Tampilkan postingan dengan label I Love Movies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I Love Movies. Tampilkan semua postingan
Sabtu, Januari 23, 2021

Cheongdam-dong Alice


Setelah sekian purnama, ketemu lagi drakor yang berhasil mencuri perhatian dan membuat saya menontonnya lagi, dan lagi. Cheongdam-dong Alice menceritakan Han Se Kyung (Moon Geun Young), seorang wanita yang sudah 3 tahun lulus kuliah desainer, namun belum juga mendapatkan pekerjaan. Motto hidup yang selalu ia banggakan, "L'effort est ma force" (kerja keras adalah kekuatanku) telah menjadi prinsip hidupnya. Ia selalu percaya bahwa kerja keraslah yang akan membawanya menjadi sukses kelak.

Namun prinsip hidupnya itu mulai goyah tatkala ia berjumpa kembali dengan musuh bebuyutannya saat SMA, Seo Yoon Joo (So Yi Hyun), yang ternyata merupakan istri dari Presiden Direktur "GN Fashion", tempat ia baru saja diterima bekerja. Hatinya patah saat mengetahui bahwa ia lolos seleksi pegawai hanya karena Seo Yoon Joo mengatakan kepada suaminya bahwa Han Se Kyung adalah teman SMA nya. Ditambah lagi kenyataan bahwa ia diterima bukan untuk menempati posisi desainer sesuai lamaran, malah sebagai asisten pribadi Seo Yoon Joo.


Han Se Kyung sangat muak melihat Seo Yoon Joo telah menjalani kehidupan kelas atas tanpa kerja keras, hanya bermodal kecantikan dan kelicikan semata. Ia terkenang masa SMA dimana Seo Yoon Jo pernah merebut pacarnya dengan memanfaatkan kecantikannya itu. Mereka berdua pun pernah ribut besar yang menghebohkan karena Han Se Kyung merendahkan Seo Yoon Joo di hadapan teman-teman sekelas mereka. Rupanya hal itu pun membekas di hati Seo Yoon Joo dan membuatnya ingin membalas dendan pada Han Se Kyung dengan menerimanya sebagai pegawai magang atas dasar belas kasihan. Karena, desainer di perusahaan sekelas GN Fashion hanya menerima lulusan luar negeri, maka Han Se Kyung sebenarnya sudah gugur sejak awal.


Ketidakberuntungan Han Se Kyung tidak hanya sampai disitu. Pada hari pertama kerja, ia tidak sengaja menyerempet mobil Jean Thierry Cha (Park Shi Ho) yang merupakan Presiden Direktur "Artemis", salah satu perusahaan fashion paling berkelas dan sedang hit di Korea. Ditambah lagi, hari itu ia diputuskan oleh pacarnya dengan alasan masalah ekonomi yang membuatnya semakin muak menjadi orang miskin. Pacarnya dengan tega mengatakan bahwa karena mereka berdua sama-sama miskin, maka mustahil untuk bahagia. Pun, setibanya di rumah, keluarganya sedang membahas masalah keuangan keluarga yang sudah terlalu banyak hutang (lagi-lagi karena miskin), sehingga terpaksa harus menjual rumah mereka.


Semua persoalan itu menumpuk di kepalanya dan membuatnya mendatangi Seo Yoon Joo. Ia memutuskan untuk mengikuti jalan hidup yang ditempuh oleh Seo Yoon Joo karena sudah lelah hidup miskin dan selalu diremehkan orang lain. Ditambah lagi usaha dan perjuangannya selama ini dengan motto "L'effort est ma force" (kerja keras adalah kekuatanku) sama sekali tidak menunjukkan pencapaian yang berarti. Ia putus asa.


Selanjutnya, cerita bergulir penuh dengan warna. Bagaimana permusuhan antara mereka berdua mencair dan membuat mereka jadi bisa saling memahami lebih dalam. Dan khas drakor, orang-orang dalam kehidupan mereka pada akhirnya saling bertautan takdir.


Yang membuat saya jatuh cinta dengan film ini adalah pesan moral yang hendak disampaikan tentang bagaimana kita melihat dari sudut pandang orang lain dan mencoba untuk memahaminya, bagaimana kita menumbuhkan empati, bagaimana kita memahami takdir dengan segala rahasia Tuhan dalam perjalanan hidup setiap insan, bagaimana pengkhianatan dan dendam bisa begitu membutakan, dan bagaimana membangun kepercayaan kepada orang yang kita cintai, bahkan ketika dalam kondisi harus percaya pada orang yang pernah menyakiti kita.


Tentu saja, dialog-dialog dalam film ini pun menarik bagi saya. Intinya, film ini recomended.


