Tampilkan postingan dengan label Rainbow. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rainbow. Tampilkan semua postingan
Selasa, Maret 06, 2018

Ketika Pasangan Harus Menikah

Menikah. Sesuatu yang sangat ditakuti pagi pasangan L. Entah karena desakan orang tua atau alasan lainnya, begitu banyak hubungan L yang pada akhirnya kandas di tengah jalan karena salah satu, atau bahkan keduanya, harus dihadapkan pada kondisi ini, menikah.

Apa yang harus dilakukan? Kabur ke luar negeri demi mengejar kebahagiaan berdua? Boleh-boleh saja. Sebab hidup adalah pilihan. Namun, bagi saya pribadi yang masih hidup dalam keluarga yang menjunjung tinggi norma-norma ketimuran, dan tentu saja stay in the closet, sampai kapan pun ngga akan coming out sama keluarga, so I have a different persective.

Aku akan membiarkan pasanganku untuk menikah. Meski harus berdarah-darah, aku tidak akan menahannya untuk kumiliki sendiri, sementara ia ada keluarga yang sudah bersamanya semenjak jauh sebelum kami berjumpa. Alih-alih upaya untuk kembali kepada kodrat. Untuk menikah, dan meneruskan keturunan keluarganya, atau alasan lain apalah-apalah.

Katanya cinta, kenapa harus dilepaskan? Jangan salah. Ujian terbesar dalam cinta adalah melepaskan, bukan menahan kekasih untuk selalu jadi milikmu. Cinta itu masalah hati. Pernikahan itu mengikat secara hukum, tapi hati tetaplah milik yang dicinta. Pada dasarnya berpisah karena harus menikah atau berpisah karena alasan-alasan lainnya, sama saja. Ujian untuk melepaskan cinta. Maka bila ia memang takdirmu yang sejati, cinta memiliki sifat untuk selalu kembali.

Hubungan percintaan L itu tidaklah lebih atau kurang dengan hubungan percintaan hetero. Jika menyangkut hati dan perasaan, tak pernah mengenal jenis kelamin. Hetero pun bisa putus walau masih saling cinta, bisa karena orangtua tak restu atau alasan lainnya. Bahkan yang menikah pun bisa bercerai.

Intinya, tak ada yang salah dengan perpisahan. Sebab pada akhirnya selalu ada persimpangan di setiap langkah. Bukan tak mungkin ketika kita sudah sama-sama menikah, malah hubungan dengan sang mantan kekasih L bisa lebih syahdu nantinya. Kehilangan itu terkadang hanya masalah waktu untuk diberikan yang lebih baik. Aku percaya itu.

~ Wil Twilite ~

Selasa, Maret 08, 2016

Sang Pelukis Senja

Ingatanku menelusuri kisah tujuh tahun silam. Ketika seorang sahabat, mengenalkanku dengan seorang pelukis wanita bernama Sheilla. Setelah beberapa kali saling berkirim email, lalu bertukar nomor handphone, Sheilla mengajakku bertemu di salah satu mall di Tangerang Selatan.

Saat itu Sheilla membawakan beberapa miniatur lukisan hasil karyanya, yang sebagian besar bertema bunga atau taman yang indah penuh bunga-bunga. Aku tidak begitu mengerti mengenai lukisan, kala itu. Maka ketika ia bercerita tentang aliran dan lain sebagainya, aku mendengarkan sekedarnya. 

Dengan tidak mengindahkan reaksiku yang biasa-biasa saja, Sheilla tiba-tiba mengambil kamera SLRnya, dan mengarahkan lensa ke wajahku. Aku kaget dan reflek menghindar, sambil sedikit marah. Dia kemudian minta maaf. Selanjutnya, ia menunjukkan foto-foto yang ada di kamera itu kepadaku. "Ini beberapa lukisanku yang lain, Wil", seraya merapatkan bahunya padaku dan memperlihatkan foto-foto lukisan lainnya, dan juga foto keluarga besarnya. "Aku dari keluarga baik-baik, Wil. Jadi, kamu tidak perlu merasa khawatir kalau aku akan melakukan hal yang aneh-aneh. Aku sudah mendengar dari Dhea tentang traumamu sama mantan kamu...". Ia menjelaskan tentang keluarganya. Ia tahu aku punya trauma dengan mantanku yang pertama, dari Dhea, teman yang memperkenalkan kami. Aku mengamati jemarinya menekan tombol forward dengan jeda yang pas. Aku merasakan ia merapatkan tubuhnya, dan hal itu membuatku merasa canggung.

Tak lama kemudian, handphone nya berbunyi. "Iya, Sayang... Mama ada di Starbucks sama teman Mama, kamu mau ke sini?", ucapnya penuh kelembutan yang aku duga kepada anaknya. Dan benar, ternyata ia turut membawa kedua putranya ke sini, mereka langsung ke Gramedia, sementara Sheilla menemuiku di Starbucks. Tak lama kemudian, kedua naknya muncul. "Ini teman Mama, Tante Wil. Ayo salim, ya". Setelah sekilas memperkenalkan kami, Sheilla mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya, kedua anaknya ingin main Time Zone.

Ia melanjutkan ceritanya, sambil matanya intens menatapku. Jemarinya sesekali menyentuh lembut jemariku. Sorot matanya lembut namun terasa "mengundang". Aku merasa agak kurang nyaman. Tiba-tiba ia meraih ujung jemariku, "Menurutmu aku cantik?" tanyanya. Aku kaget, sungguh pertanyaan yang tiba-tiba dan tak kuduga. Aku menarik perlahan jemariku dari genggamannya. Ia nampak sedikit tersinggung. "Biasa aja", jawabku kemudian. Kini, aku merasa bodoh atas jawabanku kala itu. Sungguh tak beretika. Tapi itulah aku, dulu, di usia 25 tahun, masih sangat hijau dan muda, sementara Sheilla merupakan wanita matang yang usianya hampir 40 tahun.

Kemudian ia menggeser duduknya agak menjaga jarak denganku. "Menurut mantanku, aku cantik", ucapnya kemudian, tanpa senyum. "Ya, mungkin karena dia suka padamu", jawabku santai. "Lalu kamu tidak, Wil?", kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Aku terdiam. Ini pertama kali kami bertemu. Mana mungkin, kan? Kurasa dia agak terbawa perasaan saja. "Aku baru kenal kamu, Bu...", jawabku sekenanya. "Tapi sebelumnya kita udah sering telponan kan, Wil?". OMG! Lalu? Apakah lantas hal itu bisa membuat seseorang merasa jatuh cinta?, batinku.

Kami lanjut mengobrol dan menjadi agak garing rasanya. Tiba-tiba dia minta maaf, dan bilang kalau Dhea sudah melakukan kesalahan karena memperkenalkan kami yang usianya terpaut jauh. "Walaupun kamu seorang Ibu, tapi masih sangat muda, Wil. Padahal aku bisa mengajarkanmu banyak hal tentang menjadi seorang ibu. Tapi sudahlah, kamu melihatku mungkin tak sesuai harapan", ucapnya. "Bukan, aku pikir kita bisa berteman dulu...", jawabku. "Tidak. Aku mau lebih dari itu. Aku suka kamu, Wil. Sebenarnya kamu dewasa, lucu, menyenangkan. Tapi setelah bertemu aku, sikapmu dingin. Pasti ada yang salah denganku", ia mulai mellow. Lalu ia mulai meracau. Aku merasa tersudutkan. Ini sungguh gila. Ia terlalu cepat menilaiku, dan bahkan memutuskan untuk menyukaiku. Sementara kami belum lama kenal.

