Tampilkan postingan dengan label My Writing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Writing. Tampilkan semua postingan
Jumat, April 24, 2020

Stay at Home or Dance with Us




Setelah sebulan work from home (WFH), yang awalnya ngga begitu mudah untuk "dinikmati" karena penambahan kasus positif setiap harinya yang semakin mengkhawatirkan, hingga berita-berita kematian yang lebih banyak dari biasanya, sekarang sudah mulai bisa untuk "dinikmati" secara cooling down.


Adanya trending akhir-akhir ini yang membuat tersenyum diantara sliwerannya pemberitaan, yaitu Coffin Dance Meme. Video dari sekelompok pengusung jenazah mengenakan setelan outfit warna hitam yang mana personilnya juga berkulit hitam, sungguh merupakan suatu hiburan tersendiri, deh. 


Ternyata ini merupakan tradisi pemakaman dari negara Ghana, dimana proses pemakaman dengan menari diiringi lagu semacam itu memang benar-benar dilakukan, bahkan menjadi suatu tradisi yang diyakini dengan prosesi yang demikian, orang yang meninggal akan ikut merasakan bahagia di alam sana. Hmm...


So, during this pandemic, just stay at home or dance with us. Ini emang pas banget ya gaes, supaya orang-orang tuh mikir deh kalau mau keluar rumah untuk hal-hal yang ngga penting. Ngga mau kan jadi bagian dari pasiennya si coffin dance ini? 😷



Yakin masih mau keluar rumah untuk hangout...? Ada yang nungguin tuh di depan pagar, lho... 😈


~ Wil Twilite ~

Jumat, Oktober 05, 2018

DIA


Ibuku uring-uringan terus setiap malam minggu tiba. Bosan aku terus ditanya soal pacar. Kedua kakak perempuanku selalu diapelin sama pacar-pacarnya setiap malam minggu, sedangkan aku tidak pernah. Memang apa salahnya, ya? Ibu selalu bertanya, "Galih, mana pacarmu? Kenalin ke Ibu, suruh main ke rumah". Selalu begitu setiap malam minggu tiba. Huh! Bosan aku!

Ibu hanya tidak tahu. Sebenarnya aku sudah naksir dia sejak kelas 1 SMU sampai sekarang. Dia adalah teman sekelasku. Ya, sudah tiga tahun duduk di bangku SMU dan kami selalu sekelas. Bahkan kelas 3 ini aku sangat beruntung, dia duduk di bangku depanku. Jadi setiap saat aku bisa memandangi wajahnya dengan leluasa, kami sering pula terlibat dalam diskusi kelompok beberapa mata pelajaran apabila guru membagi kelompok berdasarkan kedekatan tempat duduk.

Tak seorang pun aku ceritakan  tentang perasaanku pada dia. Cukup aku saja yang tahu. Dia pun tak pernah tahu, bahkan aku yakin terpikir pun tidak dalam benaknya bahwa aku diam-diam menyukainya. Ya, aku seyakin itu. Meski aku sering merasa cemburu setiap kali dia didekati oleh anak laki-laki. Ya, dia memang banyak yang naksir. Cantik, pintar, santun, the best lah pokoknya.

Tibalah hari valentine, dimana teman-teman biasanya sibuk ingin menyatakan perasaan pada orang yang disukainya, baik secara terang-terangan maupun secara rahasia. Tiba-tiba terlintas dalam benakku untuk menyatakan perasaan ini kepada dia. Ya, sudah kelas 3 dan sebentar lagi kami akan memasuki masa kelulusan. Mengapa aku tidak mencoba mengutarakan perasaan ini? Ya, mengapa?

Sudah dua jam aku mengamati secarik kartu valentine yang diam-diam kubeli di toko stationary tadi sepulang sekolah, tergeletak di atas meja belajarku. Isinya masih kosong. Aku mondar-mandir dengan perasaan tak menentu, bingung mau menuliskan apa disana. Ah, kok susah ya? Sudah bertambah dua jam kemudian, namun belum juga aku menemukan kata-kata. Akhirnya aku diamkan saja hingga hari beranjak malam. Menjelang tidur, akhirnya kuambil pena dan mulai menulis.. "Dear you, happy valentine's day.. I just want you to know that I admire you since the first time.. -G".

Esok harinya aku datang paling pagi di kelas. Kuamati belum ada siapa-siapa. Langsung kuselipkan kartu itu di kolong meja dia. Lalu aku buru-buru keluar kelas menuju kantin. Hingga bel masuk berdering baru aku masuk ke kelas. Kulihat dia sedang memegang kartu dariku. Oh My God! Dadaku berdegup sangat kencang. Kurasakan wajahku seperti panas, aku takut bila wajahku menjadi merona merah. Duh! Aku tidak pernah menyangka sekedar melihat dia membacanya saja bisa menimbulkan dampak sedahsyat ini. Kuperhatikan ekspresi wajahnya nampak bingung, mungkin dia sedang menerka siapa si pemberi kartu misterius itu? Ah! Entahlah. Tiba-tiba aku panik, merasa bodoh dan menyesal kenapa harus aku tulis inisial segala. Duh! Bodohnya aku! Bagaimana kalau nanti dia curiga?

Jantungku mau copot. Sepulang sekolah, tiba-tiba dia menepuk pundakku saat berjalan keluar kelas. "Galih. Selain kamu, rasanya inisial G di angkatan kita ngga banyak deh. Kalau yang laki-laki tuh siapa aja ya?". Dug! Rasanya wajahku bagai dihantam sarung tinju. Dengan pura-pura bodoh aku malah bertanya, "Wah. Harus lihat daftar nama siswa dulu. Emang kenapa?". Dia tersenyum, dan menunjukkan kartu itu ke wajahku. Aaaarrrggghhh!!! Kurasakan mukaku memanas dan aku tak sanggup lagi berkata. Dia seperti heran dengan ekspresi anehku yang menjadi norak seketika, dan bilang, "Kamu kenapa, sih? Kok lebay gitu reaksinya? Aku cuma nanya, siapa aja cowok di angkatan kita yang inisial G? Jadi aku bisa menduga-duga siapa diantara mereka yang kirim kartu ini".

Ya benar juga sih. Tak seharusnya aku sepanik itu. Dia ngga mungkin menduga bahwa inisial G itu adalah aku, kan? Fokusnya adalah cowok-cowok. Titik.


~ Wil Twilite ~
Selasa, April 17, 2018

Menjadi Baik



Ketika komunikasi hanya sebatas untai aksara yang menari, tanpa ekspresi lepas. Bagaimana zaman telah bergulir menggeser kedekatan menjadi jauh, dan tidak sebaliknya...?

Terkadang manusia memaksakan kehendak atas sesuatu. Mengungkapkan gulir paradoks yang tidak pada tempatnya. Entahlah. Mungkin akal sehat sudah terkontaminasi oleh polusi peradaban.

Aku hanya ingin menjadi baik, tanpa merusak tatanan. Dan aku tak berkenan untuk kau usik, pun sesiapa.

Bolehkah...?


~ Wil Twilite ~
Sabtu, Februari 24, 2018

Senja

Senja meronakan wajah langit, seperti tersipu. Semilir angin, lambaikan pepohonan diantara pasir pantai dan debur ombak. 

Langkah yang telanjang, menyusur di sepanjang tepian laut yang menderu. Tatap yang kosong, jiwa yang hampa, hati yang beku. Tak ada tempat ku tuju. Hanya langkah gontai yang tersesat.

Kilas balik jejak-jejak usia bergulir di ingatan bagai tayangan dokumenter usang ditelan peradaban. Waktu terus melaju namun seolah jiwaku terhenti dalam pusarannya yang entah di belahan bumi bagian mana.

Terkatung-katung terus kubawa langkah ini ke depan. Meski tanpa arah. Meski tanpa tujuan. Akan ku pastikan langkah ini tetap beranjak meninggalkan jejak-jejak masa lalu.

Semoga di depan sana ada secercah cahaya menuntunku. Dan Rabb-ku, tak pernah meninggalkanku dalam kondisi paling hampa sekalipun. Aku percaya itu.

~ Wil Twilite ~
Selasa, Mei 16, 2017

Perang Melawan Ego

Selama ini kita cenderung menjauhi segala hal yang kita benci atau tidak kita sukai. Alih-alih untuk menghindari penyakit hati, mencari ketenangan, dan keinginan dari dasar hati untuk bahagia. Maka lebih baik kita tidak dekat-dekat dengan segala yang membuat kita merasa tidak nyaman, orang-orang yang memancarkan aura negatif, misalnya, atau orang-orang yang bersikap tidak baik kepada kita dalam keseharian. Untuk apa berdekatan dengan mereka? Kalau memang mereka tidak suka, kita (merasa) juga tidak butuh. Jadi, ya, jauh-jauh saja. Hidup tentunya akan lebih bermakna.

