Tampilkan postingan dengan label friendship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label friendship. Tampilkan semua postingan
Selasa, Mei 09, 2017

Sahabat, kebutuhan jiwa..

Aku terpekur dalam suasana hati yang gamang, dan pikiran yang berkabut. Awalnya, inginku menghadapi semuanya sendirian. Menguji keberanian dalam diri, menghadapi kesepian yang mencekam.

Wajah-wajah sahabatku bermunculan dalam ingatan. Mereka adalah orang-orang yang telah dipilihNya untuk bersimpangan takdir denganku. Pada momen-momen terberat fase-fase usiaku. Aku merindukan mereka. Ya, meski begitu banyak hal yang telah terjadi, mereka masih memiliki tempat teristimewa di relung hati.

Dulu kami saling mencari untuk tempat bersandar, curhat, minta pendapat atau bahkan pertolongan. Kini sudah tidak lagi demikian. Kebutuhan kami satu sama lain sudah jauh lebih luas dari semua itu. Ya, kebutuhan jiwa.

Cukup mengetahui bahwa ketika dihubungi, tak pernah ada kata sibuk. Tak perlu suatu alasan apa pun untuk meluangkan waktu di sela-sela kesibukan.  Tuk sekedar menyapa dalam chat, telepon,  hingga bertemu langsung.

Cukup kebersamaan yang manis, larut dalam perbincangan yang mengalir begitu saja. Tak perlu berkeluh kesah, tak perlu selalu mengungkapkan persoalan hidup. Sebab kebersamaan yang berkualitas sudah mengalirkan kehangatan tersendiri bagi relung hati, dan jiwa. Pikiran pun tenang terasa.

Terima kasih, sahabat. Perjumpaan dengan kalian telah meringankan beban berat di pundakku, memberi perasaan bahagia, dan semangat untuk terus melangkah ke depan.


~ Wil Twilite ~
Kamis, Januari 21, 2016

"hello" from the other side



Hello, it’s me... 
I was wondering if after all these years you’d like to meet...


My dear Someone, apa kabarmu...? Bolehkah bila aku rindu...? Ya, aku rindu pada perbincangan kita yang sarat makna, pada ajakan-ajakan makan siangmu, juga perjumpaan-perjumpaan kita di kedai kopi. Membahas apa saja yang menarik saat itu. Entah itu menarik bagiku, atau bagimu, sama saja, selama topik yang diperbincangkan mengalir memperkaya jiwa dan wawasan kita.

Entah apa yang pada akhirnya membuat kita melangkah saling menjauh. Anggap saja aku amnesia. Atau mungkin aku kurang peka...? Entahlah. Barangkali kehilangan seorang teman sepertimu merupakan salah satu khilafku yang butuh cukup lama waktu bagiku untuk menyadarinya. Memang adakalanya aku menjadi bodoh, my dear Someone...

Bila aku tengah jatuh cinta, aku seperti lupa diri. Aku lalu terhanyut dalam gelombang pusarannya, kemudian tenggelam hingga waktunya kisah cinta itu berakhir. Ya, begitulah aku, kurasa. And when I realize this, I’m not proud about it. I feel so immatured.

Dan ketika aku membuka kembali catatan lama, aku menemukan jejak kenanganmu. Masih tersusun rapi dalam satu folder tersendiri, namamu. Banyak yang membuatku tersenyum pada deretan percakapan kita dulu, isi perbincangan kita dari yang remah-remah roti hingga yang kelas kakap. Ah, kamu sungguh seorang yang cerdas dan berwawasan dan berpandangan luas. Kamu sangat matang dalam berpikir dan bersikap. Sementara aku...? Aku hanya orang bodoh, yang unfortunately charming inside... Ups...!

Ah, pokoknya aku rindu kamu. Entah bagaimana caranya agar hubungan baik yang dulu kita bina seiring waktu, dapat kembali menghangat, seperti dua cangkir kopi yang kita nikmati di beberapa kedai kopi, dulu. Rindu perbincangan hangat denganmu. Rindu beradu argumen denganmu. Ketika kita bicara mengenai negeri ini layaknya mewakili suara rakyat, atau ketika kita membahas isu LGBT dengan sangat serius sambil saling menujuk “...yang kaya kamu, gitu...”. Hahaha.

Dan saat ini aku hanya bisa mengamatimu dari jauh. Senang masih bisa mengikuti beritamu lewat tulisan-tulisan cerdasmu di sana, maupun di sosmed kamu. Masih bisa mengamatimu sebagai the real you and also the alter-you , saat ini bagiku begitu berarti. It’s really nice to know you and ever getting closer to you.


Hello from the other side... at least I can say that I’ve tried... to tell you I’m sorry for breaking your heart (and for everything that I’ve done)...

[song by Adele]


~ Wil Twilite ~
Sabtu, Mei 04, 2013

Zona Nyaman Pertemanan

Beberapa waktu yang lalu, aku tertarik pada topik yang dibahas oleh suatu milis lesbian. Aku turut berpendapat disana, namun dirilisnya lama sekali ya. Akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan di blog ini saja.

Tentang gimana caranya membuat club lesbian yang sehat. Kurleb bisa juga diartikan sebagai zona nyaman pertemanan lesbian. Bagaimana agar memiliki lingkaran perteman yang dapat menyamankan kita dalam mengekspresikan sisi diri kita yang lesbian.

Berhubung kecil kemungkinan untuk menemukan teman lesbian di dunia nyata, di zaman hi-tech ini maka dunia maya merupakan "lokasi" yang paling strategis untuk mencari teman, tentunya.

Beberapa tahun silam, aku pernah merasakan hal yang sama, pingin banget punya comfort zone sebagai lesbian, dengan teman-teman lesbian yang baik. Maka aku join di beberapa milis, dan menerbitkan blog pribadi sebagai sarana untuk menumpahkan segala perasaanku atas sisi diriku yang lesbian.

Bagaimana cara mendapatkan lingkungan pertemanan yang nyaman? Awali saja dengan menjalin hubungan personal dengan beberapa orang. Mulailah dengan mencari teman yang kurleb memiliki minat yang sama dengan kita misalnya membaca atau menyukai jenis musik tertentu. Dari sana obrolan akan mengalir dan kita menjadi connected. Seiring waktu mungkin kelak dapat menjadi teman akrab, umm atau mungkin lebih dari itu, who knows? ;)

Bagi aku yang "in the closet", teman ngga perlu banyak, sekedar untuk menunjukkan eksistensi diri kita sebagai lesbian. Yang penting adalah kualitas, bukan kuantitas. Karena nantinya teman-teman pun akan melewati seleksi alam. Diantara mereka yang datang dan pergi, ada beberapa yang 'kan tetap tinggal. Merekalah teman-teman yang sejati.

Alhamdulillah sejauh ini, melalui seleksi alam tadi, aku sudah merasa nyaman dengan beberapa orang teman lesbian dalam hubungan pertemanan yang berkualitas dan positif.

Pesanku, carilah teman dengan hati. Carilah teman di tempat-tempat positif, misalnya dalam milis-milis yang topiknya berkualitas dan memberi kita wawasan lebih. Maka insya Allah kita juga akan menjumpai orang-orang yang positif.


Salam pertemanan,
~ Wil Twilite ~
Senin, Mei 07, 2012

Gerbang Mimpi


Tapi MIMPI itu terlalu indah, bukan...?

Bahkan sanggup membuatmu tersesat sebelum mulai melangkah.

Percayalah kawan, akan lebih baik ketika kau terbangun dengan kenangan indah mimpimu itu, daripada terengah-engah dan takut dibangunkan dari mimpimu yang menjadi buruk.