Sebelum berpamitan, ia mengeluarkan sebuah kotak manis berwarna pink dengan pita biru muda, "Ini untuk your lil' angel, yang awalnya kukira bisa jadi my lil' angel, too, karena anakku dua-duanya jagoan, ternyata...", ia menghela nafas, lalu menggeleng. Ada rasa bersalah berdesir di dadaku, melihat tatap kecewanya. Aku menolak kotak itu, dan dia bilang sama saja aku menghempaskan hatinya ke dasar jurang paling dalam. Lalu aku menerimanya.

Ia menelpon anak-anaknya, kemudian mereka berpamitan. Aku sempat terdiam di sana cukup lama setelah mereka berlalu dari hadapanku, merenung sejenak. Drama gila macam apa yang baru saja terjadi?, batinku. Tiba-tiba aku merasa sangat jahat, dan sangat bersalah padanya. Kemudian aku pulang. 

Keesokan paginya, aku menerima email dari Sheilla. Isinya permintaan maaf. Katanya, ia tak kuasa menerima penolakanku yang terlalu dini dan tanpa basa-basi, sehingga membuatnya menjadi emosi. Ia ingin menemuiku sekali lagi. Katanya, ia janji akan lebih tenang menghadapiku. "Aku berbincang dengan Dhea seusai aku menemui, Wil, dan Dhea menyayangkan sikapku yang terlalu impulsif kepadamu. Menurut Dhea, kamu harus dihadapi dengan ketenangan, bukan seperti yang aku lakukan kemarin terhadapmu. Beri aku kesempatan sekali lagi, Wil, untuk menemuimu". Aku terdiam. Kubaca berkali-kali email itu dengan perasaan yang silih berganti. Kenapa dia yang minta maaf? Yang benar saja. Sudah jelas aku yang salah. Aku sangat salah.

Kemudian dia menelpon, karena aku tak kunjung membalas emailnya. "Kamu dimana, Wil? Aku akan jemput kamu ke kantor, lalu nanti aku antar pulang, oke? Please, beri aku kesempatan...", suaranya parau dan terdengar putus asa. Kurasa ia tidak dalam mood yang bagus untuk diajak bicara saat ini, menurutku. Aku merasa ada yang salah di sini. Aku yang sudah sedemikian angkuhnya, kenapa dia yang minta maaf dan minta diberi kesempatan olehku, dan bukankah semestinya sebaliknya? "Aku akan balas email kamu, Bu. Ini juga sedang nulis. Kamu tenangkan diri, ya. Jangan mikir yang aneh-aneh dulu", hiburku dengan suara lembut.

Setelah ia menutup teleponnya, aku membalas email, kusampaikan bahwa aku tidak akan menemuinya lagi, dan terima kasih atas segala kebaikannya. Aku minta maaf atas segala keangkuhanku, dan bahwa aku sesungguhnya hanya ingin berteman saja. Jika ia menginginkan lebih dari itu, butuh proses beberapa waktu ke depan lagi, tentunya. Dan hal semacam itu semestinya mengalir murni seiring waktu.

Dia tidak lagi membalas emailku itu. Namun hujanan smsnya hingga puluhan ke handphoneku. Ia tak memaki aku, namun memaki dirinya sendiri yang terlalu cepat terbawa perasaan hanya karena sikapku yang hangat. Ia sempat bilang, "Bodohnya aku mengira bahwa kamu mungkin bisa jatuh cinta kepadaku". Hujanan kata-katanya yang bertubu-tubi dalam sms-sms itu membuat kepalaku terasa berputar sangat cepat. Aku memutuskan untuk mengganti nomor handphone, dan semua berakhir begitu saja, tak ada komunikasi lagi dengan Sheilla. Seiring waktu, otakku terus berusaha mencerna hikmah dari kejadian ini. Namun hal itu tak berlangsung terlalu lama, setelah aku bertemu dengan yang lain, tentunya. Aku melupakan Sheilla.

Tujuh tahun berlalu. Sudah begitu banyak hal terjadi padaku, dan juga wanita yang datang dan pergi di hidupku, masing-masing meninggalkan pembelajarannya tersendiri. Tiba-tiba aku teringat Sheilla. Ada rasa bersalah yang masih tertinggal di sanubari, saat mengingatnya. Ya, aku ingin minta maaf, atas sikap aroganku padanya, dulu, ketika aku masih sangat muda dan bodoh. Namun tak ada sepenggal jejakpun tentangnya. Aku mencarinya dengan caraku. Membuka semua situs yang berkaitan dengan pelukis wanita Indonesia, satu-satunya hal yang begitu melekat tentangnya, namun hasilnya nihil, karena aku bahkan tak tahu nama aslinya, Sheilla hanya nama alter. Huft.

Aku hampir frustasi. Lalu aku teringat Dhea, teman yang memperkenalkan kami. Aku punya facebook real Dhea, namun untuk bertanya padanya, aku sungkan. Kutelusuri friendlist Dhea yang jumlahnya ribuan orang. Maklum, ia salah satu orang penting di negeri ini. Aku sempat enggan, karena sudah pasti ini akan menghabiskan banyak waktu. Akhirnya kubulatkan tekad. Nawaitu. Di tengah pencarian, aku kewalahan, karena untuk abjad "A" saja rasanya ngga kelar-kelar, dan tiba-tiba paket dataku habis. Damn! 

Setelah mengisi ulang paket data, aku kembali menelusuri. Semua perempuan keibuan yang nampak di sana, aku klik. Kepalaku pening beneran. Bagai mencari sebuah jarum di tumpukan jerami. Namun usahaku ternyata membuahkan hasil yang bahkan tak kuduga. Aku menemukannya! Aku memastikan berkali-kali bahwa itu dia. Sang Pelukis Senja, aku menyebutnya. Thanks to Allah, facebook nya tidak di protect. Aku bolak-balik album fotonya. Ah, aku mengenali wajah kedua anak laki-lakinya, yang kini sudah beranjak remaja.

Lama aku meng-klak-klik profilnya sampai jariku kaku. Berkali-kali aku ingin menekan tombol "Add as friend", namun kuurungkan lagi dan lagi, hingga akhirnya kutekan KLIK!

Damn! What a ....?! Aku mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri. Dan hal itu sudah tidak dapat ku-undo. Rasanya kemungkinan kecil dia akan mengenaliku lagi, setelah tujuh tahun berlalu. Apalagi penampilanku sudah banyak berubah. Dia pasti tidak mengenaliku, batinku. Setiap satu menit kulirik gadget menanti Accepted darinya. Baru satu setengah hari berlalu, aku sudah tidak sabaran. Kubuka kembali profilnya belasan kali hingga wajahnya begitu melekat di kepala. Aku tergoda untuk mengirim pesan. Setelah sejuta keraguan, akhirnya aku meng-klik tombol "Message". Kurasa aku terlalu nekat, dan agak sedikit "gila"! 

"Assalamualaikum, Bu. Mohon berkenan untuk menerima permintaan pertemanan saya. Sudah lama saya mencari Ibu. Wassalamualaikum." SENT! 


~ Wil Twilite ~
Selasa, Maret 01, 2016

Somewhere Over The Rainbow


Di Negeri Hitam-Putih, mereka hanya mengenal warna hitam dan putih saja, meski sebagian diantaranya ada yang abu-abu. Mereka belum pernah memasuki negeri di balik pelangi.

Negeri di balik pelangi bertabur aneka warna. Hati-hati dengan matamu, bisa terpikat sejuta pesona di sana. Untuk memasukinya, kukenakan jubah dan topeng.

Aku berpapasan dengan banyak wajah yang juga mengenakan jubah topeng beraneka. Sebagian mereka yang berpapasan denganku, menyapa dengan ramah. Aku membalas dengan anggukan, sebab senyumku tersembunyi.

Aku menyukai aroma misterinya. Siapakah mereka yang bersembunyi di balik jubah dan topeng beraneka ini...? Barangkali saja, sebagian diantara mereka berasal dari Negeri Hitam-Putih yang tengah berpetualang...?

