Tampilkan postingan dengan label my opinion. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my opinion. Tampilkan semua postingan
Selasa, Maret 06, 2018

Ketika Pasangan Harus Menikah

Menikah. Sesuatu yang sangat ditakuti pagi pasangan L. Entah karena desakan orang tua atau alasan lainnya, begitu banyak hubungan L yang pada akhirnya kandas di tengah jalan karena salah satu, atau bahkan keduanya, harus dihadapkan pada kondisi ini, menikah.

Apa yang harus dilakukan? Kabur ke luar negeri demi mengejar kebahagiaan berdua? Boleh-boleh saja. Sebab hidup adalah pilihan. Namun, bagi saya pribadi yang masih hidup dalam keluarga yang menjunjung tinggi norma-norma ketimuran, dan tentu saja stay in the closet, sampai kapan pun ngga akan coming out sama keluarga, so I have a different persective.

Aku akan membiarkan pasanganku untuk menikah. Meski harus berdarah-darah, aku tidak akan menahannya untuk kumiliki sendiri, sementara ia ada keluarga yang sudah bersamanya semenjak jauh sebelum kami berjumpa. Alih-alih upaya untuk kembali kepada kodrat. Untuk menikah, dan meneruskan keturunan keluarganya, atau alasan lain apalah-apalah.

Katanya cinta, kenapa harus dilepaskan? Jangan salah. Ujian terbesar dalam cinta adalah melepaskan, bukan menahan kekasih untuk selalu jadi milikmu. Cinta itu masalah hati. Pernikahan itu mengikat secara hukum, tapi hati tetaplah milik yang dicinta. Pada dasarnya berpisah karena harus menikah atau berpisah karena alasan-alasan lainnya, sama saja. Ujian untuk melepaskan cinta. Maka bila ia memang takdirmu yang sejati, cinta memiliki sifat untuk selalu kembali.

Hubungan percintaan L itu tidaklah lebih atau kurang dengan hubungan percintaan hetero. Jika menyangkut hati dan perasaan, tak pernah mengenal jenis kelamin. Hetero pun bisa putus walau masih saling cinta, bisa karena orangtua tak restu atau alasan lainnya. Bahkan yang menikah pun bisa bercerai.

Intinya, tak ada yang salah dengan perpisahan. Sebab pada akhirnya selalu ada persimpangan di setiap langkah. Bukan tak mungkin ketika kita sudah sama-sama menikah, malah hubungan dengan sang mantan kekasih L bisa lebih syahdu nantinya. Kehilangan itu terkadang hanya masalah waktu untuk diberikan yang lebih baik. Aku percaya itu.

~ Wil Twilite ~

Kamis, Februari 16, 2017

Pilkada Serentak, Pilihan, dan Hubungan Pertemanan


TAHUN 2017 adalah tahun ayam api. Ayamnya, yasudahlah tidak usah dibahas. Apinya itu, lho! Panas membara dan membakar. Itulah yang saya lihat, begitu maraknya perseteruan di sosial media terkait penyelenggaraan pilkada serentak di tahun ini, tepatnya tanggal 15 Februari 2017. Tiba-tiba semua orang bicara politik, meski sebagian besar hanya beropini dari sudut pandang personal. Dan semua orang tiba-tiba jadi ahli agama, terkait dugaan penistaan agama oleh salah satu Cagub yang ngga usahlah saya sebutkan namanya di sini, tapi semua orang tahu, dan sejarah telah mencatat.

Kutipan Al-Qur’an surat Al-Kafirun ayat ke-6 pun menjadi populer, “Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku”. Keyakinan pun dicampuradukkan dengan perpolitikan, dari segi sudut pandang. Perang pendapat pun tak terelakkan di sosial media yang begitu bebas untuk menyalurkan pendapat dan ekspresi personal, maupun kelompok. Semua orang membela habis-habisan pilihannya, mengagungkan, membenarkan, hingga mendewakan.

Bicara tentang pilihan... Pilihan itu pada dasarnya merupakan tanggung jawab individu, dalam hal memilih apa saja. Pilih makanan, misalnya. Orang yang suka mengkonsumsi makanan sehat dan yang suka mengkonsumsi junk food, tentunya akan berbeda dampak terhadap sistem metabolisme tubuhnya. Pilihan gaya hidup, misalnya. Tampil sederhana dan tampil glamour atau mengikuti trend kekinian, tentunya akan berdampak pada life cost. Hingga untuk memilih pasangan hidup, misalnya ada 2 pilihan di hadapan, maka akan berbeda kelak kelanjutan hidupmu bersama salah satu yang harus kamu pilih. Pada dasarnya, semua perlu pertimbangan yang matang, namun terkadang faktor eksternal juga mempengaruhi pilihan-pilihan kita. Apapun alasan yang mendasari pilihanmu, dan apa yang akan terjadi kemudian, all that matter is your self-responsibility to your own choice, not to all of people's choice which are different with yours. Karena menurut saya, pilihan itu sifatnya sangat personal.

Waktu Pilpres tahun 2014 yang lalu, misalnya. Saya memilih Capres yang pada akhirnya tidak menang pemilu. Seiring berjalannya waktu, saya merasa kecewa dengan berbagai kebijakan yang diterapkan oleh presiden terpilih. Mau bagaimana, toh dulu saya memang tidak memilih dia. Intinya, ketika yang menang itu bukan pilihan kita, kemudian mengecewakan. Tetaplah bersyukur karena kita memang tidak berkontribusi memberi suara untuk dia. Hal ini akan membuat kita merasa lebih baik. It’s all about state of mind. Calm your mind, then your heart will be safe. Kata dokter, semua penyakit bermula dari pikiran kita sendiri. Being positive in a negative situation is not naive. It’s leadership. This! Be a leader to yourself first.