Namun akhir-akhir ini aku menemukan pemahaman yang sebaliknya atas rasa benci. Mengapa harus dipelihara? Mengapa kita harus membatasi diri sesempit itu? Mengapa kita membangun benteng yang tinggi atas kebencian dan rasa enggan menghadapi mereka yang kita benci dan (kita duga) membenci kita? Apakah benar dengan demikian kita akan merasa damai di hati? Tidakkah sikap yang demikian sesungguhnya sama saja dengan tinggi hati?

Suka dan benci adalah dua sisi, hitam dan putih. Memang Allah Yang Maha Membolak-balikkan Hati, namun kita juga memiliki kendali atas perasaan. Kita bisa menyukai atau membenci seseorang atau sesuatu, dan perasaan ibarat tanaman, dapat ditumbuhkan asalkan kita mau merawat dan rajin menyiraminya. Apakah kita mau berusaha menumbuhkan rasa suka itu?

Bersediakan kita mengubah persepsi yang selama ini terpatri di hati? Menurunkan ego untuk menyapa duluan seseorang yang selama ini begitu menyebalkan, dan senantiasa memancing emosi kita setiap kali berinteraksi dengannya? Seseorang yang begitu angkuh dan tidak mungkin mendekat duluan ke kita, berkenankah kita menurunkan ego untuk terlebih dulu menyapanya? Dengan segala resiko penolakan yang mungkin terjadi?

Mungkin terkesan memaksakan diri, awalnya akan menimbulkan perasaan tidak nyaman, seperti secara sadar sedang merendahkan diri. Namun rasa benci harus kita lawan, demi tujuan yang mulia. Menguji ketahanan emosi dan menuju proses kematangan jiwa dan kedewasaan. Waktunya bergerak bukan semata atas dasar rasa suka atau benci. Tak kenal maka tak sayang. Sudah saatnya kita memaknainya lebih dalam. 

Seseorang pernah menyampaikan kepadaku, “Sekian lama kita lost contact, dan akhirnya kita bertemu kembali. Ada satu hal yang tidak berubah darimu, kamu tetap menulis. Aku tidak menemukan blog-mu terhenti sejak pertama kali, bertahun lalu aku mengenal kamu dari tulisan-tulisanmu”.

Kuncinya adalah, kita selalu punya waktu untuk hal yang kita sukai. Aku suka menulis. Tak peduli saat itu sedang tidak ada inspirasi, atau aku hanya menulis sekedarnya saja, tidak tajam atau sarat makna, pokoknya aku ingin menulis, sekalipun itu sekedar sebait perasaan atau sejumput pemikiran yang melintas, akan kutuliskan di sini. Kemudian perasaanku, dan pikiranku terbebaskan.

Aku menulis saat aku senang, sedih, bahkan marah. Menulis, bagiku, mengalirkan ketenangan tersendiri. Pun awalnya blog ini kubuat sebagai curahan isi hati, menulis untuk merelease perasaanku sendiri, untuk dibaca olehku sendiri. Namun seiring waktu blog ini memiliki pembaca, bahkan mendatangkan teman. Alhamdulillah.

Back to topic, intinya kita perlu meluangkan waktu, bukan sekedar untuk melakukan hal yang kita sukai, namun juga untuk berusaha mengalirkan rasa suka, pada apa yang sebelumnya kita benci atau tidak sukai. Memang tidak akan mudah. Jalan menuju kebaikan tidaklah dijanjikan mulus, kita akan menginjak kerikil tajam, atau bahkan tersandung dan terjatuh.

Perang terbesar dalam hidup adalah ketika kita harus melawan ego diri sendiri. Untuk membuktikan apa? Kepada siapa? Lakukan itu untuk diri kita, buktikan pada diri sendiri bahwa banyak hal di sekitar yang ternyata tak seburuk dugaan atau prasangka kita. 

Suka dan benci adalah perasaan. Yakinlah bahwa perasaan dapat dikendalikan, sebagaimana pikiran. Mari runtuhkan dinding tinggi yang menjulang bernama ego, mulailah membuka diri lebih luas dan lapang, ringankan langkah.

Kumpulkan keberanian dan besarkan hati untuk mendekat lebih dulu, untuk menerima, berusaha menyukai, atau paling tidak, lepaskan rasa benci yang pernah ada, tanpa syarat, tanpa perlu alasan apapun selain untuk membersihkan hati, jiwa, dan pikiran.


~ Wil Twilite ~
Jumat, Mei 12, 2017

A Moment of Reflection

Aku tersentak.. pada tamparan-tamparan halus yang menohok, dari orang-orang kesayangan.

Aku tergetar.. pada ketakutan yang teramat sangat, menatap cermin besar di hadapan.

Aku merenung.. dalam pemahaman yang absurd akan diriku sendiri.

Begitu haus keingintahuanku untuk menyelami jiwaku. Tanpa kusadari, aku telah membangun dinding tebal dari siapa pun. Aku kerap mengenakan topeng yang terbaik setiap kali aku berhadapan dengan siapa pun, baik mereka yang kukenal, terlebih mereka yang tak mengenalku.

Aku semakin angkuh dalam langkah yang gontai. Kerapuhanku justru membangun dinding yang semakin tinggi untuk melindungi hatiku dari rasa kecewa, takut, dan tak ingin terluka. Diriku penuh propaganda. Kupetakan begitu banyak tempat yang semestinya bukan wilayah teritorialku.

Izinkan ku berdiam sekali lagi dalam hening yang tak berbatas. Izinkan ku mematut diri di hadapan cermin besar agar senantiasa kuberkaca.

Aku telah mempecundangi diriku sendiri dalam keinginan yang melampaui batas atas nafsu duniawiku. Apa yang kucari?

Biar kuringankan langkahku dalam menemukan kembali jalan pulang seusai ku tersesat di lorong panjang yang gelap. Selama ini aku telah disilaukan oleh cahaya lampu yang meredup saat mentari menyapa. Aku butuh cahaya yang sejati. Menerangi hati, pikiran, dan jiwaku.. yang tak pernah padam.

Cahaya itu milikNya. Hanya Ia Yang Maha Berkehendak, menitipkan cahayaNya di hatiku. Aku hanya dapat memohon ampunanNya, dan kembali pada kodratku yang semestinya. Segala kelemahanku adalah ujian dariNya, semata agar aku bersimpuh dan mohon kekuatan, hanya kepadaNya..


~ Wil Twilite ~
Ahlan wa sahlan yaa Ramadhan..
Selasa, Maret 08, 2016

Sang Pelukis Senja

Ingatanku menelusuri kisah tujuh tahun silam. Ketika seorang sahabat, mengenalkanku dengan seorang pelukis wanita bernama Sheilla. Setelah beberapa kali saling berkirim email, lalu bertukar nomor handphone, Sheilla mengajakku bertemu di salah satu mall di Tangerang Selatan.

Saat itu Sheilla membawakan beberapa miniatur lukisan hasil karyanya, yang sebagian besar bertema bunga atau taman yang indah penuh bunga-bunga. Aku tidak begitu mengerti mengenai lukisan, kala itu. Maka ketika ia bercerita tentang aliran dan lain sebagainya, aku mendengarkan sekedarnya. 

Dengan tidak mengindahkan reaksiku yang biasa-biasa saja, Sheilla tiba-tiba mengambil kamera SLRnya, dan mengarahkan lensa ke wajahku. Aku kaget dan reflek menghindar, sambil sedikit marah. Dia kemudian minta maaf. Selanjutnya, ia menunjukkan foto-foto yang ada di kamera itu kepadaku. "Ini beberapa lukisanku yang lain, Wil", seraya merapatkan bahunya padaku dan memperlihatkan foto-foto lukisan lainnya, dan juga foto keluarga besarnya. "Aku dari keluarga baik-baik, Wil. Jadi, kamu tidak perlu merasa khawatir kalau aku akan melakukan hal yang aneh-aneh. Aku sudah mendengar dari Dhea tentang traumamu sama mantan kamu...". Ia menjelaskan tentang keluarganya. Ia tahu aku punya trauma dengan mantanku yang pertama, dari Dhea, teman yang memperkenalkan kami. Aku mengamati jemarinya menekan tombol forward dengan jeda yang pas. Aku merasakan ia merapatkan tubuhnya, dan hal itu membuatku merasa canggung.