Ada perpustakaan dan kedai kopi cantik di Negeri Pelangi. Untuk memasukinya harus dengan kata kunci, sebab hanya orang-orang tertentu saja yang diperkenankan untuk singgah dan duduk-duduk di sana.

Aku berbincang hangat dengan beberapa wanita istimewa yang berpapasan jalan denganku, kemudian kami saling membagi sepenggal kisah dalam seperjalanan. Harus hati-hati dalam memilih sahabat kenalan di Negeri Pelangi. Jika beruntung, kau akan mendapat permata, namun jika tidak, sepatumu akan terkena lumpur kotor.

Negeri Pelangi menyajikan banyak keindahan, namun tidaklah menjanjikan apa pun. Semua kendali tetap ada di dalam dirimu, maka jangan terlena. Bersenang-senanglah seperlunya saja, tidak untuk larut dan tenggelam. Sebab realita tetaplah berada di sudut pandang hitam, putih, dan abu-abu.

Di perbatasan antara Negeri Hitam-Putih dan Negeri Pelangi, aku pernah memiliki pintu, namun kini cukup dari jendela saja aku memandangnya. Ada kehangatan yang mengalir di sanubari, setiap kali aku menatap keluar jendela itu.

Aku masih memiliki pintu rahasia, hanya dengan mantera sihir, ia dapat dibuka kembali. Untuk mereka yang benar-benar istimewa, tentunya.

Aku merasa bebas untuk menjadi siapa saja di Negeri Pelangi, sebab tak ada aturan yang mengikat. Aku bisa menjadi bijak, atau nakal, atau sesukaku saja. Ketika aku bebas menjadi aku, tetaplah kusebut itu sebagai kebebasan, meskipun harus bersembunyi di balik jubah dan topeng sebagai perisaiku.

Pesanku, jangan berlabuh pada dermaga yang salah jika tak ingin kapalmu karam perlahan ketika rantainya mulai berkarat.

"A smooth sea never made a strong sailor, thought I never met a strong person with an easy past".

Namun untuk memahamiku, tak cukup hanya dengan menterjemahkan aksaraku yang bersayap, sebab aku masih menikmati menjadi misteri.


~ Wil Twilite ~
Minggu, Februari 14, 2016

Thirty-something Jealousy

"Perempuan muda, kalau cemburu kelihatan banget, ya..."

"Hmm... siapa bilang hanya perempuan muda yang seperti itu...? Yang udah thirty-something kaya kita, pun, kalau cemburu, ya kelihatan..."

"Well, okay... tapi ngga pake 'banget', kan...?"

"......."



What do you think...?
~ Wil Twilite ~
Senin, Februari 01, 2016

Fifty Shades of ...


Aku mengenalnya di dunia maya. Berawal dari beberapa baris komentarnya di blogku, kemudian kami saling berkirim email, hingga berteman di beberapa social media. Namanya Alena, wanita blasteran Indonesia - Australia, usia 40 tahun, tinggal di Sydney. She’s so open minded, she’s got a sexy mind, very wise, and sophisticated on many things. Totally adorable.

Sejauh aku mengenalnya, Alena tidaklah seperti wanita kebanyakan. Dia menawarkan padaku suatu bentuk hubungan yang tidak umum. Berawal dari bahasan kami tentang film Fifty Shades of Grey yang tidak lulus sensor untuk tayang di layar lebar Indonesia. Kuceritakan pada Alena bahwa aku diajak oleh sahabatku untuk nonton di Golden Village Plaza, Orchard Road, Singapura. Well, that was a very amazing experience for me, took a flight only for a movie. My buddy might losing her mind for Jamie Dornan.

“I’m a woman version of Christian Grey, Wil...”, ujar Alena, mengagetkanku.

“Pardon...?”, tanyaku setengah shock.

“Yes, I am. And I am the dominant".

Aku terdiam. Awalnya aku sempat berpikir Alena bergurau. Namun akhirnya aku tahu ia serius, dan aku takjub.

“This isn’t an ordinary kind of relationship, my dear.. but this is an ownership.. I owned you, and I want all of you..”, lanjutnya setelah aku terdiam terlalu lama. She leaves me speechless.

Awalnya aku mengira hal semacam ini hanya ada dalam novel atau film. Namun seiring proses pendewasaanku, aku mulai memahami bahwa novel atau film yang mengangkat kisah ini tentunya based on true story, bukan...? Dan hal semacam ini benar-benar ada di dunia nyata. Perilaku seksual tidak umum. Mereka memiliki dunianya sendiri, mereka menikmatinya. Dan kini ada seseorang yang aku kenal, merupakan salah satunya. Aku semakin takjub. Semakin menyadari bahwa kehidupan menyimpan begitu banyak rahasia kelam yang tak nampak di permukaan, dan tak ada yang tak mungkin.

Pantas saja berbincang dengan Alena mengalirkan kenikmatan tersendiri. Dia figur yang matang, bergairah, intens dan dominan. Berbagai topik obrolan mengalir tanpa judgement. Tentang keluarga, pekerjaan, orientasi seksual, hingga tentang seks itu sendiri. Alena mampu membuatku merasa nyaman membahasnya tanpa harus menyensor istilah-istilah yang dianggap tabu. We sometimes did dirty talking and some kind of reach the climax. That kind of climax I can’t explain into words, I guess.

Alena pun pernah menawarkanku untuk pindah ke Sydney, hidup bersamanya, dan bersama dua orang wanita lain "kepunyaannya", dengan iming-iming kelimpahan materi yang akan dijaminkan untukku. She said that she's rich. But, I don't know...

“Sorry, I can’t, my dear.. you know that I have family here”. Alena tahu aku sudah berkeluarga. Dia menawarkan untuk menanggung seluruh biaya bila aku bersedia untuk bercerai. Wow!!

"How you would not love me, if I give you everything, my dear...?", she asked.

Well, dalam langkah meniti waktu, kita senantiasa dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menakjubkan. Aku telah memutuskan menikah, for many kind of reasons of life, itu sudah menjadi pilihanku. Apa yang ditawarkan Alena merupakan sesuatu hal yang sangat tidak sesuai dengan nuraniku. 

----------------------------

Setelah sekitar enam bulan berlalu sejak percakapan terakhirku dengan Alena, tiba-tiba ada pesan darinya melalui HP-ku. 

"Hi, Wil. It's been so long. How are you, now...? Aku berencana akan menghabiskan beberapa minggu di Indonesia, karena aku akan punya wanita di sana".

”Oh.. really..?”, balasku, it really shocked me.

"What a surprise, right...? I thought maybe we can meet...?", balasnya lagi. Aku agak mikir sebentar sebelum aku membalasnya.

"Sure, where and when? It’s just like a sudden, you never told me before that you will coming here..”, even it’s not especially to meet me, batinku. How come si Alena ini sudah dapat gebetan baru di Indonesia dalam waktu yang begitu singkat setelah aku "menolaknya"...? 

“Then I’ll let you know where will I live in Jakarta. I want to meeting you first before this lady, will you..?”.

Aku pun kembali shock membacanya. Betapa player kelas paus si Alena ini. Then I answer, “Let's see...”. Aku merasa dia hanya tersenyum membacanya.

Udah. Gitu aja.


- THE END / TAMAT -
*) kisah ini 100% adalah fiksi dan bukan pengalaman penulis
Kamis, Januari 21, 2016

"hello" from the other side



Hello, it’s me... 
I was wondering if after all these years you’d like to meet...


My dear Someone, apa kabarmu...? Bolehkah bila aku rindu...? Ya, aku rindu pada perbincangan kita yang sarat makna, pada ajakan-ajakan makan siangmu, juga perjumpaan-perjumpaan kita di kedai kopi. Membahas apa saja yang menarik saat itu. Entah itu menarik bagiku, atau bagimu, sama saja, selama topik yang diperbincangkan mengalir memperkaya jiwa dan wawasan kita.