Saya masih menyayangkan euphoria perang status di sosial media yang berdampak merenggangkan bahkan memutus hubungan pertemanan, sampai membuat sebagian orang mengeleminasi “daftar pertemanan” atau friendlist mereka. Demokrasi dan kebebasan berpendapat yang kebablasan pada akhirnya membuat suhu politik di negeri ini menjadi panas. Pertemanan yang sifatnya personal pun terkena dampak idealisme dan fanatisme segelintir orang/kelompok yang begitu mendewakan pilihannya. Namun di sisi lain, ada pelajaran yang saya dapat, bahwa semakin bertambah usia, maka kita akan semakin mengenali teman-teman kita yang sejati. Pada akhirnya semua kembali kepada diri kita masing-masing, TEMAN seperti apa yang kita butuhkan untuk berada di sekeliling kita, melewati tahapan-tahapan kehidupan selanjutnya?

~ Wil Twilite ~


Minggu, Desember 04, 2016

Twittaland


Setiap orang menjalani hidup ini dengan caranya. Twittaland (Twitterland) merupakan refleksi kecil kehidupan yang dijalani. Tidak peduli itu akun real atau alter.

Bila dalam dunia nyata tak bebas berekspresi, maka Twittaland semestinya menjadi tempat alternatif yang nyaman. Dengan atau tanpa topeng, terserah. Menjadilah sesukamu. Mau jadi kalem atau nyinyir, itu juga pilihan. Mau monolog atau mention sana-sini, tergantung kebutuhan.

Feel free to follow or unfollow, no heart feeling. Kalau dunia nyata terasa rumit, di Twittaland baiknya dibawa santai saja. No Baper !! That's why ada option unfollow, mute, dan block. Take it easy !! Don't take Twitter seriously, maka akan hilang kesenangan menggunakannya sebagai sarana hiburan.

Ekspresi diri tersalurkan, syukur-syukur kalau bisa menambah teman. Nambah musuh lewat Twitter..?? Come on, sesuram itukah hidupmu, sampai di dunia maya pun sukanya cari musuh..?? Ckckck !! Kalau punya bakat jualan, Twittaland bisa jadi sarana untuk menghasilkan uang. Kok kamu malah memilih untuk cari musuh..?! Begitu banyak hal lain yang lebih baik untuk dicari dalam hidup ini.

Well, kira-kira begitulah sekilas review selama menjadi penghuni Twittaland. Baik atau buruk, semua kembali pada cara dan tujuan masing-masing dalam menggunakan dan memanfaatkannya.


~ Wil Twilite ~
Minggu, Oktober 09, 2016

Komitmen

Ada banyak faktor yang membuat seseorang enggan, belum mau, atau bahkan tidak ingin membuat komitmen dengan seseorang yang sedang dekat dengannya.

Menurutku, jika istilah "komitmen" itu terdengar atau terasa begitu berat dan seriusnya, dengan berbagai konsekuensi serta resiko yang menyertainya, mungkin kita bisa menggantinya dengan istilah "aturan main".

Begini. Fine, jika dia menyatakan belum siap atau apapun alasannya, untuk berkomitmen, tapi kalian berdua sudah menjalani hubungan selayaknya orang yang sedang berpacaran, seperti saling memberi greeting setiap pagi, mengingatkan tiap waktu makan tiba, ngobrol berjam-jam di telepon atau setiap kali bertemu secara langsung, menikmati setiap sentuhan yang terjadi, hingga mengucapkan selamat tidur setiap malam, dan masing-masing sama-sama tidak sedang dekat dengan perempuan lain.

Friend Zone semacam ini sangat rentan bahkan di dunia hetero seksual sekalipun, apalagi di dunia L. Karena wanita, sejatinya membutuhkan kejelasan dan kepastian. Jika tidak ingin hal itu disebut komitmen, tetap perlu ada "aturan main" yang jelas. Dibicarakan dari hati ke hati, memastikan bahwa dasar hubungan ini adalah perasaan saling membutuhkan. Aturan main di sini sebenarnya demi untuk menjaga apa yang telah terbina, ketika komitmen dianggap merupakan suatu tahapan yang lebih tinggi dan terkesan serius.

Padahal, menurutku, apa sih beratnya komitmen, ketika kita satu sama lain telah saling memahami situasi dan kondisi yang ada, dan bisa menerima segalanya? ada begitu banyak kisah percintaan L, di dunia timur maupun barat, dalam berbagai usia, tak peduli mereka ABG yang masih mencari jati diri, mereka yang usia 20's, 30's bahkan 40's yang memiliki hubungan berlandaskan komitmen, sudah bertahun-tahun menjalin hubungan bahkan sudah tinggal bersama, adopsi anak, dll. Toh masih bisa kandas di tengah jalan.

So, kenapa harus takut dengan komitmen? Takut mengikat, terikat, dan diikat? Apakah komitmen itu mutlak akan mengikat hubungan percintaan sampai mati? Jangankan untuk kalangan homoseksual, komitmen dalam pernikahan heteroseksual pun, yang sudah dilindungi dan diatur oleh undang-undang, masih bisa bercerai.

Mari kita sama-sama renungkan lebih dalam hakikat komitmen ini, secara personal kepada diri kita masing-masing. Sejauh mana hubungan kita dengan someone special memerlukan yang namanya komitmen?

~ Wil Twilite ~
Rabu, Agustus 14, 2013

NEWS of the Day: KPK Tangkap Kepala SKK Migas

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Prof. Dr.-Ing. Ir. Rudi Rubiandini R.S. sedang menjadi headline di sejumlah portal berita nasional karena tertangkap tangan menerima suap dari pihak swasta.