Tak lama kemudian, handphone nya berbunyi. "Iya, Sayang... Mama ada di Starbucks sama teman Mama, kamu mau ke sini?", ucapnya penuh kelembutan yang aku duga kepada anaknya. Dan benar, ternyata ia turut membawa kedua putranya ke sini, mereka langsung ke Gramedia, sementara Sheilla menemuiku di Starbucks. Tak lama kemudian, kedua naknya muncul. "Ini teman Mama, Tante Wil. Ayo salim, ya". Setelah sekilas memperkenalkan kami, Sheilla mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, kedua anaknya ingin main Time Zone.

Ia melanjutkan ceritanya, sambil matanya intens menatapku. Jemarinya sesekali menyentuh lembut jemariku. Sorot matanya lembut namun terasa "mengundang". Aku merasa agak kurang nyaman. Tiba-tiba ia meraih ujung jemariku, "Menurutmu aku cantik?" tanyanya. Aku kaget, sungguh pertanyaan yang tiba-tiba dan tak kuduga. Aku menarik perlahan jemariku dari genggamannya. Ia nampak sedikit tersinggung. "Biasa aja", jawabku kemudian. Kini, aku merasa bodoh atas jawabanku kala itu. Sungguh tak beretika. Tapi itulah aku, dulu, di usia 25 tahun, masih sangat hijau dan muda, sementara Sheilla merupakan wanita matang yang usianya hampir 40 tahun.

Kemudian ia menggeser duduknya agak menjaga jarak denganku. "Menurut mantanku, aku cantik", ucapnya kemudian, tanpa senyum. "Ya, mungkin karena dia suka padamu", jawabku santai. "Lalu kamu tidak, Wil?", kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Aku terdiam. Ini pertama kali kami bertemu. Mana mungkin, kan? Kurasa dia agak terbawa perasaan saja. "Aku baru kenal kamu, Bu...", jawabku sekenanya. "Tapi sebelumnya kita udah sering telponan kan, Wil?". OMG! Lalu? Apakah lantas hal itu bisa membuat seseorang merasa jatuh cinta?, batinku.

Kami lanjut mengobrol dan menjadi agak garing rasanya. Tiba-tiba dia minta maaf, dan bilang kalau Dhea sudah melakukan kesalahan karena memperkenalkan kami yang usianya terpaut jauh. "Walaupun kamu seorang Ibu, tapi masih sangat muda, Wil. Padahal aku bisa mengajarkanmu banyak hal tentang menjadi seorang ibu. Tapi sudahlah, kamu melihatku mungkin tak sesuai harapan", ucapnya. "Bukan, aku pikir kita bisa berteman dulu...", jawabku. "Tidak. Aku mau lebih dari itu. Aku suka kamu, Wil. Sebenarnya kamu dewasa, lucu, menyenangkan. Tapi setelah bertemu aku, sikapmu dingin. Pasti ada yang salah denganku", ia mulai mellow. Lalu ia mulai meracau. Aku merasa tersudutkan. Ini sungguh gila. Ia terlalu cepat menilaiku, dan bahkan memutuskan untuk menyukaiku. Sementara kami belum lama kenal.

Sebelum berpamitan, ia mengeluarkan sebuah kotak manis berwarna pink dengan pita biru muda, "Ini untuk your lil' angel, yang awalnya kukira bisa jadi my lil' angel, too, karena anakku dua-duanya jagoan, ternyata...", ia menghela nafas, lalu menggeleng. Ada rasa bersalah berdesir di dadaku, melihat tatap kecewanya. Aku menolak kotak itu, dan dia bilang sama saja aku menghempaskan hatinya ke dasar jurang paling dalam. Lalu aku menerimanya.

Ia menelpon anak-anaknya, kemudian mereka berpamitan. Aku sempat terdiam di sana cukup lama setelah mereka berlalu dari hadapanku, merenung sejenak. Drama gila macam apa yang baru saja terjadi?, batinku. Tiba-tiba aku merasa sangat jahat, dan sangat bersalah padanya. Kemudian aku pulang. 

Keesokan paginya, aku menerima email dari Sheilla. Isinya permintaan maaf. Katanya, ia tak kuasa menerima penolakanku yang terlalu dini dan tanpa basa-basi, sehingga membuatnya menjadi emosi. Ia ingin menemuiku sekali lagi. Katanya, ia janji akan lebih tenang menghadapiku. "Aku berbincang dengan Dhea seusai aku menemui, Wil, dan Dhea menyayangkan sikapku yang terlalu impulsif kepadamu. Menurut Dhea, kamu harus dihadapi dengan ketenangan, bukan seperti yang aku lakukan kemarin terhadapmu. Beri aku kesempatan sekali lagi, Wil, untuk menemuimu". Aku terdiam. Kubaca berkali-kali email itu dengan perasaan yang silih berganti. Kenapa dia yang minta maaf? Yang benar saja. Sudah jelas aku yang salah. Aku sangat salah.

Kemudian dia menelpon, karena aku tak kunjung membalas emailnya. "Kamu dimana, Wil? Aku akan jemput kamu ke kantor, lalu nanti aku antar pulang, oke? Please, beri aku kesempatan...", suaranya parau dan terdengar putus asa. Kurasa ia tidak dalam mood yang bagus untuk diajak bicara saat ini, menurutku. Aku merasa ada yang salah di sini. Aku yang sudah sedemikian angkuhnya, kenapa dia yang minta maaf dan minta diberi kesempatan olehku, dan bukankah semestinya sebaliknya? "Aku akan balas email kamu, Bu. Ini juga sedang nulis. Kamu tenangkan diri, ya. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu", hiburku dengan suara lembut.

Setelah ia menutup teleponnya, aku membalas email, kusampaikan bahwa aku tidak akan menemuinya lagi, dan terima kasih atas segala kebaikannya. Aku minta maaf atas segala keangkuhanku, dan bahwa aku sesungguhnya hanya ingin berteman saja. Jika ia menginginkan lebih dari itu, butuh proses beberapa waktu ke depan lagi, tentunya. Dan hal semacam itu semestinya mengalir murni seiring waktu.

Dia tidak lagi membalas emailku itu. Namun hujanan smsnya hingga puluhan ke handphoneku. Ia tak memaki aku, namun memaki dirinya sendiri yang terlalu cepat terbawa perasaan hanya karena sikapku yang hangat. Ia sempat bilang, "Bodohnya aku mengira bahwa kamu mungkin bisa jatuh cinta kepadaku". Hujanan kata-katanya yang bertubu-tubi dalam sms-sms itu membuat kepalaku terasa berputar sangat cepat. Aku memutuskan untuk mengganti nomor handphone, dan semua berakhir begitu saja, tak ada komunikasi lagi dengan Sheilla. Seiring waktu, otakku terus berusaha mencerna hikmah dari kejadian ini. Namun hal itu tak berlangsung terlalu lama, setelah aku bertemu dengan yang lain, tentunya. Aku melupakan Sheilla.

Tujuh tahun berlalu. Sudah begitu banyak hal terjadi padaku, dan juga wanita yang datang dan pergi di hidupku, masing-masing meninggalkan pembelajarannya tersendiri. Tiba-tiba aku teringat Sheilla. Ada rasa bersalah yang masih tertinggal di sanubari, saat mengingatnya. Ya, aku ingin minta maaf, atas sikap aroganku padanya, dulu, ketika aku masih sangat muda dan bodoh. Namun tak ada sepenggal jejakpun tentangnya. Aku mencarinya dengan caraku. Membuka semua situs yang berkaitan dengan pelukis wanita Indonesia, satu-satunya hal yang begitu melekat tentangnya, namun hasilnya nihil, karena aku bahkan tak tahu nama aslinya, Sheilla hanya nama alter. Huft.

Aku hampir frustasi. Lalu aku teringat Dhea, teman yang memperkenalkan kami. Aku punya facebook real Dhea, namun untuk bertanya padanya, aku sungkan. Kutelusuri friendlist Dhea yang jumlahnya ribuan orang. Maklum, ia salah satu orang penting di negeri ini. Aku sempat enggan, karena sudah pasti ini akan menghabiskan banyak waktu. Akhirnya kubulatkan tekad. Nawaitu. Di tengah pencarian, aku kewalahan, karena untuk abjad "A" saja rasanya ngga kelar-kelar, dan tiba-tiba paket dataku habis. Damn! 

