Tampilkan postingan dengan label Winter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Winter. Tampilkan semua postingan
Sabtu, April 04, 2020

Perjumpaan Singkat di Bandara

Tanggal 18 Februari 2020, akhirnya kebersamaan yang semestinya kita habiskan dua hari satu malam, dipersingkat menjadi beberapa jam saja, dan itu pun di bandara.


Takdir memang lucu. Manusia boleh berencana, akhirnya Allah yang menentukan. Tiba-tiba saja aku harus menghadiri acara penting dari kantor pada tanggal itu, menggantikan bos yang berhalangan. Dengan kesal, kamu pun langsung membatalkan hotel dan meminta stafmu untuk reschedule penerbangan menjadi sehari sebelum kepulangan yang direncanakan sebelumnya. Aku pun mencoba menyesuaikan flight schedule supaya masih mungkin untuk berpapasan denganmu di bandara, setidaknya kita masih sempat meluangkan waktu untuk makan siang bersama kemudian ngopi-ngopi. Dan akhirnya berhasil. Namun betapa sulit membujukmu untuk menyetujui hal itu. Aku sempat frustasi.


Senang rasanya ketika akhirnya kamu setuju untuk berjumpa di bandara. Kita habiskan waktu yang sangat berharga, hari itu. Manis terasa. Ternyata setelah hari itu, sulit bagi kita untuk berjumpa kembali. Momen itu menjadi kunjungan terakhirmu ke Jakarta, dan aku ke sebuah kota di Sumatera, yang ditugaskan oleh kantor kita masing-masing. Setelah itu pandemi hadir mengubah banyak hal. Tak terkecuali perjumpaan kita yang satu sampai dua kali sebulan, menjadi entah beberapa bulan ke depan kita harus didera rindu yang pilu.


Syukurlah saat itu kita mengambil banyak foto untuk dikenang. Setidaknya, komunikasi pun tetap terjalin manis. Memang ujian akan selalu ada selama kita bernafas, bukan? Ujian bagi hubungan kita pun rasanya tak pernah usai, tak hanya karena jarak yang membentang maupun karena keterbatasan yang sama-sama kita miliki satu sama lain, kini ditambah pandemi.


Semoga kita 'kan mampu melewati ini semua. Semoga kita beserta keluarga masing-masing senantiasa dilimpahkan nikmat sehat oleh Allah SWT. Amin.


~ Wil Twilite ~

Minggu, Februari 02, 2020

Mengerti Kamu

Butuh beberapa lama untuk mengerti kamu, pada isi di dalam ruang, pada spasi di dalam jarak, pada rindu yang berserak. ~Sapardi


Tidakkah waktu semakin mengajarkan kepada kita tentang semuanya? Perjumpaan dan perpisahan yang terus berulang, pertengkaran dari yang kecil hingga yang dapat dikatakan besar, kemudian hanya pemahamanlah yang menguraikan semuanya. Sejauh mana kita bisa untuk saling mengerti dan memahami segala alasan di balaik segala tindakan maupun peristiwa yang di luar kehendak kita.


Setelah ini, tak singkat waktu yang kubutuhkan untuk mengerti kamu. Pun tak singkat bagimu 'tuk hal yang sama. Kini usia kita pun beranjak, kuharap kau mengerti bahwa ku ingin hadirmu tetap mengisi hari-hari, seusai terbit mentari hingga terbenamnya, setiap hari.


~ Wil Twilite ~

Rabu, Oktober 03, 2018

Jika Perlu Alasan Mencinta

Mengamati bahasa tubuh dan caramu bertutur pada setiap moment yang kita habiskan, dalam kebersamaan yang privat maupun ketika kita tengah berada diantara orang-orang yang kita kenal. Aku selalu memperhatikan dengan seksama, kamu.

Dan semakin bertambah kekagumanku seiring semakin matangnya pribadimu. Cara bicara dan sikapmu yang semakin anggun. Ah, mengapa aku semakin jatuh cinta kepadamu?

"Kamu terlalu berlebihan memujiku", ujarmu.

Tidak. Bukan seperti itu. Aku hanya menyampaikan seperti apa kamu dimataku. Itulah sebabnya aku tidak pernah ingin berpaling darimu. Dan tidak akan pernah bisa.

"Jadi itu alasan kamu cinta sama aku?", tanyamu.

Perempuan kesayangan, cinta tak pernah memerlukan alasan apapun. Namun barangkali bisa dikatakan demikian, jika perlu alasan mencinta.