~ Wil Twilite ~


Sabtu, Oktober 17, 2020

Transit Girls (Japan Drama)

Ini ceritanya sederhana dan manis. Tentang Sayuri, seorang anak SMA yang sedang mengahadapi ujian akhir menjelang kelulusannya. Ibunya sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Kemudian ayahnya menghadirkan seorang wanita yang memiliki anak perempuan cantik yang usianya 3 tahun di atas Sayuri. Tante Madoka ini pun sangat cantik, Sayuri bisa mengerti kenapa ayahnya jatuh cinta. Mereka pun tinggal bersama di rumah Sayuri.


Yui, nama kakak tirinya itu, sangat pendiam dan tidak bisa ditebak. Dia adalah seorang fotografer. Awalnya Sayuri sangat membencinya tanpa alasan, namun suatu hari Yui mengecup bibir Sayuri dan peristiwa itu sangat membekas di hati keduanya dan sangat mengusik batin Sayuri yang mulai mempertanyakan orientasi seksualnya sendiri.


Sayuri memiliki sahabat masa kecil yang tinggal di sebelah rumah, Nao. Saat Nao menyatakan perasaannya, Sayuri mulai menyadari bahwa hatinya sudah tertaut pada kakaknya, Yui. Begitupun Yui yang baru pertama kali memiliki perasaan pada wanita, ia pun mulai menemukan dirinya yang baru, karena sebelumnya dia menjalin hubungan dengan pria.


Konflik ringan pun terjalin antara ayah Sayuri, Tante Madoka, dan Yui. Ada pula konflik ringan persahabatan Sayuri dengan teman sekolahnya yang naksir Nao, tapi Nao malah naksir dirinya.


Well, overall cerita ini ringan dan manis. Karakter Yui yang tenang telah menaklukkan Sayuri yang emosional dan secara tidak langsung mendewasakan caranya berpikir dan bersikap. Pun adegan kissingnya cuma lite-kiss aja, ngga ada yang vulgar, jadi ceritanya manis gitu deh.



Suka banget sama Tante Madoka dan Yui di film ini. Ibunya hot mama banget, anaknya andro kece yang gayanya cool banget, tapi hatinya hangat. So sweet filmnya.



~ Will Twilite ~

Senin, Oktober 05, 2020

Mistress - short review


Bercerita tentang 4 orang sahabat sejak masa SMA yang saat ini masih terjalin erat dengan latar belakang karir masing-masing.


Jang Se Yeon (Han Ga-in) adalah pemilik coffee shop tempat berkumpul dengan para sahabatnya. Ia seorang single parent yang masih memecahkan misteri suaminya yang telah menghilang selama 2 tahun. Tiba-tiba saja sering muncul telepon gelap yang mengaku suaminya. Belum lagi kemunculan wanita misterius yang menawarkan diri menjadi pengasuh anaknya, dan seorang pria yang merupakan ayah dari teman sekolah anaknya mulai mendekatinya secara intens.


Kim Eoun Soo (Shin Hyun-bin) adalah seorang psikiater yang tengah menghadapi kegelisahan atas kematian misterius dari pria selingkuhannya. Anak laki-laki dari pria itu terus mendatanginya di tempat praktek dan menuduh Eun Soo telah membunuh ayahnya. Konflik batin yang menghantuinya belum juga usai, ia harus terlibat dalam persoalan lain yang dihadapi oleh para sahabatnya juga.


Han Jeong Won (Choi Hee-seo) adalah seorang guru SMA yang mulai tergoda dengan rekan kerjanya yang lebih muda. Namun hal itu menjadikan rumah tangganya semakin rumit dan terungkapnya beberapa misteri tentang sang suami seiring hal itu. Ia juga bingung menghadapi kehamilannya yang menyisakan misteri anak siapakah yang tengah ia kandung.


Do Hwa Yeong (Goo Jae-yee) adalah seorang pengacara yang tengah menyelidiki kasus perselingkuhan yang ternyata melibatkan mantan pacarnya sendiri dan membuat mereka jadi CLBK. Hwa Yeong adalah seorang playgirl yang tidak suka berkomitmen. Berbagai kasus yang terjadi di sekitar para sahabatnya membuat dia mulai memikirkan masa depannya sendiri setelah terlalu banyak bermain-main dalam urusan percintaan.


Konflik pribadi masing-masing tokoh nantinya akan bertautan menemukan benang merahnya sendiri. Ada ujian dalam karir, persahabatan, dan cinta para tokohnya. Awalnya aku pikir ini hanya drama tentang affair saja, ternyata lebih dalam dari itu. Justru tentang persahabatannya yang lebih menyentuh karena mereka berempat merupakan pemain watak yang keren dan chemistry persahabatannya dapat banget. Film ini diawali dengan adegan penuh desah, diikuti konflik yang mengaitkan semua persoalan, dan klimaks yang penuh kejutan. Really an interesting one.


