Tampilkan postingan dengan label Solitude. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Solitude. Tampilkan semua postingan
Minggu, Agustus 02, 2020

Malam Panjang


Malam-malam yang panjang, kualami sejak awal pandemi ini membuatku menjalani work from home (WFH). Entah karena khawatir dengan pandemi ini sendiri atau karena sebab lainnya, aku menjadi insomnia setiap malam. Ya, setiap malam, tanpa kecuali. Biasanya pukul 22.00 WIB pada hari-hari kerja, aku sudah mengantuk. Mungkin rutinitas itu pada dasarnya memang melelahkan atau gimana, etahlah.


Dan malam-malam panjang pun kulalui dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Memang malam-malam itu selalu terasa tenang dalam keheningan yang menyelimutinya, but some quite nights are not peaceful nights. Not at all. Insomnia diikuti oleh overthinking, mostly. Ketika insomnia melanda, kemudia muncullah si overthinking ini. Mengusik dan mengganggu. I'm in a toxic relationship with my sleep. 

Sudah kucoba segala cara agar terlelap, salah satunya dengan nonton drakor yang kukira akan dapat membuat mata lelah bila ditonton pada jam-jam segitu. Ya, memang pada akhirnya mata lelah, namun kantuk tak kunjung jua menyapa. Huft. Hingga akhirnya aku tak tertahankan, mencari alternatif obat tidur apa yang aman untuk dikonsumsi. Sungguh selama ini ngga pernah terpikir bakalan mencicipi itu yang namanya obat tidur. Dan karena worry kalau sembarangan beli, aku memberanikan diri konsultasi dengan seorang teman dokter yang kukenal baik, dan dia menyarankan melatonin yang mg nya paling kecil saja. Aku pun nurut. Tapi tidak sampai sebulan aku kemudian menghentikannya karena ngga ingin keterusan. 


Malam-malam panjang yang tak terelakkan. Aku pun memilih untuk menghadapinya. This overthinking thing takes me to places I didn't plan to going. Aku seperti berselancar membelah ombak-ombak kenangan dalam ingatan yang terbatas namun meluas dalam ketidakterbatasan yang absurd. Aku sering seolah terbangun dari mimpi padahal ternyata aku bahkan belum sempat terlelap. Sick!! But I have to face it. This is my battle and I'll fight to win...!!


Kemudian waktu bergulir dan banyak hal yang terjadi. Istilah new normal pun mulai digembar-gemborkan sebagai sesuatu yang merupakan alternatif baru melewati pandemi ini. New normal? Really? Sepertinya sulit untuk memaknai normal itu sendiri setelah segala yang kita leati bersama dalam kecemasan yang panjang dan belum terlihat ujungnya pun.


Tapi ini sudah memasuki Agustus. Sudah semestinya kembali pada rutinitas baru yang tak terelakkan di kantor karena mulai diberlakukannya work from office (WFO) secara bertahap. Semoga sehat-sehat selalu dan senantiasa diberi kekuatan untuk melalui semua ini sebagai bagian dari proses pendewasaan dan pematangan diri. Dan semoga malam-malam panjang pun segera berlalu. Aku sungguh rindu pada waktu tidurku yang berkualitas. Aku sungguh rindu pada kehidupan yang wajar adanya seperti sedia kala. Aku sungguh rindu pada interaksi dengan manusia lainnya. Aku sungguh rindu berjalan-jalan di area terbuka diantara orang yang lalu-lalang, dan tentu saja menikmati makan dine in di restoran dan juga ngopi-ngopi cantik dengan sahabat sepulang dari kantor. Ah, kapan semua itu akan kembali seperti sedia kala?


~ Wil Twilite ~

Kamis, September 20, 2018

Dekat

Kedekatan itu tak dapat dipaksakan. Bila Allah berkehendak untuk mendekatkan dua hati, maka rintangan apapun akan luruh. Sebaliknya, sekuat apapun daya dan upaya dua hati ingin saling mendekat, bila bukan itu takdirnya, maka akan sulit untuk menyatu. Wallahualam.