Karena mimpi tak pernah ada dalam kendali, walaupun mimpi itu adalah milikmu.



Satu lagi catatan lamamu yang tercecer, Sahabat...
~ 2010 ~

Wil Twilite
Senin, Januari 30, 2012

Partner dan Kebahagiaan

Beberapa waktu lalu, ada seorang sahabat L yang curcol (curhat colongan) mengenai peran partner bagi L. She asks me, "Kak Wil, sebenarnya apa sih tujuan utama L mencari partner...? Standar kriterianya tuh kira-kira seperti apa, sih...?".

Aku bertanya, “Kalo kamu pribadi, kenapa kepengen banget punya partner...?”. Jawabnya, “Aku ingin bahagia, Kak. Sendiri tuh ngga enak. Kalau punya pacar kan enak, ada yang merhatiin, ada seseorang yang bisa kita kasih perhatian, sayang-sayangan gitu, deh, Kak...”. GUBRAAAKK...!! Tujuan memiliki partner untuk memperoleh kebahagiaan. Weleh-weleh. Itu artinya meletakkan kebahagiaan kita di tangan orang lain, dong...? Dalam hal ini partner. Ada partner kita bahagia, ngga ada partner kita ngga (berhak untuk) bahagia. Sedemikian dangkalnyakah makna kebahagiaan bagi L...?! Please deh, jangan sekali-kali memiliki tujuan semacam ini dalam mencari partner. Sebab kebahagiaan sejati itu datangnya dari dalam diri dan merupakan tanggung jawab kita sendiri sebagai lesbian dan sebagai manusia. Menyedihkan sekali orang yang hanya menggantungkan hidup dan kebahagiaannya kepada cinta orang lain. Betapa kosong hidupnya. Lebih baik menjomblo jika memang kita belum memahami benar tujuan memiliki partner. Cobalah terlebih dahulu kita mengenali dan menyayangi diri kita sebelum mengenal dan menyayangi orang lain, belajar mandiri serta meningkatkan kualitas diri. Orang yang tepat akan datang pada saat yang tepat, yang hadirnya mampu melengkapi kekurangan kita dan sebaliknya. Berhenti memimpikan “kekasih maha sempurna” yang akan datang membawa “paket lengkap kebahagiaan”, dan ketika dia pergi, “seluruh paket” kebahagiaan itu pun ikut pergi bersamanya. Tak bersisa.

Kriteria adalah ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu (artikata.com). Awalnya aku berpikir kriteria akan terbentuk setelah kita menjalani proses pengenalan diri terlebih dahulu. Ternyata aku salah. Kriteria bukanlah harga mati dalam menemukan pasangan yang cocok. Terkadang kita memiliki keinginan-keinginan dalam hati atau pikiran akan figur orang yang menjadi pasangan kita kelak. Dalam proses mencari dan menemukan cinta sejati, kita pun berpapasan dengan orang-orang yang mendekati kriteria kita.

Perjumpaan dengan Ms./Mrs. Right dapat terjadi dalam dua kemungkinan. Pertama, setelah melewati tahapan mengenal diri sendiri, kita mulai memahami kriteria partner yang kita butuhkan. Kemudian atas berkat rahmat-Nya, kita dipertemukan dengan seseorang yang sangat sesuai dengan kriteria yang kita butuhkan. Kedua, dalam kondisi masih labil dan dalam proses pencarian jati diri, dimana belum memahami benar apa yang kita butuhkan, datanglah seseorang yang hadirnya mampu membuat hidup kita lebih terarah dan bermakna, serta banyak membawa perubahan positif.

Namun tak jarang, hubungan kandas di tengah jalan karena berbagai alasan. Kemudian kita akan menemukan dan menjalin hubungan yang baru dengan perempuan lain. Begitulah siklusnya. Terkadang ada yang menganggap kita terlalu pemilih. Bagiku memilih dan menunggu datangnya orang yang tepat bukanlah suatu hal yang buruk. Sebab semua orang layak untuk bahagia dan mendapatkan “yang terbaik”, dalam konteks yang sangat personal tentunya. Yang kita butuhkan adalah dia yang bersedia menerima ketidaksempurnaan kita, dan hadirnya mampu menyempurnakan kita, begitu pun sebaliknya. Jangan membentuk kriteria pasangan yang terlampau sempurna. Sebab takkan pernah ada kesempurnaan di dunia ini. Kesempurnaan yang sejati itu hanya milik Tuhan. Hanya Dia Yang Maha Sempurna.




January 27th, 2012
~ Wil Twilite ~
Senin, Desember 12, 2011

Coming Out Story (3) ~ Finish


August 23rd, 2008


Akhirnya, hari ini datang juga. Setelah janjian lebih awal dengan Gieza untuk cari kado buat Tata, kami berdua langsung menuju tempat janjian. Sambil menunggu Tata dan Nanda, kami memesan minuman sambil melanjutkan obrolan tentang cowok gebetannya Gieza. Kurleb 30 menit kemudian, Tata muncul, kami bertiga cipika-cipiki sambil pelak-peluk bak teletubbies, tak peduli tatapan sirik orang-orang di sekeliling kami, hehehe.

Lumayan lama kami ngobrol bertiga sebelum akhirnya Nanda datang. Dari jauh dia sudah melambaikan tangan ke arah kami, Gieza dan Tata membalas lambaian tangannya, cuma aku aja yang tampak menunduk, seolah sedang asik (akting) menyeruput minumanku, dan mulai merasa ngga nyaman, entah kenapa.

Setelah bergabung, Nanda ngga langsung duduk, dia cipika-cipiki dulu sama Tata, ketawa-ketiwi, terus dia nyamperin Gieza, mengacak-acak rambut Gieza yang rada di highlite. Akhirnya, sampai deh ke aku, dia sempat melirikku sekilas sebelum akhirnya menghampiriku sambil menyapa, “Wil…”, aku berdiri dan langsung disambut pelukan hangat plus cipika-cipiki juga, seakan ngga terjadi apa-apa diantara kami. Aku pun berusaha mengimbangi sikapnya dihadapan dua teman kami ini, kubalas sapanya, “Nda…”.

Kami memesan makanan dan mulai ngobrol macam-macam, bercanda dan saling meledek. Terasa sekali suasana hangat layaknya reuni kecil yang berjalan menyenangkan karena aku dan Nanda sama-sama mampu menjaga sikap dihadapan Tata dan Gieza. Hingga adzan maghrib berkumandang. Tata dan Gieza bergegas ke musholla mall, sedangkan aku dan Nanda secara kebetulan sama-sama sedang periode. So, we’re alone now.

“Ehem, sehat, Wil…?”, Nanda mulai membuka percakapan.

“Alhamdulillah. Lo sendiri, kemana aja...?”, jawabku sambil berusaha rileks.

“Ada. Gue emang sibuk belakangan ini, sorry ya kalo gue terkesan menghindar...”

“Ngga apa-apa sih. Gue bisa ngerti kok, pengakuan gue pastinya ngga bisa langsung lo terima gitu aja. Well, sekarang, selanjutnya kita akan gimana, Nda...?”

“Hmmm, maksudnya...?”, tanyanya sambil mengerutkan dahi, tidak memahami pertanyaanku.

“Ya… lo masih bisa nerima gue sebagai sahabat lo, Nda...?”

Nanda terdiam beberapa saat sambil menyeruput juice-nya. “Hmmm, I’ve been thinking...”

“And….?”