~ Wil Twilite ~

Kamis, September 17, 2020

Jo Yi Seo in Itaewon Class; Wanita dan Karakter


Itaewon Class
adalah salah satu drakor yang sudah saya tonton beberapa waktu lalu. Saya tertarik untuk menuliskan kesan tentang first female lead dalam film ini, yaitu tokoh Jo Yi Seo yang diperankan oleh Kim Da Mi.


Kesukaan saya terhadap drakor selain karena jalan ceritanya menarik dan pemaparan konfliknya bagus, tentu saja tidak terlepas dari aktris pendukungnya, dan terutama aktris wanitanya, dong.. hehehe..


Saya tertarik nonton Itaewon Class atas rekomendasi dari partner. Park Seo Joon (as Park Sae Royi) yang merupakan first male lead, bukan salah satu aktor fave saya, tapi saya akui aktingnya di film ini bagus. Kemudian tokoh wanita yang pertama kali dimunculkan adalah Oh Soo Ah yang diperankan oleh Kwon Nara. Di awal, saya mengira dia akan jadi first female lead karena muncul sebagai cinta pertama Sae Royi. Pastinya dia tampil cantik dan sangat dicintai oleh si tokoh utama. Tapi dari awal saya biasa aja sama karakter Oh Soo Ah ini, ngga ada gregetnya gitu deh.


Jo Yi Seo muncul di episode ke-3 film ini. Kesan pertama ngeliat penampilannya sungguh enggak banget deh. Anak berandalan banget yang bersikap seenak udelnya dan lagaknya tengil abis, plus dia tidak secantik Oh Soo Ah, pastinya. Tokoh Yi Seo ini mungkin sengaja dihadirkan ngga cantik dan ngga seksi, makanya Sae Royi sejak awal ngga naksir atau tergoda sama dia secara fisik kalik ya. Namun kemudian karakter Yi Seo ini semakin muncul dengan kejutan-kejutan yang bikin saya tersenyum, takjub, sampai jatuh cinta. Ya, Jo Yi Seo sungguh memiliki karakter kuat yang mengagumkan. Ternyata dibalik selenge'annya dia, dia sangat fokus ketika memiliki suatu tekad dan tujuan. Diawali dari dia naksir Sae Royi yang saat itu karakternya kacau balau, Jo Yi Seo berhasil mengubah Sae Royi beserta orang-orang terdekatnya menjadi manusia yang berbada dan bahkan menjadi think-tank kesuksesan usaha yang dijalankan oleh Sae Royi, dengan jalan berliku yang terjal penuh rintangan. 


Jo Yi Seo dan karakternya berhasil menyedot perhatian saya sepanjang film ini. Wanita memang tidak harus cantik untuk menjadi menarik dan loveable. Jo Yi Seo menunjukkan dan mengerahkan segala potensi yang ada dalam dirinya untuk membantu orang yang dicintainya, dengan bersedia pula menerima segala kekurangan orang itu, plus menerima paket lengkap "keluarga" Sae Royi yang karakternya unik-unik. Awalnya kehadiran Yi Seo dirasa sangat mengganggu mereka, hingga akhirnya semua orang menyayanginya dan berterima kasih karena Yi Seo lah yang membawa mereka mewujudkan semua hal yang selama ini sebatas angan dan mimpi semata tentang bagaimana meraih sukses setelah mengalami keterpurukan yang panjang dalam hidup.



Jadi, tidak melulu first female lead yang cantik menjadi daya tarik untuk menyaksikan drakor maupun film-film jenis lainnya. Wanita yang berkarakter jelas jauh lebih menarik dibandingkan wanita yang hanya cantik saja. Itu berlaku dalam kehidupan yang sesungguhnya. That's why saya juga ngga begitu tertarik sama wanita yang hanya cantik luarnya saja sebelum mengenal karakternya seperti apa. Inner beauty is the best part of a woman. Jo Yi Seo, sarange... 


~ Wil Twilite ~


Jumat, Juli 31, 2020

Demam Drama Korea (DraKor)

Semenjak diterapkannya work from home (WFH) oleh kantor di masa pandemi ini, aku jadi demam nonton drama korea lagi setelah sekian lamanya.