Entah apa yang pada akhirnya membuat kita melangkah saling menjauh. Anggap saja aku amnesia. Atau mungkin aku kurang peka...? Entahlah. Barangkali kehilangan seorang teman sepertimu merupakan salah satu khilafku yang butuh cukup lama waktu bagiku untuk menyadarinya. Memang adakalanya aku menjadi bodoh, my dear Someone...

Bila aku tengah jatuh cinta, aku seperti lupa diri. Aku lalu terhanyut dalam gelombang pusarannya, kemudian tenggelam hingga waktunya kisah cinta itu berakhir. Ya, begitulah aku, kurasa. And when I realize this, I’m not proud about it. I feel so immatured.

Dan ketika aku membuka kembali catatan lama, aku menemukan jejak kenanganmu. Masih tersusun rapi dalam satu folder tersendiri, namamu. Banyak yang membuatku tersenyum pada deretan percakapan kita dulu, isi perbincangan kita dari yang remah-remah roti hingga yang kelas kakap. Ah, kamu sungguh seorang yang cerdas dan berwawasan dan berpandangan luas. Kamu sangat matang dalam berpikir dan bersikap. Sementara aku...? Aku hanya orang bodoh, yang unfortunately charming inside... Ups...!

Ah, pokoknya aku rindu kamu. Entah bagaimana caranya agar hubungan baik yang dulu kita bina seiring waktu, dapat kembali menghangat, seperti dua cangkir kopi yang kita nikmati di beberapa kedai kopi, dulu. Rindu perbincangan hangat denganmu. Rindu beradu argumen denganmu. Ketika kita bicara mengenai negeri ini layaknya mewakili suara rakyat, atau ketika kita membahas isu LGBT dengan sangat serius sambil saling menujuk “...yang kaya kamu, gitu...”. Hahaha.

Dan saat ini aku hanya bisa mengamatimu dari jauh. Senang masih bisa mengikuti beritamu lewat tulisan-tulisan cerdasmu di sana, maupun di sosmed kamu. Masih bisa mengamatimu sebagai the real you and also the alter-you , saat ini bagiku begitu berarti. It’s really nice to know you and ever getting closer to you.


Hello from the other side... at least I can say that I’ve tried... to tell you I’m sorry for breaking your heart (and for everything that I’ve done)...

[song by Adele]


~ Wil Twilite ~
Sabtu, Mei 04, 2013

Zona Nyaman Pertemanan

Beberapa waktu yang lalu, aku tertarik pada topik yang dibahas oleh suatu milis lesbian. Aku turut berpendapat disana, namun dirilisnya lama sekali ya. Akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan di blog ini saja.

Tentang gimana caranya membuat club lesbian yang sehat. Kurleb bisa juga diartikan sebagai zona nyaman pertemanan lesbian. Bagaimana agar memiliki lingkaran perteman yang dapat menyamankan kita dalam mengekspresikan sisi diri kita yang lesbian.

Berhubung kecil kemungkinan untuk menemukan teman lesbian di dunia nyata, di zaman hi-tech ini maka dunia maya merupakan "lokasi" yang paling strategis untuk mencari teman, tentunya.

Beberapa tahun silam, aku pernah merasakan hal yang sama, pingin banget punya comfort zone sebagai lesbian, dengan teman-teman lesbian yang baik. Maka aku join di beberapa milis, dan menerbitkan blog pribadi sebagai sarana untuk menumpahkan segala perasaanku atas sisi diriku yang lesbian.

Bagaimana cara mendapatkan lingkungan pertemanan yang nyaman? Awali saja dengan menjalin hubungan personal dengan beberapa orang. Mulailah dengan mencari teman yang kurleb memiliki minat yang sama dengan kita misalnya membaca atau menyukai jenis musik tertentu. Dari sana obrolan akan mengalir dan kita menjadi connected. Seiring waktu mungkin kelak dapat menjadi teman akrab, umm atau mungkin lebih dari itu, who knows? ;)

Bagi aku yang "in the closet", teman ngga perlu banyak, sekedar untuk menunjukkan eksistensi diri kita sebagai lesbian. Yang penting adalah kualitas, bukan kuantitas. Karena nantinya teman-teman pun akan melewati seleksi alam. Diantara mereka yang datang dan pergi, ada beberapa yang 'kan tetap tinggal. Merekalah teman-teman yang sejati.

Alhamdulillah sejauh ini, melalui seleksi alam tadi, aku sudah merasa nyaman dengan beberapa orang teman lesbian dalam hubungan pertemanan yang berkualitas dan positif.

Pesanku, carilah teman dengan hati. Carilah teman di tempat-tempat positif, misalnya dalam milis-milis yang topiknya berkualitas dan memberi kita wawasan lebih. Maka insya Allah kita juga akan menjumpai orang-orang yang positif.


Salam pertemanan,
~ Wil Twilite ~
Minggu, Desember 16, 2012

Sang Fotografer

Fotografer itu kerap membicarakan para modelnya. Perlahan, indera pendengaranku pun seumpama memiliki pemutar volume, yang mulai berputar ke arah kiri, dan semakin ke kiri.

Seorang "Guru" pernah berpetuah, "Bila anak matanya tak hanya ke arahmu, maka dia 'kan selalu haus akan keindahan lainnya... Lupakanlah..."

Kuamati fotografer itu sekali lagi. Berulangkali ia merasa tak puas dengan make-up, kostum, atau gaya salah seorang modelnya, katanya tak anggun, atau tak sesuai. Keceriaan di wajah Sang Model pun meredup.

Mengapa fotografer itu merasa blitz SLR-nya merupakan tolak ukur kecantikan wanita yang sejati, dan bukan melihat atraktifnya mata yang memancarkan kedalaman jiwa Sang Model...?

Ah, bodohnya aku. Wajar adanya bila demikian sudut pandangnya terhadap wanita (model). Dia fotografer, profesional perfeksionis.

Dan dia hanya melihat menggunakan sebelah matanya, melalui teropong yang sempit pula, yang tak lebih besar dari ukuran bola matanya sendiri.


#CoratCoret
Jumat, November 30, 2012

Mastyan Agustino; Remaja Transgender

Masti Agustina, terlahir 14 tahun lalu sebagai perempuan. Namun beranjak dewasa ada perubahan pada kelamin dan fisiknya, condong ke arah laki-laki. Perubahan itu membuat hati Masti resah. Dibantu orang tuanya, ia kemudian mengajukan permohonan perubahan status jenis kelamin ke Pengadilan Negeri (PN) Kendal dari perempuan menjadi laki-laki. Permohonan itu akhirnya dikabulkan. Dan kini nama Masti Agustina berubah menjadi Mastyan Agustino.

Tian, begitu kini ia disapa. Sejak kecil sudah merasa berat menjalani peran sebagai perempuan yang harus mengenakan rok dan pita rambut, ia rasanya enggan. Usai pemeriksaan di RSU Kariadi Semarang, akhirnya ia bisa bernafas lega. Hasil pemeriksaan menunjukkan hormon dan kromosom dirinya dominan laki-laki.

Atas dasar itulah orangtuanya memberanikan diri untuk mengajukan pergantian status jenis kelamin anak sulungnya. Pada 11 September lalu, PN Kendal mengadakan persidangan untuk pergantian status jenis kelamin yang dimohonkannya. "Dalam pertimbangan kami, berdasarkan keterangan saksi-saksi beserta para ahli menunjukkan bahwa kromosom pemohon lebih banyak kelaki-lakian. Itulah yang menjadi dasar kami mengabulkan permohonan status jenis kelamin dia dari perempuan menjadi laki-laki", tegas Didik Budi Utomo, hakim tunggal yang memimpin persidangan. Selain mengabulkan permohonan, hakim juga meminta kepada catatan sipil setempat untuk mengubah segala dokumen yang menunjukkan Tian dari perempuan menjadi laki-laki dengan perubahan nama barunya.