“Ngga seharusnya gue merasa kecewa dengan jalan yang lo pilih, karena itu hidup lo. Dan gue juga sempat sharing sama Evan..….tenang, gue ngga nyebutin kalo itu lo…”, ralatnya saat melihat tatapan shock-ku mendengar nama Evan, bosnya yang gay itu, karena aku sudah kenal secara langsung. Lalu dia melanjutkan…

“Gue seharusnya bersikap lebih wise ke elo, Wil... Menghargai kejujuran lo itu... Bukannya malah lari dari lo bak seorang homophobia, sekalipun emang ngga mudah menerimanya, kalo sahabat gue ternyata lesbian...”

Aku menghela nafas panjang, kemudian kubilang, “Lo tau Nda, butuh waktu yang cukup lama buat gue sebelum akhirnya gue memutuskan untuk coming out sama elo... ini sangat sensitif… this is my big secret which is I don’t wanna let anybody knows... tapi gue butuh seseorang yang sangat gue percaya atas rahasia gue ini, untuk membuat gue merasa diterima, dengan perbedaan yang ada di diri gue... paling tidak, oleh sahabat gue yang udah seperti saudara buat gue, yaitu elo…”

“Iya, Wil. Maafin gue, ya. Gue kekanakan banget. Padahal gue aja banyak kekurangan, lo selalu mau memahami dan menerima. Lo adalah satu-satunya orang yang masih percaya sama gue, ketika orang-orang meragukan gue. That’s mean a lot for me, Wil. Sekarang gue sadar sepenuhnya bahwa perbedaan pada dasarnya ngga pernah jadi penghalang kedekatan kita selama ini...”

“Lo tau, Nda... Kemarin tuh gue udah pasrah loh, kalo lo akan menjauh dari gue setelahnya... Itu resiko gue coming out...”

Mata Nanda berkaca-kaca, seraya mengulurkan kedua tangannya, menggenggam erat kedua tanganku. Kehangatan persahabatan kembali mengalir diantara kami.

Sejenak kami terdiam, sayup-sayup terdengar lantunan lagunya Opick yang ‘Rapuh’ di resto itu. Setelah berapa lama, Tata dan Gieza pun kembali. Kami sempat cekakak-cekikik sebentar sebelum akhirnya waktu menunjukkan sudah jam 19.00 WIB, kami sepakat bubaran. Tata dan Gieza tempat tinggalnya searah dan naik bus yang sama sampai terminal Kampung Melayu, sedangkan aku dan Nanda biasanya menunggu bus di halte yang berbeda dengan Tata dan Gieza, jadi kami berdua masih jalan bareng sampai ke halte yang sama, dan melanjutkan obrolan.

“Wil…”

“Hmmmm….”

“Sebenernya, banyak yang mau gue dengar tentang masa lalu lo yang selama ini udah berhasil lo sembunyiin dengan sukses dari gue. Ya… kalo lo ngga keberatan untuk cerita sama gue, sih...”

“Ya…gue sih ngga keberatan, Nda. Kapan ya, gue certain semuanya ke elo...?”

“Gini aja, gimana kalo lo nginep di kost gue aja...? Lo kan udah lama tuh, ngga nginep di kost gue...”

“Sekarang juga, maksud lo…? Tapi kan gue ngga bawa baju, Nda...”

“Halah. Biasanya juga dulu elo sering nginep dadakan kaya gini, terus pakai baju kerja gue besoknya buat ngantor, hehehe...”

Akhirnya aku menginap di tempat kost Nanda, dan malam itu aku mulai membuka satu-persatu rahasiaku, tentang Luna, dan perjalanan rahasiaku menapaki dunia ‘the other’. Nanda mendengarkan dengan seksama cerita-ceritaku sambil sesekali berkomentar. Akhirnya, terlepas sudah satu beban di pundakku, sahabatku mau menerimaku apa adanya. Ternyata, bulan suci Ramadhan memang mendatangkan berkah, membuka pintu maaf antar sesama manusia, menjalin kembali tali silaturahmi yang sempat terputus, dan bahkan mengumpulkan 4 orang sahabat yang sudah cukup lama tidak berkumpul bersama, terlebih lagi akan ada pertemuan berikutnya untuk acara buka puasa bersama di bulan penuh rahmat ini.

Cahaya-Nya, ternyata masih menyinari sisi kehidupan yang diliputi kegelapan, kasih sayang-Nya, ternyata benar-benar menyentuh kedalam kalbu umat-Nya, tanpa pilih kasih. Tak ada yang pantas dihaturkan kehadirat-Nya selain rasa syukur, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan diriku….Big Thanks, to the owner of this life, My Lord, Allah SWT.


~ Wil Twilite ~
Sabtu, Desember 03, 2011

hadirku untukmu


Aku adalah sepotong kayu yang terserak di hutan, dengan kayu itu kau sangga dahanmu yang terkulai...

Aku adalah butir-butir pasir yang mengisi rongga-rongga dan celah-celah karangmu yang terkikis hempasan ombak...

Aku adalah binar biru yang akan merangkum merah jiwamu menciptakan pendar jingga yang lebih indah dari warna-warni yang kita punya...

Aku adalah kisah yang hadir di sepenggal usiamu tapi kupastikan kenangan itu mengantarmu disetiap helaan nafas yang tersisa...

Aku adalah perbedaan yang akan menghiasi nuansa ruang hidupmu...

Maka, berhentilah mencari kisahmu di perjalanan waktuku dan biarkan keberadaanku melengkapi kata demi kata yang sedang kau rangkaikan menjadi sebuah cerita...

22.07.09
Me



Sahabat, aku menemukan puisi darimu ini masih tersimpan rapih di lembaran rahasia kita, dulu... Ternyata kangen, saat-saat kebersamaan kita dulu, ya...

~ Wil Twilite ~
Rabu, Agustus 03, 2011

Coming Out Story (2)


August, 20th 2008

Hari masih sangat pagi, aku sedang berada di dalam bus umum, on the way ke kantor sambil mendengarkan alunan lembut Norah Jones dari pemutar mp3 di handphone saat ada telepon masuk, kulirik sekilas, tertera nama Gieza, temanku se-gank saat kuliah dulu. Ada angin apakah gerangan dia telepon aku pagi-pagi begini...? What a surprise juga sih, soalnya udah lumayan lama ngga dengar kabar dari dia.

“Halo”, sapaku.

“Wiiiiiilllllllll”, teriakannya spontan bikin kupingku pengang, secara aku masih pakai headset.

“Gile lu, Gie, teriak-teriak di kuping orang pagi-pagi buta, gimana kalo gendang telinga gue pecah...?”, protesku.

“Ya ampyuuun, Wil, jangan hiperbol gitu deh, lagian ini juga udah bukan pagi buta, kali... udah hampir jam 8, Non.”

“Bukan masalah pagi butanya, tapi headset masih nyantel di kuping nih.”

“Sorry, sorry, Wil, abis gue kangen banget sama elu, elu sih sombong, mentang-mentang gue ngga pernah telepon, elu juga ngga mau telepon gue. Ujan berkelir kali Wil, kalo elu yang telepon gue duluan.”

“Buset, nuduh, lo. Perasaan gue pernah sms lo beberapa kali deh, nanyain kabar lo, emangnya ngga lo anggep tuh sms…?”

“Lhaaaa, kan itu sms, bukan telepon. Caaabbbbeee deeehh….”

“Ya udah, intinya, ada angin apa lo telepon gue...?”

“Lo inget dong, Tata ultah tanggal 22 besok...?”

“Inget, terus kenapa...? Emang dia mau ngundang-ngundang kita...?”

Tata adalah anggota gank yang satu lagi. Gank kami ada 4 orang, Aku, Nanda, Gieza dan Tata.

