Tampilkan postingan dengan label OOT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OOT. Tampilkan semua postingan
Selasa, Juni 23, 2020

Generasi Sandwich

Belakangan ini sering muncul istilahnya "perempuan generasi sandwich", apa sih maksudnya? Mungkin tulisan dari Cosmopolitan ini bisa memberi pencerahan. 

 

Konsep dan Definisi

Istilah sandwich generation pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy Miller dan Elaine Brody di 1981 yang awalnya istilah itu merujuk pada kaum wanita di umur 30-an sampai 40-an yang selain harus merawat anak-anak mereka juga masih harus memenuhi kebutuhan orangtua mereka, bos, teman-teman, dan orang lain di sekitar mereka.

Namun, pada perkembangannya fenomena ini tak hanya dirasakan oleh kaum wanita saja, tapi juga lelaki dan cakupannya pun meluas, mulai dari umur 20-an sampai 60-an. Demografinya mungkin berubah, namun secara konsep istilah ini masih sama, yaitu generasi yang “terjebak” di tengah dan harus menyokong generasi di atas dan di bawahnya yang masih harus bergantung pada bantuan mereka.

Carol Abaya, seorang ahli di isu demografi Amerika Serikat lantas mengategorikan beberapa skenario berbeda yang mungkin dialami generasi sandwich saat ini, yaitu:

Traditional Sandwich Generation: Mereka yang berada di tengah orangtua yang menua dan butuh bantuan dan anak-anak mereka yang masih diasuh dan belum bisa mandiri.

Club Sandwich: Mereka yang berumur 40, 50, dan 60-an yang berada di tengah orangtua mereka yang di usia senja, anak-anak yang sudah dewasa, dan cucu mereka. Namun istilah ini juga bisa dipakai untuk orang berusia 20, 30, 40-an yang bertanggungjawab untuk anak-anak mereka, orangtua, dan kakek-nenek mereka. Intinya istilah ini dipakai bila lapisan generasi yang terlibat lebih bertingkat.

Open-faced Sandwich: Siapapun yang ikut terlibat dalam mengurus orang lanjut usia.


Tantangan Generasi Sandwich

Menjadi bagian dari Generasi Sandwich seringkali kita dihadapkan pada tekanan finansial karena memang pendapatan habis dipakai untuk membiayai banyak orang, mulai dari orangtua yang sudah pensiun dan mungkin mulai sakit-sakitan, anak yang butuh biaya sekolah, dan tentu saja kebutuhan untuk diri sendiri dan pasangan (kalau ada) yang juga harus diperhatikan dan dipenuhi.

Selain masalah ekonomi, Generasi Sandwich juga dihadapkan pada masalah menjaga kesehatan diri sendiri secara fisik dan mental, menikmati waktu personal, dan perkembangan karier yang mungkin terhambat karena harus berkorban secara waktu, contohnya memutuskan resign dari kantor untuk mengurus usaha keluarga atau kerja di rumah agar bisa punya waktu merawat orangtua maupun anak.

Walaupun hal ini dialami baik oleh pria dan wanita, namun pada praktiknya ada perbedaan dari bagaimana masyarakat memandang fungsi keduanya. Kaum pria dianggap sudah bertanggungjawab bila mampu memenuhi kebutuhan ekonomi saja, namun bagi kaum wanita ada tekanan lebih bahwa mereka juga diharapkan untuk membantu secara emosional dan fisik. Ibaratnya, pria cukup menyisihkan gaji mereka namun bagi wanita selain mencari nafkah, mereka juga diharapkan mengerjakan pekerjaan rumah, mengasuh anak dan orangtua, hingga urusan dapur.

Merawat orangtua sekaligus mengasuh anak jelas bukan pekerjaan mudah dan menguras waktu, emosi, dan ekonomi. Ketika semua hal itu seolah tak ada habisnya dan rasanya selalu saja ada masalah baru dan pengeluaran yang harus dibayar hingga kamu tak sempat bersantai atau melakukan hal yang kamu suka, hal ini bisa berakibat negatif pada kesehatan mental dan fisikmu. Depresi, stres, dan kecemasan adalah momok yang menghantui Generasi Sandwich. Perasaan terisolasi, terjebak, tak punya tempat bercerita, dan perasaan bersalah pun sering menimpa Generasi Sandwich yang meskipun sudah berusaha keras namun merasa gagal dan belum bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga mereka.


Faktor Pendorong Generasi Sandwich

Meskipun istilah Generasi Sandwich berasal dari Barat, namun faktanya hal ini bukan asing bagi penduduk di belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia. Di Indonesia, Generasi Sandwich justru menjadi hal yang lumrah karena berbagai faktor, seperti:

1. Kultur Kekeluargaan

Indonesia masih menganut paham kekeluargaan yang kental di mana seorang anak yang sudah bekerja seakan wajib membalas budi orangtua dengan membiayai mereka di hari tua. Mayoritas dari kita tentu merasa itu hal yang sudah sewajarnya karena tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah dilakukan oleh orangtua ketika membesarkan kita. Walaupun berat, namun hal ini harus dilakukan dengan ikhlas. Kita pun mungkin mengharapkan hal yang sama dari anak kita kelak, namun sebetulnya hal ini bisa menjadi lingkaran setan yang tak putus dan hanya akan memberatkan generasi-generasi berikutnya.

Takut dicap durhaka juga membuat banyak orang Indonesia enggan memilih opsi panti jompo untuk orangtua lanjut usia. Hasil Survei Ekonomi Nasional 2017 yang dilansir Katadata (April 2018) mengungkap sebanyak 62.64% kaum lanjut usia di Indonesia tinggal bersama anak dan cucunya. Selain beban ekonomi, seringkali tinggal bersama dengan orangtua juga menyebabkan ketidakharmonisan antara mertua versus menantu yang menambah beban pikiran.

2. Perencanaan Finansial yang Kurang

Minimnya pengetahuan tentang perencanaan keuangan baik untuk masa kini dan masa depan menjadi alasan kenapa banyak generasi di atas kita yang di hari tua hanya menggantungkan nasib pada anaknya. Alih-alih menyiapkan tabungan pensiun, anak justru dianggap menjadi investasi masa tua paling ampuh. Begitu pun dengan obrolan soal finansial yang kerap dianggap tak perlu diketahui oleh anak. Anak cukup fokus memikirkan sekolah yang benar tanpa harus memikirkan soal ekonomi orangtuanya. Anggapan tersebut walaupun berlandaskan rasa cinta, namun dapat membuat anak tak siap dan peka bila kelak masalah ekonomi datang menimpa. Padahal lebih baik, anak-anak terutama yang sudah masuk usia remaja ikut dilibatkan dalam obrolan finansial dan diberi pemahaman soal mengatur uang. Ups, jangan lupa juga bercermin ke diri sendiri, apakah kita saat ini sudah mulai memikirkan rencana masa tua kita atau belum? Apakah kita cenderung hidup untuk hari ini atau bahkan terbiasa berutang?

3. Tuntutan Sosial

Selamat kamu sudah lulus kuliah dan berhasil mendapat pekerjaan dan penghasilan yang tetap. Berarti sekarang tinggal fokus mencari pasangan dan menikah dong? Kemungkinan besar kamu pasti pernah mendapat komentar seperti itu baik, baik dari saudara, teman, atau bahkan orangtua sendiri yang ingin kamu segera berkeluarga. Celetukan seperti itu memang bikin gemas ya? Di satu sisi terdengar polos dan tak punya maksud buruk, tapi di sisi lain bisa terasa begitu usil dan menjengkelkan. Masih banyak lho, orangtua yang berharap atau bahkan mendorong anaknya segera menikah tanpa melihat kondisi finansial sang anak. Bila dipaksakan, hal ini cuma akan menjadi beban pikiran di masa mendatang, terutama ketika buah hati telah datang.


Siasat Menjadi Generasi Sandwich

Memutus siklus Generasi Sandwich tampaknya memang harus dilakukan secara sadar dari kita sendiri dan mulai hari ini. Semua yang pernah atau sedang berada di kondisi ini punya cara masing-masing untuk mengakalinya, dari mulai mencari penghasilan tambahan sampai menunda menikah dan punya anak. Namun rasanya kita semua setuju kalau yang paling utama adalah menambah wawasan soal finansial.

Bagi kita yang masih di usia produktif, menyiapkan dana pensiun adalah hal yang mutlak. Selain itu, sempatkan juga waktu untuk mempelajari berbagai opsi investasi dan asuransi yang mungkin kita butuhkan baik untuk diri sendiri maupun untuk orangtua dan anak kita kelak. Tidak ada kata terlambat untuk mulai menabung, lho. Kebiasaan menyisihkan gaji untuk tabungan dan membuat bujet finansial yang jelas setiap bulan akan membantu kita menghadapi hal-hal tak terduga, mulai dari kebutuhan rumah, hingga biaya sakit dan mungkin pemakaman.

Yang penting juga adalah membangun mindset bahwa kelak kita harus bisa bertanggungjawab untuk diri sendiri dan tidak bergantung pada anak. Tanamkan pola pikir untuk mengizinkan anak-anak kita nanti menikmati kesuksesan mereka di masa mendatang dan fokus mengurus diri serta keluarga mereka nantinya.