Ilmu ikhlas-MU sungguh berat, Yaa Rabb. Sekali lagi hamba berusaha untuk lulus ujianmu tentang hati. Maka semoga Engkau perkenankan hamba untuk lulus. Amin.

Rasa ini sungguh seperti air. Mudah sekali ia berubah mengikuti ruang tak menentu. Kadang terbawa arus, kadang melawan arus. Kadang aku hanya ingin mengalir saja.

Lepaskan aku dari himpitan rasa ini, Yaa Rabb. Adakalanya aku tak sanggup menjalani sakitnya yang sesakkan dada ini, berulang kali. Dan lelah pula didera hawa nafsu yang memburu. Kadang begitu sulitnya untuk kujinakkan.

Jika sayang, maka akan abadi. Jika nafsu sesaat, maka waktu akan menciptakan jaraknya sendiri. Bukankah demikian?

Dan semua ini bagai misteri yang masih tersembunyi di lipatan takdirku dan takdirnya. Aku percaya, Engkau telah tuliskan kisah yang terindah untuk kami. Aku percaya kelak semua ini memiliki makna tersembunyi yang teramat manis. Insya Allah.

Wil Twilite
~diantara lantun tadarus menjelang adzan isya'
Kamis, Juli 27, 2017

Save Me...

Pada satu masa.
Aku tak berharap tersesat di sini.
Di tempat tak seorang pun mengenalku,
atau kukenal...

Aku berharap kembali
pada kenyamanan persinggahan.
Hmm.. persinggahan.
Apakah semua tempat
sejatinya hanyalah persinggahan?

Lalu dimana kelak aku akan menetap?
Dimana kelak aku merasakan
tak perlu lagi beranjak,
atau mencari-cari celah untuk pergi?
Dimana kelak aku akan berdiam
tanpa pernah merasa kosong dan hampa?

Haruskah hidup ini memaksa langkahku
untuk kerap melarikan diri
dari kenyataan yang terhampar di hadapan?
Lalu untuk apa aku berada
di tempat terasing ini, saat ini?

Haruskah aku kembali mengenal
orang-orang asing ini,
untuk kemudian kecewa dan terluka, lagi?
Rasanya sudah cukup lelahku
dihadapkan pada segala yang mengoyak jantungku.

Jiwaku hampir saja memucat
bila tak ingat ia bukanlah raga.
Dan jantungku?
Masih berdetak disana.

~ Wil Twilite ~
Jumat, Juli 21, 2017

Dia...

Dia. Mungkin aku terlalu memujanya, dulu. Hingga aku memikirkannya setiap malam, setiap detik yang berlalu di hela nafasku. Aku selalu mengingatnya dalam setiap doa yang kubisikkan. Selalu berharap kelak 'kan ada perjumpaan lagi dengannya. Ruang di hatiku untuknya, tak pernah kuizinkan 'tuk disinggahi oleh sesiapa, selain kenangannya yang kubiarkan tetap tinggal dan menjadi ratu di sudut paling istimewa hati. Namun waktu bergulir dan ia tak pernah kembali. Kutanya angin apakah ia menitipkan pesan, angin pun berlalu begitu saja, mengabai pada tiap hela gelisahku, menantinya.

Kini tujuh musim telah bergulir, hatiku membeku di musim yang bimbang. Hujan turun dan mataku berair. Sudah tak dapat kubedakan antara air mata dan hujan. Bayang wajahnya pun pudar dalam ingatan, seperti tersapu kekecewaan atas penantian yang tak berujung. Dia, 'kan kukembalikan kepada takdir yang tak lagi menautkan langkah kami untuk bersimpang kembali. 'Kan kubiarkan wajahnya dipudarkan ingatan, sebagaimana kenangan yang terlalu lama beranjak. Pada akhirnya waktu 'kan membuka jalan lain menuju kisah-kisah yang baru.

~ Wil Twilite ~
Jumat, Mei 12, 2017

A Moment of Reflection

Aku tersentak.. pada tamparan-tamparan halus yang menohok, dari orang-orang kesayangan.