“Bukan ngundang kerumahnya sih, tapi dia ngajakin ketemuan, kita berempat, Wil. Secara kita kan udah lama bangets ngga kumpul-kumpul, moment-nya juga pas banget mau bulan puasa, jadi sekalian punggahan gitu.”

“Berempat…?”, tiba-tiba aku ingat Nanda, apa dia udah tahu juga, ya...? Apa Gieza or Tata udah menghubungi dia...?. “Nanda udah tau, Gie?”, lanjutku.

“Udah, kemarin gue telepon dia. Dia malah napsu banget, langsung dia yang nentuin tempatnya.”

“Oooo…dimana...?”

“Di Plangi aja katanya”. Waaaks... Plangi...? Again...? Batinku.

“Kapan, jam berapa...?”

“Sabtu, tanggal 23, sorean, jam 4 yah…?”

“Ok, Insya Allah gue datang. Btw, gue udah mau nyampe nieh. Ntar deh gue sambung lagi ya…”

“Ok, Wil. Take care. Bye.”

“Bye.”

Aku seharusnya senang karena my gank akhirnya bisa ngumpul lagi setelah sekian lama, tapi aku malah merasa aneh membayangkan akan bertemu Nanda lagi. Setelah peristiwa terakhir, aku belum mendengar kabar lagi darinya. Gimana nanti di depan Tata dan Gieza, kayaknya ngga enak kalau aku dan Nanda ngga bersikap seperti biasanya, sedangkan aku ngga tau harus bersikap seperti apa. Hhhhhh, kuhela nafas sambil menyebrang, otakku mulai membayangkan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Biarlah, apapun yang akan terjadi, terjadilah.


*) to be contineu
Senin, Agustus 01, 2011

1 Agustus 2011


Assalamu’alaikum WrWb... Selamat milad, Kak Wil... :)
Bertepatan dengan hari pertama di bulan nan suci... semoga dapat lebih memberi arti, untuk apa kita dilahirkan ke dunia ini... dan semoga tak henti-hentinya bermuhasabah diri...

Sekali lagi, happy birthday, Kak Wil... semoga selamat iman, hingga waktu tak lagi berputar... diberikan keberkahan umur, dan sukses dunia dan akhirat... Amin, Ya Rabb...


(SMS from my friend, June – Banda Aceh)


Pada kesempatan yang baik ini, izinkan Wil mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada kawan-kawan yang telah mengirimkan SMS maupun ucapan via facebook pada hari ini, Senin, 1 Agustus 2011, di mukadimah bulan nan suci... semuanya begitu berkesan bagi Wil...

Dan, tidak lupa Wil mengucapkan "Selamat menjalankan ibadah puasa", bagi kawan-kawan muslim dan muslimah, di mana saja berada...


Regards,
Wil Twilite
Selasa, Juli 26, 2011

Coming Out Story (1)


July, 19th 2008...

Baru jam 13.30 WIB saat aku tiba di Plaza Semanggi, lebih cepat 30 menit dari waktu yang telah kusepakati dengan Nanda, sahabatku. Aku memang merencanakan datang lebih awal agar aku bisa mempersiapkan diri sebelum benar-benar sanggup untuk berterus terang padanya. Sudah lama aku ingin menceritakan hal ini padanya, karena dia adalah sahabat terdekatku, kami bahkan sudah seperti saudara. Selama ini hampir tidak pernah ada rahasia diantara kami.

Aku mengenalnya di kampus tercinta, ketika kami sama-sama sedang antri di salah satu loket pendaftaran untuk tes masuk. Aku antri tepat di belakang dia, karena antrian mulai ngga karuan, dia terdorong dari arah depan dan kakinya menginjak kakiku, ”Aduh, yang bener aja dong”, keluhku jutek. Dia menoleh, katanya ”Sorry, ngga sengaja. Nih yang di depan juga pada main dorong aja sih...!”. ”Ya udah, ngga papa”, jawabku kemudian. Yah mau gimana lagi, emang sebenarnya sih dia ngga salah juga, aku hanya reflek mengeluh karena kakiku terinjak. Selanjutnya, kami kembali saling terdiam dalam antrian yang masih lumayan panjang itu. Rasa-rasanya sesi antri di loket itu so wasting time banget, deh.

”Lo sendirian?”, tiba-tiba dia ngajak ngobrol

”Iya, kenapa emangnya?”

”Ngga apa-apa, nanya aja. Gue juga sih, kayaknya teman SMU gue ngga ada satu pun yang daftar kesini”

”Sama dong kaya gue”, jawabku sambil nyengir ke dia. Dia ikutan nyengir

”Lo SMU-nya di Jakarta ya?”, tanyanya

”Iya, emang lo dimana, bukan di Jakarta, ya?”

”Bukan. SMU gue di daerah Parung”

”Parung...? Jauh amat ya. Kenapa daftar kuliah di sini...?”, tanyaku heran. Ya, soalnya dia SMU-nya di Parung, tapi kuliah di Jakarta

”Iya, bokap rada maksa gitu, katanya sih rekomendasi kenalan bokap. Btw, belom kenalan, gue Nanda”, dia mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya

”Wil”, dahinya berkerut mendengar namaku

”Cuma Wil aja?”

”Wilhelmina”

”Ooo, Wil is just a nick, ya? Sounds cool”

”Tengkyu”

Itulah awal perkenalan kami, selanjutnya kami kebetulan satu kelompok selama ospek, dan ternyata kami mengambil jurusan yang sama, sering sekelas, banyak jadwal yang barengan, sering jalan bareng juga. Kami juga nge-gank dengan dua orang lagi, tapi aku paling akrab sama Nanda. Kami pernah juga cari kerja barengan, buat cari uang tambahan sambil kuliah. Banyak peristiwa yang sudah kami jalani bersama, saling membagi kisah masa lalu, membuat kami seperti sudah saling mengenal sejak lama. Kepribadian kami berdua sebenarnya sangat bertolak belakang, tetapi entah mengapa hal itu tidak pernah menjadi penghalang kedekatan kami.

Nah, itu Nanda datang, aku melambaikan tangan saat kulihat dia sedang tengak-tengok mencari aku di tengah keramaian.

”Sorry Wil, telat dikit. Biasa, macet. Lagian tadi meetingnya juga rada molor dari yang dijadwalin gara-gara si Benny kebanyakan argumen, udah gitu si Evan ngasih jawaban panjang lebar pula, ngga nyadar kalo seruangan udah pada bolak-balik ngeliatin jam tangan, sampe ada beberapa orang yang mendadak sakit tenggorokan segala. Hehehe...”, saking dekatnya hubungan kami, kami sudah hafal dengan orang-orang yang berhubungan dengan kami sehari-hari di kantor, aku bahkan sudah dikenalkan secara langsung dengan beberapa rekan kerjanya yang satu divisi, dan juga sebaliknya, Nanda sudah kenal sebagian teman kantorku.

”It's okay”, jawabku

”So, what’s the serious thing...?”, tanyanya to the point sambil menarik bangku di hadapanku. Mataku spontan melotot mendengarnya.

”Entar dulu dong, pesen makan juga belom, udah pengen denger cerita aja. Masa baru dateng langsung to the point gitu sih”. Dia tertawa lebar, lalu telunjuknya mengacung memberi kode pada satu pelayan yang melintas di dekat kami, dan mulai memesan makan.

Inilah saat yang bikin aku deg-degan, karena tujuan utamaku ngajak dia ketemu saat ini adalah untuk coming out ke dia. Aku sudah mempertimbangkan dengan seksama, dan merasa dia perlu tahu. Menyadari kalau diriku ”L” adalah sesuatu hal yang besar, and I think I don’t have to keep this secret forever from her.