Saya mengikuti perkembangan beritanya melalui situs andalam saya, KOMPAS.com. Ada salah satu link yang menggugah saya: Prestasi Rudi Rubiandini Hancur Dalam Sekejap.

Link berita tersebut membuat saya merenung. Saya teringat peribahasa "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Baiklah, menerima suap adalah suatu kejahatan besar, seperti halnya korupsi. Namun saya membaca pada beberapa pemberitaan yang menyebutkan hal-hal positif Bapak Rudi sebelum berita ini menjadi sangat menjatuhkan beliau.

Ketua RT sekaligus tetangga beliau di Tasikmalaya menyatakan sejak kecil sampai dengan beliau menjadi pejabat dikenal sebagai pribadi yang tidak sombong dan sederhana, memiliki jiwa sosial yang tinggi dan selalu membantu tetangganya yang kurang mampu, tak pernah memperlihatkan kemewahannya, ramah pada setiap tetangga, tak segan untuk bercengkerama dengan masyarakat sekitar, hingga kalangan tukang becak di kampungnya.

Rekam jejaknya di bidang perminyakan pun menyatakan beliau dikenal sebagai seorang akademisi ulung di bidang perminyakan. Menyelesaikan jenjang Sarjananya di ITB, melanjutkan Pascasarjana di Technisce Universitaet Clausthal, Jerman, dan meraih gelar Doktor pada 1991. Meraih penghargaan sebagai dosen ITB teladan pada 1994 dan 1998. Gelar guru besar pada 2010. Kemudian pada 2011 diangkat sebagai Deputi Operasi Migas oleh Presiden SBY. Wakil Menteri ESDM pada 2012. Dan akhirnya menjabat Kepala SKK Migas.

Luar biasa, bukan...? Rudi Rubiandini memang orang hebat. Tak diragukan lagi. Dan kini, semua prestasinya hancur dalam sekejab. Bahkan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD "tega" menyebutnya sebagai "Musang Berbulu Ayam". Ckckckck...!!!

Bagaimana dengan Alm. Presiden Soeharto...? Saat kejatuhannya, beliau begitu dihujat habis-habisan, rakyat Indonesia "sesaat" melupakan jasa beliau membangun negeri selama 32 tahun berkuasa. Saya melihat saat ini Pak Rudi tengah "dihakimi" layaknya Pak Harto dulu. Hati nurani saya sesungguhnya tersentuh atas pemberitaan ini. Saya mencoba berempati pada Pak Rudi. Bagaimana bila saya menjadi seperti beliau atau Pak Harto. Sudah menempuh berbagai pengalaman dan tahapan hingga sampai pada puncak karier saya, dengan tentu saja mengerahkan segenap kemampuan, daya dan upaya yang saya miliki secara maksimal, hingga akhirnya berkontribusi besar dalam bidang yang saya geluti. Lalu langkah saya terpeleset. Satu kesalahan saya lakukan, dan semua orang serta merta menghujat saya tanpa terlebih dahulu bersedia mengetahui latar belakang terjadinya semua itu, dan yang paling parah, melupakan semua "kebaikan-kebaikan" dan kontribusi saya selama ini. Momen #JLEBB banget.

Saya menuliskan ini bukan untuk membela Pak Rudi. Sebab kasus ini seyogyanya biarlah menempuh proses hukum yang berlaku di negeri ini. Saya hanya ingin merenungkan pribahasa "Karena nila setitik, rusak susu sebelanga" tadi. Marilah kita menjaga langkah. Dan jangan pula kita menjadi penunding, seperti misalnya yang dilakukan Pak Mahfud MD. Lebih baik bercermin diri. Apakah diri kita ini sudah lebih baik dari orang yang kita hujat habis-habisan...? Setidaknya, kita tahu bagaimana sosok Pak Rudi di mata kerabat dan lingkungan tempat beliau dibesarkan. Sebagaimana kita tahu sosok Pak Harto di mata keluarga, kerabat, dan orang-orang yang "merasakan dan menerima" kebaikan beliau semasa hidupnya.

Bagaimana dengan Pak Mahfud MD di mata lingkungan terdekatnya dan masyarakat...?

Bagaimana dengan diri kita sendiri...?


~ Wil Twilite ~
Sabtu, Juli 27, 2013

"MEMBACA-lah..." (agar lebih "PEKA")

Selepas subuh merupakan waktu yang baik untuk MEMBACA. Ketika pikiran masih begitu jernih dari hal-hal duniawi lainnya.

Membaca bagai menyelami sisi dunia yang lain. Dalam waktu singkat kita bisa berada di atas kereta Shinkansen Jepang, tersesat di belantara Amazon, menjelajah Himalaya, atau bertamasya di dalam Pyramid Mesir. Di mana saja, di belahan bumi ini.


Membaca membuat kita "berjumpa" dengan banyak orang, banyak karakter, banyak tokoh yang mengalirkan inspirasi dan motivasi diri. Mengambil hikmah atau pelajaran dari pengalaman mereka bagai diary yang diwariskan.


Membaca adalah sumber pengetahuan. Melekat di suatu ruang dalam pikiran. Untuk diingat dan bisa menjadi pedoman dalam melangkah.


Tergantung bacaannya...? Tentu tidak demikian. Melainkan tergantung bagaimana kita menyerap setiap apa yang kita baca. Biarkan otak kita memilah.


Mari membaca. Agar kita tidak mudah diperdaya tipu muslihat "orang-orang pintar" yang "minterin" orang lain. Agar kita mawas diri, berbekal wawasan.