Untuk orangtua kita yang terlanjur bergantung pada bantuan kita, yang bisa kita lakukan adalah coba membantu dengan seikhlasnya, meski kadang tak mudah. Namun, bukan berarti kita tak boleh bicara jujur tentang kondisi finansial dan beban pikiran yang kita rasakan. Berikan pemahaman yang baik tentang kesanggupan kita. Bila kita punya saudara kandung, kita pun bisa berdiskusi membagi tanggung jawab dan pengeluaran dalam membantu orangtua. Begitu juga bila orangtua termasuk yang suka mendorong kita cepat menikah atau punya anak, sampaikan dengan jelas bahwa prioritas kita saat ini mungkin belum di situ.

Nah, bagaimana untuk yang sudah punya anak atau adik yang masih harus dibiayai? Sebagai orangtua, kita mungkin harus siap memberikan edukasi keuangan kepada sang buah hati, terutama bila mereka sudah masuk usia sekolah atau remaja. Mulai dari kebiasaan menabung hingga mencari uang jajan sendiri, Cosmo percaya generasi penerus kita punya potensi dan kreativitas untuk mandiri secara finansial lebih dari generasi sebelum mereka,


Beberapa tips lain yang juga bisa diperhatikan adalah:

1. Hadapi Stres dengan Tepat

Merupakan hal wajar bila kita merasa burn out dan stres bila dihadapkan dengan maslaah atau pengeluaran yang seakan tak ada habisnya, baik di tempat kerja maupun di rumah. Seperti kata RuPaul, kalau kamu tak bisa mencintai diri sendiri, bagaimana kamu bisa mencintai orang lain? Well, salah satu kunci utama adalah jangan lupa peduli dengan diri sendiri sebelum membantu orang lain. Bila kamu merasa keteteran, beberapa hal yang bisa kamu coba adalah membuat daftar prioritas pekerjaan yang harus dilakukan dan pengeluaran yang harus dibayar, tidur yang cukup, jangan lupa olahraga, dan sisihkan waktu baik untuk personal time atau bersosialiasi dengan teman dan orang lain.

2. Jangan Merasa Bersalah

Jangan merasa bersalah bila kamu merasa butuh keluar rumah untuk sekadar bertemu teman atau menghabiskan waktu sendirian. Hal ini penting agar kamu tetap bisa fresh dan punya energi positif saat kembali ke rumah. Semua orang pun punya batasan masing-masing, merasa kurang maksimal menolong keluargamu adalah hal yang normal, namun jangan biarkan rasa bersalah itu menggerogotimu dari dalam. Kamu berhak untuk hal itu.

3. Komunikasikan Secara Terbuka

Bila orangtua termasuk punya dana pensiun dan tabungan pribadi, coba ajak komunikasi dan diskusi dengan terbuka. Bila semua orang tahu kondisi finansial masing-masing, kita bisa lebih mudah membuat rencana finansial untuk orangtua kita sendiri, khususnya tabungan pengobatan dan bahkan dana untuk pemakaman. Bukan maksudnya mendoakan orangtua cepat meninggal, namun lebih baik sedia payung sebelum hujan kan? Belum lagi karena beberapa adat pemakaman di Indonesia menelan biaya yang tak sedikit. Namun, meskipun misalnya kita diberi tanggung jawab untuk mengatur keuangan orangtua, kita tetap harus ingat bahwa itu adalah uang hasil keringat mereka sendiri dan semua keputusan harusnya sesuai persetujuan atau pendapat dari mereka.


Source Generasi Sandwich

 

Kamis, Februari 16, 2017

Pilkada Serentak, Pilihan, dan Hubungan Pertemanan


TAHUN 2017 adalah tahun ayam api. Ayamnya, yasudahlah tidak usah dibahas. Apinya itu, lho! Panas membara dan membakar. Itulah yang saya lihat, begitu maraknya perseteruan di sosial media terkait penyelenggaraan pilkada serentak di tahun ini, tepatnya tanggal 15 Februari 2017. Tiba-tiba semua orang bicara politik, meski sebagian besar hanya beropini dari sudut pandang personal. Dan semua orang tiba-tiba jadi ahli agama, terkait dugaan penistaan agama oleh salah satu Cagub yang ngga usahlah saya sebutkan namanya di sini, tapi semua orang tahu, dan sejarah telah mencatat.

Kutipan Al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat ke-6 pun menjadi populer, “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku”. Keyakinan pun dicampuradukkan dengan perpolitikan, dari segi sudut pandang. Perang pendapat pun tak terelakkan di sosial media yang begitu bebas untuk menyalurkan pendapat dan ekspresi personal, maupun kelompok. Semua orang membela habis-habisan pilihannya, mengagungkan, membenarkan, hingga mendewakan.

Bicara tentang pilihan... Pilihan itu pada dasarnya merupakan tanggung jawab individu, dalam hal memilih apa saja. Pilih makanan, misalnya. Orang yang suka mengkonsumsi makanan sehat dan yang suka mengkonsumsi junk food, tentunya akan berbeda dampak terhadap sistem metabolisme tubuhnya. Pilihan gaya hidup, misalnya. Tampil sederhana dan tampil glamour atau mengikuti trend kekinian, tentunya akan berdampak pada life cost. Hingga untuk memilih pasangan hidup, misalnya ada 2 pilihan di hadapan, maka akan berbeda kelak kelanjutan hidupmu bersama salah satu yang harus kamu pilih. Pada dasarnya, semua perlu pertimbangan yang matang, namun terkadang faktor eksternal juga mempengaruhi pilihan-pilihan kita. Apapun alasan yang mendasari pilihanmu, dan apa yang akan terjadi kemudian, all that matter is your self-responsibility to your own choice, not to all of people's choice which are different with yours. Karena menurut saya, pilihan itu sifatnya sangat personal.

Waktu Pilpres tahun 2014 yang lalu, misalnya. Saya memilih Capres yang pada akhirnya tidak menang pemilu. Seiring berjalannya waktu, saya merasa kecewa dengan berbagai kebijakan yang diterapkan oleh presiden terpilih. Mau bagaimana, toh dulu saya memang tidak memilih dia. Intinya, ketika yang menang itu bukan pilihan kita, kemudian mengecewakan. Tetaplah bersyukur karena kita memang tidak berkontribusi memberi suara untuk dia. Hal ini akan membuat kita merasa lebih baik. It’s all about state of mind. Calm your mind, then your heart will be safe. Kata dokter, semua penyakit bermula dari pikiran kita sendiri. Being positive in a negative situation is not naive. It’s leadership. This! Be a leader to yourself first.

Saya masih menyayangkan euphoria perang status di sosial media yang berdampak merenggangkan bahkan memutus hubungan pertemanan, sampai membuat sebagian orang mengeleminasi “daftar pertemanan” atau friendlist mereka. Demokrasi dan kebebasan berpendapat yang kebablasan pada akhirnya membuat suhu politik di negeri ini menjadi panas. Pertemanan yang sifatnya personal pun terkena dampak idealisme dan fanatisme segelintir orang/kelompok yang begitu mendewakan pilihannya. Namun di sisi lain, ada pelajaran yang saya dapat, bahwa semakin bertambah usia, maka kita akan semakin mengenali teman-teman kita yang sejati. Pada akhirnya semua kembali kepada diri kita masing-masing, TEMAN seperti apa yang kita butuhkan untuk berada di sekeliling kita, melewati tahapan-tahapan kehidupan selanjutnya?

~ Wil Twilite ~


Selasa, Desember 06, 2016

Annoying WhatsApp Group(s)

Kenapa WhatsApp tidak membuat konfirmasi terlebih dahulu untuk group, ya...? Betapa seringnya kita tiba-tiba sudah menjadi anggota sebuah group. Dan tidak sedikit group yang isinya sama sekali tidak penting, notifikasinya mengganggu dan membuat kita ingin left, tapi ngga enak hati.

Belum lama ini, tiba-tiba ada group jualan milik salah seorang ibu dari teman sekolah lil' angel. Dia memposting begitu banyak barang dagangan yang tidak satupun saya perlukan sama sekali. Tiba-tiba satu persatu "anggota"-nya left, kesempatan saya ikutan left juga. Miris sekali.

Ada juga group arisan yang isinya cuma menagih para anggotanya untuk membayar arisan. OMG! Bok! Udah gitu, nama orang yang keluar pada saat penarikan, difoto dan diposting di group, padahal semua anggota hadir menyaksikan. Oh, so ngga penting banget, kan?

Sindrom "Maaf, salah kirim" pun marak di group-group yang jumlahnya sudah overdosis ini, entah benar salah kirim atau terdapat unsur kesengajaan, for any reason, karena terlalu sering terjadi. Semacam ingin mencari perhatian tapi kehabisan ide. Huft!

Begitulah sekilas fenomena maraknya WhatsApp Group yang salah kaprah. Sebagian sudah saya mute, tapi angka notifikasi tetap muncul. Jadi kesannya kita dapat banyak pesan, padahal itu zonk. Hahaha... dunia ini mungkin sudah semakin mengherankan... Lucu, sih, tapi... (isi sendiri aja).


~ Wil Twilite ~
Minggu, Desember 04, 2016

Twittaland


Setiap orang menjalani hidup ini dengan caranya. Twittaland (Twitterland) merupakan refleksi kecil kehidupan yang dijalani. Tidak peduli itu akun real atau alter.