Sejak lahir 25 Agustus 1998, bidan yang membantu proses persalinan ibunda Tian mengatakan bahwa alat vital Tian tidak sama persis dengan bayi perempuan pada umumnya. "Ada bagian yang seperti burung, tetapi kecil", tutur ibunda Tian. Namun karena bidan meyakinkan kalau Tian adalah perempuan, maka ia dibesarkan selazimnya anak perempuan dengan pakaian dan dandanan perempuan. Ibunda Tian merasa janggal ketika Tian mulai mengenal mainan, ia lebih memilih dan menyukai mainan anak laki-laki, dan lebih suka bermain dengan anak laki-laki.

Tian mengakui bahwa sejak SD, ia sudah merasa tidak nyaman ketika harus memakai rok ke sekolah. Setibanya di rumah, ia langsung berganti kaos dan celana saja, dan merasa lebih nyaman. Mulanya ibunda Tian menganggap tabiat anaknya masih dalam batas wajar. Tian cuma tomboi saja. Namun semakin hari ia resah karena sikap Tian semakin jauh dari perempuan pada umumnya. Saat kelas 6 SD, suaranya membesar, payudara tidak mekar atau menonjol, dan tak kunjung mengalami menstruasi. Tian dibawa ke bidan. Sekali lagi bidan meyakinkan tidak ada masalah, katanya Tian hanya terlambat mengalami itu semua.

Setamat SD, orangtua Tian memutuskan memasukkan ke pesantren dengan harapan Tian akan berkurang sikap tomboi-nya dengan tinggal di asrama. Ternyata berbagai masalah justru muncul saat Tian menginjak kelas IX. Salah satunya adalah menyukai perempuan. Diam-diam Tian pun berpacaran dengan perempuan yang juga siswi sekolah itu. Mereka biasa nge-date di taman atau di kamar mandi sekolah, dan akhirnya ketahuan. Tian sendiri tidak begitu merasa bersalah sebab menurut kata hatinya dirinya adalah laki-laki. Katanya ketika melihat perempuan atau tanpa sengaja mengintip perempuan sensasinya justru lain dan lebih hebat.

"Karena status saya juga perempuan waktu itu, mungkin saya dikira lesbian. Dan sekolah nggak bisa mengampuni hal itu", kata Tian. Pacaran sesama perempuan di pondok pesantren tentu dianggap terlalu kelewatan. Ia pun kena skors 2 bulan. Namun ia kecewa karena hanya dia yang kena skors, sedangkan perempuan pacarnya itu tidak. Rasanya tidak adil.

Walau kecewa, Tian tetap mengucap syukur sebab kejadian ini berbuah hikmah juga. Orangtuanya jadi terdorong untuk memeriksakan kondisi kejiwaan maupun fisiknya ke dokter yang akhirnya menyatakan dirinya sebagai seorang laki-laki. Tian bersyukur memiliki orangtua yang lapang dada menerima kondisinya sebagai seorang transgender. Apalagi mau berjuang mengajukan pergantian status kelamin ke pengadilan dan berhasil. Di lingkungan tinggalnya, kini banyak orang sudah mengerti kebenaran tentang dirinya, bahkan menerimanya dengan baik. Padahal sebelumnya Tian sempat depresi dan mengurung diri, karena tidak percaya diri untuk bergaul dengan orang lain.

Kini Tian sudah bisa meneruskan studinya yang sempat terbengkalai. Memupuk kembali harapannya yang sempat pupus karena sempat ditolak oleh sebuah sekolah yang notabene direkomendasikan oleh Dinas Pendidikan Kendal. Teman-teman di sekolahnya yang sekarang pun baik, tidak seperti di sekolahnya dulu, banyak yang mengejek.

Tian sadar kalau dirinya adalah transgender. Kondisi yang tidak gampang dipahami orang lain. Ia tahu istilah transgender dari seorang aktivis perempuan, teman ayahnya yang menjadi pendamping serta tempat curhatnya. Tian memahami, masih banyak pihak yang "enggan" memahami "kelainan" orang-orang transgender semacam dirinya. "Ada yang bilang saya menyalahkan kodrat Tuhan. Padahal saya ini ingin membenarkan kodrat Tuhan, kalau saya adalah laki-laki. Mereka tidak mengerti susahnya jadi seorang transgender", ujarnya.

Kini, ada satu harapan Tian yang belum kesampaian yaitu melakukan operasi kelamin untuk menyempurnakan kondisi fisiknya. Ia mengatakan, testis masih berada di dalam perut. Kalau tidak secepatnya diambil bisa menjadi kanker. Namun biaya operasi yang diperlukan berkisar 80 jutaan, terlalu berat bagi keluarganya yang biasa-biasa saja.

Menurut dr. Ketut Lila Murti, SpA, Tian pada dasarnya mengalami kasus transgender, yakni keadaan dimana seseorang memiliki jenis kelamin yang tidak spesifik laki-laki atau perempuan. Jenis kelamin seperti ini - sejalan pertumbuhan anak - akan berkembang sesuai hormon yang paling dominan di tubuh anak. Jika yang dominan itu hormon laki-laki maka kelamin itu akan berkembang menjadi kelamin pria. Sebaliknya jika yang dominan hormon perempuan, maka kelamin itu akan berkembang menjadi kelamin perempuan.

Menurut Ketut, Tian nantinya bisa menjalankan fungsi seksualnya sebagai laki-laki dewasa dengan catatan organ genitalia itu lengkap, misalnya mampu ereksi, ada testis, testis mampu memproduksi sel sperma berkualitas.

Artikel & Gambar: Majalah Kartini edisi November 2012

---------------------------

Sungguh salut pada kasih sayang, penerimaan dan perjuangan kedua orangtua Tian ketika mendapati anak mereka seorang transgender. Tian hanya salah satu dari kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) yang ada di Indonesia. Semoga Tian segera dapat melangsungkan operasi untuk menyempurnakan kelaki-lakian dirinya.

Dari kisah ini mungkin kita dapat lebih membuka mata, bahwa LGBT bukanlah sesuatu hal yang dengan sengaja diinginkan oleh yang bersangkutan, namun merupakan naluri alamiah yang diberikan oleh Sang Pencipta. Tidaklah mudah menerima keadaan diri yang berhasrat dan jatuh cinta pada sesama jenis, seberapa keras pun kita mencoba ingkari dengan menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Namun, hidup selalu tentang pilihan. Semua kembali pada pribadi masing-masing. Sebagian kaum LGBT ada yang mampu mengendalikan dorongan naluri alamiahnya, sebagian lagi tidak. Serta faktor eksternal (keluarga/lingkungan) tentunya juga dapat mempengaruhi jalan hidup yang kita pilih. Stay in the closet or coming out, it's up to you. Jadilah pribadi yang senantiasa bertanggung jawab atas jalan hidup yang kita pilih. Walau terlahir sebagai LGBT, kita masih umatNya, seorang anak, bagian dari suatu perusahaan dan masyarakat. Mari tetap dekatkan diri kepadaNya, jadi anak yang berbakti, dan terus berprestasi. Kita ada diantara masyarakat. Biarkan mereka melihat kita sebagai "pribadi", dan LGBT cukuplah untuk diri kita, kalangan sendiri, dan orang-orang yang kita percayai. Penerimaan biarlah menjadi proses alamiah.

