Tampilkan postingan dengan label Minds. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Minds. Tampilkan semua postingan
Minggu, Agustus 19, 2018

A Woman Who Reads

"Kamu suka membaca?"
"Nggak. Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Nanya aja."

Aku sulit untuk merasa tertarik dengan perempuan yang tidak suka membaca. Entah mengapa.

Dan aku bisa jatuh hati pada perempuan yang suka menulis, lewat untai aksara bersayapnya. Kalau suka menulis, sudah pasti ia suka membaca.

"A woman who reads are dangerous creature." Aku percaya itu. Dan wanita yang menantang tentunya jauh lebih menggairahkan. Bukan begitu...?

~ Wil Twilite ~

Senin, Januari 29, 2018

Darkness

Mind: You keep yourself in the dark room of your soul. You've drown to your own darkness.

Heart: Am I...?

~ Wil Twilite ~

Kamis, Februari 16, 2017

Pilkada Serentak, Pilihan, dan Hubungan Pertemanan


TAHUN 2017 adalah tahun ayam api. Ayamnya, yasudahlah tidak usah dibahas. Apinya itu, lho! Panas membara dan membakar. Itulah yang saya lihat, begitu maraknya perseteruan di sosial media terkait penyelenggaraan pilkada serentak di tahun ini, tepatnya tanggal 15 Februari 2017. Tiba-tiba semua orang bicara politik, meski sebagian besar hanya beropini dari sudut pandang personal. Dan semua orang tiba-tiba jadi ahli agama, terkait dugaan penistaan agama oleh salah satu Cagub yang ngga usahlah saya sebutkan namanya di sini, tapi semua orang tahu, dan sejarah telah mencatat.

Kutipan Al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat ke-6 pun menjadi populer, “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku”. Keyakinan pun dicampuradukkan dengan perpolitikan, dari segi sudut pandang. Perang pendapat pun tak terelakkan di sosial media yang begitu bebas untuk menyalurkan pendapat dan ekspresi personal, maupun kelompok. Semua orang membela habis-habisan pilihannya, mengagungkan, membenarkan, hingga mendewakan.

Bicara tentang pilihan... Pilihan itu pada dasarnya merupakan tanggung jawab individu, dalam hal memilih apa saja. Pilih makanan, misalnya. Orang yang suka mengkonsumsi makanan sehat dan yang suka mengkonsumsi junk food, tentunya akan berbeda dampak terhadap sistem metabolisme tubuhnya. Pilihan gaya hidup, misalnya. Tampil sederhana dan tampil glamour atau mengikuti trend kekinian, tentunya akan berdampak pada life cost. Hingga untuk memilih pasangan hidup, misalnya ada 2 pilihan di hadapan, maka akan berbeda kelak kelanjutan hidupmu bersama salah satu yang harus kamu pilih. Pada dasarnya, semua perlu pertimbangan yang matang, namun terkadang faktor eksternal juga mempengaruhi pilihan-pilihan kita. Apapun alasan yang mendasari pilihanmu, dan apa yang akan terjadi kemudian, all that matter is your self-responsibility to your own choice, not to all of people's choice which are different with yours. Karena menurut saya, pilihan itu sifatnya sangat personal.

Waktu Pilpres tahun 2014 yang lalu, misalnya. Saya memilih Capres yang pada akhirnya tidak menang pemilu. Seiring berjalannya waktu, saya merasa kecewa dengan berbagai kebijakan yang diterapkan oleh presiden terpilih. Mau bagaimana, toh dulu saya memang tidak memilih dia. Intinya, ketika yang menang itu bukan pilihan kita, kemudian mengecewakan. Tetaplah bersyukur karena kita memang tidak berkontribusi memberi suara untuk dia. Hal ini akan membuat kita merasa lebih baik. It’s all about state of mind. Calm your mind, then your heart will be safe. Kata dokter, semua penyakit bermula dari pikiran kita sendiri. Being positive in a negative situation is not naive. It’s leadership. This! Be a leader to yourself first.

Saya masih menyayangkan euphoria perang status di sosial media yang berdampak merenggangkan bahkan memutus hubungan pertemanan, sampai membuat sebagian orang mengeleminasi “daftar pertemanan” atau friendlist mereka. Demokrasi dan kebebasan berpendapat yang kebablasan pada akhirnya membuat suhu politik di negeri ini menjadi panas. Pertemanan yang sifatnya personal pun terkena dampak idealisme dan fanatisme segelintir orang/kelompok yang begitu mendewakan pilihannya. Namun di sisi lain, ada pelajaran yang saya dapat, bahwa semakin bertambah usia, maka kita akan semakin mengenali teman-teman kita yang sejati. Pada akhirnya semua kembali kepada diri kita masing-masing, TEMAN seperti apa yang kita butuhkan untuk berada di sekeliling kita, melewati tahapan-tahapan kehidupan selanjutnya?