Setelah mengisi ulang paket data, aku kembali menelusuri. Semua perempuan keibuan yang nampak di sana, aku klik. Kepalaku pening beneran. Bagai mencari sebuah jarum di tumpukan jerami. Namun usahaku ternyata membuahkan hasil yang bahkan tak kuduga. Aku menemukannya! Aku memastikan berkali-kali bahwa itu dia. Sang Pelukis Senja, aku menyebutnya. Thanks to Allah, facebook nya tidak di protect. Aku bolak-balik album fotonya. Ah, aku mengenali wajah kedua anak laki-lakinya, yang kini sudah beranjak remaja.

Lama aku meng-klak-klik profilnya sampai jariku kaku. Berkali-kali aku ingin menekan tombol "Add as friend", namun kuurungkan lagi dan lagi, hingga akhirnya kutekan KLIK!

Damn! What a ....?! Aku mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri. Dan hal itu sudah tidak dapat ku-undo. Rasanya kemungkinan kecil dia akan mengenaliku lagi, setelah tujuh tahun berlalu. Apalagi penampilanku sudah banyak berubah. Dia pasti tidak mengenaliku, batinku. Setiap satu menit kulirik gadget menanti Accepted darinya. Baru satu setengah hari berlalu, aku sudah tidak sabaran. Kubuka kembali profilnya belasan kali hingga wajahnya begitu melekat di kepala. Aku tergoda untuk mengirim pesan. Setelah sejuta keraguan, akhirnya aku meng-klik tombol "Message". Kurasa aku terlalu nekat, dan agak sedikit "gila"! 

"Assalamualaikum, Bu. Mohon berkenan untuk menerima permintaan pertemanan saya. Sudah lama saya mencari Ibu. Wassalamualaikum." SENT! 


~ Wil Twilite ~
Selasa, Maret 01, 2016

Somewhere Over The Rainbow


Di Negeri Hitam-Putih, mereka hanya mengenal warna hitam dan putih saja, meski sebagian diantaranya ada yang abu-abu. Mereka belum pernah memasuki negeri di balik pelangi.

Negeri di balik pelangi bertabur aneka warna. Hati-hati dengan matamu, bisa terpikat sejuta pesona di sana. Untuk memasukinya, kukenakan jubah dan topeng.

Aku berpapasan dengan banyak wajah yang juga mengenakan jubah topeng beraneka. Sebagian mereka yang berpapasan denganku, menyapa dengan ramah. Aku membalas dengan anggukan, sebab senyumku tersembunyi.

Aku menyukai aroma misterinya. Siapakah mereka yang bersembunyi di balik jubah dan topeng beraneka ini...? Barangkali saja, sebagian diantara mereka berasal dari Negeri Hitam-Putih yang tengah berpetualang...?

Ada perpustakaan dan kedai kopi cantik di Negeri Pelangi. Untuk memasukinya harus dengan kata kunci, sebab hanya orang-orang tertentu saja yang diperkenankan untuk singgah dan duduk-duduk di sana.

Aku berbincang hangat dengan beberapa wanita istimewa yang berpapasan jalan denganku, kemudian kami saling membagi sepenggal kisah dalam seperjalanan. Harus hati-hati dalam memilih sahabat kenalan di Negeri Pelangi. Jika beruntung, kau akan mendapat permata, namun jika tidak, sepatumu akan terkena lumpur kotor.

Negeri Pelangi menyajikan banyak keindahan, namun tidaklah menjanjikan apa pun. Semua kendali tetap ada di dalam dirimu, maka jangan terlena. Bersenang-senanglah seperlunya saja, tidak untuk larut dan tenggelam. Sebab realita tetaplah berada di sudut pandang hitam, putih, dan abu-abu.

Di perbatasan antara Negeri Hitam-Putih dan Negeri Pelangi, aku pernah memiliki pintu, namun kini cukup dari jendela saja aku memandangnya. Ada kehangatan yang mengalir di sanubari, setiap kali aku menatap keluar jendela itu.

Aku masih memiliki pintu rahasia, hanya dengan mantera sihir, ia dapat dibuka kembali. Untuk mereka yang benar-benar istimewa, tentunya.

Aku merasa bebas untuk menjadi siapa saja di Negeri Pelangi, sebab tak ada aturan yang mengikat. Aku bisa menjadi bijak, atau nakal, atau sesukaku saja. Ketika aku bebas menjadi aku, tetaplah kusebut itu sebagai kebebasan, meskipun harus bersembunyi di balik jubah dan topeng sebagai perisaiku.

Pesanku, jangan berlabuh pada dermaga yang salah jika tak ingin kapalmu karam perlahan ketika rantainya mulai berkarat.

"A smooth sea never made a strong sailor, thought I never met a strong person with an easy past".

Namun untuk memahamiku, tak cukup hanya dengan menterjemahkan aksaraku yang bersayap, sebab aku masih menikmati menjadi misteri.


~ Wil Twilite ~
Senin, Februari 01, 2016

Fifty Shades of ...


Aku mengenalnya di dunia maya. Berawal dari beberapa baris komentarnya di blogku, kemudian kami saling berkirim email, hingga berteman di beberapa social media. Namanya Alena, wanita blasteran Indonesia - Australia, usia 40 tahun, tinggal di Sydney. She’s so open minded, she’s got a sexy mind, very wise, and sophisticated on many things. Totally adorable.

Sejauh aku mengenalnya, Alena tidaklah seperti wanita kebanyakan. Dia menawarkan padaku suatu bentuk hubungan yang tidak umum. Berawal dari bahasan kami tentang film Fifty Shades of Grey yang tidak lulus sensor untuk tayang di layar lebar Indonesia. Kuceritakan pada Alena bahwa aku diajak oleh sahabatku untuk nonton di Golden Village Plaza, Orchard Road, Singapura. Well, that was a very amazing experience for me, took a flight only for a movie. My buddy might losing her mind for Jamie Dornan.

I’m a woman version of Christian Grey, Wil...”, ujar Alena, mengagetkanku.

Pardon...?”, tanyaku setengah shock.

Yes, I am. And I am the dominant".

Aku terdiam. Awalnya aku sempat berpikir Alena bergurau. Namun akhirnya aku tahu ia serius, dan aku takjub.

This isn’t an ordinary kind of relationship, my dear.. but this is an ownership.. I owned you, and I want all of you..”, lanjutnya setelah aku terdiam terlalu lama. She leaves me speechless.

Awalnya aku mengira hal semacam ini hanya ada dalam novel atau film. Namun seiring proses pendewasaanku, aku mulai memahami bahwa novel atau film yang mengangkat kisah ini tentunya based on true story, bukan...? Dan hal semacam ini benar-benar ada di dunia nyata. Perilaku seksual tidak umum. Mereka memiliki dunianya sendiri, mereka menikmatinya. Dan kini ada seseorang yang aku kenal, merupakan salah satunya. Aku semakin takjub. Semakin menyadari bahwa kehidupan menyimpan begitu banyak rahasia kelam yang tak nampak di permukaan, dan tak ada yang tak mungkin.

Pantas saja berbincang dengan Alena mengalirkan kenikmatan tersendiri. Dia figur yang matang, bergairah, intens dan dominan. Berbagai topik obrolan mengalir tanpa judgement. Tentang keluarga, pekerjaan, orientasi seksual, hingga tentang seks itu sendiri. Alena mampu membuatku merasa nyaman membahasnya tanpa harus menyensor istilah-istilah yang dianggap tabu. We sometimes did dirty talking and some kind of reach the climax. That kind of climax I can’t explain into words, I guess.

Alena pun pernah menawarkanku untuk pindah ke Sydney, hidup bersamanya, dan bersama dua orang wanita lain "kepunyaannya", dengan iming-iming kelimpahan materi yang akan dijaminkan untukku. She said that she's rich. But, I don't know...

Sorry, I can’t, my dear.. you know that I have family here”. Alena tahu aku sudah berkeluarga. Dia menawarkan untuk menanggung seluruh biaya bila aku bersedia untuk bercerai. Wow!!

"How you would not love me, if I give you everything, my dear...?", she asked.

Well, dalam langkah meniti waktu, kita senantiasa dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menakjubkan. Aku telah memutuskan menikah, for many kind of reasons of life, itu sudah menjadi pilihanku. Apa yang ditawarkan Alena merupakan sesuatu hal yang sangat tidak sesuai dengan nuraniku. 

----------------------------

Setelah sekitar enam bulan berlalu sejak percakapan terakhirku dengan Alena, tiba-tiba ada pesan darinya melalui HP-ku. 

