Minggu, Februari 03, 2013

Cermin

"Mirror mirror hanging on the wall,
you don't have to tell me
who's the biggest fool of all
mirror mirror I wish you could lie to me..."

~ Mirror Mirror by M2M ~

kepada cermin, kumohon...
berdustalah sekali ini saja, kepadaku...
katakan bahwa seraut wajah
yang sedang balas menatapku
adalah bukan pantulan...

melainkan,
ia sesosok manusia dari dimensi lain
yang hanya wujudnya saja menyerupai diriku,

...tapi bukan aku...


~ Wil Twilite ~

Selasa, Januari 29, 2013

Bersandar Pada Senja



Sewaktu bersandar pada senja,
kutebarkan jala dukaku ke lautan matamu...

Di sana, kesepianku membesar dan membakar
dalam marak api maha tinggi,
tangannya menggapai bagai orang lemas...

Kukirim isyarat merah ke arah matamu yang hampa,
yang menampar lembut seperti laut di pantai rumah api...

Kau jaga hanya kegelapan, perempuanku yang jauh
pantai ketakutan kadang-kadang muncul dari renunganmu...

Sewaktu bersandar pada senja, kucampakkan jala dukaku
ke laut yang mengocak lautan matamu...

Burung-burung malam mematuk pada bintang-bintang pertama
yang mengerdip seperti kalbuku ketika menyintaimu...

Malam menunggang kuda bayangan,
sambil menyelerakkan tangkai-tangkai gandum biru
di padang-padang...

Pablo Neruda (1904-1973)
Rabu, Desember 19, 2012

Angels

Anak mataku menatap kosong pada jiwa-jiwa yang punggungnya ditumbuhi sepasang sayap berbulu putih, dan sebagian ruhku mengikutinya berlalu dari hadapan....

~ Wil Twilite ~
Minggu, Desember 16, 2012

Sang Fotografer

Fotografer itu kerap membicarakan para modelnya. Perlahan, indera pendengaranku pun seumpama memiliki pemutar volume, yang mulai berputar ke arah kiri, dan semakin ke kiri.

Seorang "Guru" pernah berpetuah, "Bila anak matanya tak hanya ke arahmu, maka dia 'kan selalu haus akan keindahan lainnya... Lupakanlah..."

Kuamati fotografer itu sekali lagi. Berulangkali ia merasa tak puas dengan make-up, kostum, atau gaya salah seorang modelnya, katanya tak anggun, atau tak sesuai. Keceriaan di wajah Sang Model pun meredup.

Mengapa fotografer itu merasa blitz SLR-nya merupakan tolak ukur kecantikan wanita yang sejati, dan bukan melihat atraktifnya mata yang memancarkan kedalaman jiwa Sang Model...?

Ah, bodohnya aku. Wajar adanya bila demikian sudut pandangnya terhadap wanita (model). Dia fotografer, profesional perfeksionis.

Dan dia hanya melihat menggunakan sebelah matanya, melalui teropong yang sempit pula, yang tak lebih besar dari ukuran bola matanya sendiri.


#CoratCoret
Jumat, November 30, 2012

Mastyan Agustino; Remaja Transgender

Masti Agustina, terlahir 14 tahun lalu sebagai perempuan. Namun beranjak dewasa ada perubahan pada kelamin dan fisiknya, condong ke arah laki-laki. Perubahan itu membuat hati Masti resah. Dibantu orang tuanya, ia kemudian mengajukan permohonan perubahan status jenis kelamin ke Pengadilan Negeri (PN) Kendal dari perempuan menjadi laki-laki. Permohonan itu akhirnya dikabulkan. Dan kini nama Masti Agustina berubah menjadi Mastyan Agustino.

Tian, begitu kini ia disapa. Sejak kecil sudah merasa berat menjalani peran sebagai perempuan yang harus mengenakan rok dan pita rambut, ia rasanya enggan. Usai pemeriksaan di RSU Kariadi Semarang, akhirnya ia bisa bernafas lega. Hasil pemeriksaan menunjukkan hormon dan kromosom dirinya dominan laki-laki.

Atas dasar itulah orangtuanya memberanikan diri untuk mengajukan pergantian status jenis kelamin anak sulungnya. Pada 11 September lalu, PN Kendal mengadakan persidangan untuk pergantian status jenis kelamin yang dimohonkannya. "Dalam pertimbangan kami, berdasarkan keterangan saksi-saksi beserta para ahli menunjukkan bahwa kromosom pemohon lebih banyak kelaki-lakian. Itulah yang menjadi dasar kami mengabulkan permohonan status jenis kelamin dia dari perempuan menjadi laki-laki", tegas Didik Budi Utomo, hakim tunggal yang memimpin persidangan. Selain mengabulkan permohonan, hakim juga meminta kepada catatan sipil setempat untuk mengubah segala dokumen yang menunjukkan Tian dari perempuan menjadi laki-laki dengan perubahan nama barunya.