Salah satu alasan yang mendasari keputusanku untuk coming out ke Nanda adalah, kurleb hampir dua tahun yang lalu (lama amat yak :p), Nanda pernah cerita ke aku tentang Evan, bosnya di kantor, yang tiba-tiba coming out ke Nanda bahwa dirinya gay. Nanda bilang, ia tidak terlalu terkejut dengan pengakuan Evan, karena gelagat Evan memang sudah terbaca. Bahkan hampir seisi kantor sepertinya juga sudah tahu. Yang membuat Nanda terharu, Evan mengakuinya secara personal pada Nanda.

Ketika itu aku bertanya pada Nanda, ”So, sikap lo ke dia bakalan berubah ngga, setelah dia ngaku ke elo kalo dia gay?”. ”Ya, awalnya sih gue takut, Wil. Lo kebayang ngga sih, tiba-tiba aja dia membuka rahasia dirinya ke gue...? Terus, dia mulai cerita secara mendetail, dari mulai dia merasa dirinya ngga ada ketertarikan sama sekali sama cewek, justru malah berdesir kalo ngeliat sesama cowok. Awalnya dia juga ngga mau nerima kenyataan itu, tapi di sisi lain dia merasa tersiksa untuk bersikap ’pura-pura normal’ padahal sebenernya ngga. Sampe dia masuk ke komunitas gay yang dia temuin di internet, yang membuat dia bisa feel comfort to accept himself as a gay karena merasa dirinya ngga sendirian".

"Dia juga ngga maksa gue untuk ’menerima’ eksistensi kaumnya sebagai suatu kewajaran, mengingat negara ini masih dipenuhi aturan-aturan dan norma-norma yang ngejelimet. Gue pikir, kenapa juga gue harus merasa kalo derajat gue lebih tinggi dari dia, semata-mata karena gue ‘normal’, terus gue menjustifikasi kaum gay. Ngga ada jaminan yang mutlak juga bahwa orang ‘normal’ lebih beradab dari mereka, iya ngga...? Menurut gue kalo bicara soal moral, semua kembali ke pribadi masing-masing”.

Sudah 30 menit kami berbincang sambil makan. Seperti biasa, kalau ketemuan gini, pasti banyak cerita yang mengalir. Piring kami berdua sudah bersih. Dan sambil mengelap mulutnya dengan tissue, Nanda mengulangi lagi pertanyaannya yang tadi.
”So, what’s the serious thing, Wil...?”

Aku terdiam beberapa saat sambil berusaha mencari-cari kalimat yang tepat sebagai prolog, tapi kok otakku buntu. Nanda mulai keliatan ngga sabaran.

”Hmm, too serious...? Until make you freeze like this...?”. tatapan jenakanya mulai menggoda di depan wajahku yang mematung. Akhirnya aku coba sekali lagi untuk memberanikan diri bicara.

”Nda... seandainya, nieh... hmm... gue... hmm... gimana ya ngomongnya... hmm...”, aku mulai menggaruk-garuk belakang telingaku yang ngga terasa gatal sama sekali.

”Plis deh, Wil. Kenapa lo jadi salting kaya gitu. Biasa aja kali. Rileks, Wil. Apapun yang mau lo sampein ke gue itu ngga akan bikin dunia kiamat. Mendingan lo minum dulu deh, nih...!”, celotehnya sambil menyodorkan air mineral. Aku mengambilnya, lalu meneguknya perlahan sambil tetap menatap matanya yang masih menatapku penuh tanya.

”Nda... gue... gue... Hmmm, sebenernya gue ngga ngerti kenapa gue merasa harus jujur sama lo tentang hal ini, tapi... gue cuma merasa sepertinya gue punya beban kalo harus terus merahasiakan hal ini dari elo, sedangkan... lo udah gue anggep...”, aku mulai speechless.

”Apaan...? Pembokat...? Atau cenayang...? Yang bisa nebak dengan sangat tepat kelanjutan kalimat lo, gitu...?”, dia coba melucu, tapi jayus, sebab ekspresi wajahnya masih tetap serius. Aku menghela nafas cukup panjang. Aku belum juga berhasil merangkai kalimat prolog apapun di hadapan orang yang menatapku seperti sedang membaca sebuah buku berukuran besar yang terbuka lebar dengan tulisan yang ukuran font-nya segede gaban.

”Nda... lo harus tau, kalo gue ternyata punya kecenderungan lesbian. Gue suka perempuan, Nda...”, aku ngga sanggup menatap matanya saat aku mengucapkan kalimat itu. Aku langsung menunduk. Sejenak ’setan gagu’ singgah diantara kita. Aku belum berani melihat ekspresi wajahnya. Setelah kira-kira dua menit, aku mendengar suaranya lagi.

”Wil...”

”Ya...”, aku mulai mengangkat wajahku yang tertunduk, memberanikan diri untuk menatap matanya yang sedang menatapku serius,

”Lo... serius...?”

”Ya...”

”Since when...?”

”Long time ago... long story...”

Nanda terdiam lagi sambil tetap menatap tajam mataku, seakan sedang mencari sesuatu di dalamnya.

”Have you ever been in a relationship... kinda... you know what I mean...?”

”Yes, I was, kinda...”

”How many times...?”

”Just once, and it was before we knew each other...”

”I can’t believe it”. Nanda menggeleng. Kemudian lama kami saling terdiam lagi sambil sesekali Nanda meneguk minumannya.

”Wil... I think I should go, now...”. Nanda berdiri, memberi isyarat bahwa dia tidak mau lagi berlama-lama berada di hadapanku.

”Okay. Thank you for your time... to come...”, aku merasa aneh saat mengucapkannya. Tidak pernah percakapan kami terasa sekaku ini. Nanda menatapku cukup lama, dengan tatapan yang tak mampu kumaknai saat itu, sebelum akhirnya pergi dari hadapanku tanpa berkata apa-apa lagi. Dia berlalu begitu saja, meninggalkan berbagai pertanyaan dalam benakku akan reaksinya.

Hmmm, sudahlah. Memangnya reaksi seperti apa, sih, yang aku harapkan darinya, seharusnya...? Yang penting, aku sudah jujur, dan sekarang hatiku terasa plong. Biarlah waktu yang akan memberikan jawaban, bagaimana kelanjutan kisah persahabatan kami kelak...


*) to be contineu
Senin, Juni 27, 2011

do you miss me...? ^^


Sometimes you just need to distance yourself from people. If they care, they’ll notice. If they don’t, you know where you stand ~ Unknown

Statement yang sederhana. Aku pun tergoda untuk membuktikan kebenarannya. Dan menghilanglah diriku dari jejaring sosial facebook dan Yahoo Messenger untuk sementara waktu. Well, selain dikarenakan kebosanan yang melanda diri ini, memang juga karena kesibukan pekerjaan yang semakin menyita waktu. Istilah pasarannya jaman sekarang, demi segenggam berlian gitu yah :p

Aku sempat berfikir, “Pasti ngga ada deh orang yang notice, apalagi sampai nyariin aku”, hehehe *pesimis mode:on*

Ternyata oh ternyata, ada juga beberapa teman yang merindukan aku. Hiks, jadi terharu rasanya. Terima kasih yang mendalam kepada teman-temanku sebagai berikut:

Dear Wil, kalo menghilang jangan lama-lama ya... matahari di ujung barat redup kehilangan cahaya ceriamu... lekas “sembuh” ya, Say... (KJ – Banda Aceh)

Knock-knock, anybody home...? (Adjeng – Semarang)

Wil, kemana aja...? Sepiiii... (FL - Jawa Barat)

Wil, are you okay...? Koq facebook-mu ilang, YM! juga ngga pernah aktif lagi...? (Kawoel – Surabaya)

Sist, kemana aja, koq lama ngga online YM!-nya...? (RB – Malang)

Kakaaaak... mau curhaaaatt... (L- Bandung)

Kak Wil, facebook-nya ilang, YM!-nya mati, twitter-nya ngga update, ada apa gerangan...? (NS – Jawa Tengah)

Kemana aja nih, Bu...? Offline truzzz (ML – Jakarta)

Hei frenz, kemana aja...? (VR – Jakarta)

Betapa menyenangkannya membaca SMS-SMS dan offline message YM! dari kalian.