"Hi, Wil. It's been so long. How are you, now...? Aku berencana akan menghabiskan beberapa minggu di Indonesia, karena aku akan punya wanita di sana".

”Oh.. really..?”, balasku, it really shocked me.

"What a surprise, right...? I thought maybe we can meet...?", balasnya lagi. Aku agak mikir sebentar sebelum aku membalasnya.

"Sure, where and when? It’s just like a sudden, you never told me before that you will coming here..”, even it’s not especially to meet me, batinku. How come si Alena ini sudah dapat gebetan baru di Indonesia dalam waktu yang begitu singkat setelah aku "menolaknya"...? 

“Then I’ll let you know where will I live in Jakarta. I want to meeting you first before this lady, will you..?”.

Aku pun kembali shock membacanya. Betapa player kelas paus si Alena ini. Then I answer, “Let's see...”. Aku merasa dia hanya tersenyum membacanya.

Udah. Gitu aja.


- THE END / TAMAT -
*) kisah ini 100% adalah fiksi dan bukan pengalaman penulis
Rabu, Februari 22, 2012

X-Men: Mutan dan Kita


Gambar di atas merupakan salah satu adegan favoritku dalam film X-Men First Class. Suatu malam Raven mendatangi Charles yang sedang asik duduk membaca di sofa. “Maukah kau membacakan cerita untukku...?”, tanya Raven. “Tidak malam ini. Aku sedang mempersiapkan diri untuk ujian thesisku”, jawab Charles. Raven mendekat, duduk disamping Charles, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Charles, “Baiklah. Bacakan saja thesismu. Aku akan mendengarkannya sebagai pengantar tidurku, seperti biasa”. Well, kurleb seperti itu dialognya, seingatku.

Charles yang sudah mengetahui bahwa dirinya ‘berbeda’ sejak masih kecil, suatu malam memergoki Raven mengendap-endap di dapur rumahnya, mencari makanan. Raven yang panik menampakkan wujud aslinya, mengira Charles akan takut padanya, namun ia salah. “Kau tak takut padaku...?”, tanya Raven heran. “Aku selalu percaya bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang ‘berbeda’ di dunia ini. Dan ternyata aku benar. Ada kau.”, jawab Charles sambil tersenyum, seraya mengulurkan tangannya. Selanjutnya Charles mengangkat Raven sebagai adik dan mengizinkan tinggal dirumahnya. Raven yang selama ini malu pada wujudnya, merasakan ketulusan Charles menerima dirinya apa adanya dan senantiasa memberi dorongan pada Raven agar dapat menerima dirinya sendiri yang 'berbeda'.

In my personal opinion, karakter Charles memang keren. Profesor muda yang jenius, penyayang dan kharismatik. Ditambah kemampuannya memasuki dan mengendalikan alam pikiran orang lain. Telepati tingkat tinggi.

Anyway, kalau dipikir-pikir, kehidupan para mutan dalam film X-Men mirip dengan kehidupan homoseksual (pada umumnya), dan atau kehidupan lesbian (pada khususnya). X-Men mengisahkan eksistensi mutan yang hidup berdampingan dengan manusia. Mereka dianugerahi kekuatan melebihi manusia pada umumnya, namun mengalami kesulitan dalam mengendalikannya. Sebagian mutan ada yang memiliki wujud fisik yang tak biasa, seperti Raven (Mystique). Tak jarang, mereka cenderung mengasingkan diri dari pergaulan karena merasa dan dianggap aneh oleh lingkungan. Dalam proses pencarian jati diri, mereka mencari tahu apakah di luar sana ada orang lain yang seperti mereka, berharap tak sendiri.

X-Men First Class mengisahkan awal perkenalan Charles dengan Raven di masa kecil. Selanjutnya saat dewasa, takdir mempertemukan Charles dengan Erik, menjadikan mereka sahabat. Bersama-sama, mereka mengeksplorasi kekuatan yang dimiliki dan belajar mengandalikannya. Berbekal kemampuan telepati Charles yang sangat tinggi, mereka mulai merekrut mutan-mutan yang berkeliaran di luar sana, mengumpulkannya, menaunginya. Inilah cikal bakal terbentuknya komunitas mutan.

Awalnya mereka semua bersatu dengan satu visi dan misi yaitu melatih dan mengendalikan kekuatan yang dimiliki. Sebab, kekuatan yang tidak terkontrol dapat mencelakai manusia. Namun di tengah jalan, satu peristiwa besar (momentum) menyebabkan Charles dan Erik berseberangan ideologi, yang berakibat pecahnya komunitas mutan menjadi dua kubu. Persahabatan antara Charles dan Erik pun bermutasi menjadi permusuhan.

Charles mendirikan The Xavier Institute atau X-Mansion, tempat yang disediakan bagi para mutan (X-Men) untuk bernaung dan belajar mengendalikan kekuatan yang dimiliki agar dapat berbaur dengan manusia tanpa harus merasa takut dan atau mencelakai. Di sisi lain, Erik dengan Brotherhood of Mutants-nya mengumpulkan mutan-mutan yang merasa diasingkan oleh manusia, menggalang kekuatan besar untuk menguasai dunia, menjadikan manusia sebagai musuh yang dianggap mengancam eksistensi kaumnya di muka bumi.

So... silakan dianalogikan sendiri dengan kehidupan homoseksual dan atau dunia lesbian yang kita jalani. Apakah kita termasuk pengikut aliran Charles Xavier a.k.a. Profesor-X, ataukah kita penganut paham Erik Lehnsherr a.k.a. Magneto...? Apakah kita lesbian yang sekalipun memiliki orientasi seksual berbeda, tetap menyadari bahwa kita merupakan bagian dari masyarakat, dan tetap berusaha meningkatkan kualitas diri kita dalam masyarakat...? Ataukah kita lesbian yang memilih untuk bersikap antipati terhadap masyarakat, karena merasa diri ‘berbeda’ dan hanya ingin hidup dalam lingkaran komunitas sendiri, enggan berbaur dengan masyarakat...?

--------------------------



Unfortunately, I do know you. God, I don't know what's gotten into you lately. You're awfully concerned with your looks. (Professor Charles Xavier to Raven/Mystique)

If you're using half your concentration to look normal, then you're only half paying attention to whatever else you're doing. Just pointing out something that could save your life. You want society to accept you, but you can't even accept yourself. (Erik Lehnsherr to Raven/Mystique)



~ Wil Twilite ~
Rabu, Mei 25, 2011

Anti Cewek Tomboy


Perusahaan tempatku bekerja, baru saja menerima lima orang karyawati baru untuk ditempatkan di beberapa divisi. Kebetulan aku kebagian tugas untuk memperkenalkan lingkungan kantor kepada mereka, dengan mengajak mereka berkeliling dan memberikan sekilas info berkenaan dengan fungsi-fungsi tiap divisi dalam perusahaan, sambil memperkenalkan mereka kepada setiap orang, untuk mempermudah mereka kelak menjalin komunikasi internal.

Selama dua minggu berjalan, cukup intens juga aku berkomunikasi dengan mereka. Dan, diantara mereka berlima, ada satu orang yang paling pemalu, namanya Rica. Kalau aku perhatikan, dia sering banget curi-curi pandang ke aku, tapi tiap ada moment untuk berkumpul bareng teman-temannya yang lain, Rica selalu memilih posisi yang paling menjaga jarak denganku. Aku sempat mikir, apa aku ini nakutin...? Kok, perasaanku, teman-temannya yang lain malah rebutan mau dekat-dekat aku. Bukan soal GR atau apa, emang kan semakin dekat, semakin menyimak semua pesan-pesan sponsor seputar perusahaan yang aku sampaikan, toh...? Hihihi...

Setelah masa perkenalan usai, mereka ditempatkan sesuai dengan aplikasi posisi masing-masing. Rica ditempatkan pada divisi yang berbeda denganku. Kami sering berpapasan, Rica selalu hanya tersenyum setiap kali kami berpapasan, tidak pernah disertai basa-basi seperti misalnya, “Dari mana, mau kemana...?”, “Udah makan belum, Kak...?”, dll, dsb (*ngarep banget yah kesannya*). Lama-lama aku terheran-heran juga dengan sikap Rica yang menurutku aneh. Tapi ya sudahlah, terserah dia. Prinsipku, kantor ya kantor. Nothing personal.