Bila dalam dunia nyata tak bebas berekspresi, maka Twittaland semestinya menjadi tempat alternatif yang nyaman. Dengan atau tanpa topeng, terserah. Menjadilah sesukamu. Mau jadi kalem atau nyinyir, itu juga pilihan. Mau monolog atau mention sana-sini, tergantung kebutuhan.

Feel free to follow or unfollow, no heart feeling. Kalau dunia nyata terasa rumit, di Twittaland baiknya dibawa santai saja. No Baper !! That's why ada option unfollow, mute, dan block. Take it easy !! Don't take Twitter seriously, maka akan hilang kesenangan menggunakannya sebagai sarana hiburan.

Ekspresi diri tersalurkan, syukur-syukur kalau bisa menambah teman. Nambah musuh lewat Twitter..?? Come on, sesuram itukah hidupmu, sampai di dunia maya pun sukanya cari musuh..?? Ckckck !! Kalau punya bakat jualan, Twittaland bisa jadi sarana untuk menghasilkan uang. Kok kamu malah memilih untuk cari musuh..?! Begitu banyak hal lain yang lebih baik untuk dicari dalam hidup ini.

Well, kira-kira begitulah sekilas review selama menjadi penghuni Twittaland. Baik atau buruk, semua kembali pada cara dan tujuan masing-masing dalam menggunakan dan memanfaatkannya.


~ Wil Twilite ~
Senin, Maret 21, 2016

The Intern

Dua minggu yang lalu, kantorku kedatangan dua orang anak magang dari PTS luar kota. Satu laki-laki dan satu perempuan. Kebetulan divisiku ditawarin duluan sama HRD-nya. Langsung aja aku minta yang perempuan, dong.. hahaha.. karena memang pekerjaannya kebanyakan yang membutuhkan sentuhan tangan perempuan juga, sih.. bukannya apa-apa..

Namanya Mayang, panggilannya "Yang" aja kali, ya... :D. Singkat cerita, aku jadi coach-nya. Dia nampaknya mengagumi wawasanku tentang hal-hal yang dia ingin tahu. Mengingat gayanya yang chic, jelas Mayang ini anak mall sejati. Selain setiap hari kita sarapan bareng di kantin kantor, dia seneng banget sesekali aku ajak makan siang ke Grand Indonesia, Sarinah, Atrium, dan lain-lain. Well, ngga cuma berdua aja, ya, catet! Rame-rame sama teman-teman kantor yang lain, dan ngga setiap hari juga, sih. Ngga mendidik banget deh, kesannya.

Hobby Mayang yang lain adalah selfie, khas abege banget, deh. Entah udah berapa kali dia ngajak aku selfie setiap kali kami duduk bersebelahan saat jam makan siang. Kalau aku boleh baper sedikit, aku merasa dia maunya emang duduk dekat aku terus, sih. Aku ngga pernah minta dikirimin foto hasil selfie-selfie-an sama dia. Please, deh, jaim dong aku.

Setelah dua minggu kami menjadi cukup akrab, Mayang dengan sopan minta nomor WhatsApp-ku, dan aku berikan. Jumat kemarin, dia kirimkan foto-foto selfie kami yang sudah diedit-edit sama dia pakai aplikasi. Aku melihat WhatsApp-nya saat sedang on the way home, diantara kemacetan, dan jadi senyum-senyum sendiri aja. Lumayan lah buat hiburan.

Keesokan harinya, pagi-pagi saat aku baru mengaktifkan handphone, ada notifikasi di instagram-ku. Mayang has requested to follow you. Wew! Dapat dari mana dia instagramku, ya? Aku tidak langsung accept. Aku diamkan saja sampai weekend ini pun berlalu.

Dan pagi ini, ketika aku sedang asik menikmati my monday morning coffee sambil baca buku ringan, tiba-tiba foto Mayang muncul di WhatsApp Call. Aku agak kaget karena masih pagi banget, ya.

"Halo..."

"Halo, Mba.. lagi di ruangan, ngga?"

"Iya nih, saya di ruangan, kenapa, Yang..? Mau ngajakin sarapan sekarang?" (Yaaaaaang... :D)

"Enggak, Mba.. Justru Mba jangan sarapan dulu, ya.. Saya bawakan sesuatu untuk Mba, saya izin ke ruangan Mba, ya.."

Tak lama kemudian, dia muncul membawa macaroni cheese.

"Kamu ulang tahun, Yang..?" (Yaaaaaaaang lagiiii.. :D)

"Enggak, Mba. Pengen bawain aja. Pokoknya ini khusus buat Mba, ya, jangan bilang-bilang yang lain, please.."

Aku sempat tersenyum bingung, dan disaat aku masih kebingungan mencerna kata-katanya, ia menambahkan, "Mba, macaroninya aman, kok, ngga ada jampi-jampinya, dihabiskan, ya..", kemudian dia berlalu meninggalkan ruanganku.

Alhamdulillah yah.. rejeki anak soleha kayaknya nih. Aku pun menikmati macaroni itu sambil lanjut ngopi. Hmm.. barangkali Mayang senang dengan coaching-an aku, kali, ya.. hehehe.. #PositiveThinking aja :)


~ Wil Twilite ~
Rabu, Agustus 14, 2013

NEWS of the Day: KPK Tangkap Kepala SKK Migas

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Prof. Dr.-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. sedang menjadi headline di sejumlah portal berita nasional karena tertangkap tangan menerima suap dari pihak swasta.

Saya mengikuti perkembangan beritanya melalui situs andalam saya, KOMPAS.com. Ada salah satu link yang menggugah saya: Prestasi Rudi Rubiandini Hancur Dalam Sekejap.

Link berita tersebut membuat saya merenung. Saya teringat peribahasa "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Baiklah, menerima suap adalah suatu kejahatan besar, seperti halnya korupsi. Namun saya membaca pada beberapa pemberitaan yang menyebutkan hal-hal positif Bapak Rudi sebelum berita ini menjadi sangat menjatuhkan beliau.

Ketua RT sekaligus tetangga beliau di Tasikmalaya menyatakan sejak kecil sampai dengan beliau menjadi pejabat dikenal sebagai pribadi yang tidak sombong dan sederhana, memiliki jiwa sosial yang tinggi dan selalu membantu tetangganya yang kurang mampu, tak pernah memperlihatkan kemewahannya, ramah pada setiap tetangga, tak segan untuk bercengkerama dengan masyarakat sekitar, hingga kalangan tukang becak di kampungnya.

Rekam jejaknya di bidang perminyakan pun menyatakan beliau dikenal sebagai seorang akademisi ulung di bidang perminyakan. Menyelesaikan jenjang Sarjananya di ITB, melanjutkan Pascasarjana di Technisce Universitaet Clausthal, Jerman, dan meraih gelar Doktor pada 1991. Meraih penghargaan sebagai dosen ITB teladan pada 1994 dan 1998. Gelar guru besar pada 2010. Kemudian pada 2011 diangkat sebagai Deputi Operasi Migas oleh Presiden SBY. Wakil Menteri ESDM pada 2012. Dan akhirnya menjabat Kepala SKK Migas.

Luar biasa, bukan...? Rudi Rubiandini memang orang hebat. Tak diragukan lagi. Dan kini, semua prestasinya hancur dalam sekejab. Bahkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD "tega" menyebutnya sebagai "Musang Berbulu Ayam". Ckckckck...!!!

Bagaimana dengan Alm. Presiden Soeharto...? Saat kejatuhannya, beliau begitu dihujat habis-habisan, rakyat Indonesia "sesaat" melupakan jasa beliau membangun negeri selama 32 tahun berkuasa. Saya melihat saat ini Pak Rudi tengah "dihakimi" layaknya Pak Harto dulu. Hati nurani saya sesungguhnya tersentuh atas pemberitaan ini. Saya mencoba berempati pada Pak Rudi. Bagaimana bila saya menjadi seperti beliau atau Pak Harto. Sudah menempuh berbagai pengalaman dan tahapan hingga sampai pada puncak karier saya, dengan tentu saja mengerahkan segenap kemampuan, daya dan upaya yang saya miliki secara maksimal, hingga akhirnya berkontribusi besar dalam bidang yang saya geluti. Lalu langkah saya terpeleset. Satu kesalahan saya lakukan, dan semua orang serta merta menghujat saya tanpa terlebih dahulu bersedia mengetahui latar belakang terjadinya semua itu, dan yang paling parah, melupakan semua "kebaikan-kebaikan" dan kontribusi saya selama ini. Momen #JLEBB banget.

Saya menuliskan ini bukan untuk membela Pak Rudi. Sebab kasus ini seyogyanya biarlah menempuh proses hukum yang berlaku di negeri ini. Saya hanya ingin merenungkan pribahasa "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga" tadi. Marilah kita menjaga langkah. Dan jangan pula kita menjadi penunding, seperti misalnya yang dilakukan Pak Mahfud MD. Lebih baik bercermin diri. Apakah diri kita ini sudah lebih baik dari orang yang kita hujat habis-habisan...? Setidaknya, kita tahu bagaimana sosok Pak Rudi di mata kerabat dan lingkungan tempat beliau dibesarkan. Sebagaimana kita tahu sosok Pak Harto di mata keluarga, kerabat, dan orang-orang yang "merasakan dan menerima" kebaikan beliau semasa hidupnya.

Bagaimana dengan Pak Mahfud MD di mata lingkungan terdekatnya dan masyarakat...?