Aku tergetar.. pada ketakutan yang teramat sangat, menatap cermin besar di hadapan.

Aku merenung.. dalam pemahaman yang absurd akan diriku sendiri.

Begitu haus keingintahuanku untuk menyelami jiwaku. Tanpa kusadari, aku telah membangun dinding tebal dari siapa pun. Aku kerap mengenakan topeng yang terbaik setiap kali aku berhadapan dengan siapa pun, baik mereka yang kukenal, terlebih mereka yang tak mengenalku.

Aku semakin angkuh dalam langkah yang gontai. Kerapuhanku justru membangun dinding yang semakin tinggi untuk melindungi hatiku dari rasa kecewa, takut, dan tak ingin terluka. Diriku penuh propaganda. Kupetakan begitu banyak tempat yang semestinya bukan wilayah teritorialku.

Izinkan ku berdiam sekali lagi dalam hening yang tak berbatas. Izinkan ku mematut diri di hadapan cermin besar agar senantiasa kuberkaca.

Aku telah mempecundangi diriku sendiri dalam keinginan yang melampaui batas atas nafsu duniawiku. Apa yang kucari?

Biar kuringankan langkahku dalam menemukan kembali jalan pulang seusai ku tersesat di lorong panjang yang gelap. Selama ini aku telah disilaukan oleh cahaya lampu yang meredup saat mentari menyapa. Aku butuh cahaya yang sejati. Menerangi hati, pikiran, dan jiwaku.. yang tak pernah padam.

Cahaya itu milikNya. Hanya Ia Yang Maha Berkehendak, menitipkan cahayaNya di hatiku. Aku hanya dapat memohon ampunanNya, dan kembali pada kodratku yang semestinya. Segala kelemahanku adalah ujian dariNya, semata agar aku bersimpuh dan mohon kekuatan, hanya kepadaNya..


~ Wil Twilite ~
Ahlan wa sahlan yaa Ramadhan..
Kamis, April 27, 2017

Reinkarnasi Cinta

Aku mencintaimu pada suatu masa yang sudah ditakdirkan. Pada satu hitungan waktu yang ku tak mengerti mengapa harus jatuh cinta padamu. Kamu kekasihku pada satu waktu di musim semi yang syahdu. Bagaikan mimpi, memilikimu, dan segenap cintamu yang begitu muda.

Namun pada hitungan waktu yang sudah ditakdirkan, aku harus pergi. Meninggalkanmu, menutup kisah kita yang masih bersemi dan merona. Aku tak pernah tahu mengapa harus berpisah sementara hatiku masih berdetak seirama denganmu dalam melodi yang indah. Apakah karena cinta kita terlarang? Cinta yang menyalahi kodrat? Apakah cinta ini tak diperkenankan menempati sedikit saja ruang di jagat semesta raya?

Berapa lama kita harus menunggu waktu, untuk kelak dilahirkan kembali dan dipertemukan dalam perjumpaan syahdu yang lain, di waktu yang tak mampu kita hitung dari sekarang? Sudah pastikah cinta kita kelak tak lagi terhalang sesuatu apa?

Mungkin dalam takdir, kita seumpama matahari dan rembulan yang butuh siklus reinkarnasi dalam jeda panjang, sebelum berjumpa dalam gerhana.

Kekasih, kau ‘kan kubawa bersama detak jantungku, denyut nadi, dan hela nafasku. Sampai pada waktu yang lain kelak.


~ Wil Twilite ~
Selasa, November 22, 2016

Detak Sunyi

sunyi berdetak pada jam dinding
sementara irama degup jantung
hanyalah kesunyian lain yang lebih liar


~ Wil Twilite ~
Senin, Oktober 31, 2016

kerling dan kerlip

Setiap kali kerling mata bertemu kerlip bintang,
terasa ada chemistry yang mengikat,
seolah keduanya pernah bersama,
tahunan cahaya silam...