Ya, dulu sekitar tahun 2004, aku pernah ada masanya seneng banget nonton drakor. Pertama kali jatuh cinta sama artis cantik Song Hye Kyo di film Full House, terus lanjut nonton filmnya dia juga, Autumn In My Heart yang tiap episodenya menguras air mata tiada tara. Drakor berkesan lainnya pada masa itu Sassy Girl Chun Hyang, tapi aku ngga ikutan ngefans sama artisnya. Song Hye Kyo is the best lah pokoknya.


Seiring waktu bergulir dan aku mulai semakin disibukkan oleh begitu banyak hal seperti urusan keluarga, pekerjaan, pertemanan, dan urusan-urusan lainnya, maka boro-boro ada waktu untuk nonton serial yang panjangnya rata-rata 16 episode per judul. Sepupuku padahal selalu ngasih aku drakor setiap kali dia anggap ada yang bagus, bahkan aku selalu dikasih flashdisk yang isinya drakor-drakor pilihan dia, yang ternyata sudah ada puluhan banyaknya, namun tak satu pun sempat untuk kutonton. Hingga kini, akhirnya aku kembali merambah hobi nonton drakor.


Pilihan pertamaku jatuh pada film Crash Landing On You (CLOY) yang lagi happening di awal tahun 2020 ini. Aku pun langsung jatuh cinta pada tokoh Yoon Se Ri yang diperankan oleh Son Ye Jin. Jalan ceritanya pun menarik dan bisa dibilang cukup baru alias ngga pasaran. First lead male nya pun Hyun Bin yang tergolong kategori cowok banget kalau dibandingkan dengan aktor-aktor Korea yang mostly sweet or pretty boys. Intinya, aku jatuh cinta sama film ini dan kemudian mulai melirik judul-judul lainnya untuk mengisi waktu di sela-sela WFH.



Anyway, kenapa aku jadi nonton CLOY pada awalnya juga karena partner ikutan maksa-maksa aku nonton. Doi juga mulai nonton drakor saat WFH. Disamping itu anak-anak kami saat ini sudah beranjak remaja, jadinya suka deh sama korea-koreaan gitu. Demam korea pun tak terelakkan lagi melanda kami dan anak-anak gadis di rumah.


Setelah menonton beberapa film, selanjutnya yang bikin saya jatuh cinta adalah Hotel Del Luna. Drakor yang satu ini juga mengangkat tema yang ngga umum, dan menampilkan sisi gelap tokoh utamanya, yang saya suka banget, Jang Man Wol yang diperankan oleh Lee Ji Eun (IU). Saya pun kemudian jatuh cinta sama IU karena selain aktingnya bagus, dia juga cantik dan bersuara merdu. Dia juga penyanyi yang lagunya udah banyak. Aku pun jadi mendengarkan beberapa lagunya, tapi ngga banyak yang aku suka karena genre nya lebih ke abege. Beberapa lagu ballads nya bagus sih.


Kembali ke laptop, aku juga menonton film-film Song Hye Kyo pastinya. Setelah Full House yang produksi tahun 2003, udah jadul banget, aku nonton Encounter produksi tahun 2019. Sungguh takjub tiada tara melihat Song Hye Kyo yang ngga berubah dan tak menua sedikit pun di film itu. Amazing! Gimana bisa wajahnya bak di formalin begitu, coba? Ckckck!! Selanjutnya semua film Song Hye Kyo pun aku tonton.



Ada satu artis cantik lagi yang memanah hatiku.. eeeaaakkk bahasanya!! Jun Ji Hyun. Setelah nonton Legend of the Blue Sea dan My Love From The Star, aku pun klepek-klepek sama mommy yang satu ini karena seksinya ngga ketulungan banget, cantik pulak. Iya, dia udah menikah dan punya dua anak tapi body masih aja seksi bak perawan. No wonder juga sih secara dia artis dan kabarnya suaminya tajir melintir jugak. Ya udah lah yaa...


Sementara sekian dulu tema drakor kali ini. Next, kalau aku ada mood, aku akan nulis lagi.


~ Wil Twilite ~

Minggu, Juni 16, 2013

#Quotes from the "Man of Steel"

Apa yang "berbeda" dari Man of Steel, setelah Superman Returns berlalu dari hadapan, tujuh tahun silam...? Sebagai penggemar berat Superman, aku selalu tertarik mengikuti tiap sekuel yang dikembangkan dari masa ke masa.

Salah satu "daya tarik" film ini adalah produsernya, Christopher Nolan, yang sukses dengan trilogi Batman (The Dark Knight), dan Inception yang membawa kita larut dalam gulir paradoks dunia mimpi dan dunia nyata.

Menurutku, Man of Steel  menawarkan setting yang futuristik. Planet Krypton dan peradabannya menjadi serba canggih, sudah tidak lagi bersetting “kristal es” seperti pada sekuel-sekuel terdahulu.