~ Wil Twilite ~
Jumat, September 07, 2018

Minyak Goreng Diskon

Teringat salah satu kunjunganku ke kota sang mantan. Saat itu dia sibuk mengajakku untuk buru-buru menuju bandara, padahal penerbanganku masih lama. Flight terakhir.

"Ini masih siang banget, lho. Mau ngapain kita di bandara seharian?", tanyaku.

"Di Superindo arah bandara itu sedang ada promo minyak goreng. Aku mau mampir dulu beli itu". Jawabnya santai.

"Hah? Harus banget hari ini, gitu?", tanyaku heran.

Sejenak ia diam tak menjawab. Kulihat rona wajahnya memerah. "Aku tuh dari dulu pengen banget belanja di supermarket ditemani kamu. Tapi kan setiap kamu ke kotaku, kita selalu punya agenda lain. Kali ini aku ingin merasakannya, belanja sambil ditemani kamu, mau kan nemenin aku?".

Sejenak aku speechless. Ya ampun dia masih memikirkan hal ini yang dulu sering aku candain ke dia sebelum kami menjadi mantan. Ingatanku pun memanggil memori itu. "Kapan-kapan aku mau kok nemenin kamu belanja bulanan". Ujarku saat itu. "Yakin kamu ngga akan bosan? Mau pegangin trolinya buat aku?", tanyanya saat itu. "Jangankan troli. Kamunya aku pegangin sampai selesai juga aku mau kok".

Aku menghela nafas. Kenangan itu tak hanya sekedar membuatku tertegun, namun diam-diam aku merindu kebersamaan kami yang dulu. Ah, betapa aku merindunya sebagai kekasih hati.

"Wil, kita udah sampai. Kamu kelamaan deh bengongnya. Apa ngga rela ya nemenin aku beli minyak goreng?", suaranya buyarkan lamunanku.

"Oh.. udah sampai, ya? Ayo..", aku langsung membuka pintu mobil, kemudian berjalan mengikuti langkahnya.

Dia baru saja mengulurkan tangan hendak mengambil troli, namun aku sudah mendahuluinya. Ia kaget dan bertanya, "Kamu mau beli juga?".

Aku tersenyum. Tangan kiriku memegang gagang troli, tangan kananku memberinya isyarat untuk langsung memasuki area pertokoan. Ia tersenyum simpul dan memahami apa yang kumaksud, seraya berjalan memunggungiku. Aku pun segera mensejajarkan langkahku dan berbisik manis di telinganya, "Aku pernah janji temani kamu, dan bawakan troli selama kamu belanja. Dan hari ini aku ingin tuntaskan janji itu". Ia hanya melirik sekilas dengan senyuman yang tak dapat kutuliskan dalam untai aksara. Lalu kami tenggelam dalam rak-rak yang menyajikan berbagai kebutuhan rumah tangga itu.

Seandainya setiap janji yang masih tertunda, menemui masanya dalam lorong waktu untuk diwujudkan. Bolehkah?

~ Wil Twilite ~
Minggu, September 02, 2018

Stay

Mungkin, aku harus mulai belajar mengikhlaskan bahwa semua sudah berlalu. Sekian lama waktu yang telah tercuri. Kehadiran orang lain setelahnya. Tentu semua tak lagi sama. Hati dan rasa seperti air, dapat berubah.

Meski kamu selalu di hati. Meski kamu tetaplah seseorang teristimewa. Aku pun harus memahami bahwa aku bukan lagi satu-satunya dalam hati dan ingatanmu. Tentang cinta yang selalu kujaga, tentang rasa yang tak pernah berubah, mungkin hanya sesuatu untuk ku simpan dalam diam.

Cinta ini begitu dalam hingga aku tersenyum dalam sakitnya. Hingga aku hanya ingin tinggal, meski hati ini rapuh dalam bimbang mu menakar diantara pekat dan cahaya.

Saat ini aku hanya ingin menggenggam kedua tanganmu. Menguatkan sekali lagi dalam rapuhmu. Meski aku sendiri melemah karena cinta ini yang sudah berubah warna.

Percayalah... kali ini ku akan tetap tinggal...

~ Wil Twilite ~
Rabu, Februari 07, 2018

Jembatan

Ketika pulau kita yang saling berseberangan tak memiliki
jembatan untuk dilalui, maka itu tak pernah menjadi masalah pada zaman yang memiliki mesin pemintal waktu.

Burung besi siap mengantar dengan sayapnya. A very short flight that doesn't worth the delay. That's why I always choose the number one flight to your city.