Sejak lahir 25 Agustus 1998, bidan yang membantu proses persalinan ibunda Tian mengatakan bahwa alat vital Tian tidak sama persis dengan bayi perempuan pada umumnya. "Ada bagian yang seperti burung, tetapi kecil", tutur ibunda Tian. Namun karena bidan meyakinkan kalau Tian adalah perempuan, maka ia dibesarkan selazimnya anak perempuan dengan pakaian dan dandanan perempuan. Ibunda Tian merasa janggal ketika Tian mulai mengenal mainan, ia lebih memilih dan menyukai mainan anak laki-laki, dan lebih suka bermain dengan anak laki-laki.

Tian mengakui bahwa sejak SD, ia sudah merasa tidak nyaman ketika harus memakai rok ke sekolah. Setibanya di rumah, ia langsung berganti kaos dan celana saja, dan merasa lebih nyaman. Mulanya ibunda Tian menganggap tabiat anaknya masih dalam batas wajar. Tian cuma tomboi saja. Namun semakin hari ia resah karena sikap Tian semakin jauh dari perempuan pada umumnya. Saat kelas 6 SD, suaranya membesar, payudara tidak mekar atau menonjol, dan tak kunjung mengalami menstruasi. Tian dibawa ke bidan. Sekali lagi bidan meyakinkan tidak ada masalah, katanya Tian hanya terlambat mengalami itu semua.

Setamat SD, orangtua Tian memutuskan memasukkan ke pesantren dengan harapan Tian akan berkurang sikap tomboi-nya dengan tinggal di asrama. Ternyata berbagai masalah justru muncul saat Tian menginjak kelas IX. Salah satunya adalah menyukai perempuan. Diam-diam Tian pun berpacaran dengan perempuan yang juga siswi sekolah itu. Mereka biasa nge-date di taman atau di kamar mandi sekolah, dan akhirnya ketahuan. Tian sendiri tidak begitu merasa bersalah sebab menurut kata hatinya dirinya adalah laki-laki. Katanya ketika melihat perempuan atau tanpa sengaja mengintip perempuan sensasinya justru lain dan lebih hebat.

"Karena status saya juga perempuan waktu itu, mungkin saya dikira lesbian. Dan sekolah nggak bisa mengampuni hal itu", kata Tian. Pacaran sesama perempuan di pondok pesantren tentu dianggap terlalu kelewatan. Ia pun kena skors 2 bulan. Namun ia kecewa karena hanya dia yang kena skors, sedangkan perempuan pacarnya itu tidak. Rasanya tidak adil.

Walau kecewa, Tian tetap mengucap syukur sebab kejadian ini berbuah hikmah juga. Orangtuanya jadi terdorong untuk memeriksakan kondisi kejiwaan maupun fisiknya ke dokter yang akhirnya menyatakan dirinya sebagai seorang laki-laki. Tian bersyukur memiliki orangtua yang lapang dada menerima kondisinya sebagai seorang transgender. Apalagi mau berjuang mengajukan pergantian status kelamin ke pengadilan dan berhasil. Di lingkungan tinggalnya, kini banyak orang sudah mengerti kebenaran tentang dirinya, bahkan menerimanya dengan baik. Padahal sebelumnya Tian sempat depresi dan mengurung diri, karena tidak percaya diri untuk bergaul dengan orang lain.

Kini Tian sudah bisa meneruskan studinya yang sempat terbengkalai. Memupuk kembali harapannya yang sempat pupus karena sempat ditolak oleh sebuah sekolah yang notabene direkomendasikan oleh Dinas Pendidikan Kendal. Teman-teman di sekolahnya yang sekarang pun baik, tidak seperti di sekolahnya dulu, banyak yang mengejek.

Tian sadar kalau dirinya adalah transgender. Kondisi yang tidak gampang dipahami orang lain. Ia tahu istilah transgender dari seorang aktivis perempuan, teman ayahnya yang menjadi pendamping serta tempat curhatnya. Tian memahami, masih banyak pihak yang "enggan" memahami "kelainan" orang-orang transgender semacam dirinya. "Ada yang bilang saya menyalahkan kodrat Tuhan. Padahal saya ini ingin membenarkan kodrat Tuhan, kalau saya adalah laki-laki. Mereka tidak mengerti susahnya jadi seorang transgender", ujarnya.