And also special thanks to Kakak (AS) yang selalu setia di ujung telepon setiap hari mendengarkan cuap-cuap aku dalam perbedaan waktu sekian jam dan jarak yang membentaaaaang, hehehe... dan beberapa teman lain yang aku pamitin dan mengetahui dimana keberadaanku, thanks buat ngingetin aku untuk makan 3x sehari selama aku disana, tapi apa daya, disana makan 2x sehari aja udah syukur alhamdulillah banget :p

Buat yang sakit mata setelah membaca postingan ini (karena penulis blog ini lagi narsis mode: on), mohon maaf lahir & bathin aja, yah... Postingan ini hanya ungkapan rasa syukur karena Wil masih memiliki teman-teman yang baik hati, perhatian, dan ternyata masih merindukan Wil... ^^



Regards,
Wil Twilite
Senin, Juni 06, 2011

slighted


Aku merasa sedikit kelelahan, kesepian, dan terabaikan. Begitu banyak peristiwa yang tak terselesaikan. Diantaranya adalah peristiwa-peristiwa absurd yang masih menyisakan bekas luka yang begitu nyata. Terkadang aku juga heran, mengapa orang yang bahkan belum kutemui dan belum nyata wujudnya dihadapanku, mampu membuatku merasa terluka atas sikapnya. Mungkin aku yang terlalu naif, begitu mudahnya mempercayai kata-kata tanpa berprasangka sedikit pun.

Kadang perasaanku memang terlalu perempuan sekali, lebih mendengarkan kata hati dibandingkan logika. Tapi kini aku sudah mulai dapat memahami, kepercayaan memang sangat mahal harganya.

Aku sudah tak lagi dapat merasakan apa-apa saat ini. Aku telah mati rasa. Kumohon, janganlah kau palingkan wajah sebelum aku melihatnya. Aku lelah terabaikan. Tak tahukah kau, perasaan diabaikan adalah luka yang tak pernah mampu disembuhkan waktu. Maka, jangan abaikan aku seperti ini. Aku (sungguh-sungguh) lelah terabaikan.

Aku merasakan sedikit ketidaknyamanan dan krisis percaya diri. Karena merasa tak seorangpun dapat memahamiku. Sekalipun aku sudah berusaha sedemikian kerasnya untuk menjadi nyata, selalu saja terlihat semu dimatamu.

Kamu hanya belum mengenalku, itu saja... So, don’t judge me, before you meet me in person...


~ just a foolish Wil ~
Senin, Mei 09, 2011

perkenalan


... menyenangkan ...

hanya itu saja yang bisa aku tuliskan, untuk menggambarkan perkenalan melalui percakapan pertama kita hari itu

semoga saja, kita dapat berteman baik seiring dengan berjalannya waktu


Jabat Hangat,

- Wil Twilite -


*) dedicated to my new friend, A
Selasa, November 03, 2009

One Lonely Star


12 Oktober 2009
Katanya suatu hari…

There are million of stars
in the UNIVERSE…


Mengapa ia tak mencari
yang sendiri.


~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.

Dear Sis,

barangkali saja...
berjuta bintang di langit
jauh lebih indah...

daripada bintang yang kesepian,
yang menyendiri pada satu sisi tergelap
sang langit kelam...

inspiring by : http://rainforesto.blog.com/page/4/
Kamis, September 03, 2009

Ojecker's; sebuah profesi


Kemarin, ceritanya aku kopdar juga dengan Ms. Hood, setelah sedemikian rupa dia maksa-maksa kepengen jumpa fans sama Wil. Hahaha... *kabooorrrr*

Kami janjian di Atrium, Senen. Karena kebetulan sedang malas bawa kendaraan sendiri, aku memutuskan untuk naik ojek aja, aku tahu pasti jam pulang kantor bakalan macetnya amit-amit. Apalagi kemarin itu kan Jakarta sempat bergoyang... kena dampak dari gempa di Tasikmalaya... aku juga terheran-heran kenapa Ms. Hood teuteup keukeuh sumeukeuh pengen kopdar sama Wil... sepetinya dia menghindari kemungkinan adanya rasa penyesalan seumur hidup, kalo sampai terjadi gempa susulan yang lebih dahsyat, bukan karena apa-apa, tapi rasa menyesal kalo dia belom kesampaian ketemu Wil, bumi keburu runtuh... bisa-bisa arwahnya gentayangan nyariin Wil... Hiiiyyy...!!! *peace, Hood...*

Kembali ke laptop... aku mulai menelusuri jalanan yang tampak ramai lancar di depan kantorku... dan mataku mulai menelusuri pangkalan ojek yang (sudah di-) paten (-kan) di depan kantor, sampai sempat ada papan bertuliskan "TIDAK TERIMA ANGGOTA BARU" disitu... wadddooohhh, Ojecker's itu rupanya galak-galak juga yach sama teman sejawat...!

Entah karena dampak gempa atau apa, mataku tak menangkap satu sosok tukang ojek-pun yang familiar di sana, sepi... hanya ada satu ojek yang tampangnya ngga familiar sama sekali... Jujur, aku rada malas juga kalau harus tawar-menawar pake gontok-gontokan segala... Soalnya, kalau dengan tampang-tampang yang biasa mangkal, mereka udah ada 'pengertian' alias 'perjanjian tidak tertulis' dengan pelanggan (khususnya karyawan-karyawati yang bekerja di kantorku), untuk tarif ditentukan oleh penumpang, dan sejauh ini mereka selalu 'menyetujui' setiap 'kebijaksanaan' kita memberi ongkos sesuai dengan jarak tempat tujuan...

Pernah sekali waktu, karena terburu-buru, ada kejadian seperti ini, hanya ada satu ojek yang mangkal yang 'non-member', aku asal naik aja sampai ke suatu tempat, pas aku bayar seperti biasanya, tukang ojeknya marah-marah sambil mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Kontan aja aku emosi, aku ajak ribut dia. Ternyata, usut punya usut, dia bukan "Ojecker's Member" pangkalan di depan kantorku. Aku sempat mengadu pada salah satu tukang ojek langganan, dan ngga lama kemudian tukang ojek itu segera 'dievakuasi', hahaha... ada-ada aja, yaaa...

Sekali lagi, kembali ke laptop... dengan sangat terpaksa kuhampiri juga 'the one and only' ojek di hadapan mataku... tapi rupanya dalam hitungan detik saja, muncullah tukang ojek yang 'member' langsung menyerobot diriku... aku sempat bingung mau naik yang mana, soalnya si 'non-member' udah sempat siap-siap begitu aku kasih kode panggilan, tapi si 'member' menyerobot maju dan langsung ngasih aku helm tanpa tedeng aling-aling... dan aku juga spontan nerima helm itu...