Bagaimana dengan diri kita sendiri...?


~ Wil Twilite ~
Sabtu, Juli 27, 2013

"MEMBACA-lah..." (agar lebih "PEKA")

Selepas subuh merupakan waktu yang baik untuk MEMBACA. Ketika pikiran masih begitu jernih dari hal-hal duniawi lainnya.

Membaca bagai menyelami sisi dunia yang lain. Dalam waktu singkat kita bisa berada di atas kereta Shinkansen Jepang, tersesat di belantara Amazon, menjelajah Himalaya, atau bertamasya di dalam Pyramid Mesir. Di mana saja, di belahan bumi ini.


Membaca membuat kita "berjumpa" dengan banyak orang, banyak karakter, banyak tokoh yang mengalirkan inspirasi dan motivasi diri. Mengambil hikmah atau pelajaran dari pengalaman mereka bagai diary yang diwariskan.


Membaca adalah sumber pengetahuan. Melekat di suatu ruang dalam pikiran. Untuk diingat dan bisa menjadi pedoman dalam melangkah.


Tergantung bacaannya...? Tentu tidak demikian. Melainkan tergantung bagaimana kita menyerap setiap apa yang kita baca. Biarkan otak kita memilah.


Mari membaca. Agar kita tidak mudah diperdaya tipu muslihat "orang-orang pintar" yang "minterin" orang lain. Agar kita mawas diri, berbekal wawasan.


Dengan banyak membaca, semakin tajam kita dapat membedakan mana ide-ide orisinil dan mana yang plagiat. Sekarang marak sekali. Plagiat intelektual.


Bila berkarya, patenkan hak cipta, jangan biarkan dipoles oleh "plagiat intelektual" yang akan dengan bangga mempublikasikan karya orang lain atas nama dirinya.


Be aware, be smart...!!! Sebait, dua bait hasil goresan pena kita merupakan cerminan diri kita yang sejati. Orang boleh terinspirasi, namun bukan mengakui sebagai hasil karyanya.



~ Wil Twilite ~
Jumat, November 30, 2012

Mastyan Agustino; Remaja Transgender

Masti Agustina, terlahir 14 tahun lalu sebagai perempuan. Namun beranjak dewasa ada perubahan pada kelamin dan fisiknya, condong ke arah laki-laki. Perubahan itu membuat hati Masti resah. Dibantu orang tuanya, ia kemudian mengajukan permohonan perubahan status jenis kelamin ke Pengadilan Negeri (PN) Kendal dari perempuan menjadi laki-laki. Permohonan itu akhirnya dikabulkan. Dan kini nama Masti Agustina berubah menjadi Mastyan Agustino.

Tian, begitu kini ia disapa. Sejak kecil sudah merasa berat menjalani peran sebagai perempuan yang harus mengenakan rok dan pita rambut, ia rasanya enggan. Usai pemeriksaan di RSU Kariadi Semarang, akhirnya ia bisa bernafas lega. Hasil pemeriksaan menunjukkan hormon dan kromosom dirinya dominan laki-laki.

Atas dasar itulah orangtuanya memberanikan diri untuk mengajukan pergantian status jenis kelamin anak sulungnya. Pada 11 September lalu, PN Kendal mengadakan persidangan untuk pergantian status jenis kelamin yang dimohonkannya. "Dalam pertimbangan kami, berdasarkan keterangan saksi-saksi beserta para ahli menunjukkan bahwa kromosom pemohon lebih banyak kelaki-lakian. Itulah yang menjadi dasar kami mengabulkan permohonan status jenis kelamin dia dari perempuan menjadi laki-laki", tegas Didik Budi Utomo, hakim tunggal yang memimpin persidangan. Selain mengabulkan permohonan, hakim juga meminta kepada catatan sipil setempat untuk mengubah segala dokumen yang menunjukkan Tian dari perempuan menjadi laki-laki dengan perubahan nama barunya.

Sejak lahir 25 Agustus 1998, bidan yang membantu proses persalinan ibunda Tian mengatakan bahwa alat vital Tian tidak sama persis dengan bayi perempuan pada umumnya. "Ada bagian yang seperti burung, tetapi kecil", tutur ibunda Tian. Namun karena bidan meyakinkan kalau Tian adalah perempuan, maka ia dibesarkan selazimnya anak perempuan dengan pakaian dan dandanan perempuan. Ibunda Tian merasa janggal ketika Tian mulai mengenal mainan, ia lebih memilih dan menyukai mainan anak laki-laki, dan lebih suka bermain dengan anak laki-laki.

Tian mengakui bahwa sejak SD, ia sudah merasa tidak nyaman ketika harus memakai rok ke sekolah. Setibanya di rumah, ia langsung berganti kaos dan celana saja, dan merasa lebih nyaman. Mulanya ibunda Tian menganggap tabiat anaknya masih dalam batas wajar. Tian cuma tomboi saja. Namun semakin hari ia resah karena sikap Tian semakin jauh dari perempuan pada umumnya. Saat kelas 6 SD, suaranya membesar, payudara tidak mekar atau menonjol, dan tak kunjung mengalami menstruasi. Tian dibawa ke bidan. Sekali lagi bidan meyakinkan tidak ada masalah, katanya Tian hanya terlambat mengalami itu semua.

Setamat SD, orangtua Tian memutuskan memasukkan ke pesantren dengan harapan Tian akan berkurang sikap tomboi-nya dengan tinggal di asrama. Ternyata berbagai masalah justru muncul saat Tian menginjak kelas IX. Salah satunya adalah menyukai perempuan. Diam-diam Tian pun berpacaran dengan perempuan yang juga siswi sekolah itu. Mereka biasa nge-date di taman atau di kamar mandi sekolah, dan akhirnya ketahuan. Tian sendiri tidak begitu merasa bersalah sebab menurut kata hatinya dirinya adalah laki-laki. Katanya ketika melihat perempuan atau tanpa sengaja mengintip perempuan sensasinya justru lain dan lebih hebat.

"Karena status saya juga perempuan waktu itu, mungkin saya dikira lesbian. Dan sekolah nggak bisa mengampuni hal itu", kata Tian. Pacaran sesama perempuan di pondok pesantren tentu dianggap terlalu kelewatan. Ia pun kena skors 2 bulan. Namun ia kecewa karena hanya dia yang kena skors, sedangkan perempuan pacarnya itu tidak. Rasanya tidak adil.

Walau kecewa, Tian tetap mengucap syukur sebab kejadian ini berbuah hikmah juga. Orangtuanya jadi terdorong untuk memeriksakan kondisi kejiwaan maupun fisiknya ke dokter yang akhirnya menyatakan dirinya sebagai seorang laki-laki. Tian bersyukur memiliki orangtua yang lapang dada menerima kondisinya sebagai seorang transgender. Apalagi mau berjuang mengajukan pergantian status kelamin ke pengadilan dan berhasil. Di lingkungan tinggalnya, kini banyak orang sudah mengerti kebenaran tentang dirinya, bahkan menerimanya dengan baik. Padahal sebelumnya Tian sempat depresi dan mengurung diri, karena tidak percaya diri untuk bergaul dengan orang lain.

Kini Tian sudah bisa meneruskan studinya yang sempat terbengkalai. Memupuk kembali harapannya yang sempat pupus karena sempat ditolak oleh sebuah sekolah yang notabene direkomendasikan oleh Dinas Pendidikan Kendal. Teman-teman di sekolahnya yang sekarang pun baik, tidak seperti di sekolahnya dulu, banyak yang mengejek.

Tian sadar kalau dirinya adalah transgender. Kondisi yang tidak gampang dipahami orang lain. Ia tahu istilah transgender dari seorang aktivis perempuan, teman ayahnya yang menjadi pendamping serta tempat curhatnya. Tian memahami, masih banyak pihak yang "enggan" memahami "kelainan" orang-orang transgender semacam dirinya. "Ada yang bilang saya menyalahkan kodrat Tuhan. Padahal saya ini ingin membenarkan kodrat Tuhan, kalau saya adalah laki-laki. Mereka tidak mengerti susahnya jadi seorang transgender", ujarnya.

Kini, ada satu harapan Tian yang belum kesampaian yaitu melakukan operasi kelamin untuk menyempurnakan kondisi fisiknya. Ia mengatakan, testis masih berada di dalam perut. Kalau tidak secepatnya diambil bisa menjadi kanker. Namun biaya operasi yang diperlukan berkisar 80 jutaan, terlalu berat bagi keluarganya yang biasa-biasa saja.

Menurut dr. Ketut Lila Murti, SpA, Tian pada dasarnya mengalami kasus transgender, yakni keadaan dimana seseorang memiliki jenis kelamin yang tidak spesifik laki-laki atau perempuan. Jenis kelamin seperti ini - sejalan pertumbuhan anak - akan berkembang sesuai hormon yang paling dominan di tubuh anak. Jika yang dominan itu hormon laki-laki maka kelamin itu akan berkembang menjadi kelamin pria. Sebaliknya jika yang dominan hormon perempuan, maka kelamin itu akan berkembang menjadi kelamin perempuan.

Menurut Ketut, Tian nantinya bisa menjalankan fungsi seksualnya sebagai laki-laki dewasa dengan catatan organ genitalia itu lengkap, misalnya mampu ereksi, ada testis, testis mampu memproduksi sel sperma berkualitas.