Dengan banyak membaca, semakin tajam kita dapat membedakan mana ide-ide orisinil dan mana yang plagiat. Sekarang marak sekali. Plagiat intelektual.


Bila berkarya, patenkan hak cipta, jangan biarkan dipoles oleh "plagiat intelektual" yang akan dengan bangga mempublikasikan karya orang lain atas nama dirinya.


Be aware, be smart...!!! Sebait, dua bait hasil goresan pena kita merupakan cerminan diri kita yang sejati. Orang boleh terinspirasi, namun bukan mengakui sebagai hasil karyanya.



~ Wil Twilite ~
Rabu, Oktober 26, 2011

JoJoBa – semua akan indah pada waktunya


Jika diantara kalian saat ini ada yang bertanya-tanya, "Kenapa sih, aku masih saja menjomblo...? Padahal tampang ngga jelek-jelek amat, otak lumayan encer, wawasan boleh diadu, dari segi usia pun aku sedang lucu-lucunya untuk pacaran...” Halah, yang terakhir itu memang lebay deh... :p

Janganlah berkecil hati jika masih jomblo. Sebab jomblo itu tidak selalu mellow. Disaat sedang menjomblo, justru mata hati kita dapat lebih terbuka untuk melihat dan lebih memperhatikan sekeliling. Sebelum perhatian kita tercurahkan untuk seseorang berlabel “pacar”, marilah kita beri perhatian pada lingkungan terdekat kita, alih-alih sambil menunggu datangnya sang pacar impian yang kehadirannya masih ditangguhkan oleh Tuhan. Lalu, siapa sajakah lingkungan terdekat yang layak mendapatkan perhatian kita...?

Yang pertama adalah keluarga. Meluangkan waktu yang berkualitas di rumah bersama seluruh anggota keluarga bisa terasa lebih menyenangkan dari sebelumnya. Ngobrol-ngobrol dengan papa, mama, kakak, adik dan penghuni rumah lainnya menjadi lebih berarti disaat kita sedang jomblo. Kehangatan kasih sayang mereka akan selalu ada dan membuat kita merasa nyaman karena merasakan penerimaan seutuhnya, sehingga tak lagi merasa sendirian.

Yang kedua adalah persahabatan. Sahabat disini bisa sahabat lesbian maupun sahabat straight. Tergantung sisi diri kita yang mana yang lebih eksis, hehehe. Sahabat merupakan orang terdekat kita diluar keluarga, bahkan kedekatan hati dengan sahabat seringkali membuatnya memiliki arti yang sangat besar dalam hidup kita. Bagi mereka yang broken home, peran sahabat biasanya lebih besar dari keluarga. Kita dapat menjadi diri sendiri, bercerita tentang apa saja tanpa harus merasakan sungkan atau malu. Menangis dan tertawa disisinya, bersamanya.

Yang ketiga adalah aktivitas-aktivitas lainnya. Misalnya sekolah, kuliah, pekerjaan, atau hobi yang digeluti. Mumpung sedang jomblo, kita bisa lebih berfokus pada aktivitas-aktivitas ini. Bagi yang masih sekolah dan kuliah tentunya akan memiliki waktu belajar lebih banyak untuk meningkatkan prestasi. Jika berprestasi, bukan hanya diri sendiri yang merasa bangga, keluarga dan orang-orang terdekat juga akan ikut bangga atas prestasi yang kita raih. And then, hmmm... siapa sih yang ngga mau dekat-dekat sama orang berprestasi...? Tentunya peluang untuk dapat pacar jadi lebih terbuka dong... Yukmareee... ^^

Begitupun dalam dunia kerja, masa-masa jomblo sangatlah tepat dimanfaatkan untuk berfokus dalam pengembangan karier. Bisa lembur tanpa protes dari pacar yang merasa kurang diperhatikan, fleksibilitas waktu untuk bertemu klien pada jam kerja maupun diluar jam kerja tanpa intimidasi pacar lewat handphone, contohnya, “Darl, kamu ketemu klien yang mana lagi sih, masa tiap hari...?”. Halah-halah, rempong. Dengan demikian, kesempatan untuk bertemu dengan banyak orang tentunya memungkinkan juga untuk ‘berpapasan’ dengan ‘seseorang’. Yah, kali-kali aja kita lagi hoki gitu, secara ngga sengaja ada klien atau rekan bisnis yang ternyata lesbian jojoba juga seperti kita dan sedang hunting partner, terus klik sama kita. Who knows...?

Dan melalui hobi yang kita tekuni, misalnya kalau hobi membaca, kita bisa ikutan klub membaca yang tentunya banyak member perempuannya dwooonk; atau kalau hobi nge-gym, bisa sambil cuci mata dan tepe-tepe ditempat gym, siapa tahu dapat kenalan baru. Berawal dari kesamaan minat, mungkin kelak bisa berlanjut kedalam hubungan yang lebih dekat lagi. Teuteuuuup ngareeep :D

Intinya, kesabaran kita menanti datangnya seseorang yang istimewa, kelak akan sebanding dengan kualitas seseorang yang akan menjadi pasangan kita. So, ngga perlu lagi kita mellow-yellow hanya karena masih jomblo. Lebih baik kita tanamkan satu keyakinan dalam hati, bahwa setelah masa-masa kesendirian ini terlewati, akan datang seseorang yang menenteramkan hati, memperkaya jiwa, menyempurnakan ketidaksempurnaan kita, kehadirannya dapat membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik, serta menjadikan hidup kita lebih berkualitas dan bermakna. Insya Allah, semua akan indah pada waktunya. Amiin Yaa Robbal Alamiin.