Pas aku mau naik, betapa kagetnya aku, tiba-tiba si 'non-member' menabrak motor ojecker's 'member' secara kasar, untung aku belum naik, motor itu sempat goyang... dan terjadilah perdebatan yang sengit diantara keduanya di bulan suci yang penuh berkah dan pasca gempa... dooohhhh... aku kok sempat merasa dianggap ngga ada disitu sama mereka, beberapa kali si 'non-member' masih saja menyundul-nyundulkan roda motornya ke si 'member', kami sempat menjadi tontonan saat lampu lalu-lintas menyala merah... akhirnya, mengingat aku ngga mungkin membiarkan Ms. Hood jadi lama menunggu gara-gara "peristiwa ngga penting" kaya gini, aku pun nekat sok pahlawan membela si 'member'... aku tendang aja roda motor depan si 'non-member' yang dari tadi tak henti-henti menyundul, dam mulai aku berkhotbah... bah...!!!

"Eh, Bang... jangan kampungan gitu, dong... Saya tuh udah langganan sama abang yang ini (seraya menunjuk si 'member'), jadi abang ngga usah maksa-maksa saya naik ojek abang... lagian, abang kalau caranya kayak gitu, penumpang mana yang mau sama abang...??? Saya aja takut... Besok-besok kalo cuma ada abang di sini, saya mendingan naik taksi aja, terus saya bilangin teman-teman saya jangan ada yang mau naik ojek abang, soalnya abang jahat, nabrak-nabrak motor orang seenaknya... ini kan bulan puasa, baik abang ini muslim atau bukan, seharusnya bisa menghormati, ini bulan suci... saya masih ada urusan, silakan abang tunggu penumpang lain aja... jangan buang-buang waktu saya yang berharga...!!", dan aku langsung naik ke ojek si 'member'. Rupanya si 'member' yang merasa di bela masih belum puas juga, dia malah nambahin omongan,

"Makanya loe... jangan sabot wilayah orang, ngetem disini, tuh... BAYARRRRRRR (dengan penekanan yang sarkasme)...", lalu langsung menstarter motor... Samar-samar tapi jelas, aku mendengar si 'non-member' memaki...

"Mampus luh... gua sumpahin mampus luh... (repeat... repeat...)"

Sabar... sabar... bulan suci ini memang banyak ujian dan cobaan... semoga baik si 'member' maupun 'non-member' diampuni dosa-dosanya oleh Allah SWT... dan tidak lupa juga si penumpang keren yang diperebutkan, pastinya, xixixixi... Amiiinnn...

NB : Ah, seandainya nanti bermunculan ojecker's-ojecker's cewek, aku sih pasti bakalan milih yang cantik, sexy, wangi, hmmm... terus pegangan yang kenceng plus pilih rute yang paling muter-muter untuk menggapai tempat tujuan, biarin aja Ms. Hood menunggu, huahahahahaha... *setan sedang hinggap di kepalaku setelah mendekati bedug maghrib*

bunga-bunga


Actually, tulisan ini masih ada kaitannya dengan "my new cyber friend", Ms. Hood. Aku masih ingat saat dia bertanya padaku waktu itu,

"Wil, by the way, anyway, busway... kenapa lu bisa add gue...? kayaknya setelah gue liat-liat, kita ngga ada connectornya sama sekali...?"

"Hehehe... karena gue kira elu L..."

"Buset dahhh... resse lu...!! Mentang-mentang gaya gue tomboy, lu main tuduh gue L aja... Ngga soooppaaannnn...!!"

"Sabar, Hood... abizt gaya loe tuh iya banget sih..."

Dan... percakapan kami pun mulai meluas, Ms. Hood banyak bertanya tentang 'kehidupan' yang aku jalani, dan istilah-istilah 'aneh' yang ngga dia pahami dalam beberapa tulisanku...

Beberapa hari kemudian, aku mendapatkan dia menulis sesuatu pada facebook note, dan men-tag aku pada note itu... inilah tulisannya :

BUNGA-BUNGA

kupu-kupu terbang rendah
di sekumpulan bunga yang bermekaran
berseri riang mempesona
bagi rupa-rupa keindahan disana
dan mendapatkan manis sarinya
sebagai imbalan...
lincah berganti bunga
dan membawa serta serbuk-serbuknya

tidakkah kau mengerti
mereka hanya membutuhkan kupu-kupu
untuk menyampaikan sarinya
kepada bunga lain yang terjarak
oleh rindang batang berjajar rapat
membisikkan kesetiaan bersama desau angin
yang menggetarkan kelopak-kelopak halusnya
dan ranting yang merindu...

mereka hanya bunga-bunga biasa
yang kau lihat dikebun belakang
bunga-bunga liar yang tumbuh indah
tak bertuan yang memuja elok rupa
bunga lainnya...
tak peduli semak yang menyeruak
disela-sela pangkal menjadi penghalang
karena akar-akar mereka
telah saling menggenggam erat tak terlihat

20.07.09
By : Ms. Hood


teruntuk Wil yang menginspirasi

catatan tambahan:
" jangan jadikan teman seperti apa yang kau inginkan, tapi biarkan dia menjadi apa yang kau butuhkan"

Aku tidak akan ada dalam perahu bersamamu, tidak pula dalam perahu bersama mereka
Aku akan ada diantara kalian, berenang bebas sesuka hati dan menyapa siapa saja yang ku inginkan

WIL says : dear sis, adakalanya bunga dgn bunga berkaitan erat tak terlepaskan.. karena kupu-kupu indah yg mencoba mendekat bisa saja terluka oleh duri-durinya..
diluasnya samudera, mungkin saja perahumu berpapasan dgn perahuku.. aku sempat mengira kau mengarungi bahtera yg sama dgnku karena bendera perahumu berkibar serupa dgnku..
jika, kita tidak bermuara pada 1 tujuan, maka biarkan ikatan bathin perahu-perahu kecil kita menjadi jalinan persahabatan, diluar birunya lautan yg tak terbatas.....
Thanks a lot 4 the poetry, I like it.. Salam, -wil-

Ms. Hood says : kalo bunga mawar seh iya berduri...kalo kembang sepatu??! *mulai comment yg g penting*
eh neh sukanya bukan karena kepaksa kan??...kalo iya udah blng aja ga biar gw seneng!
tanya donk, apa yg mmbuat lo mengira gw pengagum bunga sama seperti lo? jd penasaran....

WIL says : hmm... pengagum bunga...
ada ikatan-ikatan yang tidak terlihat diantara sesama pengagum bunga...
tetapi... mungkin saja itu salah... ;->

Ms. Hood says : ga salah jg seh...soalny ikatan gw suka semrawut hehehe
hhmmm ikatan2 yg g terlihat ya?! keren!

WIL says : ikatan2 yg tidak terlihat itu sama gak yaaa dgn "invisible connector"...??? ;-D
Kamis, Agustus 27, 2009

my new "cyber friend"


Melintasi dunia maya yang penuh kepalsuan dan narsisme... begitu banyak berpapasan dengan orang-orang yang hanya kuketahui nick-nya saja, entah seperti apa kebribadian dirinya yang sesungguhnya dibalik 'label'atau 'embel-embel' XXX_cool, XXX_kerenz, XXX_femme_cantique, dan lain sebagainya...

Sebenarnya, dalam mencari teman di dunia maya ini gampang-gampang susah... gampang, kalau memang niatnya cuma sekedar kenal banyak orang dan dikenal banyak orang sebagai pribadi bentukkan kita sendiri yang 'nyaris tanpa cacad'... susah, kalau mencari teman maya yang bisa memenuhi kebutuhan diri kita akan makna pertemanan yang sesungguhnya... makna pertemanan yang sesungguhnya itu seperti apa, relatif, sesuai dengan kebutuhan pribadi kita masing-masing akan 'pertemanan'...