Artikel & Gambar: Majalah Kartini edisi November 2012

---------------------------

Sungguh salut pada kasih sayang, penerimaan dan perjuangan kedua orangtua Tian ketika mendapati anak mereka seorang transgender. Tian hanya salah satu dari kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) yang ada di Indonesia. Semoga Tian segera dapat melangsungkan operasi untuk menyempurnakan kelaki-lakian dirinya.

Dari kisah ini mungkin kita dapat lebih membuka mata, bahwa LGBT bukanlah sesuatu hal yang dengan sengaja diinginkan oleh yang bersangkutan, namun merupakan naluri alamiah yang diberikan oleh Sang Pencipta. Tidaklah mudah menerima keadaan diri yang berhasrat dan jatuh cinta pada sesama jenis, seberapa keras pun kita mencoba ingkari dengan menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Namun, hidup selalu tentang pilihan. Semua kembali pada pribadi masing-masing. Sebagian kaum LGBT ada yang mampu mengendalikan dorongan naluri alamiahnya, sebagian lagi tidak. Serta faktor eksternal (keluarga/lingkungan) tentunya juga dapat mempengaruhi jalan hidup yang kita pilih. Stay in the closet or coming out, it's up to you. Jadilah pribadi yang senantiasa bertanggung jawab atas jalan hidup yang kita pilih. Walau terlahir sebagai LGBT, kita masih umatNya, seorang anak, bagian dari suatu perusahaan dan masyarakat. Mari tetap dekatkan diri kepadaNya, jadi anak yang berbakti, dan terus berprestasi. Kita ada diantara masyarakat. Biarkan mereka melihat kita sebagai "pribadi", dan LGBT cukuplah untuk diri kita, kalangan sendiri, dan orang-orang yang kita percayai. Penerimaan biarlah menjadi proses alamiah.

Just my personal noted,
Wil Twilite


Rabu, Agustus 01, 2012

Sharon Stone cium bibir wanita misterius


this article taken from: detik.com (14/02/2012)

Jakarta - Aktris Sharon Stone sudah kerap melakoni aksi cium bibir wanita. Kali ini, dia kepergok memberikan ciuman panas pada seorang wanita misterius di Los Angeles.

Seperti dikutip dari Radar Online, Sharon tampak berciuman bibir dengan seorang wanita di Los Angeles, Minggu (12/2/2012). Dalam foto yang dimiliki Radar, si wanita tampak memegang lengan aktris 53 tahun itu saat melakukan ciuman tersebut. Bersama si wanita misterius yang mengenakan baju hitam, aktris yang berperan sebagai biseksual dalam 'Basic Instinct' itu awalnya terlihat berjalan-jalan di kawasan Hollywood Barat. Keduanya kemudian berhenti dan berciuman bibir.

Aksi mencium bibir wanita baru-baru ini juga dilakoni Sharon saat menghadiri acara 2012 AARP Movies for Grownups Awards. Dia mendekatkan bibirnya ke bibir aktris Katy Griffin. Tentu saja hal itu dilakukan bukan karena keduanya menjalin asmara, tapi lebih pada lelucon.

Dalam sebuah wawancara pada 2008, Sharon pernah mengatakan kalau semua orang sebenarnya adalah biseksual. "Sekarang pria bertingkah seperti wanita. Memiliki suatu hubungan juga sulit karena aku sebenarnya suka pria zaman dulu. Aku suka maskulinitas dan sejujurnya hanya wanita yang memiliki hal itu sekarang," urai aktris yang pernah berakting sebagai lesbian bersama Ellen Degeneres dalam film produksi HBO, 'If These Walls Could Talk 2'.

-----------------

Aiiihh... jadi, menurut Mbak Sharon, saat ini sudah begitu sulitnya menemukan pria yang benar-benar maskulin, dan hanya wanita yang memiliki hal itu sekarang...? Masa iya sih, Mbak...? Perasaan masih banyak deh cowok-cowok maskulin yang sliweran di sekitar kita. Hehehe.

Well, whatever the reasons, ketertarikan wanita terhadap sesama wanita bisa saja dilatarbelakangi oleh alasan apapun. Dan, tak ada yang salah. Bukankah itu naluri alamiah...? Sexuality is fluid.


~ Wil Twilite ~
Kamis, Maret 01, 2012

7 jenis cinta


Psikolog Amerika Serikat, Robert Sternberg menjelaskan, bahwa cinta terdiri dari tiga komponen, yaitu keintiman, gairah, dan komitmen. Ketiganya saling berkaitan dan membentuk 7 jenis cinta.

Yang pertama adalah cinta pertemanan. Dalam jenis ini, kadar keintiman lebih menonjol. Tapi minim gairah dan komitmen.

Yang kedua adalah cinta pada pandangan pertama. Gairah menjadi komponen penting, walaupun tidak ada komitmen dan keintiman.

Yang ketiga adalah cinta yang hampa. Terdiri dari komitmen. Biasanya terjadi pada hubungan yang sudah lama, karena gairah dan keintiman berkurang.

Yang keempat adalah cinta romantis, yang terdiri dari keintiman dan gairah. Komitmen...? Nggak selalu ada di cinta romantis.

Yang kelima adalah cinta setia. Gairah dalam cinta jenis ini bisa saja pudar. Tapi keintiman dan komitmennya tetap bertahan.

Yang keenam adalah cinta buta. Yang hanya berdasarkan gairah dan komitmen. Tanpa keintiman sama sekali. Cinta buta bisa jadi negatif karena hanya melibatkan rasa ingin memiliki yang mengikat dalam sebuah hubungan.

Nah, yang terakhir adalah CINTA SEJATI. Cinta ini disebut paling sempurna karena mengandung keintiman, gairah, dan komitmen. Cinta sejati cenderung lebih stabil karena terdiri dari tiga komponen tersebut. Oleh karenanya, akan lebih langgeng.



taken from: twitter account @iniWanita
Kamis, Februari 02, 2012

Intermezzo


Aku menyukai pekerjaanku. Di sela-sela jam kerja yang menggila dan tekanan yang kadang membuat depresi, aku masih bisa menemukan kesenangan tersendiri. Salah satunya adalah membaca-baca beberapa surat kabar ibukota dan majalah wanita yang dikirimkan langsung oleh masing-masing redaksi ke meja bosku. My boss sesekali melirik jika halaman yang sedang kubuka adalah cerpen :D. Hehehe. Biarlah. Toh setiap kali dia menanyakan rubrik-rubrik tertentu yang ‘seharusnya’ aku baca, aku bisa menjawabnya.

Cuplikan cerpen berikut, cukup menarik. Setidaknya, cukup menarik untuk kusimpan di blog tercintaku ini.

-------------------------------------

Amarah Resti yang tersulut karena Kay, memancing perasaan asing yang selama ini tak mampu kuterjemahkan. Kay belum pernah berteriak ketika amarah menguasainya. Perempuan itu selalu memilih diam. Berbeda dari Resti yang selalu mengeluarkan apa saja yang berkecamuk dalam hatinya. Wanita itu selalu terus terang dalam segala hal, walaupun keterusterangannya terkadang menyakitkan.

Sesuatu dalam diri Resti mengeluarkan sisi diriku yang tak pernah kuketahui selama ini. Aku ingin dimengerti oleh wanitaku. Ada riak senang menyadari bentuk perhatian yang selama ini tak pernah kurasakan. Mendiamkan segala kegundahan hati ternyata tak pernah menuntaskan masalah. Menegurku dengan lengkingan suara prajurit di medan perang, justru membuatku sadar kalau aku tak boleh mengulangi kesalahan apa pun yang dapat menyulut emosi Resti hingga batas maksimal.



Cerpen: Second Wife (Rara Lingga, Kartini 2314, 2012)
Jumat, Desember 16, 2011

Rumah, riwayatmu kini...


Malam minggu itu hujan turun tak henti, istilahnya awet. Di sela-sela membaca novel, aku pun iseng mainan twitter, membaca timeline yang sliweran di sana. Semua bicara tentang hujan. Dari versi romantisnya hujan hingga kemacetan jalan yang kerap terjadi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Well, macet memang sudah tradisi, sih, yaaa... tapi semakin mantabs ketika di mix dengan hujan dan weekend, plus tanggal muda... hehehe...

Hmmm... itulah ironisnya zaman sekarang, dimana masyarakat urban cenderung tak betah dirumah. Buktinya, sekalipun diguyur hujan seharian, lalu lintas tetap saja padat. Semua mall pun dipadati lautan manusia. Fenomena ini selain menandakan daya beli masyarakat urban yang relatif tinggi, juga membuktikan bahwa mereka cenderung tidak betah dirumah dan lebih memilih menghabiskan waktu di luar rumah, salah satunya di mall.

Pemandangan seperti ini tentunya sudah tidak asing lagi, ketika banyak orang sliweran di mall, entah pasangan, teman, atau keluarga, sedang duduk-duduk di coffee shop, namun nyaris tidak berinteraksi satu sama lain, sibuk sendiri dengan gadget masing-masing (smartphone, tablet, notebook, playstation, dll). Pernah kulihat seorang ibu bersama 3 orang anaknya, masing-masing pegang notebook, termasuk ibunya juga. They don’t even have communicate to each other. Duh, Buuuu... mendingan dirumah aja, kaleee... ngobrol-ngobrol sambil minum teh dan menikmati cemilan buatanmu... Apalagi, kalau diperhatikan secara penampilan dan dari merk notebook yang mereka punya, kemungkinan besar mereka dari kalangan the have, rumahnya barangkali luas dan indah. Kalau orang Betawi bilang, rumah gedongan, dah... Tapi kenapa mereka prefer spending time at mall, yaa...? Dalam ‘kebersamaan’ yang sama sekali ngga berkualitas begitu, pulaaa...!! #TanyaKenapa...?