Aku teringat satu quote milik seorang temanku, “There must be someone out there is waiting for you. Someone who fits to your characters. Someone who will understand and take you just the way you are” ~ Nepenthes Hutan. So... don’t worry be happy, JoJoBa all around the world... ^^

*)JoJoBa : Jomblo-Jomblo Bahagia


~ Wil Twilite ~
Kamis, Oktober 13, 2011

SHIT HAPPENS


Novel SHIT HAPPENS ini aku baca sekitar pertengahan tahun 2008. Ketika itu tertarik aja sama covernya yang lucu dan unik, sambil aku baca-baca bagian belakang covernya. Hmmm, sepertinya ceritanya fresh dan mengandung unsur humor yang cerdas, mengingat ketika itu novel-novel lain yang kubeli kebanyakan masuk kategori serius.

Ternyata Shit Happens memang novel yang menarik. Ada banyak pelajaran berharga yang bisa diambil tanpa merasa digurui oleh si penulis. Bahasanya yang blak-blakan juga menjadi daya tarik tersendiri dalam menikmati lembar demi lembar kisahnya.

Bercerita tentang 3 orang sahabat yaitu Sebastian, Lula dan Langit. Mereka bertiga tengah diuber deadline untuk segera mengakhiri masa lajang oleh keluarga dan lingkungannya. Dalam perjalanan untuk mewujudkan itu, mereka melakukan berbagai upaya hingga akhirnya 'menemukan' diri mereka yang sejati setelah melewati berbagai kejadian. Persahabatan mereka cukup unik, banyak sisi menariknya gitu deh, menurutku. Smart story lah pokoknya. Plus gaya berceritanya yang so easy tapi berbobot, bikin membaca buku ini terasa ngga membosankan.

Saking kerajinannya, aku sempat menyalin beberapa point yang kuanggap menarik. Well, aku ingin membaginya disini. Bagi yang sudah baca, mungkin bisa flash back sama bagian-bagian ini. Dan bagi yang belum baca, silakan cari novelnya dan baca, ngga akan menyesal deh. Atau boleh pinjam punyaku kalau mau ^^

~~~~~~~~~~~~~~~

“Oke, banyak memang yang menganggap wajar orang-orang gay. Mereka bilang, sah-sah saja hidup dengan preferensi seksual seperti itu. Tapi aku enggak. Lebih tepatnya, aku, mama, dan sebagian besar manusia di bumi Indonesia ini. Gay itu penyakit. Gay itu dosa. Aku nggak mau mengambil resiko dikucilkan karena jadi gay”. (Sebastian)

“God, forgive me. Ternyata, susah ya hidup lurus sesuai aturan main-Mu...?” (Sebastian)

“Orientasi seksual tak pernah bohong. Dia memilih. Bukan dipilihkan. Sama seperti rasa”. (Langit)

“Gini deh, seandainya gue ngaku ke orangtua gue kalo gue lesbi, misalnya. Kalo lo ngira nyokap gue bakal meluk gue dengan penuh haru, “Ooh, anakku ternyata jadi lesbi, syukurlah, Nak...” – LO SALAH BESAR”. (Lula - ditujukan ke Sebastian yang coming out ke nyokapnya, ngaku dirinya gay)

~~~~~~~~~~~~~~~

“Pernikahan nggak membatasi siapa pun. Memang, secara otomatis semuanya akan terbatasi, tapi bukan berarti mengekang, kan...?” (Lula)

“Gue dukung opini lo tentang pernikahan. Pernikahan nggak seharusnya mengekang. I’m not against you. But, what I don’t like is your way of escaping from that situation. You did not even give any chance to him. You didn’t even try to explain anything. Lo cuman defend”. (Langit)

“Gue curiga, jangan-jangan justru elo yang sebenarnya selama ini belum berani terikat dengan komitmen. Tapi, lo malah nyalahin semua cowok yang punya hubungan dengan lo. Hanya karena lo nggak cukup punya nyali buat nyalahin diri lo sendiri. Nggak mau ngakuin kalo persoalannya ada di elo. Elo yang belum sanggup mengomunikasikan semuanya. Elo yang belum sanggup berkomitmen. Elo belum siap nerima orang yang paling dekat sama elo justru berbeda pendapat sama elo”. (Langit)

“Yes. You’re just hearing, not listening. You’re just speaking, not talking”. (Langit)

“Muka Stitch yang bengal abis malah bikin gue merenung. Ke mana aja gue selama ini...? Kayaknya, gue terlalu sibuk dengan pikiran sendiri. Gue terlalu egois. Karena ngga ingin disakiti, gue menuntut orang yang harus memahami gue. Gue lupa, dalam setiap hubungan harusnya kita saling mendengar, saling berbicara. Mengomunikasikannya. Bukan langsung ambil langkah seribu ketika perbedaan terlihat. Gue anggap selama ini gue udah banyak berbicara. Ternyata keliru. Gue cuman sekedar ngomong. Gue ngga pernah benar-benar mengomunikasikan apa pun. Gue cuma takut dituduh nggak bisa berkompromi. Nggak penuh toleransi. Gue masih gagap dengan konsep sebuah komitmen dalam berhubungan. Gue menjadikan perbedaan yang ada sebagai alasan pembenaran untuk pergi. Langit benar, persoalannya bukan berada di cowok-cowok yang pernah dekat dengan gue. Persoalannya ada di diri gue sendiri. Gue yang belum siap berkomitmen”. (Lula)

~~~~~~~~~~~~~~~

“Tapi gue nggak bisa toleransi sama yang namanya perselingkuhan”. (Sebastian)

“Nope. Selingkuh artinya melanggar kesepakatan untuk setia yang telah kita buat sebelum memutuskan jadian. Dia nggak cuma berbohong, dia juga nikam gue dari belakang, menertawakan ketidaktahuan gue, melecehkan gue. Siapa tahu, dia juga mungkin doing something sama selingkuhannya di luaran sana. Mana gue tahu. Intinya, no excuse for cheating”. (Sebastian)

