emailnya. "Kamu dimana, Wil? Aku akan jemput kamu ke kantor, lalu nanti aku antar pulang, oke? Please, beri aku kesempatan...", suaranya parau dan terdengar putus asa. Kurasa ia tidak dalam mood yang bagus untuk diajak bicara saat ini, menurutku. Aku merasa ada yang salah di sini. Aku yang sudah sedemikian angkuhnya, kenapa dia yang minta maaf dan minta diberi kesempatan olehku, dan bukankah semestinya sebaliknya? "Aku akan balas email kamu, Bu. Ini juga sedang nulis. Kamu tenangkan diri, ya. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu", hiburku dengan suara lembut.

Setelah ia menutup teleponnya, aku membalas email, kusampaikan bahwa aku tidak akan menemuinya lagi, dan terima kasih atas segala kebaikannya. Aku minta maaf atas segala keangkuhanku, dan bahwa aku sesungguhnya hanya ingin berteman saja. Jika ia menginginkan lebih dari itu, butuh proses beberapa waktu ke depan lagi, tentunya. Dan hal semacam itu semestinya mengalir murni seiring waktu.

Dia tidak lagi membalas emailku itu. Namun hujanan smsnya hingga puluhan ke handphoneku. Ia tak memaki aku, namun memaki dirinya sendiri yang terlalu cepat terbawa perasaan hanya karena sikapku yang hangat. Ia sempat bilang, "Bodohnya aku mengira bahwa kamu mungkin bisa jatuh cinta kepadaku". Hujanan kata-katanya yang bertubu-tubi dalam sms-sms itu membuat kepalaku terasa berputar sangat cepat. Aku memutuskan untuk mengganti nomor handphone, dan semua berakhir begitu saja, tak ada komunikasi lagi dengan Sheilla. Seiring waktu, otakku terus berusaha mencerna hikmah dari kejadian ini. Namun hal itu tak berlangsung terlalu lama, setelah aku bertemu dengan yang lain, tentunya. Aku melupakan Sheilla.

Tujuh tahun berlalu. Sudah begitu banyak hal terjadi padaku, dan juga wanita yang datang dan pergi di hidupku, masing-masing meninggalkan pembelajarannya tersendiri. Tiba-tiba aku teringat Sheilla. Ada rasa bersalah yang masih tertinggal di sanubari, saat mengingatnya. Ya, aku ingin minta maaf, atas sikap aroganku padanya, dulu, ketika aku masih sangat muda dan bodoh. Namun tak ada sepenggal jejakpun tentangnya. Aku mencarinya dengan caraku. Membuka semua situs yang berkaitan dengan pelukis wanita Indonesia, satu-satunya hal yang begitu melekat tentangnya, namun hasilnya nihil, karena aku bahkan tak tahu nama aslinya, Sheilla hanya nama alter. Huft.

Aku hampir frustasi. Lalu aku teringat Dhea, teman yang memperkenalkan kami. Aku punya facebook real Dhea, namun untuk bertanya padanya, aku sungkan. Kutelusuri friendlist Dhea yang jumlahnya ribuan orang. Maklum, ia salah satu orang penting di negeri ini. Aku sempat enggan, karena sudah pasti ini akan menghabiskan banyak waktu. Akhirnya kubulatkan tekad. Nawaitu. Di tengah pencarian, aku kewalahan, karena untuk abjad "A" saja rasanya ngga kelar-kelar, dan tiba-tiba paket dataku habis. Damn! 

Setelah mengisi ulang paket data, aku kembali menelusuri. Semua perempuan keibuan yang nampak di sana, aku klik. Kepalaku pening beneran. Bagai mencari sebuah jarum di tumpukan jerami. Namun usahaku ternyata membuahkan hasil yang bahkan tak kuduga. Aku menemukannya! Aku memastikan berkali-kali bahwa itu dia. Sang Pelukis Senja, aku menyebutnya. Thanks to Allah, facebook nya tidak di protect. Aku bolak-balik album fotonya. Ah, aku mengenali wajah kedua anak laki-lakinya, yang kini sudah beranjak remaja.

Lama aku meng-klak-klik profilnya sampai jariku kaku. Berkali-kali aku ingin menekan tombol "Add as friend", namun kuurungkan lagi dan lagi, hingga akhirnya kutekan KLIK!

Damn! What a ....?! Aku mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri. Dan hal itu sudah tidak dapat ku-undo. Rasanya kemungkinan kecil dia akan mengenaliku lagi, setelah tujuh tahun berlalu. Apalagi penampilanku sudah banyak berubah. Dia pasti tidak mengenaliku, batinku. Setiap satu menit kulirik gadget menanti Accepted darinya. Baru satu setengah hari berlalu, aku sudah tidak sabaran. Kubuka kembali profilnya belasan kali hingga wajahnya begitu melekat di kepala. Aku tergoda untuk mengirim pesan. Setelah sejuta keraguan, akhirnya aku meng-klik tombol "Message". Kurasa aku terlalu nekat, dan agak sedikit "gila"! 

"Assalamualaikum, Bu. Mohon berkenan untuk menerima permintaan pertemanan saya. Sudah lama saya mencari Ibu. Wassalamualaikum." SENT! 


~ Wil Twilite ~