Rumah oh rumah, riwayatmu kini... Sudah semakin banyak rumah-rumah yang tak berjiwa, hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan raga setelah lelah beraktivitas seharian. Secanggih apapun inovasi teknologi menyediakan alat-alat rumah tangga modern nan praktis, tidak lantas membuat penghuninya betah di rumah, dan masih mencari hiburan di luar rumah.

Jadi, apakah fungsi rumah saat ini, selain sebagai tempat persinggahan semata...? Sebagai aset...? Sebagai tolak ukur tingkat kemapanan seseorang...? Atau hanya sekedar sebagai tempat menampung dan meletakkan barang-barang saja...? Oh, nooo...!! Kasihan nasibmu, rumah... :(

--------------
A house is made of walls and beams; a home is built with love and dreams ~ Anonymous

Home is not where you live, but where they understand you ~ Christian Morganstern

I long, as does every human being, to be at home wherever I find myself ~ Maya Angelou

Home is the place where, when you have to go there, they have to take you in ~ Robert Frost

Home is the place where it feels right to walk around without shoes ~ Anonymous

There's nothing half so pleasant as coming home again ~ Margaret Elizabeth Sangster

A man’s homeland is wherever he propers ~ Aristophanes

Not going home is already like death ~ E. Catherine Tobler

Luxuries are never so comfortable as are familiar, ordinary things of home ~ Eucharista Ward

Mid pleasures and palaces though we may roam, be it ever so humble, there’s no place like home ~ John Howard Payne

There is a magic in that little world, home; it is a mystic circle that surrounds comforts and virtues never known beyond its hallowed limits ~ Robert Southey

Home, the spot of earth supremely blest, a dearer, sweeter spot than all the rest ~ Robert Montgomery



~ Wil Twilite ~
December 10th, 2011
Kamis, Oktober 13, 2011

SHIT HAPPENS


Novel SHIT HAPPENS ini aku baca sekitar pertengahan tahun 2008. Ketika itu tertarik aja sama covernya yang lucu dan unik, sambil aku baca-baca bagian belakang covernya. Hmmm, sepertinya ceritanya fresh dan mengandung unsur humor yang cerdas, mengingat ketika itu novel-novel lain yang kubeli kebanyakan masuk kategori serius.

Ternyata Shit Happens memang novel yang menarik. Ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil tanpa merasa digurui oleh si penulis. Bahasanya yang blak-blakan juga menjadi daya tarik tersendiri dalam menikmati lembar demi lembar kisahnya.

Bercerita tentang 3 orang sahabat yaitu Sebastian, Lula dan Langit. Mereka bertiga tengah diuber deadline untuk segera mengakhiri masa lajang oleh keluarga dan lingkungannya. Dalam perjalanan untuk mewujudkan itu, mereka melakukan berbagai upaya hingga akhirnya 'menemukan' diri mereka yang sejati setelah melewati berbagai kejadian. Persahabatan mereka cukup unik, banyak sisi menariknya gitu deh, menurutku. Smart story lah pokoknya. Plus gaya berceritanya yang so easy tapi berbobot, bikin membaca buku ini terasa ngga membosankan.

Saking kerajinannya, aku sempat menyalin beberapa point yang kuanggap menarik. Well, aku ingin membaginya disini. Bagi yang sudah baca, mungkin bisa flash back sama bagian-bagian ini. Dan bagi yang belum baca, silakan cari novelnya dan baca, ngga akan menyesal deh. Atau boleh pinjam punyaku kalau mau ^^

~~~~~~~~~~~~~~~

“Oke, banyak memang yang menganggap wajar orang-orang gay. Mereka bilang, sah-sah saja hidup dengan preferensi seksual seperti itu. Tapi aku enggak. Lebih tepatnya, aku, mama, dan sebagian besar manusia di bumi Indonesia ini. Gay itu penyakit. Gay itu dosa. Aku nggak mau mengambil resiko dikucilkan karena jadi gay”. (Sebastian)

“God, forgive me. Ternyata, susah ya hidup lurus sesuai aturan main-Mu...?” (Sebastian)

“Orientasi seksual tak pernah bohong. Dia memilih. Bukan dipilihkan. Sama seperti rasa”. (Langit)

“Gini deh, seandainya gue ngaku ke orangtua gue kalo gue lesbi, misalnya. Kalo lo ngira nyokap gue bakal meluk gue dengan penuh haru, “Ooh, anakku ternyata jadi lesbi, syukurlah, Nak...” – LO SALAH BESAR”. (Lula - ditujukan ke Sebastian yang coming out ke nyokapnya, ngaku dirinya gay)

~~~~~~~~~~~~~~~

“Pernikahan nggak membatasi siapa pun. Memang, secara otomatis semuanya akan terbatasi, tapi bukan berarti mengekang, kan...?” (Lula)

“Gue dukung opini lo tentang pernikahan. Pernikahan nggak seharusnya mengekang. I’m not against you. But, what I don’t like is your way of escaping from that situation. You did not even give any chance to him. You didn’t even try to explain anything. Lo cuman defend”. (Langit)

“Gue curiga, jangan-jangan justru elo yang sebenarnya selama ini belum berani terikat dengan komitmen. Tapi, lo malah nyalahin semua cowok yang punya hubungan dengan lo. Hanya karena lo nggak cukup punya nyali buat nyalahin diri lo sendiri. Nggak mau ngakuin kalo persoalannya ada di elo. Elo yang belum sanggup mengomunikasikan semuanya. Elo yang belum sanggup berkomitmen. Elo belum siap nerima orang yang paling dekat sama elo justru berbeda pendapat sama elo”. (Langit)

“Yes. You’re just hearing, not listening. You’re just speaking, not talking”. (Langit)

“Muka Stitch yang bengal abis malah bikin gue merenung. Ke mana aja gue selama ini...? Kayaknya, gue terlalu sibuk dengan pikiran sendiri. Gue terlalu egois. Karena ngga ingin disakiti, gue menuntut orang yang harus memahami gue. Gue lupa, dalam setiap hubungan harusnya kita saling mendengar, saling berbicara. Mengomunikasikannya. Bukan langsung ambil langkah seribu ketika perbedaan terlihat. Gue anggap selama ini gue udah banyak berbicara. Ternyata keliru. Gue cuman sekedar ngomong. Gue ngga pernah benar-benar mengomunikasikan apa pun. Gue cuma takut dituduh nggak bisa berkompromi. Nggak penuh toleransi. Gue masih gagap dengan konsep sebuah komitmen dalam berhubungan. Gue menjadikan perbedaan yang ada sebagai alasan pembenaran untuk pergi. Langit benar, persoalannya bukan berada di cowok-cowok yang pernah dekat dengan gue. Persoalannya ada di diri gue sendiri. Gue yang belum siap berkomitmen”. (Lula)

~~~~~~~~~~~~~~~

“Tapi gue nggak bisa toleransi sama yang namanya perselingkuhan”. (Sebastian)

“Nope. Selingkuh artinya melanggar kesepakatan untuk setia yang telah kita buat sebelum memutuskan jadian. Dia nggak cuma berbohong, dia juga nikam gue dari belakang, menertawakan ketidaktahuan gue, melecehkan gue. Siapa tahu, dia juga mungkin doing something sama selingkuhannya di luaran sana. Mana gue tahu. Intinya, no excuse for cheating”. (Sebastian)

~~~~~~~~~~~~~~~

Langit : “Gue nggak nuduh elo kok”
Lula : “Secara verbal sih enggak. Tatapan lo aja udah cukup ngasih statement”

“The FUTURE should be a place where we WILL go, not something that will come to us where we are NOW”

“Don’t stay too much longer in front of one door that already closed. You can’t see that the other door has opened for you”. (Alex)

“Yup. Selama ini gue udah terkungkung dengan pikiran gue sendiri. Terlalu ingin memahami orang lain membuat gue lupa memahami apa yang sesungguhnya diinginkan diri gue sendiri. Gue terlalu ingin mempertahankan label kalau gue adalah orang yang penuh pengertian. Yang bisa memahami apa pun lebih dari orang lain. Tapi akhirnya, gue justru menyakiti diri gue sendiri. Justru tak memberi ruang buat jiwa gue”. (Langit)

“Memahami orang lain memang nggak gampang. Tapi, jujur dengan diri sendiri ternyata lebih sulit”. (Langit)

“I learned one thing today. Tentang memahami dan keikhlasan dalam memahami. Ternyata ikhlas itu nggak sama dengan sekedar memahami. Hari ini, gue memutuskan untuk keluar dari sudut pandang gue, lalu mencoba lebih banyak menggali dari sudut pandang orang lain. Well, setidaknya, gue bakal mulai dengan mengutarakan apa yang sebenarnya ada di hati gue. Oh...no...no..., gue harus memulainya dengan memaafkan orang lain tanpa tendensi. Memaafkan bukan lantaran gue pengen dianggap pemurah atau penuh pemahaman – just like what I did selama ini. Bukan. Memaafkan jenis itu ternyata hanya bikin gue semakin sakit dan menciptakan lebih banyak kemarahan. Gue ingin memaafkan orang lain karena itu bikin gue ngerasa lebih baik". (Langit)