~ Wil Twilite ~


Selasa, Maret 01, 2016

Somewhere Over The Rainbow


Di Negeri Hitam-Putih, mereka hanya mengenal warna hitam dan putih saja, meski sebagian diantaranya ada yang abu-abu. Mereka belum pernah memasuki negeri di balik pelangi.

Negeri di balik pelangi bertabur aneka warna. Hati-hati dengan matamu, bisa terpikat sejuta pesona di sana. Untuk memasukinya, kukenakan jubah dan topeng.

Aku berpapasan dengan banyak wajah yang juga mengenakan jubah topeng beraneka. Sebagian mereka yang berpapasan denganku, menyapa dengan ramah. Aku membalas dengan anggukan, sebab senyumku tersembunyi.

Aku menyukai aroma misterinya. Siapakah mereka yang bersembunyi di balik jubah dan topeng beraneka ini...? Barangkali saja, sebagian diantara mereka berasal dari Negeri Hitam-Putih yang tengah berpetualang...?

Ada perpustakaan dan kedai kopi cantik di Negeri Pelangi. Untuk memasukinya harus dengan kata kunci, sebab hanya orang-orang tertentu saja yang diperkenankan untuk singgah dan duduk-duduk di sana.

Aku berbincang hangat dengan beberapa wanita istimewa yang berpapasan jalan denganku, kemudian kami saling membagi sepenggal kisah dalam seperjalanan. Harus hati-hati dalam memilih sahabat kenalan di Negeri Pelangi. Jika beruntung, kau akan mendapat permata, namun jika tidak, sepatumu akan terkena lumpur kotor.

Negeri Pelangi menyajikan banyak keindahan, namun tidaklah menjanjikan apa pun. Semua kendali tetap ada di dalam dirimu, maka jangan terlena. Bersenang-senanglah seperlunya saja, tidak untuk larut dan tenggelam. Sebab realita tetaplah berada di sudut pandang hitam, putih, dan abu-abu.

Di perbatasan antara Negeri Hitam-Putih dan Negeri Pelangi, aku pernah memiliki pintu, namun kini cukup dari jendela saja aku memandangnya. Ada kehangatan yang mengalir di sanubari, setiap kali aku menatap keluar jendela itu.

Aku masih memiliki pintu rahasia, hanya dengan mantera sihir, ia dapat dibuka kembali. Untuk mereka yang benar-benar istimewa, tentunya.

Aku merasa bebas untuk menjadi siapa saja di Negeri Pelangi, sebab tak ada aturan yang mengikat. Aku bisa menjadi bijak, atau nakal, atau sesukaku saja. Ketika aku bebas menjadi aku, tetaplah kusebut itu sebagai kebebasan, meskipun harus bersembunyi di balik jubah dan topeng sebagai perisaiku.

Pesanku, jangan berlabuh pada dermaga yang salah jika tak ingin kapalmu karam perlahan ketika rantainya mulai berkarat.

"A smooth sea never made a strong sailor, thought I never met a strong person with an easy past".

Namun untuk memahamiku, tak cukup hanya dengan menterjemahkan aksaraku yang bersayap, sebab aku masih menikmati menjadi misteri.


~ Wil Twilite ~
Sabtu, Februari 27, 2016

Sang Pujangga

Kata-kata yang terlalu tinggi, senantiasa memerlukan waktu yang lebih lama 'tuk memaknai dan memahaminya.. demikian pula dengan sang penguntai aksara..

Dalam kesederhanaan berbahasa, kesantunan mampu menggugah lawan bicara 'tuk menjadi segan, dan menaruh respek selama berbincang denganmu..

Aku ingin memahami dengan sederhana.. tidak dibatasi kompleksitas aksaramu yang memerangkap pikiranku kedalam labirin sangka..

Aksara bersayap, tak semestinya menjadi tameng keangkuhanmu, duhai Pujangga.. sesekali tapakkanlah kedua kakimu di atas tanah milik bumi..

..teruntuk,
Sang Pujangga yang pernah kupuja..


~ Wil Twilite ~
Minggu, Februari 14, 2016

Thirty-something Jealousy

"Perempuan muda, kalau cemburu kelihatan banget, ya..."

"Hmm... siapa bilang hanya perempuan muda yang seperti itu...? Yang udah thirty-something kaya kita, pun, kalau cemburu, ya kelihatan..."