~ Wil Twilite ~
one lonely star
Kamis, Oktober 27, 2016

Larik keheningan

So, if you're too tired to speak, sit next to me, because I am fluent in silence...

Tak perlu berkata-kata. Cukuplah duduk disampingku. Pun kita tak perlu saling menerka apapun di benak masing-masing. Bolehkah kugenggam jemari lentikmu, tuk sekedar mengalirkan desir di dadaku, yang semakin bergemuruh tersengat gelombang feromon tubuhmu.

Kekasih, diantara milyaran detik yang 'tlah kita bagi, dalam tiap perbincangan penuh makna, ada kalanya syahdu kesunyian memainkan larik-larik keheningan dalam iramanya sendiri.

Tetaplah menjadi dirimu, sebab usia hanyalah angka-angka. Sejatinya, kitalah yang memberi makna dalam hubungan ini.


~ Wil Twilite ~
Senin, September 19, 2016

My Comfort Zone

Comfort zone adalah senyaman-nyamannya tempat untuk menetap selama yang kita inginkan. Namun akhir-akhir ini, atau bahkan mungkin sudah sejak entah kapan, banyak kita dengar istilah "keluar dari comfort zone".

Mengapa banyak orang justru berharap dirinya mampu untuk keluar dari comfort zone, dan atau "memotivasi" orang lain untuk keluar dari comfort zone. Why?

Bila sudah berada di tempat yang begitu nyaman, biasanya orang akan merasa enggan untuk beranjak. Paradoks sekali, comfort zone ini. Orang mencari kenyamanan, dan ketika sudah menemukan dan berada di zona nyaman itu, malah ingin meninggalkannya.

Hal atau situasi yang membuat nyaman semestinya tidak untuk membuat kita beranjak kemana-mana lagi. Sebab tak mudah untuk mendapatkan kenyamanan itu. Sebagian orang meraihnya lewat berbagai upaya dan usaha, sebagian lagi karena takdir.

Seorang teman berpendapat bahwa untuk tinggal dan menetap di zona nyaman mungkin terasa aman dan menenteramkan, tapi tidak akan membuat kita berkembang. Istilahnya, bagai katak dalam tempurung. Ruang gerak begitu terbatas.

Itulah sebabnya aku merenungkan kembali tentang comfort zone ini. Apakah aku harus mulai mengubah sudut pandangku tentang kehidupan yang kujalani?

Temanku kembali menanggapi, bahwa menurutnya, aku tak perlu mengubah apapun, cukup memperluas area comfort zone yang saat ini kumiliki, untuk meraih tujuan hidupku. Atau jika tidak bisa demikian, baiknya keluar saja dari comfort zone.

Adalah merupakan pilihan, untuk tetap berada dalam comfort zone, atau beranjak meninggalkannya. Namun bila memutuskan untuk beranjak, harus jelas kemana kaki akan melangkah kemudian, dan tentunya dengan alasan yang sangat kuat. Tidak hanya sekedar pergi dan berlalu begitu saja, tanpa tujuan yang pasti.

~ Wil Twilite ~


Jumat, Maret 18, 2016

Me and My Solitude

Ketika hanya malam
yang sanggup mengeja diamku,

selebihnya,
pagi hanya menyimpan semua mimpiku
dalam kebisuan yang lengang...


Sejatinya, pemahaman berproses dalam diam, ketika diri menilai sikap dan reaksi seseorang atas kata-kata maupun tindakanku. Dalam hal ini perlu kesinambungan antara hati dan pikiran.

Dalam diam tersirat keraguan, menimang segala aspek yang merujuk pada satu keputusan. Dan, keputusan mengambang di awang-awang bagai gugusan mega di lembayung senja yang perlahan menutup tirai kelam malam.

Ada kalanya aksaraku menjelma ikrar yang lain, tatkala ku takut ia menyerupa benang-benang ingatan yang tengah kurajut menjadi tautan rindu berjelaga, dalam termenung.

Rindu, yang tak semestinya dihadirkan...
Cukuplah sunyi ini mengintai sejauh pemahaman dalam diam.


~ Wil Twilite ~