Alur ceritanya agak membosankan. Aku merasa “sekedar” dibawa flashback pada kisah Jor-El dan Lara Lor-Van dalam upaya menyelamatkan Kal-El sebagai generasi terakhir Krypton sebelum kehancurannya. So-so, lah. 

Kal-El merupakan bayi istimewa yang dilahirkan langsung dari rahim ibunya, dimana Krypton sudah menerapkan program bayi yang “diciptakan” sesuai kebutuhan planet. Kal-El dipersiapkan oleh Jor-El untuk menentukan takdirnya sendiri kelak. “Goodbye, my son... Our hopes and dreams travel with you...”, ujarnya sebelum melepaskan Kal-El ke bumi.

Kal-El yang ditemukan dan diadopsi oleh pasangan Martha dan Jonathan Kent diberi nama Clark. Memiliki kekuatan tubuh dan panca indera diatas manusia normal yang membuat Clark kecil sangat terganggu dalam masa pertumbuhannya. Kemampuan audio-visualnya yang super, meresahkannya. Ia merasa “berbeda”. “The world’s too big, Mom...”, ujarnya. “Then make it small. Focus on my voice. Pretend it’s an island out in the ocean. Can you see it...?", ujar Martha Kent lembut. “I see it...”, jawab Clark.

Clark dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh pasangan Kent. Namun segala “kelebihan” yang dimilikinya justru membuatnya rentan secara emosi. “I have so many questions. Where do I come from...?”, ujarnya pada Jonathan, suatu ketika. “People are afraid of what they don’t understand. You’re not just anyone. One day, you’re going to have to make a choice. You have to decide what kind of man you want to grow up to be, Clark. Whoever that man is, he’s going to change the world”, jawab ayahnya.

Beberapa kali Clark kecil “terpaksa” mempergunakan kekuatan supernya untuk menolong orang dalam ancaman maut. Ayahnya senantiasa mengingatkan, “You have to keep this side of yourself as a secret”. Clark kecil menjawab, “What was I supposed to do...? Let them die...?”. “Maybe...”, jawab Jonathan ragu. Hingga akhirnya musibah twister merenggut nyawa Jonathan dihadapan Clark dan Martha. Clark sangat terpukul karena terpaksa harus membiarkan peristiwa itu terjadi tanpa diizinkan untuk menolong oleh Jonathan.

“My father believed that if the world found out who I really was, they’d reject me... out of fear. He was convinced that the world wasn’t ready. What do you think...?”, tanya Clark pada Lois Lane di hadapan makam Jonathan, ketika Lois tengah dalam perjalanan menelusuri identitas Clark setelah pertemuan singkat mereka pertama kali di Fortress of Solitude, suatu tempat di tambang minyak lepas pantai yang menyimpan misteri asal-usul planet kelahiran Clark. “How do you find someone who has spent a lifetime covering his track...? For some, he was a guardian angel. To others, a ghost who never quite fit in.”, ujarnya.

Aku tidak akan menuliskan lebih jauh tentang alur film ini, karena akan lebih seru bila menyaksikannya sendiri. Sesuai judulnya, aku hanya hendak menggarisbawahi #quotes yang menarik, setidaknya bagi diriku sendiri. Menarik bagiku artinya #quotes tersebut dapat dijadikan sebagai bahan renungan atau sekedar pembelajaran yang melintas pada satu momen perjalanan hidup.

Bagaimana dengan akting Henry Cavill (Clark Kent) dan Amy Adams (Lois Lane)...? Hmmm... Cavill secara fisik sangat pas memainkan peran Clark/Superman, dia punya tubuh atletis, wajah tampan, tatapan mata dan dagu belah yang "Superman banget". Sedangkan Adams menurutku kurang seksi sebagai Lois Lane, bahasa tubuh dan sorot matanya kurang menjiwai karakter Lois yang selama ini melekat dibenakku. Jauh, lah, bila dibandingkan "the best Lois Lane ever" versi aku, yaitu Teri Hatcher. Dan lagi, chemistry antara Cavill dan Adams kurang dapet. Well, intinya belum ada versi Superman yang lebih menakjubkan dari "Lois & Clark: The New Adventure of Superman" versi Dean Cain dan Teri Hatcher, yang pernah aku tuliskan juga disini .

Sekian dan terima kasih.

~ Wil Twilite ~
Kamis, Agustus 23, 2012

Inception. Is it possible...?


Saito: He sold you out. Failed the company and bargained for his life. So I offer you the satisfaction.

Dom Cobb: It's not the way I deal with things.
What do you want from us...?