Just my personal noted,
Wil Twilite


Rabu, Agustus 01, 2012

Sharon Stone cium bibir wanita misterius


this article taken from: detik.com (14/02/2012)

Jakarta - Aktris Sharon Stone sudah kerap melakoni aksi cium bibir wanita. Kali ini, dia kepergok memberikan ciuman panas pada seorang wanita misterius di Los Angeles.

Seperti dikutip dari Radar Online, Sharon tampak berciuman bibir dengan seorang wanita di Los Angeles, Minggu (12/2/2012). Dalam foto yang dimiliki Radar, si wanita tampak memegang lengan aktris 53 tahun itu saat melakukan ciuman tersebut. Bersama si wanita misterius yang mengenakan baju hitam, aktris yang berperan sebagai biseksual dalam 'Basic Instinct' itu awalnya terlihat berjalan-jalan di kawasan Hollywood Barat. Keduanya kemudian berhenti dan berciuman bibir.

Aksi mencium bibir wanita baru-baru ini juga dilakoni Sharon saat menghadiri acara 2012 AARP Movies for Grownups Awards. Dia mendekatkan bibirnya ke bibir aktris Katy Griffin. Tentu saja hal itu dilakukan bukan karena keduanya menjalin asmara, tapi lebih pada lelucon.

Dalam sebuah wawancara pada 2008, Sharon pernah mengatakan kalau semua orang sebenarnya adalah biseksual. "Sekarang pria bertingkah seperti wanita. Memiliki suatu hubungan juga sulit karena aku sebenarnya suka pria zaman dulu. Aku suka maskulinitas dan sejujurnya hanya wanita yang memiliki hal itu sekarang," urai aktris yang pernah berakting sebagai lesbian bersama Ellen Degeneres dalam film produksi HBO, 'If These Walls Could Talk 2'.

-----------------

Aiiihh... jadi, menurut Mbak Sharon, saat ini sudah begitu sulitnya menemukan pria yang benar-benar maskulin, dan hanya wanita yang memiliki hal itu sekarang...? Masa iya sih, Mbak...? Perasaan masih banyak deh cowok-cowok maskulin yang sliweran di sekitar kita. Hehehe.

Well, whatever the reasons, ketertarikan wanita terhadap sesama wanita bisa saja dilatarbelakangi oleh alasan apapun. Dan, tak ada yang salah. Bukankah itu naluri alamiah...? Sexuality is fluid.


~ Wil Twilite ~
Selasa, Mei 08, 2012

Galau Syndrome


Ternyata "istilah" yang paling banyak ditemukan sliweran di timeline saat ini yaitu: Galau, Move-on dan Mantan... Oooouuch...!!!

Banyak yang merasa galau karena sulit melupakan mantan sehingga susah untuk move-on. Sindrom yang satu ini bahkan tak kenal usia. Hmmm...

Galau syndrome seperti ini menimpa seluruh lapisan, baik kaum homoseksual maupun heteroseksual... Abege maupun mature...

Mungkin ngga lama lagi akan bermunculan lagu-lagu abege yang judul atau liriknya ada istilah Galau, Mantan dan Move-on yang bersinergi...

Dan mungkin juga akan tayang film-film bergenre abege dengan mengangkat istilah-istilah yang sedang jadi trending topics tersebut: Galau, Mantan, Move-on.

Galau oh galau... Mantan oh mantan... Move-on oh move-on... Come on, baby... Let's rock...!!! *gajebo.mode.on*

Hmm... Ternyata di timeline followingku banyak Galauers yang belum pada bisa ngelupain mantan yaa... Sini, come to mama, nak...

Galauers, kalian akan susah move-on kalo masih terobsesi sama mantan... #PesanSponsor

Ternyata, kebanyakan dari para Galau'ers itu menjadi Alay'ers, Saudara-Saudari... From Galau become Alay... Waspadalah, waspadalah...

Kalau diri kita menjadi lebih baik setelah kehilangan seseorang, bukan ngga mungkin, kita akan dapatkan orang yang lebih baik :) #PesanSponsor

Yang terpenting dalam hidup bukanlah menjadi figur yang disukai banyak orang. Jadilah diri sendiri. Kelak akan datang seseorang yang menyukai setiap unsur dirimu.

Ambillah hikmah dari kisah-kisah yang 'tlah lalu. Kisah yang baik jadikan kenangan indah. Kisah yang buruk jadikan pengalaman berharga.


from my twitter’s archives: @KucingHitamz

February 27, 2012
~ Wil Twilite ~
Kamis, Maret 01, 2012

7 jenis cinta


Psikolog Amerika Serikat, Robert Sternberg menjelaskan, bahwa cinta terdiri dari tiga komponen, yaitu keintiman, gairah, dan komitmen. Ketiganya saling berkaitan dan membentuk 7 jenis cinta.

Yang pertama adalah cinta pertemanan. Dalam jenis ini, kadar keintiman lebih menonjol. Tapi minim gairah dan komitmen.

Yang kedua adalah cinta pada pandangan pertama. Gairah menjadi komponen penting, walaupun tidak ada komitmen dan keintiman.

Yang ketiga adalah cinta yang hampa. Terdiri dari komitmen. Biasanya terjadi pada hubungan yang sudah lama, karena gairah dan keintiman berkurang.

Yang keempat adalah cinta romantis, yang terdiri dari keintiman dan gairah. Komitmen...? Nggak selalu ada di cinta romantis.

Yang kelima adalah cinta setia. Gairah dalam cinta jenis ini bisa saja pudar. Tapi keintiman dan komitmennya tetap bertahan.

Yang keenam adalah cinta buta. Yang hanya berdasarkan gairah dan komitmen. Tanpa keintiman sama sekali. Cinta buta bisa jadi negatif karena hanya melibatkan rasa ingin memiliki yang mengikat dalam sebuah hubungan.

Nah, yang terakhir adalah CINTA SEJATI. Cinta ini disebut paling sempurna karena mengandung keintiman, gairah, dan komitmen. Cinta sejati cenderung lebih stabil karena terdiri dari tiga komponen tersebut. Oleh karenanya, akan lebih langgeng.



taken from: twitter account @iniWanita
Rabu, Februari 22, 2012

X-Men: Mutan dan Kita


Gambar di atas merupakan salah satu adegan favoritku dalam film X-Men First Class. Suatu malam Raven mendatangi Charles yang sedang asik duduk membaca di sofa. “Maukah kau membacakan cerita untukku...?”, tanya Raven. “Tidak malam ini. Aku sedang mempersiapkan diri untuk ujian thesisku”, jawab Charles. Raven mendekat, duduk disamping Charles, kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan Charles, “Baiklah. Bacakan saja thesismu. Aku akan mendengarkannya sebagai pengantar tidurku, seperti biasa”. Well, kurleb seperti itu dialognya, seingatku.

Charles yang sudah mengetahui bahwa dirinya ‘berbeda’ sejak masih kecil, suatu malam memergoki Raven mengendap-endap di dapur rumahnya, mencari makanan. Raven yang panik menampakkan wujud aslinya, mengira Charles akan takut padanya, namun ia salah. “Kau tak takut padaku...?”, tanya Raven heran. “Aku selalu percaya bahwa aku bukanlah satu-satunya orang yang ‘berbeda’ di dunia ini. Dan ternyata aku benar. Ada kau.”, jawab Charles sambil tersenyum, seraya mengulurkan tangannya. Selanjutnya Charles mengangkat Raven sebagai adik dan mengizinkan tinggal dirumahnya. Raven yang selama ini malu pada wujudnya, merasakan ketulusan Charles menerima dirinya apa adanya dan senantiasa memberi dorongan pada Raven agar dapat menerima dirinya sendiri yang 'berbeda'.

In my personal opinion, karakter Charles memang keren. Profesor muda yang jenius, penyayang dan kharismatik. Ditambah kemampuannya memasuki dan mengendalikan alam pikiran orang lain. Telepati tingkat tinggi.