...memaafkan orang lain ternyata membuka pintu untuk menerima diri gue sendiri. Gue nggak bakal bisa menerima diri gue sendiri tanpa terlebih dahulu memaafkan. Jauh di lubuk hati gue, gue juga ingin dimaafkan. Dimaafkan untuk kepura-puraan gue selama ini”. (Langit)

~~~~~~~~~~~~~~~
Shit Happens : Christian Simamora + Windy Ariestanty



~ Wil Twilite ~
Kamis, Mei 19, 2011

Bagaimana caranya seorang homoseks berubah...?


Bagaimana caranya seorang homoseks berubah...?

Ia tidak dapat...!!

Banyak dari kaum homoseks yang telah mencoba untuk bebas dari tekanan sosial. Pada kenyataannya tidak seorangpun berhasil. Sebagaimana faktor biologis menjadi lebih jelas, lebih mudah lagi sekarang untuk memahami mengapa hal ini menjadi mitos bahwa seseorang dapat merubah orientasi seksualnya.

Orientasi seksual ini terlalu mendasar dalam diri kita untuk dapat diubah. Anda tidak dapat merubah seorang homoseks menjadi seorang heteroseks, atau kebalikannya...!!! Ada saatnya seorang psikiater menggunakan terapi elektro-shock. Hasilnya sama saja dengan metode cuci-otak. Walaupun demikian, percuma. Sekarang ini, pengobatan seperti itu dianggap tidak etis dan sebuah bentuk penyiksaan.

.............................

Apa yang bisa dilakukan oleh seorang psikiater...?

Mereka tidak dapat mengubah orientasi seksual siapapun...!!

Tapi sebagian kecil dari kaum homoseks memperoleh keuntungan dari penyuluhan dan bantuan para ahli. Mereka adalah orang-orang yang merasakan beban berat dari tekanan sosial, depresi, dan bahkan berada dalam tahap awal bunuh diri. Para ahli dapat membantu mereka menyadari situasi ini dengan cara yang lebih positif, dan memperbaiki kepercayaan diri mereka. Bagaimanapun juga, mayoritas terbesar kaum homoseks tidak membutuhkan bantuan para ahli. Mereka dapat beradaptasi dengan baik, sangat percaya diri. Secara psikologis, mereka dapat mengatasinya dengan baik meskipun banyak sekali prasangka dan diskriminasi yang dialami dalam lingkungan hidup mereka.

.............................

Bagaimana saya bisa membujuk mereka untuk lebih sering berbaur/bergaul dengan lawan sejenis...?

Mengapa anda ingin membujuk seorang homoseks untuk lebih bergaul dengan lawan jenis...? Apakah Anda berharap ia akan berubah menjadi heteroseks...? Seperti yang telah tertera di atas, orientasi seksual tidak dapat dirubah.

Dengan berusaha "membujuk" seorang homoseks untuk melakukan ini dan itu, Anda menunjukkan ketidak-percayaan terhadap hak pilih seseorang untuk memilih teman-temannya secara bebas. Apakah Anda ingin pula ditekan oleh orang lain untuk melakukan sesuatu yang bagi Anda sendiri tidak menarik...? Anda akan menganggap hal itu sebagai gangguan/paksaan yang tidak dapat dibenarkan.


*) sumber : Google

Pada saat umur berapakah seseorang menjadi homoseks...?


Kembali, sebuah pertanyaan sesat. Tak seorangpun "menjadi" homoseks. Kebanyakan seorang homoseks melaporkan bahwa ia menyadari bahwa dirinya homo pada saat usia remaja. Jumlah yang lebih kecil dilaporkan bahwa mereka telah menyadari bahwa mereka berbeda dari teman-temannya sejak usia 9 atau 10, walaupun pada usia tersebut, mereka belum dapat mengistilahkan perbedaan tersebut.

Selain itu, ada pula beberapa kaum homoseks yang menekan/menyembunyikan keadaan mereka selama bertahun-tahun. Sebagian dikarenakan tekanan sosial yang memaksa mereka untuk menghindar, dan kurangnya informasi di lingkungan mereka tinggal. Besar kemungkinan mereka akan menikah dan memiliki anak. Tetapi pada suatu waktu dalam hidup mereka, akan disadari bahwa mereka ternyata tidak merasa tertarik dengan lawan jenisnya, sementara ketertarikan terhadap sesama jenisnya tetap tidak bisa hilang. Pada saat itulah, akhirnya mereka menyadari kenyataan bahwa mereka adalah homoseks.

Bagi orang asing/luar rasanya hal demikian kelihatannya sebagai, wah orang itu tiba-tiba "berubah" menjadi homoseks. Pada kenyataannya, dia selalu sebagai homoseks, hanya saja ia mengingkari kenyataan itu sementara waktu.


*) sumber : Google
Selasa, April 19, 2011

You (were) my everything...


“You're my everything,
the sun that shines above you
makes the blue bird sing,
the stars that twinkle way up in the sky
tell me I'm in love
...”
(You're my everything, Santa Esmeralda)

Yes, I’m in love. Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Entah sudah berapa ratus juta atau bahkan milyaran, hingga trilyunan lagu tentang cinta yang pernah ada di muka bumi dari masa ke masa. Dan kenyataan pahit bahwa orang yang paling jenius, atau bahkan paling sakti sekalipun, dapat berubah menjadi bodoh seketika karena cinta. Seolah ada molekul-molekul atau partikel-partikel tak kasat mata yang menyumbat akal sehat mereka, seketika...

“You're my everything,
and nothing really matters
but the love you bring
...”
(You're my everything, Santa Esmeralda)

Segala sesuatu yang sebelumnya penting dan berharga milik sang pecinta itu, bisa ditinggalkannya begitu saja demi sang pujaan hati. Seolah di muka bumi ini (baca: dihadapan matanya) tak lagi diindahkan pemandangan lainnya selain sang pujaan hati semata. Skala prioritas hidupnya pun bisa menjadi kacau dengan menempatkan sang pujaan hati pada urutan yang paling atas, bahkan diatas dirinya sendiri. Ironis. Ya, cinta memang ironis. Memiliki kadar bius tingkat tinggi, bahkan dapat mematikan jika over dosis.

“You're my everything,
forever and the day I need you
close to me
...”
(You're my everything, Santa Esmeralda)

Waktu 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu, bahkan 30 hari dalam sebulan, rasanya tak mencukupi. Karena setiap detik yang dihabiskan bersama sang pujaan hati selalu terasa kurang. Jika boleh, setiap detik sang pecinta harus nempel terus bak kembar dempet dengan sang pujaan hati. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, selamanya, tak terpisahkan...

Heeeyyy, WAKE UP.....!!!

Bagaimana dengan keluargamu, pekerjaanmu, sahabat-sahabatmu, dan lingkungan sosialmu...?! Bagaimana dengan DIRIMU SENDIRI yang tak luput kau abaikan...?!

CINTA memang merupakan suatu anugerah yang indah dan memabukkan. Tapi CINTA tak seharusnya menghilangkan jati dirimu yang sesungguhnya. CINTA semestinya akan menjadi lebih indah dan bermakna ketika ia dapat disinergikan dengan DIRIMU, keluargamu, pekerjaanmu, sahabat-sahabatmu, dan lingkungan sosialmu.

CINTA SEJATI seyogyanya melengkapi segala yang telah kau miliki. Dan bukan CINTA SEJATI namanya, ketika hadirnya justru membuatmu kehilangan segala yang telah kau miliki sebelum ia datang dan masuk dalam kehidupanmu.

Seseorang tak pernah menjadi lebih berharga dari DIRIMU SENDIRI, ketika dengan hadirnya kau tak lagi menjadi SIAPAPUN. Sejatinya, CINTA menambahkan esensi atas dirimu dan bukannya menyerap esensi dirimu yang sejati.

“Never make SOMEONE as your EVERYTHING, because when she’s gone, you’ll have NOTHING...” ~ Anonymous


- Wil Twilite -
Senin, April 18, 2011

* Jenis-jenis Pelukan *


*The Full Body Hug*

Merupakan pelukan yang paling hangat dan akrab dimana keduanya tidak hanya saling berangkulan erat tapi jg sangat dekat hingga dapat merasakan kehangatan tubuh dan detak jantung masing-masing. Cocok diterapkan untuk pasangan, orangtua, atau orang yang secara emosional sangat dekat dengan kita. Dengan jarak tubuh yang hampir menyatu ini, kamu dan dia akan merasa lebih lega, aman dan terlindungi.

*The Bear Hug*

Jenis pelukan yg paling popular, ekstrim dan antusias. Seperti beruang yang sedang berpelukan, sepasang lengan besar (biasanya pria) akan merangkul erat sepasang lainnya, mengangkat tubuhnya dan berputar putar dgn girang. Biasanya dilakukan ketika bertemu dengan seseorang yang kita cintai namun sudah lama tidak saling berjumpa.

*The One Arm Hug*

Buat kaum adam yang pasang gengsi tinggi atau canggung untuk berpelukan sesama jenis namun ingin menyampaikan bahwa mereka saling mendukung satu sama lain, pelukan dengan satu lengan ini adalah jurus yang paling tepat.

*The A - Frame Hug*