Saito: Inception. Is it possible...?

Arthur: Of course not.

Saito: If you can steal an idea from someones mind, why can't you plant one there instead...?

Arthur: Okay, here's me planting an idea in your head. I say to you, don't think about elephants. What are you thinking about...?

Saito: Elephants.

Arthur: Right, but it's not your idea because you know I gave it to you. The subjects mind can always trace the genesis of the idea. True inspiration is impossible to fake.

Dom Cobb: That's not true.

Saito: Can you do it...?

Dom Cobb: Are you offering me a choice...? Cause I can find my own way to square things with Cobalt.

Saito: Then you do have a choice.

Dom Cobb: Then I choose to leave, Sir.


Inception #2
Rabu, Juni 13, 2012

Who'd wanna be stuck in a dream...?


Yusuf: Brain function in the dream will be about twenty times more. Now when you enter a dream within that dream, the effect is compounded. That's three dreams, that's ten hours...

Eames: I'm sorry, Maths was never my strong subject. How much time is that...?

Dom Cobb: That's a week the first level down, six months the second level down, third level...

Ariadne: It's ten years...! Who'd wanna be stuck in a dream for ten years...?

Yusuf: [smiling] Depends on the dream...


Inception #1
Rabu, Februari 22, 2012

X-Men: Mutan dan Kita


Gambar di atas merupakan salah satu adegan favoritku dalam film X-Men First Class. Suatu malam Raven mendatangi Charles yang sedang asik duduk membaca di sofa. “Maukah kau membacakan cerita untukku...?”, tanya Raven. “Tidak malam ini. Aku sedang mempersiapkan diri untuk ujian thesisku”, jawab Charles. Raven mendekat, duduk disamping Charles, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Charles, “Baiklah. Bacakan saja thesismu. Aku akan mendengarkannya sebagai pengantar tidurku, seperti biasa”. Well, kurleb seperti itu dialognya, seingatku.

Charles yang sudah mengetahui bahwa dirinya ‘berbeda’ sejak masih kecil, suatu malam memergoki Raven mengendap-endap di dapur rumahnya, mencari makanan. Raven yang panik menampakkan wujud aslinya, mengira Charles akan takut padanya, namun ia salah. “Kau tak takut padaku...?”, tanya Raven heran. “Aku selalu percaya bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang ‘berbeda’ di dunia ini. Dan ternyata aku benar. Ada kau.”, jawab Charles sambil tersenyum, seraya mengulurkan tangannya. Selanjutnya Charles mengangkat Raven sebagai adik dan mengizinkan tinggal dirumahnya. Raven yang selama ini malu pada wujudnya, merasakan ketulusan Charles menerima dirinya apa adanya dan senantiasa memberi dorongan pada Raven agar dapat menerima dirinya sendiri yang 'berbeda'.

In my personal opinion, karakter Charles memang keren. Profesor muda yang jenius, penyayang dan kharismatik. Ditambah kemampuannya memasuki dan mengendalikan alam pikiran orang lain. Telepati tingkat tinggi.

Anyway, kalau dipikir-pikir, kehidupan para mutan dalam film X-Men mirip dengan kehidupan homoseksual (pada umumnya), dan atau kehidupan lesbian (pada khususnya). X-Men mengisahkan eksistensi mutan yang hidup berdampingan dengan manusia. Mereka dianugerahi kekuatan melebihi manusia pada umumnya, namun mengalami kesulitan dalam mengendalikannya. Sebagian mutan ada yang memiliki wujud fisik yang tak biasa, seperti Raven (Mystique). Tak jarang, mereka cenderung mengasingkan diri dari pergaulan karena merasa dan dianggap aneh oleh lingkungan. Dalam proses pencarian jati diri, mereka mencari tahu apakah di luar sana ada orang lain yang seperti mereka, berharap tak sendiri.

X-Men First Class mengisahkan awal perkenalan Charles dengan Raven di masa kecil. Selanjutnya saat dewasa, takdir mempertemukan Charles dengan Erik, menjadikan mereka sahabat. Bersama-sama, mereka mengeksplorasi kekuatan yang dimiliki dan belajar mengandalikannya. Berbekal kemampuan telepati Charles yang sangat tinggi, mereka mulai merekrut mutan-mutan yang berkeliaran di luar sana, mengumpulkannya, menaunginya. Inilah cikal bakal terbentuknya komunitas mutan.