Aku enggan menunggu. Membiarkan waktu melambat perlahan dalam ketiadaan yang hampa. Setiap detik bagai menghitung kebersamaan 'tuk dikekalkan waktu.

Kamu menunggu. Di tempat yang sama. Aku datang kembali. Lagi dan lagi. Meski langkah sempat terhenti dalam keragu-raguan yang mengusik benak. Kemudian kamu kembali bacakan mantra sihir itu. Sekejap saja kelebat bayangmu menguasai sepenuhnya ruang di kepalaku.

~ Wil Twilite ~
Senin, Januari 29, 2018

Bukan Pandora

Aku menyukai perbincangan denganmu. Selalu membuka pemikiran, dan membuatku menatap masa depan dengan lebih jernih. Ada kekuatan dalam kata-katamu yang kerap menggetarkan akal dan nuraniku. Ada sentuhan lembut yang mampu menyelusup dalam ruang kalbu.

Kamu, yang menyentuhku lewat kata, suara, dan lewat caramu menatapku.

Ruang hati yang enggan disinggahi sesiapa. Tak pernah setelah kamu, melainkan hanya mondar-mandir di berandanya saja.

Pintu yang terkunci. Kamu menggenggamnya. Menyembunyikannya di lipatan hatimu. Dan aku membiarkannya.

Janji itu... penutup kisah yang sempurna... semoga belumlah terlambat untuk menyempurnakannya... sekali lagi langkah ini meluruh...

Selubung kesunyian memeluk diamku. Adakalanya bahasa tak memerlukan aksara maupun lisan yang percuma.

~ Wil Twilite ~
Jumat, Juli 14, 2017

That Aftertaste

Aku tak pernah mengira bahwa perbincangan kita pagi ini akan menyisakan aftertaste yang lebih pekat dari biasanya. Tertinggal kesan, menorehkan sejuta rasa yang mengambang di awang-awang. Satu tahun ternyata merupakan jeda yang cukup panjang untuk memungkinkan terjadinya banyak hal yang menimbulkan gejolak rasa dalam kehampaan.

Kukira kita telah saling kehilangan. Namun, jemari takdir seolah mempertautkan kisah kita untuk kembali berpapasan pada beberapa persimpangan, lagi, dan lagi.

Pagi kemarin kamu membuka kisah yang tersembunyi dalam jeda kita, dan aku tertegun mendengarkanmu asik bercerita tentang dia. Awalnya aku mencoba menekan rasa cemburu yang tiba-tiba hadir mengusik tanpa permisi di relungku. Namun ketika pagi ini kamu kembali menyebut namanya dan bercerita lebih tentangnya, gemuruh di dadaku tak lagi terbendung. Ada semacam el nino yang tiba-tiba melanda lautan hatiku.

Pergolakkan batin pun kembali tak terelakkan. Menyusur jalan sunyi, jauh sebelum takdir kita saling berpapasan, pada perjumpaan syahdu kita kala itu, hingga akhirnya kita menutup kisah di satu musim penghujan yang membuat kita tak lagi mampu membedakan antara rintik hujan dan air mata yang jatuh melebur saat kita mencoba untuk menari dalam rinainya.

Sepekan kemarin di kotamu, pada satu senja temaram kala kita tengah menanti mentari jingga pulang ke peraduan, ditemani dua cangkir kopi yang kita biarkan uapnya dipermainkan angin laut, sebab kita larut dalam perbincangan syahdu yang katamu merupakan momentum tahunan cahaya... senja itu bagai meleburkan kenangan yang membentang di lembaran takdir kita, menguraikannya kembali, mengingat canda dan tawa yang pernah kita bagi, juga hal-hal yang menyisakan perih... maafkan, atas khilafku yang telah menorehkan luka di hatimu yang semestinya kujaga dengan baik... sungguh ku tak hendak menyimpan separuh hatimu yang kupatahkan itu di kotak pandora, membelenggu bahagia yang semestinya sangat layak untuk kau dekap dalam waktu yang tercuri...

Berjuta "seandainya" mengusik kalbuku... Namun pada akhirnya kita berdua hanya perlu menambatkan keikhlasan 'tuk menerima bahwa semua sudah tertulis dalam skenario Sang Maha. Semoga aku belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. Semoga pintu hati kamu belum tertutup rapat untuk seorang aku.

Karena sejatinya bagi L-Mom, kehadiran seorang perempuan istimewa merupakan penyemangat hidup untuk saling menguatkan langkah dalam menjalani kodrat.