Waktu pun berlalu, sudah enam bulan mereka bekerja di perusahaan. Suatu pagi, aku sedang mainan facebook di kantor, mumpung masih sepi, hehehe... Aku update status, “Kangen Sate Khas Senayan, deh...”. Dan, aku kaget, untuk pertama kalinya Rica ikutan comment di statusku, “Kesana yuk, Kak...?”. Aku sampai baca berulang-ulang, apa benar itu Rica yang comment...? Whatever, setelah ada beberapa comment lain yang masuk, barulah aku me-reply sekaligus dengan jawaban yang standar-standar aja. Tiba-tiba, masuklah pesan di inbox-ku. Dari Rica, “Kak, nggak mau nih, aku traktir Sate Senayan...?”. Aku yang masih terheran-heran akhirnya membalas, “Hahaha, emang serius mau traktir aku...? Dalam rangka apa, nih...?”. Rica menjawab, “Ngga dalam rangka apa-apa, emangnya harus ada occasion tertentu yah, ngajak Kak Wil makan...?”.

Singkat cerita, siangnya kita berdua makan bareng di Sate Khas Senayan Menteng. Tadinya mau kesana barengan dari kantor, tapi ternyata, sebelumnya aku harus mengurus sesuatu di luar kantor, dan kita janjian bertemu di sana. Aku tiba duluan. Sepuluh menit kemudian Rica datang, dengan senyuman khasnya. Duh, kenapa aku malah jadi deg-degan ngga jelas liat senyumnya. Hihihi.

“Sorry lama, Kak... Agak macet juga jam makan siang gini...”, ujarnya sambil duduk di bangku di hadapanku.

“Ya, ngga apa-apa. Aku juga belum lama, kok...”

“Kak Wil udah pesan, belum...?”

“Baru pesan minum aja, nungguin kamu...”

“Duh, jadi enak nih, aku ditungguin...”

Prolog berlanjut seputar pekerjaan dan kantor, sambil makan. Lalu aku bertanya tentang keherananku yang tiba-tiba ditraktir dia, “Ngomong-ngomong, gimana ceritanya kamu tiba-tiba ngajak aku kesini...?”.

Dia menatapku sejenak dengan tatapan aneh dan tersenyum, lalu menjawab, “Hmmm, sejujurnya sih, aku cuma pengen liat wajah Kak Wil dari dekat aja...”

Gubraaaakk...!! Alasan macam apa pula itu...? Spontan mataku terbelalak kaget, diikuti tawanya yang renyah, membuatnya terlihat semakin cakep. Apaseeeehhh...?! Hehehe...

“Aku serius, Kak. Aku tuh sejak awal merhatiin kakak, gayanya tomboy banget gitu. Jujur, aku pernah trauma sama cewek tomboy. Makanya aku mungkin terlihat agak jaga jarak kan, sama Kak Wil. Karena aku takut, Kak...”, ujarnya.

“Takut...? Takut kenapa kamu...?”, tanyaku menyelidik. Rica menghela nafas panjang, sekilas matanya menerawang jauh. Hingga akhirnya dia bercerita.

“Dulu, ada teman SMA yang tomboy, kita dekat banget deh, kemana-mana berdua. Lulus SMA, kita nerusin kuliah juga ditempat yang sama. Aku yang manja, dia yang protektif, klop banget gitu deh. Awalnya aku nyaman-nyaman aja, sampai akhirnya beredar rumor di kampus, kalau kami pasangan lesbian. Aku ngeri banget dengar kata ‘lesbian’, Kak. Bagiku, itu istilah yang sangat menakutkan. Saat aku coba bahas sama dia, dia malah nunjukin sikap yang aneh".

"Suatu saat aku bertanya sama dia sambil dalam konteks bercanda, “Jangan-jangan, kamu yang lesbian, ya...? Soalnya gayamu itu kan tomboy banget. Sikapmu ke aku itu mungkin bikin semua orang melihat kita kaya orang pacaran. Eh, aku benar nggak, sih...?”. Lalu aku senggol bahunya, saat itu kami sedang duduk samping-sampingan di kantin kampus sambil makan. Reaksinya mengejutkanku, Kak. Dia berdiri, dan menjawab pertanyaanku sambil teriak-teriak, mana kantin pas lagi rame, jam makan siang gitu. Katanya, “Iya gue lesbian, terus kenapa emang...? Elo juga selama ini pura-pura bego apa bego beneran sih, elo ngga nyadar-nyadar sama sikap gue. Selama ini gue ngerasa, sikap lo itu merupakan respon atas sikap gue. Artinya, lo sebenarnya juga nunjukin kalo elo membalas perasaan gue. Gue emang sayang dan cinta banget sama elo. Sekarang, berhubung udah terlanjur banyak yang curiga sama hubungan kita, mendingan lo jujur, apa lo juga merasakan hal yang sama dengan gue, Ca...?”.

“Aku benar-benar syok dengan pernyataannya. Dan semua mata memandang ke arah kami sambil bisik-bisik. Mukaku merah padam menahan malu, Kak. Maluuuuu aku dengan sikapnya yang norak dan kampungan itu. Lalu aku ikut berdiri, telunjukku mengarah ke wajahnya, terus aku bilang, “Gue jijik sama kelakuan elo. Mulai sekarang jangan pernah elo dekat-dekat gue lagi. Gue bukan lesbi. Gue masih doyan sama cowok. Selama ini gue cuma anggap elo teman. Ngga nyangka gue, elo berani lakuin semua ini ke gue yang udah jadi teman lo sekian lama. Makasih buat semua penghinaan lo ini, gue ngga akan pernah lupain”. Lalu aku ngeloyor pergi, meninggalkan dia yang terbengong-bengong sendirian. Aku nangis Kak, di toilet kampus. Maluuuuu. Sejak saat itu, aku anti cewek tomboy. Untuk alasan apapun, aku ogah berdekatan dengan cewek tomboy lagi”.

Aku terdiam sejenak mendengar penuturannya. Sepertinya aku bisa ikut merasakan perasaannya. Malu, itu sangat jelas dan pasti. Barangkali, aku juga akan melakukan hal serupa jika berada di posisi Rica waktu itu. Menyelamatkan muka dihadapan orang banyak. Si cewek tomboy itu terlalu ekstrim dalam menyikapi pertanyaan Rica. Entah bagaimana sesungguhnya yang dirasakan Rica dari hatinya, aku tak pernah tahu. Pastinya, sekarang aku mengerti mengapa Rica bersikap menjaga jarak denganku sejak awal.

“Lalu, setelah itu bagaimana...?”, tanyaku memecah keheningan yang sempat melintas diantara kami.

“Aku malu, Kak. Awalnya aku pengen nggak datang ke kampus untuk sementara waktu karena malu. Tapi aku pikir-pikir lagi, hal itu malah akan menimbulkan gosip yang semakin jelek tentang aku. Aku takut dikiranya aku beneran lesbian. Jadi, aku beranikan diri tetap kuliah seperti biasa. Teman-teman ternyata banyak yang bersimpati padaku. Mereka anggap aku korban. Dan bagiku, pendapat yang demikian sangat menguntungkanku, secara harga diriku yang udah dipermalukan sama dia. Aku biarkan mereka terus berfikir kalau aku korban, karena saat itu aku memang merasa demikian. Kak Wil tahu, ternyata itu hari terakhir dia kuliah. Dia ngga pernah muncul lagi. Entah dia berhenti kuliah atau pindah, atau gimana, aku ngga pernah tahu dan juga ngga mau tahu. Aku benar-benar hapus dia dari hidupku. Sampai sekarang”.

“Lalu, apa yang membuatmu akhirnya ngajak aku makan disini...?” (pertanyaan ngaco dan ngga nyambung, hihihi... Rica aja langsung natap aku heran, terus tertawa geli).

“Ya, emang aku juga ngga ngerti kenapa, Kak. Sejak peristiwa itu, aku seperti memusuhi semua cewek tomboy sejagad raya. Seiring semakin matangnya cara berfikirku, aku rasa ngga adil juga sikapku itu. Aku sering menemukan cewek tomboy yang kujauhi ternyata benar-benar hanya ingin berteman murni, dan mereka kecewa atas sikapku yang ngga sopan. Kadang aku kena batunya, malu ketika ternyata ada saat-saat aku membutuhkan orang-orang itu, tapi aku kadung jutek sama mereka, jadinya malu deh mau minta tolong. Dan seperti orang yang terkena kutukan, kemana pun aku pergi, pasti deh, ada aja cewek tomboy sliweran dimana-mana. Hahahaha. Aku berfikir, sampai kapan aku bisa menghindari mereka, Kak...? Aku mulai bertekad, untuk memulai suatu hubungan yang positif dengan seorang cewek tomboy, seperti hubungan pertemanan atau hubungan kerja yang baik. Dan momentumnya, bertepatan dengan tekadku itu, aku bertemu Kak Wil di hari pertama aku menginjakan kaki di kantor. Aku mengamati kakak dengan hati-hati. Aku jaga jarak, karena aku takut kalau berhadapan wajah terlalu dekat dengan kakak, aku masih belum bisa mengendalikan sikap ‘anti cewek tomboy’-ku itu. Hehehe. Aku juga penasaran pengen lihat wajah Kak Wil dari dekat, dan akhirnya sekarang kesampaian juga, deh...”