Awalnya mereka semua bersatu dengan satu visi dan misi yaitu melatih dan mengendalikan kekuatan yang dimiliki. Sebab, kekuatan yang tidak terkontrol dapat mencelakai manusia. Namun di tengah jalan, satu peristiwa besar (momentum) menyebabkan Charles dan Erik berseberangan ideologi, yang berakibat pecahnya komunitas mutan menjadi dua kubu. Persahabatan antara Charles dan Erik pun bermutasi menjadi permusuhan.

Charles mendirikan The Xavier Institute atau X-Mansion, tempat yang disediakan bagi para mutan (X-Men) untuk bernaung dan belajar mengendalikan kekuatan yang dimiliki agar dapat berbaur dengan manusia tanpa harus merasa takut dan atau mencelakai. Di sisi lain, Erik dengan Brotherhood of Mutants-nya mengumpulkan mutan-mutan yang merasa diasingkan oleh manusia, menggalang kekuatan besar untuk menguasai dunia, menjadikan manusia sebagai musuh yang dianggap mengancam eksistensi kaumnya di muka bumi.

So... silakan dianalogikan sendiri dengan kehidupan homoseksual dan atau dunia lesbian yang kita jalani. Apakah kita termasuk pengikut aliran Charles Xavier a.k.a. Profesor-X, ataukah kita penganut paham Erik Lehnsherr a.k.a. Magneto...? Apakah kita lesbian yang sekalipun memiliki orientasi seksual berbeda, tetap menyadari bahwa kita merupakan bagian dari masyarakat, dan tetap berusaha meningkatkan kualitas diri kita dalam masyarakat...? Ataukah kita lesbian yang memilih untuk bersikap antipati terhadap masyarakat, karena merasa diri ‘berbeda’ dan hanya ingin hidup dalam lingkaran komunitas sendiri, enggan berbaur dengan masyarakat...?

--------------------------



Unfortunately, I do know you. God, I don't know what's gotten into you lately. You're awfully concerned with your looks. (Professor Charles Xavier to Raven/Mystique)

If you're using half your concentration to look normal, then you're only half paying attention to whatever else you're doing. Just pointing out something that could save your life. You want society to accept you, but you can't even accept yourself. (Erik Lehnsherr to Raven/Mystique)



~ Wil Twilite ~
Rabu, Maret 23, 2011

about LIES - Jennifer Schecter


Jennifer Schecter :
I'm sitting in the chair, writing in agony. A demon, a minor demon, is pinning me there, fucking with my head.


Abraxas, he says :
“I’m Abraxas, the demon of lies and deceit. So, what do you want to know about LIES, My Dear…?”


Jennifer Schecter :
“I'm not A LIAR. I try again to get up. This time I'm flayed, splayed. I feel myself screaming”.


Abraxas :
“I'll tell you about LIES. There are WHITE LIES and BLACK LIES. And many shades of GREY LIES.

Some LIES are JUSTIFIED. Lies told out of KINDNESS. Lies that preserve DIGNITY. Lies that spare PAIN. Everybody’s A LIAR, Dear. Look at that one. She’s about to tell her lover something patently untrue. Look at their gestures. See how they touch each other too intimately...? How they avert their eyes and cover their mouths...? They lick their teeth and hold their chins. They embellish their stories with far too much details”.


*) taken from "The L Word", on the scene where Jenny talking to Nick Barashkov, one of her former professors
Jumat, Mei 01, 2009

Lois & Clark: The New Adventure of Superman


SUPERMAN adalah salah satu superhero favoritku. Meskipun, kalau dibandingkan dengan superhero-superhero lainnya, barangkali ke-SUPERMAN-an Clark Kent adalah 'perubahan wujud' yang paling terlihat jelas (ketara/kasat mata banget), karena Clark Kent tidak mengenakan topeng atau penutup mata dalam kostum Supermannya. Namun, dalam film layar lebar, serial TV maupun komik yang menceritakan Superman, selalu digambarkan tak seorangpun tahu maupun curiga bahwa Clark Kent adalah Superman, yang hanya 'bersembunyi' di balik kacamata dan identitas jurnalistiknya saja.

Ada banyak aktor yang memerankan tokoh Clark Kent dalam berbagai versi Superman. Untuk versi layar lebar, ada Christopher Reeve yang paling awet memerankan tokoh Superman dalam Superman: The Movie (1978), dilanjutkan dengan Superman II (1980), Superman III (1983), Superman IV: The Quest for Peace (1987). Kemudian ada aktor muda tampan, Brandon Routh dalam Superman Returns (2006). Sedangkan untuk serial TV, ada George Reeves; The Adventures of Superman (1951-1957), John Haymes Newton; Superboy (1988-1992), Dean Cain; Lois & Clark: The New Adventures of Superman, dan yang terakhir adalah Tom Welling; Smallville.

