Minggu, September 02, 2018

Stay

Mungkin, aku harus mulai belajar mengikhlaskan bahwa semua sudah berlalu. Sekian lama waktu yang telah tercuri. Kehadiran orang lain setelahnya. Tentu semua tak lagi sama. Hati dan rasa seperti air, dapat berubah.

Meski kamu selalu di hati. Meski kamu tetaplah seseorang teristimewa. Aku pun harus memahami bahwa aku bukan lagi satu-satunya dalam hati dan ingatanmu. Tentang cinta yang selalu kujaga, tentang rasa yang tak pernah berubah, mungkin hanya sesuatu untuk ku simpan dalam diam.

Cinta ini begitu dalam hingga aku tersenyum dalam sakitnya. Hingga aku hanya ingin tinggal, meski hati ini rapuh dalam bimbang mu menakar diantara pekat dan cahaya.

Saat ini aku hanya ingin menggenggam kedua tanganmu. Menguatkan sekali lagi dalam rapuhmu. Meski aku sendiri melemah karena cinta ini yang sudah berubah warna.

Percayalah... kali ini ku akan tetap tinggal...

~ Wil Twilite ~
Minggu, Agustus 19, 2018

A Woman Who Reads

"Kamu suka membaca?"
"Nggak. Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Nanya aja."

Aku sulit untuk merasa tertarik dengan perempuan yang tidak suka membaca. Entah mengapa.

Dan aku bisa jatuh hati pada perempuan yang suka menulis, lewat untai aksara bersayapnya. Kalau suka menulis, sudah pasti ia suka membaca.

"A woman who reads are dangerous creature." Aku percaya itu. Dan wanita yang menantang tentunya jauh lebih menggairahkan. Bukan begitu...?

~ Wil Twilite ~

Selasa, April 17, 2018

Menjadi Baik



Ketika komunikasi hanya sebatas untai aksara yang menari, tanpa ekspresi lepas. Bagaimana zaman telah bergulir menggeser kedekatan menjadi jauh, dan tidak sebaliknya...?

Terkadang manusia memaksakan kehendak atas sesuatu. Mengungkapkan gulir paradoks yang tidak pada tempatnya. Entahlah. Mungkin akal sehat sudah terkontaminasi oleh polusi peradaban.

Aku hanya ingin menjadi baik, tanpa merusak tatanan. Dan aku tak berkenan untuk kau usik, pun sesiapa.

Bolehkah...?


~ Wil Twilite ~
Selasa, Maret 06, 2018

Ketika Pasangan Harus Menikah

Menikah. Sesuatu yang sangat ditakuti pagi pasangan L. Entah karena desakan orang tua atau alasan lainnya, begitu banyak hubungan L yang pada akhirnya kandas di tengah jalan karena salah satu, atau bahkan keduanya, harus dihadapkan pada kondisi ini, menikah.

Apa yang harus dilakukan? Kabur ke luar negeri demi mengejar kebahagiaan berdua? Boleh-boleh saja. Sebab hidup adalah pilihan. Namun, bagi saya pribadi yang masih hidup dalam keluarga yang menjunjung tinggi norma-norma ketimuran, dan tentu saja stay in the closet, sampai kapan pun ngga akan coming out sama keluarga, so I have a different persective.

Aku akan membiarkan pasanganku untuk menikah. Meski harus berdarah-darah, aku tidak akan menahannya untuk kumiliki sendiri, sementara ia ada keluarga yang sudah bersamanya semenjak jauh sebelum kami berjumpa. Alih-alih upaya untuk kembali kepada kodrat. Untuk menikah, dan meneruskan keturunan keluarganya, atau alasan lain apalah-apalah.

Katanya cinta, kenapa harus dilepaskan? Jangan salah. Ujian terbesar dalam cinta adalah melepaskan, bukan menahan kekasih untuk selalu jadi milikmu. Cinta itu masalah hati. Pernikahan itu mengikat secara hukum, tapi hati tetaplah milik yang dicinta. Pada dasarnya berpisah karena harus menikah atau berpisah karena alasan-alasan lainnya, sama saja. Ujian untuk melepaskan cinta. Maka bila ia memang takdirmu yang sejati, cinta memiliki sifat untuk selalu kembali.

Hubungan percintaan L itu tidaklah lebih atau kurang dengan hubungan percintaan hetero. Jika menyangkut hati dan perasaan, tak pernah mengenal jenis kelamin. Hetero pun bisa putus walau masih saling cinta, bisa karena orangtua tak restu atau alasan lainnya. Bahkan yang menikah pun bisa bercerai.