~ Wil Twilite ~
Senin, Agustus 31, 2015

Penutup Kisah Yang Sempurna [Dekat Di Hati - RAN ]

Ada sebuah lagu yang cukup berkesan bagiku, yang nge-hits disaat momen-momen terakhir kebersamaanku dengan Adel. Lagu ini LDR banget. Setiap kali mendengarkannya, membuatku tersenyum mengingat setiap momen kebersamaanku dengan Adel lewat telepon.


Dering teleponku membuatku tersenyum di pagi hari
Kau bercerita semalam kita bertemu dalam mimpi
Entah mengapa aku merasakan hadirmu di sini
Tawa candamu menghibur saat ku sendiri

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku 'slalu menunggu saat kita akan berjumpa

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

Aku kirimkan lagu ini untuk Adel, dan dia langsung tertawa sambil bilang, "Iya, ya, lagu ini kita banget, abege aja sampai kalah deh sama kita, Wil..."

Dan selanjutnya hubungan kami kini sudah berubah bentuk, dari kekasih menjadi kakak-adik yang Adel selalu bilang justru menjadikannya semakin syahdu.

"Walaupun kini hubungan kita 'tlah berubah, Wil, aku mendoakanmu supaya akulah wanita terakhir yang menjadi partnermu, aku minta sama Allah semoga tidak lagi dihadirkanNYA wanita lain setelah aku dalam hidupmu".

"Hmm... terdengar agak menakutkan, ya... nanti waiting lists ku bisa kecewa berat, nih...", jawabku. Kemudian ia langsung (sok) ngambek.

Ya, memang di gerbang 30 ini mungkin sudah saatnya kita menghentikan petualangan. Lalu kita sama-sama melangkah mengikuti kodrat sebagai seorang istri, seorang ibu, dan begitu banyak peranan lain yang kita jalani dalam kehidupan.

Lalu kamu bilang, "Kau selalu dihatiku, Wil... dan aku selalu dihatimu... Kita satu sama lain merupakan penutup kisah yang sempurna...".

Kemudian lagu RAN pun berakhir dengan penutup seperti ini, pas banget...

Jarak dan waktu takkan berarti
Karena kau akan selalu di hati
Bagai detak jantung yang kubawa kemanapun kupergi

Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

Ya, penutup kisah yang sempurna memang terdengar begitu syahdu. Sesyahdu hubungan kita yang saling mengisi, dengan begitu banyak pembelajaran dalam hidup. Kamu dosen, dan aku, hmm... aku adalah... apa, ya...? Aku adalah rahasia yang enggan terungkapkan. Aku adalah gelak tawa dan air mata dalam kehidupan. Aku akan tetap menjadi misteri yang tersembunyi. Sebab memang begitulah semestinya.

Makasih ya, Bu Dosen... untuk semuanya... semoga jalinan silaturahim diantara kita akan terus berlanjut hingga ujung waktu... Aku akan main ke kotamu bersama keluargaku, mengunjungi keluargamu, sebagai kunjungan balasan atas kunjunganmu beserta keluarga... #LMom adalah sepenggal kisah dalam dunia #L ini, sebelum perjumpaan kita yang akhirnya membuka pemikiran-pemikiran lain yang tertimbun pasir dalam kotak pandora, yang ternyata kuncinya saling tertukar selama ini. Aku memegang kuncimu, dan kamu memiliki kunciku.

~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~

"Allah mempertemukan untuk satu alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah hanya untuk sesaat atau selamanya. Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya. Akan tetapi tetaplah menjadi yang terbaik di waktu tersebut. Lakukan dengan tulus. Meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan. Tidak ada yang sia-sia karena Allah yang mempertemukan". [#quote dari #facebook seorang teman]



~ Wil Twilite ~
Rabu, Juni 10, 2015

Kerinduan

Awan kelabu, teduhkan pandang yang terbiasa menatap terik.. Adakalanya cuaca membahasakan rasa yang terdalam.. Alam memahami kita..

Sejenak citraku singgah di bentang langit. Cahaya mataku teduh terpantul mendung yang mengabu. Peri di sana mengerlingkan matanya sekelebatan.

Adakah segumpal rindu menyembul diantara gugusan mega...? Rindu yang kelabu, biarlah turun ke bumi berupa hujan. Membasah di setiap inci tubuhmu.

Ada perahu kecil melintasi mega, sang pembawa rinai hujan. Seorang perempuan mendayung sambil melukis rona lembayung serupa pelangi, di sana...

"Maukah kau ikut kedalam perahuku...? Ataukah terdiam di sana menanti rinai hujanku jatuh, membasahimu, lalu semburat pelangi meneduhkan matamu...?"