Diantara banyak versi Clark Kent (Superman) yang pernah eksis di dunia perfilman, baik serial TV maupun layar lebar, Lois & Clark: The New Adventures of Superman adalah favoritku. Menurutku secara pribadi, Dean Cain adalah aktor yang paling sempurna dalam memerankan Clark Kent (Superman). Dilihat dari segi fisik, selain atletis, proporsional dan juga tampan, dia memiliki kharisma yang kuat. Saat menjadi Clark, dia menampilkan pribadi yang sederhana , gentleman, cerdas, humoris, dan apa adanya. Caranya menatap Lois Lane (Teri Hatcher) sejak pandangan pertama sampai dengan season terakhir dari serial ini menyiratkan kekuatan cinta yang luar biasa. Pembawaannya yang kharismatik baik di dalam pekerjaan maupun di luar pekerjaan membuatnya tampak ‘wajar’ bila banyak wanita yang mengagumi sosok Clark Kent. Dan di sisi lain, saat menjadi Superman, tatapan mata teduhnya Clark Kent tiba-tiba bisa berubah menjadi sorot mata tajam sang superhero saat berhadapan dengan lawan-lawannya, dengan tidak menghilangkan kesan ‘melindungi yang lemah’. Well, ini benar-benar semata-mata hanya personal opinion aja dari seorang Wil yang ngefans sama Clark Kent (Superman) versi Dean Cain lho, yaa.

And then, Lois Lane yang diperankan oleh Teri Hatcher juga adalah Lois Lane terbaik dalam sejarah perfilman Superman (lagi-lagi ini opini pribadi), karena sangat jelas terlihat karakter Lois yang jika dilihat dari luar tampak seperti seorang wanita modern yang mandiri, workaholic, lincah, sensual, cerdas, independen dan berani. Namun, setelah menyadari betapa besar cintanya pada Clark, dia terlihat begitu lemah, rapuh, pencemburu, yah pokoknya gitu deh, tipikal wanita yang harus selalu dilindungi oleh Clark. Secara setelah musuh-musuh Superman tahu bahwa dia adalah wanita kesayangan Superman, dia seringkali jadi sasaran/umpan mereka untuk memancing atau mencari kelemahan Superman.

Yang membuat Lois & Clark: The New Adventures of Superman begitu istimewa secara keseluruhan bagiku adalah chemistry kuat yang terpancar antara Dean Cain dan Teri Hatcher, membuat gue terhanyut dalam romantisme dan keseluruhan alur cerita dari serial TV yang satu ini. TOB BGT dech pokoknya…

Sometimes I wonder… ‘peran ganda’ antara Clark Kent dan Superman cukup dekat dengan kehidupan yang sedang aku jalani. Di satu sisi aku adalah Clark Kent, seorang manusia biasa dengan segala keterbatasan dan kebutuhan manusiawinya. Di sisi lain aku adalah Superman, yang memiliki kekuatan (naluri) alamiah yang tidak bisa kutunjukkan kepada siapapun ketika aku sedang menjadi Clark Kent. Di saat aku harus menjadi Superman, aku harus melepaskan sisi Clark Kent-ku untuk sesaat. Siapa pun yang selama ini telah mengenalku sebagai Clark Kent, tidak perlu tahu bahwa aku adalah Superman. Dan, siapapun yang hanya melihat diriku sebagai Superman, tak perlu tahu kalau di balik jubah itu aku hanyalah seorang Clark Kent, manusia biasa yang berbaur dengan mereka dalam satu sisi kehidupan.

Tidak mudah menjadi Clark Kent, untuk ‘tidak peduli’ pada manusia yang sedang dalam bahaya dan membutuhkan pertolongan dengan segera. Tidak mudah menjadi Superman, memiliki ‘keistimewaan’ yang membuatnya ‘berbeda’ dengan manusia lainnya. Sebab Superman hanya akan menyendiri dan kesepian, apabila tidak berbaur dengan manusia lainnya. Sebab Clark Kent akan dianggap manusia aneh, jika ‘keistimewaan’ yang dia miliki diketahui orang lain begitu saja, secara terang-terangan.
Selasa, Maret 31, 2009

from "CHARM SCHOOL"


…we want to dedicate this song to love, because, in the end, it’s the only thing that matters…

From afar, I see what you see
Just one moment to understand
I am afraid to be upside down
Those walls cover all that is

A song in my feet…
I want to see things the way they are
I mean, if you want…
I want you to love me the way I am

All the storms bring with them the sun
There is not just one thing
You can just give from your being

Don’t judge me
If you don’t want to see
What I can be

A space for the heart
You are who you are

(taken from the movie “Charm School”; 10-08-2008)