"Well, okay... tapi ngga pake 'banget', kan...?"

"......."



What do you think...?
~ Wil Twilite ~
Selasa, Juni 04, 2013

Paradoks

"People disappeared, reappeared, made plans to go somewhere, and then lost each other, searched for each other, found each other a few feet away." ~ F. Scott Fitzgerald; The Great Gatsby

Apa sih makna kalimat "Ada perjumpaan, maka akan ada perpisahan"...? Umumnya orang menghilang, kemudian muncul kembali, setelah itu merencanakan perjalanan (masing-masing), kemudian saling kehilangan, kemudian lagi akan saling mencari, hingga akhirnya saling menemukan yang ternyata tidaklah terlalu jauh dari tempatnya berada.

Jadi, manusia sendirilah, sebagai subjek, yang memerankan dan menjalani siklus kehidupan. Mungkin dapat juga dikaitkan dengan hukum alam. Intinya tetap saja semacam siklus yang bisa terjadi secara alamiah ataupun ada skenario dibaliknya. Bukankah dunia ini pada hakikatnya memang panggung sandiwara...?


Just My Thought,
Wil Twilite
Kamis, Maret 08, 2012

Passion


You whisper into my ear, sweet things that make me weak. Then you look into my eyes with your mysterious provocative gaze, causing you to touch my skin, to feel the burning of your flames, caressing me with a love that is real, then you kiss me...

As I feel your wet eager lips, our hungry tongues indulging in their craving, to feel the poison of your blood boiling throughout your soul. Sending electrify emotions, stimulating pure intoxication...

As your hands flows over me; touching every curve and every part of me... It seems I move my legs apart automatically. As you lift me on the mystical ride while my body you know I will guide. Just listen to our song. Making love all night long. The flames of passion, desire and love is taking control over us...

You put your hands in my breast, as I feel a sensation so exciting. When you kiss my nipples with your eager lips, every time you do that, it gets more and more fulfilling. Let me feel those sensations, as I feel you deep inside me...

Feeling a rage so incredible to resist, as all I want is to let go of all this love I have in store. You got me twisting, soaking wet. I feel you as you are pausing deep inside me, and then I feel you pull out and pull back in, I moan from pure delight and ecstasy, I get the shivers...

But... is from the fire lit inside my being, my body is slippery everywhere. I scream... Please, harder and harder... I call out your name... Crying out in anguished bliss. A slight sigh... ''A gasp for air''. This fire is so immense. So full of energy and heat. Even water could not quench this fire inside of me...

Cause your love... always will remain, burning there endlessly. Cause you make my erotic senses rise, while you take me higher and higher, than I have ever been...

In the mystical ride of yours, that I just can't get enough. Because without you and your love, there would not be a hot sexual taste in me...



Original Title: Hot Sexual Taste
Author: Lourdes S.
Senin, Januari 30, 2012

Partner dan Kebahagiaan

Beberapa waktu lalu, ada seorang sahabat L yang curcol (curhat colongan) mengenai peran partner bagi L. She asks me, "Kak Wil, sebenarnya apa sih tujuan utama L mencari partner...? Standar kriterianya tuh kira-kira seperti apa, sih...?".

Aku bertanya, “Kalo kamu pribadi, kenapa kepengen banget punya partner...?”. Jawabnya, “Aku ingin bahagia, Kak. Sendiri tuh ngga enak. Kalau punya pacar kan enak, ada yang merhatiin, ada seseorang yang bisa kita kasih perhatian, sayang-sayangan gitu, deh, Kak...”. GUBRAAAKK...!! Tujuan memiliki partner untuk memperoleh kebahagiaan. Weleh-weleh. Itu artinya meletakkan kebahagiaan kita di tangan orang lain, dong...? Dalam hal ini partner. Ada partner kita bahagia, ngga ada partner kita ngga (berhak untuk) bahagia. Sedemikian dangkalnyakah makna kebahagiaan bagi L...?! Please deh, jangan sekali-kali memiliki tujuan semacam ini dalam mencari partner. Sebab kebahagiaan sejati itu datangnya dari dalam diri dan merupakan tanggung jawab kita sendiri sebagai lesbian dan sebagai manusia. Menyedihkan sekali orang yang hanya menggantungkan hidup dan kebahagiaannya kepada cinta orang lain. Betapa kosong hidupnya. Lebih baik menjomblo jika memang kita belum memahami benar tujuan memiliki partner. Cobalah terlebih dahulu kita mengenali dan menyayangi diri kita sebelum mengenal dan menyayangi orang lain, belajar mandiri serta meningkatkan kualitas diri. Orang yang tepat akan datang pada saat yang tepat, yang hadirnya mampu melengkapi kekurangan kita dan sebaliknya. Berhenti memimpikan “kekasih maha sempurna” yang akan datang membawa “paket lengkap kebahagiaan”, dan ketika dia pergi, “seluruh paket” kebahagiaan itu pun ikut pergi bersamanya. Tak bersisa.