Ramadhan, dan gulir waktu.. Mengingatkanku, pada jejak-jejak senyuman, dan jejak-jejak basah air mata.. Kini langkah menjauh silam, menjemput usia..

Sepasang sayap pemikiran mengelana di lembah nan riuh, hiruk pikuk bising suara memaksa 'tuk kenali ilmu yang hendak ditimba dalam berbuku-buku kisah.

Kutanggalkan jubahku, kini ku membumi diantara ciptaanNya yang jauh dari peradabanku bernaung.. Serupa tanah, aku meliat diantara rerumputan..

Dan ia hanyalah cinta, cahaya yang tak pernah padam.. ketika tiada, ia hanya redup sejenak, kemudian pijar kembali.. dingin dan hangat seumpama cuaca.

Memahamimu bagai menyelam palung terdalam dari bentang samudera, perahuku enggan menepi meski ombak menggulung, sebab aku penakluk, seperti katamu..


~ Wil Twilite ~


Senin, Juli 14, 2014

(bukan) sejarah

melupakan, dalam ingatan
tiada mewujud rasa,
pun tiada tersentuh,
pun tak tergapai dalam bentang

lalu apa...?
sembilu menyayat dalam untai
a.k.s.a.r.a
membiru jantung

aku enggan menanggapi
biarlah dalam diam kita merenung
tentang makna
tentang kita, waktu, dan jarak

lalu...?
katanya waktu berkisah,
mengukir sejarah panjang
tentang datang dan pergi

aku membatu
enggan tancapkan sejarah
di satu tempat

aku bukan sejarah,
nan enggan hidup dalam ingatanmu semata

aku tak bisa melupakan
sesuatu yang melekat dalam ingatan
tanpa waktu...
mengukirnya menjadi sejarah

aku ada,
'kan selalu ada
walau terkadang a.k.s.a.r.a
tak menghias lisanku 'tuk merayu

~ Wil Twilite ~
Minggu, Juli 13, 2014

i miss you



~ Wil Twilite ~
Minggu, Juni 15, 2014

Mengulang :)

Wil: Apa...?! Nilaiku D...?!

Bu Dosen: Ya... kamu harus mengulang kelas saya di semester berikutnya, Wil... dan nilai kamu harus A... Catat itu...!!

Wil: Tapi, Bu...

Bu Dosen: Tidak ada tapi-tapi... Kamu terlalu sering tidak hadir, terutama dalam materi-materi pokok...

Wil: Tapi, Bu... tiap kali ada quiz kan saya selalu hadir...

Bu Dosen: Lalu, bagaimana nilai kamu? Memangnya kamu ini bisa mengisi quiz dengan baik tanpa mengikuti materi-materi yang saya berikan...?!

Wil: Please, Bu... kita ini kan cukup dekat, ya, Bu... 

Bu Dosen: Lalu...?! Jangan bawa-bawa kedekatan kita dalam hal ini...!!

Wil: Ummm... maksud saya... Bila Ibu berkenan, saya ingin privat juga, boleh, Bu...?

Bu Dosen: *pensive* Hmm... nanti saya pertimbangkan... Maksudnya privat, kamu tetap mengulang, kan...?!

Wil: Iya, Bu... Jadi dua-duanya... makin sering ketemu Bu Dosen, makin pintarlah saya, Bu... *straight face mode: on*

Bu Dosen: *pensive* Pokoknya kamu harus mengulang. Titik. Sudah ya, saya ada keperluan lain...!!

----------------------------

Wil: Yiiipppiiieee...!! *jingkrak-jingkrak*

----------------------------

Bu Dosen: Hmm... ada-ada saja... sudah mengulang, mau privat juga... Belum pernah tercatat dalam sejarah... Semoga saja dia serius ingin memperbaiki nilainya... :)


~ Wil Twilite ~


Kamis, Juni 12, 2014

Aaaaaaarrrrrrrggggggghhhhhhh.......!!!!!!!

Aaaaaaarrrrrrrggggggghhhhhhh.......!!!!!!!
Aaaaaaarrrrrrrggggggghhhhhhh.......!!!!!!!
Aaaaaaarrrrrrrggggggghhhhhhh.......!!!!!!!
Aaaaaaarrrrrrrggggggghhhhhhh.......!!!!!!!
Aaaaaaarrrrrrrggggggghhhhhhh.......!!!!!!!
Aaaaaaarrrrrrrggggggghhhhhhh.......!!!!!!!
Aaaaaaarrrrrrrggggggghhhhhhh.......!!!!!!!