Belum lama ini aku mengenal seseorang, kenal melalui salah satu jejaring sosial yang sedang ngetrend saat ini... awalnya aku iseng aja add dia, pengen tau apakah akan ada approval atau tidak... eh, ternyata dia approve aku... aku coba japri dia, eh rupanya ditanggapi... sampai kemudian berlanjut dengan saling bertukar nomor hape, dari mulai sms-an sampai akhirnya ngobrol ngalor ngidul di hape...

"Wil... wadooohhh... akhirnya kesampe'an juga loe nelpon gue...", sapanya di awal percakapan kami melalui hape

"Iya nieh, abis katanya ada yang cape, 'dengerin' curhat via sms..."

"Halah... gue cuma kasian aja, takut jempol loe keburu kriting sebelom curhatan loe kelar... hahaha..."

"Gilingan lu, akh...!! BeTeWe, loe asli mana, Hood...?"

"Pluto..."

"Hah...?? Jauh amat...??"

"Iya, kan gue udah pernah bilang sama loe kalo gue alien, loe gimana sih...?? Loe kira gue becanda, gitu...?"

"Bukan, gue kira mah kaga sejauh itu, gue kira cuma dari Venus atau Mars, gitu... yang tetanggaan deket ama bumi..."

Well, kayaknya ngga mungkin banget kutuliskan semua isi percakapan perkenalan kami... tapi Ms. Hood ini termasuk kategori 'alien' yang cukup bisa berkomunikasi lancar dengan Wil...

Awalnya kukira kami tidak akan sedekat ini, tapi rupanya Ms. Hood termasuk species alien yang nyambung diajak ngobrol topik apa saja, dari mulai yang ancur-ancuran sampai yang serius... termasuk pemerhati blog-ku juga, lhooo... katanya di suatu kesempatan,

"Wil, blog loe aneh kaya orangnya yang ngga jelas..."

"Aneh napa, Hood...?"

"Iya, pas gue coba buat tulisan tentang loe, gue bolak-balik tulisan-tulisan loe, kacawww... kacawww... kaga ada emosinya banget luh... emang dasar gunung es..."

Gubraxxx...!! Serta merta aku shock breker mendapat 'cacian' dari alien macam dia... baru kenal sebentar, udah berani-beraninya menghina-dina "My Secret Life" tercinta... Tapi, rasa sensy itu segera terobati mendengarkan tuturnya mengenai tulisan dan menulis. Katanya, kalau punya hobby menulis dan rajin posting, lama-kelamaan akan terbentuk karakter penulisan tersendiri, yang akan membedakan tulisanku dengan orang lain, hmmm... istilahnya dia, tulisan-tulisan itu lama-lama akan membangun dan membentuk karakter penulisnya... Halah...!! Ribet amat jelasinnya, dahhh...!!

Itulah sepenggal kisah tentang Ms. Hood... ehem... Ms Hood ini bukan dari kaum sista lhooo... dia straight... tapi dia ngga parno untuk berteman dengan Wil... dia pendengar yang baik, dan ternyata belum lama ini telah kutemukan indikasi adanya kemungkinan kalau dia ini juga SMART... *peace, Hood...

Owkeh, segini dulu nulis diary-nya... udah mau masuk waktu buka puasa... Wil mengucapkan selamat berbuka puasa bagi yang menunaikan ibadah puasa... buka yuuukkk...

Note :
Hood... besok mau nulis lagi lanjutannya... hehehe...
Kamis, Agustus 20, 2009

a note to : ArieGere


katanya kamu itu,
kembaran Haruka Teno...

eh,kamu tau nggak, Sis...
waktu masih duduk di bangku SD,
aku kan juga fans berat serial
Sailormoon...

waktu itu, teman-temanku terkesima
pada sosok Mask Tuxedo
(ya iya lah secara teman-temanku
perempuan semua yang pada nonton Sailormoon)

awalnya aku ikut-ikutan aja,
namanya juga anak kecil,
yang sedang lucu-lucunya...

tapi, kenapa semenjak Haruka dan Michiru muncul,
'couple' ini jauh lebih menarik perhatianku...
sosok Haruka yang tomboy,
yang begitu protektif terhadap Michi,
dan their princess, Usagi, tentunya...

tapi cerita serial ini lantas mengambang begitu saja,
yang ada aku dan teman-teman juga
keburu beranjak remaja dan
mulai melirik serial "Tokyo Love Story"
dan serial-serial lain pengekornya...

sampai aku menemukan blog ariegere.wordpress.com
ada beberapa ulasan tentang tokoh Haruka & Michiru di sana,
membuatku tertarik setengah mati...

rupanya, si blogger yang tidak lain dan tidak bukan adalah ArieGere,
memprofilkan dirinya sebagai Haruka Teno,
yang juga merupakan tokoh favoritku dulu...

one thing leads to another, Rie...
rupanya di garis tangan kita masing-masing
kita dipertemukan, meski hanya sebatas
di dunia maya...

senangnya saat ku tahu,
ArieGere bikin account Multiply
cuma buat nulis komen di blognya Wil...???
*nangis bombay lebay mode on*

semakin mengenalmu,
semakin merasakan jalinan sisterhood
diantara kita begitu tulus dan murni,

Thanks, Rie...
kamu sempatkan meneleponku,
di sela-sela jam kerjamu yang hektik,
setelah membaca "tired of being an L"
yang kutuliskan pada blog ini...

someday, I hope we can meet each other,
in real life
...

- WIL -
Jumat, Juni 12, 2009

broken chain


at first,
I thought we could be a very special friend...
and then we move closer to each other,
we start to opened the stories of each other,
we talked more about each other,
we shared some stories and asked each other's
point of view or opinion...
and sometimes... shared our problem for being an "L"

as times goes by...
suddenly you decided to cut off the chain,
of this sweet relationship that we string...

I don't wanna asked you too many question,
even I had it on my mind...
I thought... it's just a life choice...
You might already have your own decision,
and I'll try to appreciate it...

Take good care of yourself, my dear friend...
may Lord is always be by your side,
through your joy and also your pain,
hope life is always treating you well...

and if only... someday you need a friend
just like me... I'm still here...
you still have my number, right...??



~ Wil Twilite ~
= feel emptiness inside, one friend left me in silent =

( dedicated to: T )
Senin, April 20, 2009

*) syarat & ketentuan berlaku


"...dan tiada maksud lain dari PERSAHABATAN kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan. Karena KASIH yang masih menyisakan PAMRIH, di luar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan..." (Kahlil Gibran)

Persahabatan, katanya ikatan yang terjalin dengan ketulusan dan tanpa mengharapkan imbalan, selain penerimaan yang tulus juga...

Seorang teman pernah berkata, "Ini persahabatan eksklusif, limited member, trusted member... closed for who can be trusted like us to each other... bla... bla... bla..."

Kepalaku mulai terasa pening mendengan penjelasan panjang lebarnya... perlahan seperti aku menyusut menjadi kecil...

Bukan... bukan karena "persyaratan" yang secara "tak sadar" dia ajukan... aku tak habis fikir dengan ekskusifisme persahabatan... Ya, aku membutuhkan sahabat sehati, yang bisa menerimaku apa adanya... karena aku adalah aku... dan aku hanya manusia fana... Tuhan ciptakan aku dengan kelebihan... dan juga kekurangan...

Maafkan aku... jika memilih menyendiri...

...ketika... ikatan PERSAHABATAN... baru akan terbuka dengan sebelumnya mengisi formulir dengan data lengkap... serta harus memenuhi segala kriteria yang ditentukan... whatever syarat dan ketentuan yang berlaku...

.......tidak perlu ada persahabatan baiknya.......




= tak habis fikir =