Kriteria adalah ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu (artikata.com). Awalnya aku berpikir kriteria akan terbentuk setelah kita menjalani proses pengenalan diri terlebih dahulu. Ternyata aku salah. Kriteria bukanlah harga mati dalam menemukan pasangan yang cocok. Terkadang kita memiliki keinginan-keinginan dalam hati atau pikiran akan figur orang yang menjadi pasangan kita kelak. Dalam proses mencari dan menemukan cinta sejati, kita pun berpapasan dengan orang-orang yang mendekati kriteria kita.

Perjumpaan dengan Ms./Mrs. Right dapat terjadi dalam dua kemungkinan. Pertama, setelah melewati tahapan mengenal diri sendiri, kita mulai memahami kriteria partner yang kita butuhkan. Kemudian atas berkat rahmat-Nya, kita dipertemukan dengan seseorang yang sangat sesuai dengan kriteria yang kita butuhkan. Kedua, dalam kondisi masih labil dan dalam proses pencarian jati diri, dimana belum memahami benar apa yang kita butuhkan, datanglah seseorang yang hadirnya mampu membuat hidup kita lebih terarah dan bermakna, serta banyak membawa perubahan positif.

Namun tak jarang, hubungan kandas di tengah jalan karena berbagai alasan. Kemudian kita akan menemukan dan menjalin hubungan yang baru dengan perempuan lain. Begitulah siklusnya. Terkadang ada yang menganggap kita terlalu pemilih. Bagiku memilih dan menunggu datangnya orang yang tepat bukanlah suatu hal yang buruk. Sebab semua orang layak untuk bahagia dan mendapatkan “yang terbaik”, dalam konteks yang sangat personal tentunya. Yang kita butuhkan adalah dia yang bersedia menerima ketidaksempurnaan kita, dan hadirnya mampu menyempurnakan kita, begitu pun sebaliknya. Jangan membentuk kriteria pasangan yang terlampau sempurna. Sebab takkan pernah ada kesempurnaan di dunia ini. Kesempurnaan yang sejati itu hanya milik Tuhan. Hanya Dia Yang Maha Sempurna.




January 27th, 2012
~ Wil Twilite ~
Jumat, Desember 16, 2011

Rumah, riwayatmu kini...


Malam minggu itu hujan turun tak henti, istilahnya awet. Di sela-sela membaca novel, aku pun iseng mainan twitter, membaca timeline yang sliweran di sana. Semua bicara tentang hujan. Dari versi romantisnya hujan hingga kemacetan jalan yang kerap terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Well, macet memang sudah tradisi, sih, yaaa... tapi semakin mantabs ketika di mix dengan hujan dan weekend, plus tanggal muda... hehehe...

Hmmm... itulah ironisnya zaman sekarang, dimana masyarakat urban cenderung tak betah dirumah. Buktinya, sekalipun diguyur hujan seharian, lalu lintas tetap saja padat. Semua mall pun dipadati lautan manusia. Fenomena ini selain menandakan daya beli masyarakat urban yang relatif tinggi, juga membuktikan bahwa mereka cenderung tidak betah dirumah dan lebih memilih menghabiskan waktu di luar rumah, salah satunya di mall.

Pemandangan seperti ini tentunya sudah tidak asing lagi, ketika banyak orang sliweran di mall, entah pasangan, teman, atau keluarga, sedang duduk-duduk di coffee shop, namun nyaris tidak berinteraksi satu sama lain, sibuk sendiri dengan gadget masing-masing (smartphone, tablet, notebook, playstation, dll). Pernah kulihat seorang ibu bersama 3 orang anaknya, masing-masing pegang notebook, termasuk ibunya juga. They don’t even have communicate to each other. Duh, Buuuu... mendingan dirumah aja, kaleee... ngobrol-ngobrol sambil minum teh dan menikmati cemilan buatanmu... Apalagi, kalau diperhatikan secara penampilan dan dari merk notebook yang mereka punya, kemungkinan besar mereka dari kalangan the have, rumahnya barangkali luas dan indah. Kalau orang Betawi bilang, rumah gedongan, dah... Tapi kenapa mereka prefer spending time at mall, yaa...? Dalam ‘kebersamaan’ yang sama sekali ngga berkualitas begitu, pulaaa...!! #TanyaKenapa...?