~ Wil Twilite ~
Minggu, Mei 11, 2014

L-O-V-E (s)truck


Truk ini tiba-tiba saja melintas mendahului mobil kami.. di suatu jalan yang begitu lengang, di kota Adel.. Kami sempat terdiam beberapa jeda karena kaget.. uuups.. sebelumnya hanya ada kami di lengang jalan..

Lalu kami terbahak.. Ooouch...!!! It's a L-O-V-E (s)truck.. muncul begitu tiba-tiba dan..

Hmmm.. you can see why I called it that way..

:)


~ Wil Twilite ~
Senin, April 07, 2014

#MyLady (my role model)

A role model is a person who serve as an example, whose behaviour is emulated by others... ~wikipedia

My world before you came into it, has just an ordinary life. As a river that go with the flow. Even if I had some dreams on my ocean mind, they're just floating there... It seems like I don't know how to make them come true,  and sometimes I don't even dare to dream too much, 'coz I couldn't find any way to go through... 'til you came...

You bring the light to guide me through my twilight path, and give your hands to hold my weakness shadows of doubt. You make all my dreams sparkling as starlights above my ocean, shining it all. Spread your beautiful magical strength to my deepest soul. You're miraculously could read all of my wild imagination, feel my passions, also heal the insanity beyond my control. You tamed the LION in me. You're my charmer.

You did found me as I did found you. We found each other just at the perfect moment of our life. I feel like I can be anything with you. You make me feel good about being myself. With you, I want to learn everything about everything. I love the way you look at the world. You teach me how to build a sense of purpose, to dig my deepest character. You're the master of how to interacts well with others, very kind and can communicate well with people around you. Sometimes you doesn't always take credit for what you do by doing many good things unconditionally.

You had resuscitating me that even simple attributes in myself could have a drastic affect on others. Lead me to find out my deepest strength and develop my character become forceful to reach my life purpose and who I want to be in the future. As I develop my self-confident as well, you also teach me how to get the attitude in-tune with it. I feel free to be just the way I am and feel confident in what I do. You release my soul from it cage.

#MyLady... you're my endearing role model. 'Coz my life with you in it make me find many scattered missing puzzles to be completely-ME. Thank you.


~ Wil Twilite ~

Senin, Maret 17, 2014

Candu Merindu

Bibirku terkunci...
ketika begitu banyak hal ingin kuutarakan padamu

Penaku patah... ketika bergelimang aksara
menggelayuti ruas-ruas pikiranku,
'tuk kupersembahkan padamu

Dawai-dawai gitarku putus...
ketika kuhendak memetiknya,
persembahkan sebuah lagu untukmu

Dan tubuhku mematung,
ketika ku ingin berdansa diiringi lantun syahdu semesta

Terlalu banyak aksara terpenjara beku
Terlalu banyak itikad tertanggalkan jubah waktu
Mengapa semua hanya sebatas di ruang angan,
tak kuasa mewujud nyata...?

Kurasakan hanya luka meninggalkan lubang di hati...
dan merampas satu-satunya pijar cahaya yang tertinggal

Inikah candu merindu...
yang mematikan nalar, membuat gemetar...?
Hatiku sekarat
Mencari-cari dirimu dan merindu sentuhanmu

Ingin merasakan lagi hangat dekapan dan kecupan-kecupanmu
sambil tenggelamkan diri pijar gelora matamu

Kapankah penantian ini tiba pada perhentian...?
Sebab selama itulah jiwaku belum tergenapkan...


~ Wil Twilite ~
Minggu, Februari 23, 2014

Kasih Tak Sampai

indah, terasa indah
bila kita terbuai dalam alunan cinta
sedapat mungkin terciptakan rasa
keinginan saling memiliki

namun bila itu semua
dapat terwujud dalam satu ikatan cinta
tak semudah seperti yang pernah terbayang
.......

- kasih tak sampai by padi -

Siapa yang tak harapkan kisah cintanya indah dan abadi sepanjang masa...? Bila antara pria dan wanita saja kisah cintanya bisa kandas di tengah jalan, atau menghadapi rintangan berliku, apa kabar dengan kisah cinta sesama wanita, atau sesama pria...?

CINTA... sesuatu yang bersifat universal, cinta tak pernah salah, apalagi disalahkan, ketika dua hati tertambat. Persoalannya adalah, mengapa ikatan cinta kerap kali tak berjalan mulus seperti impian kita... kita...? Loe aja kali, gue mah pasrah... Uuups...!!! Sumpe loe...?!