Anyway, kalau dipikir-pikir, kehidupan para mutan dalam film X-Men mirip dengan kehidupan homoseksual (pada umumnya), dan atau kehidupan lesbian (pada khususnya). X-Men mengisahkan eksistensi mutan yang hidup berdampingan dengan manusia. Mereka dianugerahi kekuatan melebihi manusia pada umumnya, namun mengalami kesulitan dalam mengendalikannya. Sebagian mutan ada yang memiliki wujud fisik yang tak biasa, seperti Raven (Mystique). Tak jarang, mereka cenderung mengasingkan diri dari pergaulan karena merasa dan dianggap aneh oleh lingkungan. Dalam proses pencarian jati diri, mereka mencari tahu apakah di luar sana ada orang lain yang seperti mereka, berharap tak sendiri.

X-Men First Class mengisahkan awal perkenalan Charles dengan Raven di masa kecil. Selanjutnya saat dewasa, takdir mempertemukan Charles dengan Erik, menjadikan mereka sahabat. Bersama-sama, mereka mengeksplorasi kekuatan yang dimiliki dan belajar mengandalikannya. Berbekal kemampuan telepati Charles yang sangat tinggi, mereka mulai merekrut mutan-mutan yang berkeliaran di luar sana, mengumpulkannya, menaunginya. Inilah cikal bakal terbentuknya komunitas mutan.

Awalnya mereka semua bersatu dengan satu visi dan misi yaitu melatih dan mengendalikan kekuatan yang dimiliki. Sebab, kekuatan yang tidak terkontrol dapat mencelakai manusia. Namun di tengah jalan, satu peristiwa besar (momentum) menyebabkan Charles dan Erik berseberangan ideologi, yang berakibat pecahnya komunitas mutan menjadi dua kubu. Persahabatan antara Charles dan Erik pun bermutasi menjadi permusuhan.

Charles mendirikan The Xavier Institute atau X-Mansion, tempat yang disediakan bagi para mutan (X-Men) untuk bernaung dan belajar mengendalikan kekuatan yang dimiliki agar dapat berbaur dengan manusia tanpa harus merasa takut dan atau mencelakai. Di sisi lain, Erik dengan Brotherhood of Mutants-nya mengumpulkan mutan-mutan yang merasa diasingkan oleh manusia, menggalang kekuatan besar untuk menguasai dunia, menjadikan manusia sebagai musuh yang dianggap mengancam eksistensi kaumnya di muka bumi.

So... silakan dianalogikan sendiri dengan kehidupan homoseksual dan atau dunia lesbian yang kita jalani. Apakah kita termasuk pengikut aliran Charles Xavier a.k.a. Profesor-X, ataukah kita penganut paham Erik Lehnsherr a.k.a. Magneto...? Apakah kita lesbian yang sekalipun memiliki orientasi seksual berbeda, tetap menyadari bahwa kita merupakan bagian dari masyarakat, dan tetap berusaha meningkatkan kualitas diri kita dalam masyarakat...? Ataukah kita lesbian yang memilih untuk bersikap antipati terhadap masyarakat, karena merasa diri ‘berbeda’ dan hanya ingin hidup dalam lingkaran komunitas sendiri, enggan berbaur dengan masyarakat...?

--------------------------



Unfortunately, I do know you. God, I don't know what's gotten into you lately. You're awfully concerned with your looks. (Professor Charles Xavier to Raven/Mystique)

If you're using half your concentration to look normal, then you're only half paying attention to whatever else you're doing. Just pointing out something that could save your life. You want society to accept you, but you can't even accept yourself. (Erik Lehnsherr to Raven/Mystique)



~ Wil Twilite ~
Senin, Januari 30, 2012

Partner dan Kebahagiaan

Beberapa waktu lalu, ada seorang sahabat L yang curcol (curhat colongan) mengenai peran partner bagi L. She asks me, "Kak Wil, sebenarnya apa sih tujuan utama L mencari partner...? Standar kriterianya tuh kira-kira seperti apa, sih...?".

Aku bertanya, “Kalo kamu pribadi, kenapa kepengen banget punya partner...?”. Jawabnya, “Aku ingin bahagia, Kak. Sendiri tuh ngga enak. Kalau punya pacar kan enak, ada yang merhatiin, ada seseorang yang bisa kita kasih perhatian, sayang-sayangan gitu, deh, Kak...”. GUBRAAAKK...!! Tujuan memiliki partner untuk memperoleh kebahagiaan. Weleh-weleh. Itu artinya meletakkan kebahagiaan kita di tangan orang lain, dong...? Dalam hal ini partner. Ada partner kita bahagia, ngga ada partner kita ngga (berhak untuk) bahagia. Sedemikian dangkalnyakah makna kebahagiaan bagi L...?! Please deh, jangan sekali-kali memiliki tujuan semacam ini dalam mencari partner. Sebab kebahagiaan sejati itu datangnya dari dalam diri dan merupakan tanggung jawab kita sendiri sebagai lesbian dan sebagai manusia. Menyedihkan sekali orang yang hanya menggantungkan hidup dan kebahagiaannya kepada cinta orang lain. Betapa kosong hidupnya. Lebih baik menjomblo jika memang kita belum memahami benar tujuan memiliki partner. Cobalah terlebih dahulu kita mengenali dan menyayangi diri kita sebelum mengenal dan menyayangi orang lain, belajar mandiri serta meningkatkan kualitas diri. Orang yang tepat akan datang pada saat yang tepat, yang hadirnya mampu melengkapi kekurangan kita dan sebaliknya. Berhenti memimpikan “kekasih maha sempurna” yang akan datang membawa “paket lengkap kebahagiaan”, dan ketika dia pergi, “seluruh paket” kebahagiaan itu pun ikut pergi bersamanya. Tak bersisa.

Kriteria adalah ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu (artikata.com). Awalnya aku berpikir kriteria akan terbentuk setelah kita menjalani proses pengenalan diri terlebih dahulu. Ternyata aku salah. Kriteria bukanlah harga mati dalam menemukan pasangan yang cocok. Terkadang kita memiliki keinginan-keinginan dalam hati atau pikiran akan figur orang yang menjadi pasangan kita kelak. Dalam proses mencari dan menemukan cinta sejati, kita pun berpapasan dengan orang-orang yang mendekati kriteria kita.

Perjumpaan dengan Ms./Mrs. Right dapat terjadi dalam dua kemungkinan. Pertama, setelah melewati tahapan mengenal diri sendiri, kita mulai memahami kriteria partner yang kita butuhkan. Kemudian atas berkat rahmat-Nya, kita dipertemukan dengan seseorang yang sangat sesuai dengan kriteria yang kita butuhkan. Kedua, dalam kondisi masih labil dan dalam proses pencarian jati diri, dimana belum memahami benar apa yang kita butuhkan, datanglah seseorang yang hadirnya mampu membuat hidup kita lebih terarah dan bermakna, serta banyak membawa perubahan positif.

Namun tak jarang, hubungan kandas di tengah jalan karena berbagai alasan. Kemudian kita akan menemukan dan menjalin hubungan yang baru dengan perempuan lain. Begitulah siklusnya. Terkadang ada yang menganggap kita terlalu pemilih. Bagiku memilih dan menunggu datangnya orang yang tepat bukanlah suatu hal yang buruk. Sebab semua orang layak untuk bahagia dan mendapatkan “yang terbaik”, dalam konteks yang sangat personal tentunya. Yang kita butuhkan adalah dia yang bersedia menerima ketidaksempurnaan kita, dan hadirnya mampu menyempurnakan kita, begitu pun sebaliknya. Jangan membentuk kriteria pasangan yang terlampau sempurna. Sebab takkan pernah ada kesempurnaan di dunia ini. Kesempurnaan yang sejati itu hanya milik Tuhan. Hanya Dia Yang Maha Sempurna.