Intinya, tak ada yang salah dengan perpisahan. Sebab pada akhirnya selalu ada persimpangan di setiap langkah. Bukan tak mungkin ketika kita sudah sama-sama menikah, malah hubungan dengan sang mantan kekasih L bisa lebih syahdu nantinya. Kehilangan itu terkadang hanya masalah waktu untuk diberikan yang lebih baik. Aku percaya itu.

~ Wil Twilite ~

Sabtu, Februari 24, 2018

Senja

Senja meronakan wajah langit, seperti tersipu. Semilir angin, lambaikan pepohonan diantara pasir pantai dan debur ombak. 

Langkah yang telanjang, menyusur di sepanjang tepian laut yang menderu. Tatap yang kosong, jiwa yang hampa, hati yang beku. Tak ada tempat ku tuju. Hanya langkah gontai yang tersesat.

Kilas balik jejak-jejak usia bergulir di ingatan bagai tayangan dokumenter usang ditelan peradaban. Waktu terus melaju namun seolah jiwaku terhenti dalam pusarannya yang entah di belahan bumi bagian mana.

Terkatung-katung terus kubawa langkah ini ke depan. Meski tanpa arah. Meski tanpa tujuan. Akan ku pastikan langkah ini tetap beranjak meninggalkan jejak-jejak masa lalu.

Semoga di depan sana ada secercah cahaya menuntunku. Dan Rabb-ku, tak pernah meninggalkanku dalam kondisi paling hampa sekalipun. Aku percaya itu.

~ Wil Twilite ~
Sabtu, Februari 17, 2018

Tentang Kopi

Bagiku, kopi itu minuman yang sangat personal. Enggan kubagi dengan sesiapa. Mungkin, membagi sesapnya dengan bibirmu bisa jadi pengecualian...?

Berkenankah bila ku rayu...? Namun jangan dulu jatuh cinta padaku. Sebab hati ini tak setia. Pada waktu pun ia kerap berkhianat menelusuri jejak masa lalu. Padamu...? Entahlah... Entah nanti...

~ Wil Twilite ~
Rabu, Februari 07, 2018

Jembatan

Ketika pulau kita yang saling berseberangan tak memiliki
jembatan untuk dilalui, maka itu tak pernah menjadi masalah pada zaman yang memiliki mesin pemintal waktu.

Burung besi siap mengantar dengan sayapnya. A very short flight that doesn't worth the delay. That's why I always choose the number one flight to your city.

Aku enggan menunggu. Membiarkan waktu melambat perlahan dalam ketiadaan yang hampa. Setiap detik bagai menghitung kebersamaan 'tuk dikekalkan waktu.

Kamu menunggu. Di tempat yang sama. Aku datang kembali. Lagi dan lagi. Meski langkah sempat terhenti dalam keragu-raguan yang mengusik benak. Kemudian kamu kembali bacakan mantra sihir itu. Sekejap saja kelebat bayangmu menguasai sepenuhnya ruang di kepalaku.

~ Wil Twilite ~
Senin, Januari 29, 2018

Bukan Pandora

Aku menyukai perbincangan denganmu. Selalu membuka pemikiran, dan membuatku menatap masa depan dengan lebih jernih. Ada kekuatan dalam kata-katamu yang kerap menggetarkan akal dan nuraniku. Ada sentuhan lembut yang mampu menyelusup dalam ruang kalbu.

Kamu, yang menyentuhku lewat kata, suara, dan lewat caramu menatapku.

Ruang hati yang enggan disinggahi sesiapa. Tak pernah setelah kamu, melainkan hanya mondar-mandir di berandanya saja.

Pintu yang terkunci. Kamu menggenggamnya. Menyembunyikannya di lipatan hatimu. Dan aku membiarkannya.

Janji itu... penutup kisah yang sempurna... semoga belumlah terlambat untuk menyempurnakannya... sekali lagi langkah ini meluruh...

Selubung kesunyian memeluk diamku. Adakalanya bahasa tak memerlukan aksara maupun lisan yang percuma.

~ Wil Twilite ~

Darkness

Mind: You keep yourself in the dark room of your soul. You've drown to your own darkness.

Heart: Am I...?

~ Wil Twilite ~

Rabu, Agustus 02, 2017

Mataku, Telaga...

Katamu,
mataku adalah telaga jernih
yang hendak kau selami..

Namun kedalamannya
mampu menenggelamkanmu
dalam gelisah yang panjang..

Kadang kubiarkan airnya tenang
untuk kau renangi..
Kadang riaknya pun
mengusik relungmu..

Mengapa tak hendak kau berdiam
di telaga mataku?

Mengapa kau tak meyakinkanku sekali lagi,
seusai kau beranjak petang kemarin,
bahwa kau akan selalu kembali?

~ Wil Twilite ~