Rumah oh rumah, riwayatmu kini... Sudah semakin banyak rumah-rumah yang tak berjiwa, hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan raga setelah lelah beraktivitas seharian. Secanggih apapun inovasi teknologi menyediakan alat-alat rumah tangga modern nan praktis, tidak lantas membuat penghuninya betah di rumah, dan masih mencari hiburan di luar rumah.

Jadi, apakah fungsi rumah saat ini, selain sebagai tempat persinggahan semata...? Sebagai aset...? Sebagai tolak ukur tingkat kemapanan seseorang...? Atau hanya sekedar sebagai tempat menampung dan meletakkan barang-barang saja...? Oh, nooo...!! Kasihan nasibmu, rumah... :(

--------------
A house is made of walls and beams; a home is built with love and dreams ~ Anonymous

Home is not where you live, but where they understand you ~ Christian Morganstern

I long, as does every human being, to be at home wherever I find myself ~ Maya Angelou

Home is the place where, when you have to go there, they have to take you in ~ Robert Frost

Home is the place where it feels right to walk around without shoes ~ Anonymous

There's nothing half so pleasant as coming home again ~ Margaret Elizabeth Sangster

A man’s homeland is wherever he propers ~ Aristophanes

Not going home is already like death ~ E. Catherine Tobler

Luxuries are never so comfortable as are familiar, ordinary things of home ~ Eucharista Ward

Mid pleasures and palaces though we may roam, be it ever so humble, there’s no place like home ~ John Howard Payne

There is a magic in that little world, home; it is a mystic circle that surrounds comforts and virtues never known beyond its hallowed limits ~ Robert Southey

Home, the spot of earth supremely blest, a dearer, sweeter spot than all the rest ~ Robert Montgomery



~ Wil Twilite ~
December 10th, 2011
Jumat, Agustus 05, 2011

...then I found you


Ah... akhirnya aku telah berhasil menemukan tempat persembunyianmu... dalam cangkang yang kokoh, anti gores dan tahan banting... hebat memang...

Pencari mimpi yang menemukan mimpi...

Sekian lama kau bersembunyi dalam dunia mimpi, dengan mengesampingkan realita yang kau enyahkan jauh-jauh dari hadapan matamu...

Dunia tanpa cermin... sebab kau enggan melihat pantulan yang tak lagi kau kenali di dalamnya... kau juga sudah tak peduli akan penampilanmu, sebab eksistensi diri cukup terpancar lewat kemurnian jiwa, katamu...

Ah, jalan pikiranmu sudah semakin tak terbaca olehku, sekalipun dulu selalu kau anggap aku sebagai satu-satunya orang yang mampu menembus kedalaman pikiranmu...

Sudah lama sekali kita tidak bercakap-cakap, dan kau tak pernah lagi menjawab sapaanku, seperti kita tak pernah saling mengenal, seperti kita tak pernah teramat sangat dekat satu sama lain saja...

Baiklah, aku tak akan lebih banyak bicara... yang penting sekarang aku menemukanmu... dan pencarianku berakhir sudah...

Aku akan terus memeluk erat tubuhmu dalam kebekuan yang menusuk malam ini, barangkali saja kehangatan tubuhku esok pagi akan menghantarkanmu menemui mentari... tak peduli jika akhirnya kau menemukan jasadku tergolek membeku disampingmu, menggantikan tempatmu... sebab yang terpenting bagiku adalah...

...aku telah menemukanmu



~ Wil Twilite ~
Rabu, Januari 14, 2009

My Office Hours


Starting from 6 am to an unpredictable time
Leaving my home left behind…
Leaving my personal life so far away… just like I don’t have my own…
Feel stressed very often…

Sometimes I wanna run and hide… to a place where I could have my own…
But when I hear another voices in a crowd, so many friends whisper on my ears,
“You are the lucky one… your life seems like nothing to worry…”
“You have so many interesting surrounding…”, etc… etc…
I just wanna find myself, coz I realize everytime I look at the mirror,
Seems like my reflection is just someone I didn’t recognize anymore
The mask which cover my face look like have so many characters inside
I don’t wanna feel like a stranger for myself, for people around me…

I think I just need more time to spend, for my family, for my beloved one, for my best friends in life, for all of my friends, and deep down… especially for myself… do I expect too much…???
But I know very well… I don’t wanna lose my job also… the pillar that I lean on for staying alive, for having any comfort things in life, for guarantee the future of mine and my family… for a better life I live in, as time goes by…
My Lord… Allah SWT… I surrender myself, my life… completely… in YOUR HANDS…


~ Wil Twilite ~