~~~~~~~~~~~~~~~

Langit : “Gue nggak nuduh elo kok”
Lula : “Secara verbal sih enggak. Tatapan lo aja udah cukup ngasih statement”

“The FUTURE should be a place where we WILL go, not something that will come to us where we are NOW”

“Don’t stay too much longer in front of one door that already closed. You can’t see that the other door has opened for you”. (Alex)

“Yup. Selama ini gue udah terkungkung dengan pikiran gue sendiri. Terlalu ingin memahami orang lain membuat gue lupa memahami apa yang sesungguhnya diinginkan diri gue sendiri. Gue terlalu ingin mempertahankan label kalau gue adalah orang yang penuh pengertian. Yang bisa memahami apa pun lebih dari orang lain. Tapi akhirnya, gue justru menyakiti diri gue sendiri. Justru tak memberi ruang buat jiwa gue”. (Langit)

“Memahami orang lain memang nggak gampang. Tapi, jujur dengan diri sendiri ternyata lebih sulit”. (Langit)

“I learned one thing today. Tentang memahami dan keikhlasan dalam memahami. Ternyata ikhlas itu nggak sama dengan sekedar memahami. Hari ini, gue memutuskan untuk keluar dari sudut pandang gue, lalu mencoba lebih banyak menggali dari sudut pandang orang lain. Well, setidaknya, gue bakal mulai dengan mengutarakan apa yang sebenarnya ada di hati gue. Oh...no...no..., gue harus memulainya dengan memaafkan orang lain tanpa tendensi. Memaafkan bukan lantaran gue pengen dianggap pemurah atau penuh pemahaman – just like what I did selama ini. Bukan. Memaafkan jenis itu ternyata hanya bikin gue semakin sakit dan menciptakan lebih banyak kemarahan. Gue ingin memaafkan orang lain karena itu bikin gue ngerasa lebih baik". (Langit)