“Caaapeeedeeehh. Dasar kamu ini. Terus, sekarang, udah ngga 'anti cewek tomboy' lagi, kan...? Setelah kamu bicara dengan aku yang penuh pesona ini...?”, candaku. Rica tertawa geli. Dan akhirnya suasana mencair dengan sendirinya.

Kalau dipikir-pikir aneh juga sih bisa ada orang yang ‘anti cewek tomboy’ macam Rica ini. Tapi mendengar pengalamannya yang seperti itu, keparnoannya cukup beralasan. Menurut Rica, hikmah dari kejadian itu telah menjadikannya jauh lebih mandiri. Dulu, ia memang sangat ketergantungan berat sama si tomboy. Selain karena memang Rica-nya yang manja, si tomboy juga selalu rela melakukan apa saja buat Rica. Semenjak si tomboy pergi dari hidupnya, Rica mulai membiasakan melakukan segalanya sendiri.

Duh, makanya cewek-cewek kece di luar sana, macam Rica... Manja boleh, tapi jangan berlebihan yaaaww... Apalagi sama sesama teman perempuan yang tomboy... Hehehehe... *pesan-pesan sponsor yang ngga jelazt*


~ Wil Twilite ~

*) kisah ini merupakan perpaduan antara nyata dan fiksi ^^
Rabu, Maret 02, 2011

Hey, saya orang baik, lho...


bosan bercerita,
bosan mencari-cari objek,
bosan berpura-pura menjadi
orang baik

Orang baik adalah species manusia yang paling dicari di seantero jagad raya. Baik oleh perusahaan-perusahaan yang meminta para pelamarnya untuk melampirkan surat keterangan berkelakuan baik dari kepolisian maupun oleh individu-individu yang bertebaran mencari relasi, rekan kerja, teman, sahabat hingga pasangan hidup dari kalangan “orang baik”. Nah, karena alasan inilah banyak orang di berbagai belahan dunia manapun ingin menunjukkan pada orang lain bahwa dirinya dapat dikatakan masuk kategori “orang baik” tersebut.

Mari kita persempit lingkup pembahasan mengenai standar “orang baik” ini sebatas pada dunia lesbian saja. Kalau dulu, sebelum teknologi semaju sekarang, banyak orang cenderung tertipu oleh penampilan luar seseorang. Misalnya, kalau seseorang berpenampilan rapih dan bersih, pasti dia “orang baik” dan sebaliknya, orang yang berpenampilan tidak rapih, lusuh dan berantakan, sudah pasti dia “bukan orang baik”. Well, stereotip semacam ini justru dipelajari secara seksama oleh species orang yang tergolong kedalam kategori “bukan orang baik” untuk berbuat tidak baik sambil berpenampilan a laorang baik”. Begitu banyak korban yang jatuh alias tertipu oleh penampilan, dan setelah berbagai media mulai memberitakannya, barulah masyarakat mulai mempertajam indera mereka untuk dapat mengenali “orang baik” tidak lagi hanya berdasarkan kulit luarnya saja.

Kini, dunia semakin canggih, dimana sosialisasi lebih banyak berlangsung melalui media elektronik dan jejaring sosial dunia maya, terutama bagi mereka yang dikategorikan masyarakat urban atau masyarakat perkotaan atau masyarakat modern yang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar komputer dibandingkan di tempat lain. Para lesbian pun mulai membentuk komunitasnya sendiri-sendiri. Kita bebas menentukan tempat masing-masing di dunia maya, bebas menentukan dengan siapa kita ingin memulai suatu bentuk hubungan apapun, serta kapan kita dapat dengan mudahnya mengakhiri hubungan tersebut. Semua serba instan, semua hubungan yang terjalin juga tidak memerlukan proses yang terlampau panjang dan berbelit-belit untuk dimulai dan diakhiri.

Mengingat pola pikir masyarakat urban yang serba cepat dan cenderung dinamis, kita pun mampu untuk segera menyesuaikan diri dengan kebutuhan diri kita sendiri dan orang lain atas stok “orang baik” tadi. Mulailah kita membentuk karakter maya berdasarkan grafik permintaan “character searching” yang tinggi akan kebutuhan sosok “orang baik”. Generally, seseorang memiliki kempuan membentuk citra dirinya sendiri untuk dinilai oleh orang lain sesuai dengan keinginan dirinya.

Di dunia lesbian yang sangat marak dengan aksi gebet-menggebet secara maya, terutama bagi mereka yang tidak coming out, tentunya. Ketika melakukan aksi PDKT dengan perempuan lain, pastilah dia menampilkan segala yang baik-baik untuk menarik minat perempuan incarannya ini. Dari image yang coba ditampilkan dalam percakapan-percakapan pembuka perkenalan, kemudian berlanjut lewat gesture dan gaya bicara ketika sudah berlanjut ke tingkat kopdar, semua itu dapat disesuaikan dengan keinginan kita, ingin mendapatkan kesan yang bagaimanakah dari orang yang kita tuju. Semua begitu mudah untuk dibuat-buat sesuai dengan kebutuhan. Tinggal diatur saja.

Namun, sangat manusiawi juga rasanya ketika ‘keharusan’ untuk menampilkan bagian terbaik dari diri kita mulai terasa melelahkan, menjenuhkan dan membosankan ketika kita semakin menyadari bahwa semua orang yang sedang bersama kita saat ini hanya menginginkan dan menyukai semua unsur-unsur kebaikan yang telah kita bentuk dan ciptakan atas pencitraan diri kita selama ini. Selalu ada sisi lain dalam diri manusia yang juga ingin diterima sebagai satu paket utuh dirinya yang sejati, yang tidak melulu mengenai kebaikan-kebaikan. Setiap orang memiliki sisi gelap yang tersembunyi di sisi terdalam dirinya yang tak pernah ingin diketahui oleh orang lain, siapapun itu, karena mungkin saja jika orang lain mengetahui sisi dirinya yang lain, akan terjadi penolakan atas dirinya.

Jadi, kesimpulannya apa ya, dari tulisan yang ‘sok pintar’ ini...? Hmmm, mungkin, lebih baik sejak awal, ketika kita hendak berkenalan dengan orang lain, dengan atau tanpa motif-motif lainnya, jangan terlalu banyak menjaga image yang berlebihan. Sebab, ketulusan sikap yang cenderung natural merupakan cerminan pribadi kita yang sesungguhnya. Biarkan saja aura diri kita terpancar sebagaimana adanya, karena setiap orang tentunya terlahir dengan dianugerahi keunikan masing-masing oleh Sang Pencipta. Just be yourself.
Senin, Februari 07, 2011

panca indera dan rasa


PANCA INDERA, yaitu mata, hidung, telinga, lidah dan kulit. Ya, anak SD juga tahu kayaknya :p

Segala apa yang dirasakan oleh panca indera menandakan bahwa kita masih dalam keadaan sehat, dalam arti, kita masih memiliki RASA dan masih dapat meRASAkan apa yang teRASA dan dapat diRASA.

RASA adalah tanggapan hati terhadap sesuatu melalui panca indera kita. Jadi, RASA itu datangnya dari HATI, yang notabene bukan merupakan anggota dari si panca indera tadi. Dan, terkadang RASA ini seringkali diingkari oleh PIKIRAN yang lantas mengirimkan sinyal-sinyal kepada panca indera untuk mematikan RASA. Seperti misalnya menutup mata dan telinga untuk menghindari pandangan dan pendengaran kita dari hal-hal yang mengusik RASA.

Namun HATI, yang melahirkan RASA... dapatkah HATI mendustai RASA yang senantiasa mulai meresahkan PIKIRAN...? Entahlah, bukankah HATI itu sendiri adalah merupakan salah satu rahasia-NYA, dimana kita sebagai manusia hanya teranugerah untuk memilikinya, namun tak pernah mampu untuk menguasainya, apalagi mengendalikannya...