Ummm... Jadi begini... Semalam saya merenungkan tentang hubungan percintaan saya dengan wanita. Melakukan kilas balik hubungan terdahulu sebelum saya dengan #MyLady. Apa sajakah "alasan" berakhirnya hubungan percintaan sebelumnya? Dan apakah dengan #MyLady nantinya hanya akan berakhir begitu saja seperti dengan yang lain, atau akan bagaimana?

Ternyata buat saya yang Lmom, menjalin hubungan percintaan dengan wanita memang sangatlah rumit. Disebabkan oleh segala keterbatasan yang membatasi, baik faktor internal maupun eksternal. Mantan saya sebelum #MyLady semuanya single. Awalnya saya beranggapan yang penting mereka bisa menerima saya apa adanya dengan kondisi yang ada. Proses saling mengenal, saling menyesuaikan, dan lain sebagainya berlangsung baik di awal (ya... katanya sih yang namanya "awal" selalu indah, makanya banyak orang senang memulai dari "awal" [dengan yang lain] setelah satu hubungan berakhir).

Fase demi fase berlalu dan terlewati. Kemudian saya menyadari, alasan apa yang menyebabkan hubungan kerap berakhir adalah satu. Ya, satu saja alasan utama diantara banyak alasan pendukung lainnya. Yaitu (semacam) "depresi" ketika tiba pada fase mencintai begitu (atau terlalu) dalam, namun menyadari bahwa ternyata kita tidak dapat hidup bersama. Kalau meminjam istilah #MyLady, "Mau dibawa kemana hubungan kita ini...?". Begitu.

Bila sesama L single saja tak mudah untuk bersatu dengan berbagai faktor penghalang, misalnya orangtua tak restu (ya iyalaaaah... X_X), keluarga memaksa menikah, ekonomi belum cukup mapan, etc...etc... Dan bila ada yang beruntung untuk living together, masih juga akan menghadapi berbagai kendala, misalnya rasa jenuh, selingkuh, etc... etc... Lalu apa kabar Lmom...?!

Ya... kenyataan pahit itu memang nyata saya alami sendiri. Bahwa perasaan "depresi" tak mungkin tinggal bersama partner tersayang sangat nyata, sejauh kami berdua konsisten menjalani "peran L" kami sebagai makhluk amphibi yang masih ingin menggenggam dua sisi dunia. "Siapa suruh juga merumitkan hidup sendiri...?!", beberapa sahabat kami pernah "mengingatkan". Dan jawaban kami, "Ya, kalau sudah menyangkut hati, logika itu semacam figuran saja". Sahabat kami pun bungkam seribu bahasa. "Huh... pembenaran...", mungkin begitu batinnya. Entahlah...

Lalu dalam perenungan itu saya terdiam beberapa jeda. Saya dan #MyLady sama-sama Lmom. Inilah yang membedakan hubungan kami dengan mantan-mantan kami yang single. Saat ini saya dan #MyLady sedang dalam fase saling mengenal tingkat lanjut. Dan kami sama-sama merasa kehadiran satu sama lain merupakan "penyempurna" hidup kami. Sejujurnya aku tidak ingin kehilangan wanita seistimewa #MyLady, dan semoga begitupun sebaliknya. Dan solusinya adalah dengan mengomunikasikan keresahan ini. Lalu kami sampai pada satu kesimpulan bersama.

Bahwa... hubungan ini berawal dari itikad baik, dan perjumpaan kami pun bukanlah suatu hal yang disengaja atau direncanakan. Bahwa diantara kami membentang samudera luas. Bahwa karakter kami yang sama-sama keras. Bahwa kami saling berjumpa (kembali) setelah mengalami berbagai peristiwa hidup yang mematangkan pribadi kami.

Maka... kami tersenyum mengingat kembali komitmen kami di awal... bahwa sejatinya "kekosongan" satu sisi di sanubari terisi oleh seorang teman/sahabat/saudari dalam wujud seorang wanita istimewa... Kelak seiring perjalanan usia, ketika kami sudah tak lagi muda, tak lagi cantik (kalau sekarang masih cantik banget, dong? gitu maksudnya? ehem...), tak lagi menuruti hasrat gairah jiwa muda kami... wanita istimewa ini mungkin telah banyak berubah dimatangkan waktu, namun hati keduanya semakin lembut dalam memaknai cinta dan kasih sayang sesungguhnya...