...memaafkan orang lain ternyata membuka pintu untuk menerima diri gue sendiri. Gue nggak bakal bisa menerima diri gue sendiri tanpa terlebih dahulu memaafkan. Jauh di lubuk hati gue, gue juga ingin dimaafkan. Dimaafkan untuk kepura-puraan gue selama ini”. (Langit)

~~~~~~~~~~~~~~~
Shit Happens : Christian Simamora + Windy Ariestanty



~ Wil Twilite ~
Rabu, Maret 02, 2011

Hey, saya orang baik, lho...


bosan bercerita,
bosan mencari-cari objek,
bosan berpura-pura menjadi
“orang baik”

Orang baik adalah species manusia yang paling dicari di seantero jagad raya. Baik oleh perusahaan-perusahaan yang meminta para pelamarnya untuk melampirkan surat keterangan berkelakuan baik dari kepolisian maupun oleh individu-individu yang bertebaran mencari relasi, rekan kerja, teman, sahabat hingga pasangan hidup dari kalangan “orang baik”. Nah, karena alasan inilah banyak orang di berbagai belahan dunia manapun ingin menunjukkan pada orang lain bahwa dirinya dapat dikatakan masuk kategori “orang baik” tersebut.

Mari kita persempit lingkup pembahasan mengenai standar “orang baik” ini sebatas pada dunia lesbian saja. Kalau dulu, sebelum teknologi semaju sekarang, banyak orang cenderung tertipu oleh penampilan luar seseorang. Misalnya, kalau seseorang berpenampilan rapih dan bersih, pasti dia “orang baik” dan sebaliknya, orang yang berpenampilan tidak rapih, lusuh dan berantakan, sudah pasti dia “bukan orang baik”. Well, stereotip semacam ini justru dipelajari secara seksama oleh species orang yang tergolong kedalam kategori “bukan orang baik” untuk berbuat tidak baik sambil berpenampilan a la “orang baik”. Begitu banyak korban yang jatuh alias tertipu oleh penampilan, dan setelah berbagai media mulai memberitakannya, barulah masyarakat mulai mempertajam indera mereka untuk dapat mengenali “orang baik” tidak lagi hanya berdasarkan kulit luarnya saja.

Kini, dunia semakin canggih, dimana sosialisasi lebih banyak berlangsung melalui media elektronik dan jejaring sosial dunia maya, terutama bagi mereka yang dikategorikan masyarakat urban atau masyarakat perkotaan atau masyarakat modern yang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar komputer dibandingkan di tempat lain. Para lesbian pun mulai membentuk komunitasnya sendiri-sendiri. Kita bebas menentukan tempat masing-masing di dunia maya, bebas menentukan dengan siapa kita ingin memulai suatu bentuk hubungan apapun, serta kapan kita dapat dengan mudahnya mengakhiri hubungan tersebut. Semua serba instan, semua hubungan yang terjalin juga tidak memerlukan proses yang terlampau panjang dan berbelit-belit untuk dimulai dan diakhiri.

Mengingat pola pikir masyarakat urban yang serba cepat dan cenderung dinamis, kita pun mampu untuk segera menyesuaikan diri dengan kebutuhan diri kita sendiri dan orang lain atas stok “orang baik” tadi. Mulailah kita membentuk karakter maya berdasarkan grafik permintaan “character searching” yang tinggi akan kebutuhan sosok “orang baik”. Generally, seseorang memiliki kempuan membentuk citra dirinya sendiri untuk dinilai oleh orang lain sesuai dengan keinginan dirinya.

Di dunia lesbian yang sangat marak dengan aksi gebet-menggebet secara maya, terutama bagi mereka yang tidak coming out, tentunya. Ketika melakukan aksi PDKT dengan perempuan lain, pastilah dia menampilkan segala yang baik-baik untuk menarik minat perempuan incarannya ini. Dari image yang coba ditampilkan dalam percakapan-percakapan pembuka perkenalan, kemudian berlanjut lewat gesture dan gaya bicara ketika sudah berlanjut ke tingkat kopdar, semua itu dapat disesuaikan dengan keinginan kita, ingin mendapatkan kesan yang bagaimanakah dari orang yang kita tuju. Semua begitu mudah untuk dibuat-buat sesuai dengan kebutuhan. Tinggal diatur saja.

Namun, sangat manusiawi juga rasanya ketika ‘keharusan’ untuk menampilkan bagian terbaik dari diri kita mulai terasa melelahkan, menjenuhkan dan membosankan ketika kita semakin menyadari bahwa semua orang yang sedang bersama kita saat ini hanya menginginkan dan menyukai semua unsur-unsur kebaikan yang telah kita bentuk dan ciptakan atas pencitraan diri kita selama ini. Selalu ada sisi lain dalam diri manusia yang juga ingin diterima sebagai satu paket utuh dirinya yang sejati, yang tidak melulu mengenai kebaikan-kebaikan. Setiap orang memiliki sisi gelap yang tersembunyi di sisi terdalam dirinya yang tak pernah ingin diketahui oleh orang lain, siapapun itu, karena mungkin saja jika orang lain mengetahui sisi dirinya yang lain, akan terjadi penolakan atas dirinya.

Jadi, kesimpulannya apa ya, dari tulisan yang ‘sok pintar’ ini...? Hmmm, mungkin, lebih baik sejak awal, ketika kita hendak berkenalan dengan orang lain, dengan atau tanpa motif-motif lainnya, jangan terlalu banyak menjaga image yang berlebihan. Sebab, ketulusan sikap yang cenderung natural merupakan cerminan pribadi kita yang sesungguhnya. Biarkan saja aura diri kita terpancar sebagaimana adanya, karena setiap orang tentunya terlahir dengan dianugerahi keunikan masing-masing oleh Sang Pencipta. Just be yourself.
Senin, Februari 07, 2011

panca indera dan rasa


PANCA INDERA, yaitu mata, hidung, telinga, lidah dan kulit. Ya, anak SD juga tahu kayaknya :p

Segala apa yang dirasakan oleh panca indera menandakan bahwa kita masih dalam keadaan sehat, dalam arti, kita masih memiliki RASA dan masih dapat meRASAkan apa yang teRASA dan dapat diRASA.

RASA adalah tanggapan hati terhadap sesuatu melalui panca indera kita. Jadi, RASA itu datangnya dari HATI, yang notabene bukan merupakan anggota dari si panca indera tadi. Dan, terkadang RASA ini seringkali diingkari oleh PIKIRAN yang lantas mengirimkan sinyal-sinyal kepada panca indera untuk mematikan RASA. Seperti misalnya menutup mata dan telinga untuk menghindari pandangan dan pendengaran kita dari hal-hal yang mengusik RASA.

Namun HATI, yang melahirkan RASA... dapatkah HATI mendustai RASA yang senantiasa mulai meresahkan PIKIRAN...? Entahlah, bukankah HATI itu sendiri adalah merupakan salah satu rahasia-NYA, dimana kita sebagai manusia hanya teranugerah untuk memilikinya, namun tak pernah mampu untuk menguasainya, apalagi mengendalikannya...



"You can close your eyes to the things you do not want to see, but you cannot close your heart to the things you do not want to feel..." ~ Unknown
Selasa, Januari 26, 2010

THERE’S NO SECOND CHANGE FOR FIRST IMPRESSION


Hmmm... sebuah catatan lama dari blog-ku terdahulu :


”Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya.... terserah Anda”

Kamu pasti masih ingat dengan petikan kalimat dari salah satu iklan deodorant ini, kan...? Ya, setiap orang pasti ingin memberikan kesan yang baik pada pertemuan pertama dengan orang lain yang baru ditemuinya, terlebih kalau orang tersebut dapat dikatakan istimewa; misalnya saja seseorang yang sudah kamu sukai atau kagumi selama ini, tetapi belum pernah bertemu secara langsung, atau seseorang yang terkait dengan urusan pekerjaan seperti klien atau relasi bisnis, bisa juga orangtua dari sahabat atau kekasih kamu, dan lain sebagainya. Perlu kamu ketahui, bahwa tidak ada kesempatan kedua untuk kesan pertama (there’s no second change for first impression). Jika kamu terlanjur memberikan kesan yang kurang, atau bahkan tidak menyenangkan pada awal pertemuan dengan seseorang, jangan harap untuk selanjutnya hubunganmu dengan orang tersebut bisa berjalan lancar atau mulus seperti yang kamu harapkan, kecuali dengan melalui perjuangan yang sangat ekstra, barangkali, namun itu pun juga tidak ada jaminan.

Sebenarnya, kesan pertama bisa kamu bentuk sendiri. Dalam ilmu komunikasi, hal ini disebut sebagai ”Proses Pengelolaan Kesan”. Alangkah baiknya kalau kamu mempunyai ciri khas tersendiri pada saat memperkenalkan diri untuk pertama kalinya dengan orang-orang baru, agar kelak saat memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dengan mereka, tidak akan memerlukan waktu yang cukup lama bagi mereka untuk mengingat-ingat siapa kamu, dimana pernah bertemu sebelumnya, atau pun kesan lainnya yang mungkin akan muncul di dalam benak mereka nantinya.

Aku teringat kembali dengan salah satu materi yang pernah dibahas pada saat aku masih duduk di bangku perkuliahan dulu, sayangnya aku ngga ingat kalimat ini dikutip dari buku yang mana, pastinya aku masih ingat teorinya, seperti ini;

”Kita sudah mengetahui orang lain menilai kita berdasarkan petunjuk-petunjuk yang kita berikan; dan dari penilaian itu mereka memperlakukan kita… Untuk itu, kita secara sengaja menampilkan diri kita (self-presentation) seperti yang kita kehendaki…”

Jadi, pada dasarnya self-presentation itu adalah sesuatu yang dapat kamu bentuk sendiri, sesuai dengan kehendakmu akan feedback seperti apa yang kamu harapkan dari orang lain terhadap dirimu. Memang, ini bukan hal yang mudah, perlu skill istimewa untuk bisa mempraktekannya, karena setiap orang pada umumnya akan merasa canggung pada saat pertama kali bertemu dengan orang lain yang baru dikenal. Jangankan untuk bisa mengatur sikap, untuk menatap saja rasanya sulit. Makanya, kamu perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut. Pertama, kamu tidak harus menunjukkan sikap atau perilaku yang sangat terkesan dibuat-buat, yang bukan mencerminkan kepribadianmu yang sesungguhnya, terlebih lagi kalau sangat jauh melenceng dari karakter dirimu yang sesungguhnya, bisa-bisa orang lain merasa mual atau bahkan muak dibuatnya, tampilkanlah dirimu senatural mungkin. Kedua, aturlah intonasi suaramu serta gaya bicaramu agar terdengar santun. Ketiga, tataplah mata lawan bicaramu sewajarnya, jangan berlebihan, apalagi terkesan acuh tak acuh, pastikan tatapan matamu memberikan kesan bahwa kamu menghargai lawan bicaramu. Keempat, perhatikan juga bahasa tubuhmu, kalau bisa sih dikendalikan agar tampak tenang dan bersahaja (wah, yang ini berat nih, aku aja suka grogi atau salting sendiri kalau berhadapan dengan orang-orang yang baru ketemu atau baru dikenal, malah sok ngajarin kayak gini...hihihi...tapi dengan catatan, harus punya self-control yang bagus untuk bisa menampilkan point terakhir ini secara maksimal). Kira-kira sih secara garis besarnya seperti itu, alangkah baiknya kalau kamu bisa kembangkan lagi. Selamat mencoba, ya... <seharusnya selesai disini>

Lain halnya kalau kamu ingin memberikan kesan pertama yang buruk, biasanya hal ini berlaku terutama bagi orang-orang yang dijodohkan secara paksa oleh orangtuanya, padahal hatinya tidak ikhlas, atau sudah memiliki tambatan hati yang lain. Plis deh, Siti Nurbaya banget. Tapi pastinya semaju apa pun peradaban, budaya ’perjodohan paksa’ ini masih saja ada yang menerapkan di bumi Indonesia tercinta ini, tak peduli dari suku bangsa atau etnis mana pun, tentunya dengan dilatarbelakangi oleh berbagai macam alasan yang sebenarnya kurang masuk akal, atau bahkan tidak masuk akal sama sekali, tetapi ’dipaksakan’ saja supaya masuk akal (lho...koq jadi muter-muter begini...?). Hmmm, sedikit ’masukan’ bagi kamu yang barangkali saja termasuk kategori yang terakhir ini. Pertama, tampilkanlah dirimu se-’dibuat-buat’ mungkin. Kedua, tunjukkan sisi terliar dirimu yang kamu yakin ≥ 100% saat kamu menampakkannya akan membuat mual atau muak siapa pun yang melihatnya. Ketiga, aturlah intonasi suara kamu dalam setting volume yang semaksimal mungkin disertai dengan gaya bicara a la ’Limp Bizkit’ atau ’Linkin Park’ style. Keempat, tataplah mata lawan bicaramu dengan melotot selebar mungkin, atau terpejam sama sekali, dan jangan setengah-setengah. Dan terakhir, last but not least, tidak perlu kamu kendalikan bahasa tubuhmu, biarkan saja tubuhmu bergerak sesukanya mengikuti irama gaya bicaramu yang a la ’Limp Bizkit’ atau ’Linkin Park’ style tadi. Dijamin, 500% s.d. 900% orang tersebut tidak akan mau dan tidak akan sudi untuk bertemu lagi denganmu di lain kesempatan, malah kalau bisa, hari itu juga, atau bahkan detik itu juga ’membantu’ kedua orangtuamu untuk menghubungi psikiater terdekat, atau bahkan yang lebih tinggi lagi tingkatannya dari ’sekedar’ psikiater. Hehehe...makanya, bacanya jangan serius-serius dong ah...!!!


~ Wil Twilite ~
Jumat, Januari 30, 2009

Hmm... Sherina...


Pagi ini, seperti biasa, menyaksikan acara music di SCTV – INBOX. Ada SHERINA nyanyi live disitu. Sherina, si anak kecil pemeran utama “Petualangan Sherina” yang sempet booming sekitar tahun 2001 (kalo ngga salah inget). Sebenernya sih, sejak pertama kali dia pernah muncul di salah satu acara infotainment beberapa waktu lalu, udah sempet mengamati her new performance yang beda banget sama sosok Sherina yang waktu masih kecil. Ngeliat penampilan dan gaya doi sekarang, kenapa keliatan kaya andro gitu yah… sempet iseng menduga-duga, apakah dia ‘itu’…? Abis gayanya cool model-model andro ke butchy sieh (*ngarep…?! mode on).




dasar L… ada yang ‘beda’ dikit aja maunya ‘nuduh’ dech…!!!
*peace buat de’ Sherina…