"You can close your eyes to the things you do not want to see, but you cannot close your heart to the things you do not want to feel..." ~ Unknown
Selasa, Januari 26, 2010

THERE’S NO SECOND CHANGE FOR FIRST IMPRESSION


Hmmm... sebuah catatan lama dari blog-ku terdahulu :


Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya.... terserah Anda

Kamu pasti masih ingat dengan petikan kalimat dari salah satu iklan deodorant ini, kan...? Ya, setiap orang pasti ingin memberikan kesan yang baik pada pertemuan pertama dengan orang lain yang baru ditemuinya, terlebih kalau orang tersebut dapat dikatakan istimewa; misalnya saja seseorang yang sudah kamu sukai atau kagumi selama ini, tetapi belum pernah bertemu secara langsung, atau seseorang yang terkait dengan urusan pekerjaan seperti klien atau relasi bisnis, bisa juga orangtua dari sahabat atau kekasih kamu, dan lain sebagainya. Perlu kamu ketahui, bahwa tidak ada kesempatan kedua untuk kesan pertama (there’s no second change for first impression). Jika kamu terlanjur memberikan kesan yang kurang, atau bahkan tidak menyenangkan pada awal pertemuan dengan seseorang, jangan harap untuk selanjutnya hubunganmu dengan orang tersebut bisa berjalan lancar atau mulus seperti yang kamu harapkan, kecuali dengan melalui perjuangan yang sangat ekstra, barangkali, namun itu pun juga tidak ada jaminan.

Sebenarnya, kesan pertama bisa kamu bentuk sendiri. Dalam ilmu komunikasi, hal ini disebut sebagai ”Proses Pengelolaan Kesan”. Alangkah baiknya kalau kamu mempunyai ciri khas tersendiri pada saat memperkenalkan diri untuk pertama kalinya dengan orang-orang baru, agar kelak saat memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan mereka, tidak akan memerlukan waktu yang cukup lama bagi mereka untuk mengingat-ingat siapa kamu, dimana pernah bertemu sebelumnya, atau pun kesan lainnya yang mungkin akan muncul di dalam benak mereka nantinya.

Aku teringat kembali dengan salah satu materi yang pernah dibahas pada saat aku masih duduk di bangku perkuliahan dulu, sayangnya aku ngga ingat kalimat ini dikutip dari buku yang mana, pastinya aku masih ingat teorinya, seperti ini;

Kita sudah mengetahui orang lain menilai kita berdasarkan petunjuk-petunjuk yang kita berikan; dan dari penilaian itu mereka memperlakukan kita… Untuk itu, kita secara sengaja menampilkan diri kita (self-presentation) seperti yang kita kehendaki…”

Jadi, pada dasarnya self-presentation itu adalah sesuatu yang dapat kamu bentuk sendiri, sesuai dengan kehendakmu akan feedback seperti apa yang kamu harapkan dari orang lain terhadap dirimu. Memang, ini bukan hal yang mudah, perlu skill istimewa untuk bisa mempraktekannya, karena setiap orang pada umumnya akan merasa canggung pada saat pertama kali bertemu dengan orang lain yang baru dikenal. Jangankan untuk bisa mengatur sikap, untuk menatap saja rasanya sulit. Makanya, kamu perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut. Pertama, kamu tidak harus menunjukkan sikap atau perilaku yang sangat terkesan dibuat-buat, yang bukan mencerminkan kepribadianmu yang sesungguhnya, terlebih lagi kalau sangat jauh melenceng dari karakter dirimu yang sesungguhnya, bisa-bisa orang lain merasa mual atau bahkan muak dibuatnya, tampilkanlah dirimu senatural mungkin. Kedua, aturlah intonasi suaramu serta gaya bicaramu agar terdengar santun. Ketiga, tataplah mata lawan bicaramu sewajarnya, jangan berlebihan, apalagi terkesan acuh tak acuh, pastikan tatapan matamu memberikan kesan bahwa kamu menghargai lawan bicaramu. Keempat, perhatikan juga bahasa tubuhmu, kalau bisa sih dikendalikan agar tampak tenang dan bersahaja (wah, yang ini berat nih, aku aja suka grogi atau salting sendiri kalau berhadapan dengan orang-orang yang baru ketemu atau baru dikenal, malah sok ngajarin kayak gini...hihihi...tapi dengan catatan, harus punya self-control yang bagus untuk bisa menampilkan point terakhir ini secara maksimal). Kira-kira sih secara garis besarnya seperti itu, alangkah baiknya kalau kamu bisa kembangkan lagi. Selamat mencoba, ya... <seharusnya selesai disini>

Lain halnya kalau kamu ingin memberikan kesan pertama yang buruk, biasanya hal ini berlaku terutama bagi orang-orang yang dijodohkan secara paksa oleh orangtuanya, padahal hatinya tidak ikhlas, atau sudah memiliki tambatan hati yang lain. Plis deh, Siti Nurbaya banget. Tapi pastinya semaju apa pun peradaban, budaya ’perjodohan paksa’ ini masih saja ada yang menerapkan di bumi Indonesia tercinta ini, tak peduli dari suku bangsa atau etnis mana pun, tentunya dengan dilatarbelakangi oleh berbagai macam alasan yang sebenarnya kurang masuk akal, atau bahkan tidak masuk akal sama sekali, tetapi ’dipaksakan’ saja supaya masuk akal (lho...koq jadi muter-muter begini...?). Hmmm, sedikit ’masukan’ bagi kamu yang barangkali saja termasuk kategori yang terakhir ini. Pertama, tampilkanlah dirimu se-’dibuat-buat’ mungkin. Kedua, tunjukkan sisi terliar dirimu yang kamu yakin ≥ 100% saat kamu menampakkannya akan membuat mual atau muak siapa pun yang melihatnya. Ketiga, aturlah intonasi suara kamu dalam setting volume yang semaksimal mungkin disertai dengan gaya bicara a la ’Limp Bizkit’ atau ’Linkin Park’ style. Keempat, tataplah mata lawan bicaramu dengan melotot selebar mungkin, atau terpejam sama sekali, dan jangan setengah-setengah. Dan terakhir, last but not least, tidak perlu kamu kendalikan bahasa tubuhmu, biarkan saja tubuhmu bergerak sesukanya mengikuti irama gaya bicaramu yang a la ’Limp Bizkit’ atau ’Linkin Park’ style tadi. Dijamin, 500% s.d. 900% orang tersebut tidak akan mau dan tidak akan sudi untuk bertemu lagi denganmu di lain kesempatan, malah kalau bisa, hari itu juga, atau bahkan detik itu juga ’membantu’ kedua orangtuamu untuk menghubungi psikiater terdekat, atau bahkan yang lebih tinggi lagi tingkatannya dari ’sekedar’ psikiater. Hehehe...makanya, bacanya jangan serius-serius dong ah...!!!


~ Wil Twilite ~
Sabtu, November 07, 2009

Jendela XIII


Last but not least… halah…!! Sok banget bahasanya… Frizzy Jo… hihihi… namanya lucu yah, plesetan si Jonathan Frizzy banget, sempat terimajinasikan sosoknya cool macam si Ijonk…

anyway… tulisannya simple, nggak harus mengernyitkan dari seperti di rumahnya aderain atau lakhsmi… juga ngga terkotak-kotak macam blognya alex… pendapatku, pembaca seperti ‘digiring’ untuk mengenal sosok Jo lebih dalam… dari peristiwa demi peristiwa yang dia alami, rasa takut, rasa berdosa, rasa sedih, sampai dengan rasa syukur dan rasa bahagia yang silih berganti mewarnai hidupnya… dia bercerita tentang dirinya, sahabat-sahabatnya, hmmm, pacar-pacar serta gebetan-gebetannya, pekerjaannya, serta orang-orang terdekat yang mempengaruhi dirinya… menyenangkan mengikuti tulisan-tulisan di blognya, membaca setiap komen-komen yang bersimpati padanya, sampai sempat membaca juga komen-komen yang ‘mendoakan’ dirinya agar segera ‘kembali ke jalan yang lurus’, hahaha… mulai berfikir asiknya punya blog… bisa jadi sarana introspeksi diri juga kali, yaa…

Singkat cerita, aku mulai mencari cara untuk berkenalan dengannya, atau lebih ekstrim lagi, aku ingin kenalan dengan orang-orang seperti mereka, entah atas dasar alasan apa, nggak jelazzzttt… penting ngga sih…? Secara, aku bukan lesbian seperti mereka, tho…?