Mungkin kelak hanya dua pasang tangan keriput yang saling menggenggam erat, duduk bersisian di beranda suatu tempat, ditemani 2 cangkir kopi dan 2 tangkup roti, menatap hangat mentari jingga. Mengingat perjalanan kisah yang 'tlah kami tempuh sambil tersenyum. Tujuan kami sejak awal perjumpaan adalah menjadikan satu sama lain sebagai "sahabat hati" teristimewa, bersama mengukir waktu hingga kelak anak-anak kami dewasa, dan mungkin kami masih dicukupkan usia untuk melihat cucu-cucu kami.

Memahami bahwa sejatinya ikatan adalah di hati. Bukan keinginan untuk tinggal bersama dalam satu atap. Bukan memusingkan bentang jarak. Selama kami masih saling menjaga ritme perjumpaan dan intensitas dalam tiap detik kebersamaan yang berharga... Terima kasih Tuhan... Engkau telah mengadakan perjumpaan syahdu, memaknai hidup dengan lebih bijak, dan semoga kelak semakin bijak... Amin...

Jadi... kelak tak ada istilahnya "kasih tak sampai" untuk kami. Sebab jalinan silaturahmi ini akan terus berjalan meniti waktu, meski seiring waktu mungkin saja banyak hal yang akan terjadi, ikatan ini enggan untuk kami (saling me-) lepaskan, sebab hati yang tulus mencintai 'kan abadi, sekalipun bentuk hubungan bisa saja berubah.


dedicated to: #MyLady Adelia Winter
...di sudut ruang teristimewa sanubari

~ Wil Twilite ~




Jumat, Februari 21, 2014

...dan wanita

Wanita dan wanita itu...

...sama-sama sensitif
...sama-sama inginnya dimengerti
...sama-sama inginnya dimanja
...sama-sama inginnya diperhatikan

Wanita dan wanita itu...

...sama-sama memiliki hal-hal istimewa yang hanya dimiliki oleh wanita, dan (mungkin) hanya bisa dimengerti dan dipahami juga hanya oleh (sesama) wanita...

Wanita dan wanita itu...

Bisa saling mengagumi, bisa saling dekat, bisa saling jatuh cinta, bisa saling berkasih sayang dengan cara yang tidak dimengerti atau dipahami oleh pria... dan kemudian larut dalam kebersamaan yang melenakan segenap jiwa, raga, dan pikiran...

Kemudian... wanita dan wanita itu...

...sama-sama memiliki kadar ego yang tinggi
...sama-sama mendamba segala hal yang hanya dipahami kelembutan hati wanita

Namun wanita dan wanita itu...

Kadang bisa juga terlupa betapa sensitifnya hati wanita... betapa jalinan kasih yang tulus ini pun rentan dengan friksi, tatkala masing-masing sedang berapa di puncak ego "kebutuhan"... siapa yang akan mengalah, sedangkan masing-masing merasa lebih "layak" untuk diperlakukan sesuai dengan "kebutuhan"-nya itu...?

Wanita dan wanita itu...

...mungkin saja merasa nyaman dalam jalinan kasih... namun... seberapa jauh ego keduanya mampu untuk saling menyelaraskan... tatkala lautan hati keduanya sedang sama-sama pasang...?

Wanita dan wanita itu...

...mungkin saja hanya dipertemukan olehNya untuk saling belajar memaknai kehidupan... saling menyembuhkan luka yang menusuk langkah kaki masing-masing dalam meniti perjalanan waktu... kemudian pada satu titik akan memahami...

kebersamaan wanita dan wanita itu... bukan memadukan gelora hasrat, ataupun hal ihwal lainnya yang bersifat fana...

...melainkah keselarasan jiwa menuju pematangan lahir batin... hanya untuk saling menggenggam tangan 'tuk saling menguatkan, bahwa jalan kehidupan yang tak sesuai nurani... bagai bentang samudera pasang menghadang... 'tuk diarungi bersama, cukup dengan mengetahui ada kamu, yang pancaran matanya sanggup kobarkan api semangat di redupnya lentera hati dalam temaramnya sunyi relung jiwa...


~ Wil Twilite ~
Kamis, Februari 20, 2014

Menari

menarilah disana, kasih...

di tempat segala rupa ciptaanNya... diantara gemerlap cahya nyata dan semu... di gelung debur ombak... di panorama terindah hampar pasir, dimana sang surya terbit dan tenggelam dalam gradasi terindah... dibawah atap langit paling banyak insan datang dan pergi dilarung waktu...

disana... semoga suatu saat nanti langkahku menjejak di sisi langkahmu, lalu kita 'kan menari berdua, tak indahkan lalang orang, tak indahkan apa dan sesiapa selain "kita"... semoga...


~ Wil Twilite ~