January 27th, 2012
~ Wil Twilite ~
Senin, Desember 12, 2011

Coming Out Story (3) ~ Finish


August 23rd, 2008


Akhirnya, hari ini datang juga. Setelah janjian lebih awal dengan Gieza untuk cari kado buat Tata, kami berdua langsung menuju tempat janjian. Sambil menunggu Tata dan Nanda, kami memesan minuman sambil melanjutkan obrolan tentang cowok gebetannya Gieza. Kurleb 30 menit kemudian, Tata muncul, kami bertiga cipika-cipiki sambil pelak-peluk bak teletubbies, tak peduli tatapan sirik orang-orang di sekeliling kami, hehehe.

Lumayan lama kami ngobrol bertiga sebelum akhirnya Nanda datang. Dari jauh dia sudah melambaikan tangan ke arah kami, Gieza dan Tata membalas lambaian tangannya, cuma aku aja yang tampak menunduk, seolah sedang asik (akting) menyeruput minumanku, dan mulai merasa ngga nyaman, entah kenapa.

Setelah bergabung, Nanda ngga langsung duduk, dia cipika-cipiki dulu sama Tata, ketawa-ketiwi, terus dia nyamperin Gieza, mengacak-acak rambut Gieza yang rada di highlite. Akhirnya, sampai deh ke aku, dia sempat melirikku sekilas sebelum akhirnya menghampiriku sambil menyapa, “Wil…”, aku berdiri dan langsung disambut pelukan hangat plus cipika-cipiki juga, seakan ngga terjadi apa-apa diantara kami. Aku pun berusaha mengimbangi sikapnya dihadapan dua teman kami ini, kubalas sapanya, “Nda…”.

Kami memesan makanan dan mulai ngobrol macam-macam, bercanda dan saling meledek. Terasa sekali suasana hangat layaknya reuni kecil yang berjalan menyenangkan karena aku dan Nanda sama-sama mampu menjaga sikap dihadapan Tata dan Gieza. Hingga adzan maghrib berkumandang. Tata dan Gieza bergegas ke musholla mall, sedangkan aku dan Nanda secara kebetulan sama-sama sedang periode. So, we’re alone now.

“Ehem, sehat, Wil…?”, Nanda mulai membuka percakapan.

“Alhamdulillah. Lo sendiri, kemana aja...?”, jawabku sambil berusaha rileks.

“Ada. Gue emang sibuk belakangan ini, sorry ya kalo gue terkesan menghindar...”

“Ngga apa-apa sih. Gue bisa ngerti kok, pengakuan gue pastinya ngga bisa langsung lo terima gitu aja. Well, sekarang, selanjutnya kita akan gimana, Nda...?”

“Hmmm, maksudnya...?”, tanyanya sambil mengerutkan dahi, tidak memahami pertanyaanku.

“Ya… lo masih bisa nerima gue sebagai sahabat lo, Nda...?”

Nanda terdiam beberapa saat sambil menyeruput juice-nya. “Hmmm, I’ve been thinking...”

“And….?”

“Ngga seharusnya gue merasa kecewa dengan jalan yang lo pilih, karena itu hidup lo. Dan gue juga sempat sharing sama Evan..….tenang, gue ngga nyebutin kalo itu lo…”, ralatnya saat melihat tatapan shock-ku mendengar nama Evan, bosnya yang gay itu, karena aku sudah kenal secara langsung. Lalu dia melanjutkan…

“Gue seharusnya bersikap lebih wise ke elo, Wil... Menghargai kejujuran lo itu... Bukannya malah lari dari lo bak seorang homophobia, sekalipun emang ngga mudah menerimanya, kalo sahabat gue ternyata lesbian...”

Aku menghela nafas panjang, kemudian kubilang, “Lo tau Nda, butuh waktu yang cukup lama buat gue sebelum akhirnya gue memutuskan untuk coming out sama elo... ini sangat sensitif… this is my big secret which is I don’t wanna let anybody knows... tapi gue butuh seseorang yang sangat gue percaya atas rahasia gue ini, untuk membuat gue merasa diterima, dengan perbedaan yang ada di diri gue... paling tidak, oleh sahabat gue yang udah seperti saudara buat gue, yaitu elo…”

“Iya, Wil. Maafin gue, ya. Gue kekanakan banget. Padahal gue aja banyak kekurangan, lo selalu mau memahami dan menerima. Lo adalah satu-satunya orang yang masih percaya sama gue, ketika orang-orang meragukan gue. That’s mean a lot for me, Wil. Sekarang gue sadar sepenuhnya bahwa perbedaan pada dasarnya ngga pernah jadi penghalang kedekatan kita selama ini...”

“Lo tau, Nda... Kemarin tuh gue udah pasrah loh, kalo lo akan menjauh dari gue setelahnya... Itu resiko gue coming out...”

Mata Nanda berkaca-kaca, seraya mengulurkan kedua tangannya, menggenggam erat kedua tanganku. Kehangatan persahabatan kembali mengalir diantara kami.

Sejenak kami terdiam, sayup-sayup terdengar lantunan lagunya Opick yang ‘Rapuh’ di resto itu. Setelah berapa lama, Tata dan Gieza pun kembali. Kami sempat cekakak-cekikik sebentar sebelum akhirnya waktu menunjukkan sudah jam 19.00 WIB, kami sepakat bubaran. Tata dan Gieza tempat tinggalnya searah dan naik bus yang sama sampai terminal Kampung Melayu, sedangkan aku dan Nanda biasanya menunggu bus di halte yang berbeda dengan Tata dan Gieza, jadi kami berdua masih jalan bareng sampai ke halte yang sama, dan melanjutkan obrolan.

“Wil…”

“Hmmmm….”

“Sebenernya, banyak yang mau gue dengar tentang masa lalu lo yang selama ini udah berhasil lo sembunyiin dengan sukses dari gue. Ya… kalo lo ngga keberatan untuk cerita sama gue, sih...”

“Ya…gue sih ngga keberatan, Nda. Kapan ya, gue certain semuanya ke elo...?”

“Gini aja, gimana kalo lo nginep di kost gue aja...? Lo kan udah lama tuh, ngga nginep di kost gue...”

“Sekarang juga, maksud lo…? Tapi kan gue ngga bawa baju, Nda...”

“Halah. Biasanya juga dulu elo sering nginep dadakan kaya gini, terus pakai baju kerja gue besoknya buat ngantor, hehehe...”

Akhirnya aku menginap di tempat kost Nanda, dan malam itu aku mulai membuka satu-persatu rahasiaku, tentang Luna, dan perjalanan rahasiaku menapaki dunia ‘the other’. Nanda mendengarkan dengan seksama cerita-ceritaku sambil sesekali berkomentar. Akhirnya, terlepas sudah satu beban di pundakku, sahabatku mau menerimaku apa adanya. Ternyata, bulan suci Ramadhan memang mendatangkan berkah, membuka pintu maaf antar sesama manusia, menjalin kembali tali silaturahmi yang sempat terputus, dan bahkan mengumpulkan 4 orang sahabat yang sudah cukup lama tidak berkumpul bersama, terlebih lagi akan ada pertemuan berikutnya untuk acara buka puasa bersama di bulan penuh rahmat ini.

Cahaya-Nya, ternyata masih menyinari sisi kehidupan yang diliputi kegelapan, kasih sayang-Nya, ternyata benar-benar menyentuh kedalam kalbu umat-Nya, tanpa pilih kasih. Tak ada yang pantas dihaturkan kehadirat-Nya selain rasa syukur, bahwa Dia tidak pernah meninggalkan diriku….Big Thanks, to the owner of this life, My Lord, Allah SWT.


~ Wil Twilite ~