Satu lagi jurus memeluk bagi mereka yang masih segan adalah merangkul bahu namun dengan jarak kaki yang sangat sopan satu sama lain untuk mengurangi kontak. Dari samping, tubuh kedua orang tersebut akan membentuk huruf A.

*The Quick Greeting Hug*

Pelukan ringan sekedar untuk "say hello" atau "goodbye". Biasanya bisa disertai tepuk punggung, cium pipi kiri-kanan, atau air kiss.

*The Back Pat Hug*

Tidak bisa dibilang pelukan sebenarnya, karena jenis yang satu ini lebih seperti tepukan sayang di punggung untuk sohib sekedar untuk menyampaikan, "Hey, Man! Aku tau kamu pasti bisa!" atau "Kamu bisa percaya sama aku, kawan!"

*The Lip Lock*

Ini dia trik untuk membuat pasangan kamu terpana dan tidak bisa bicara. Pelukan ini hampir sama dengan yg biasa dipraktekkan waktu slow dance, namun lebih dekat dan mesra lagi.

*The Soothing Hug*

Pelukan yang menenangkan dan menghibur, biasanya diberikan kepada anak-anak atau yang sedang berduka. Tidak hanya rangkulan, pelukan jenis ini juga berbonus kata-kata membangun serta elusan sayang di kepala dan punggung.

*The Group Hug*

Berpelukan tidak hanya dilakukan oleh 2 (dua) orang saja, tapi juga bisa melibatkan satu tim. Biasanya dengan melingkarkan lengan satu sama lain membentuk lingkaran atau saling tumpang tindih.


Sekarang, setelah mengetahui jenis dan kapan mempraktekkan pelukan-pelukan di atas, berikanlah satu yang terbaik untuk orang yang kita sayangi. Jangan menunggu sampai terlambat. Selama kesempatan masih ada, katakanlah cinta dengan kedua lenganmu

BERPELUKKKANNNNNNNNNNNNNNN…..


*) taken from milist Jejak Artemis
Kamis, Maret 17, 2011

apa yang menyebabkan seseorang menjadi homoseks...?


JAWABAN UTAMA sekarang ini adalah kita tidak mengetahui alasan yang sesungguhnya, walau demikian, hal ini merupakan "bidang studi" yang mendapatkan banyak sekali perhatian. Kesimpulan yang didapat sampai saat ini adalah bahwa homoseksualitas disebabkan secara biologis, tetapi tidak dilupakan juga karena pengaruh lingkungan pada saat awal pertumbuhan (walaupun bukan sebagai penyebab utama).

a) Faktor Genetika. Telah ditemukan bukti bahwa hal ini bisa disebabkan karena perubahan genetika. Sebagai contoh, ditemukan bahwa jika seorang anak gay, maka kakaknya mempunyai kemungkinan lebih besar untuk menjadi seorang homoseks juga. Seorang kembar homoseks identik (yang mempunyai gen yang sama) mempunyai kemungkinan yang sangat tinggi untuk mempunyai saudara yang juga homoseks. Ketika salah seorang kembar identik ini memjadi homoseks, maka kemungkinannya adalah lebih dari 50% kembarannya menjadi homoseks pula.Pada riset yang dilakukan oleh Dean Hamer di Amerika Serikat ditemukan tanda genetika di daerah Xq28 dari kromosom X yang berhubungan erat dengan orientasi homoseksual. Hal ini membuktikan bahwa orientasi homoseksual mempunyai komponen genetika.

b) Faktor Biologis lainnya. Bukti-bukti lainnya juga didapatkan dari faktor hormonal pada saat pembentukan janin. Bukti-bukti yang sementara berlaku adalah struktur otak orang homoseks berbeda dari orang heteroseks, dan perbedaan dalam bentuk struktur otak ini disebabkan oleh perkembangan otak semasa perkembangan janin. Bukti utama dari perbedaan perkembangan otak ini diakibatan oleh keseimbangan hormon si ibu hamil yang berpengaruh pada keseimbangan hormon si janin.

c) Faktor Pengasuhan. Selain itu, bukti-bukti yang didapat dari kesalahan pengasuhan sebagai salah satu faktor penyebab tidak terbukti sama sekali. Masalahnya "pengasuhan" adalah istilah yang sangat umum dan tidak jelas. Ketika ditanyakan secara lebih spesifik, orang-orang cenderung memunculkan dua ide kuno yang tercantum di bawah ini:

d) Faktor Ayah yang jauh, Ibu yang dominan. Ini adalah suatu ide kuno yang tidak dapat dibuktikan secara resmi melalui riset apapun. Ini hanya suatu perkiraan yang datang dari sebuah ide bahwa pria gay menjadi sangat kewanita-wanitaan karena pengaruh ibu mereka yang sangat dominan, sementara sang ayah yang diharapkan berperan sebagai contoh model tidak berfungsi. Masalah yang ditimbulkan dari perkiraan ini adalah pria gay cenderung sangat feminin, hal yang sama terjadi pula terhadap wanita lesbian. Hal ini sangat bertolak belakang dari hasil penyelidikan yang didapat. Ternyata banyak pria gay yang sama maskulinnya dengan pria normal.Bagi para peneliti yang serius mendalami kasus homoseksualitas ini menyatakan bahwa faktor ini adalah sama sekali tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

e) Faktor Penganiayaan/Penyiksaan Seksual di Masa Kecil. Salah satu ide yang juga tanpa data-data yang mendukung. Hal ini diakibatkan dari anggapan yang salah dari orang-orang yang berpembawaan heteroseks, tetapi "berubah" menjadi homoseks melalui pengalaman-pengalaman buruk yang mereka dapati, atau melalui hubungan dengan kaum homoseks yang mereka alami pada awal tahun-tahun perkembangan. Faktor ini tidak efektif semenjak bertambahnya bukti-bukti dari riset biologi yang mendukung kehomoseksualitasan.Dipercaya pula bahwa banyak dari kaum homoseks tidak mengalami penganiayaan/pelecehan sebagaimana yang terjadi pada kaum heteroseks. Bagi mereka yang tidak beruntung yang pernah mengalami penganiayaan oleh sesama jenis, sebagian menjadi homoseks, sementara sebagian lainnya tetap menjadi heteroseks. Demikian pula yang terjadi kebalikannya.

f) Faktor Bergaul dengan Kaum Homoseks. Seseorang tidak langsung menjadi homoseks kerena ia mempunyai teman yang homoseks. Sebagaimana, seorang homoseks tidak langsung berubah menjadi heteroseks bahkan jika ia bergaul dengan kaum heteroseks. Orientasi seksual, bagaimanapun juga, telah ditentukan dalam setiap diri manusia. Bahkan anak-anak atau remaja tidak bisa langsung berubah menjadi seorang homoseks hanya karena mereka bergaul dengan para homoseks yang telah dewasa. Bagaimanapun juga, mayoritas terbesar dimana anak-anak bergaul dengan, adalah kaum heteroseks. Apakah sesuatu yang logis, hanya karena mereka mengenal seseorang/banyak orang homoseks, akan merubah masa depan perkembangan seksualitas mereka...?


*) sumber : Google

mengapa “sebagian orang” berpikir bahwa “mereka” adalah homoseks...?


Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang “sesat”. Pada saat kita menggunakan kata "berpikir", kita secara tidak langsung mengatakan “itu tidak benar”, bahwa seseorang menyesatkan dirinya sendiri. Seorang homoseks tidak "berpikir" bahwa mereka homoseks. Mereka “mengetahui” bahwa dirinya adalah seorang homoseks.

Mereka mengetahui hal ini karena mereka bisa mengenali perasaan mereka sendiri. Mereka tidak merasa tertarik secara seksual dengan lawan jenisnya. setiap kali mereka jatuh cinta, adalah dengan orang yang sejenis. Mereka tidak mengalami perasaan yang sama terhadap lawan jenisnya. Hal yang berhubungan dengan pertanyaan ini adalah

"Mengapa sebagian orang memilih untuk menjadi homoseks...?"

Pertanyaan ini bahkan sangat menyesatkan. Tidak seorangpun dari mereka yang pernah “memilih” untuk menjadi seorang homoseks. Ia hanya "menyadarinya" dari perasaannya sendiri. Ia tidak pernah membuat "pilihan" yang semacam itu dalam hidupnya, dan sementara kita membahasnya lebih lanjut, Ia tidak dapat "memilih ulang" kembali.

Hal ini dapat diterima secara merata dalam bidang ilmiah, psikiatri, dan kedokteran bahwa orientasi homoseksual adalah “pembawaan lahiriah”, dan sesuatu yang “mendasar” dari perilaku seseorang. Telah dapat diterima secara luas bahwa orientasi homoseksual adalah “bakat tersembunyi” dalam diri seorang anak, bahkan kemungkinan besar semenjak di dalam janin. Hal itu memang "pengaruh buruk". Tentu saja itu bukanlah hal yang seseorang dapat secara sadar maupun disengaja untuk memilih menjadi siapakah mereka nantinya.

Juga dapat diterima secara umum oleh orang yang berpikiran luas bahwa homoseksual adalah "variasi umum" yang terdapat di antara manusia. Sama seperti orang yang kidal, berbakat musik atau yang tertutup, demikian pula jika seseorang adalah homoseks.


*) sumber : Google