Kini, ada satu harapan Tian yang belum kesampaian yaitu melakukan operasi kelamin untuk menyempurnakan kondisi fisiknya. Ia mengatakan, testis masih berada di dalam perut. Kalau tidak secepatnya diambil bisa menjadi kanker. Namun biaya operasi yang diperlukan berkisar 80 jutaan, terlalu berat bagi keluarganya yang biasa-biasa saja.

Menurut dr. Ketut Lila Murti, SpA, Tian pada dasarnya mengalami kasus transgender, yakni keadaan dimana seseorang memiliki jenis kelamin yang tidak spesifik laki-laki atau perempuan. Jenis kelamin seperti ini - sejalan pertumbuhan anak - akan berkembang sesuai hormon yang paling dominan di tubuh anak. Jika yang dominan itu hormon laki-laki maka kelamin itu akan berkembang menjadi kelamin pria. Sebaliknya jika yang dominan hormon perempuan, maka kelamin itu akan berkembang menjadi kelamin perempuan.

Menurut Ketut, Tian nantinya bisa menjalankan fungsi seksualnya sebagai laki-laki dewasa dengan catatan organ genitalia itu lengkap, misalnya mampu ereksi, ada testis, testis mampu memproduksi sel sperma berkualitas.

Artikel & Gambar: Majalah Kartini edisi November 2012

---------------------------

Sungguh salut pada kasih sayang, penerimaan dan perjuangan kedua orangtua Tian ketika mendapati anak mereka seorang transgender. Tian hanya salah satu dari kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) yang ada di Indonesia. Semoga Tian segera dapat melangsungkan operasi untuk menyempurnakan kelaki-lakian dirinya.

Dari kisah ini mungkin kita dapat lebih membuka mata, bahwa LGBT bukanlah sesuatu hal yang dengan sengaja diinginkan oleh yang bersangkutan, namun merupakan naluri alamiah yang diberikan oleh Sang Pencipta. Tidaklah mudah menerima keadaan diri yang berhasrat dan jatuh cinta pada sesama jenis, seberapa keras pun kita mencoba ingkari dengan menjalin hubungan dengan lawan jenis.

Namun, hidup selalu tentang pilihan. Semua kembali pada pribadi masing-masing. Sebagian kaum LGBT ada yang mampu mengendalikan dorongan naluri alamiahnya, sebagian lagi tidak. Serta faktor eksternal (keluarga/lingkungan) tentunya juga dapat mempengaruhi jalan hidup yang kita pilih. Stay in the closet or coming out, it's up to you. Jadilah pribadi yang senantiasa bertanggung jawab atas jalan hidup yang kita pilih. Walau terlahir sebagai LGBT, kita masih umatNya, seorang anak, bagian dari suatu perusahaan dan masyarakat. Mari tetap dekatkan diri kepadaNya, jadi anak yang berbakti, dan terus berprestasi. Kita ada diantara masyarakat. Biarkan mereka melihat kita sebagai "pribadi", dan LGBT cukuplah untuk diri kita, kalangan sendiri, dan orang-orang yang kita percayai. Penerimaan biarlah menjadi proses alamiah.

Just my personal noted,
Wil Twilite


Senin, September 24, 2012

# Perbincangan Malam


Malam semakin larut. Diamlah... Diam, dan duduklah mendekat padaku. Temaniku melihat malam. Malam dengan segala kemegahan yang tersembunyi, berselubung jubah tidur hitam para peri langit. Tak kasat oleh mata mereka yang hanya silau oleh cahaya, terbiasa oleh kicauan burung pagi dan rumput teki yang mati terik.

Dengar dengan jelas, suara jangkrik pemalu y
ang belajar menyanyi, tarian katak periang penjaga kerlip bintang biru, dan bunga-bunga bakung itu... tahukah kau bila mereka pandai bercerita...? tentang dongeng-dongeng tua kolam gelagah, kisah bermulanya negeri para peri yang membangun jalan dari untaian gemintang. Tiap bintang menyimpan kisahnya sendiri. Bertanyalah pada mereka, tak usah malu. Mereka akan bercerita lewat kerlipnya.


Ada
pula Tuan Laba-laba yang biasa kusapa "Si Penyulam". Memang agak sedikit dingin dan pendiam, bila turun hujan ia berubah sedikit murung. Sebenarnya ia tak sedingin itu, bila pekerjaan menyulamnya tak terlampau banyak, ia 'kan turun menghias panggung malam dengan jelaga warna pelangi. Oooh.. ia tak sambil bersenandung tentunya. Ia bahkan tak pernah bersuara selama menyulam, menisik dan merekat. Dalam hening, ia berkarya.

A
ku selalu menyukai malam. Menikmatinya dalam diam. Kutunggu hingga bulan beranjak dari duduknya, berjingkat dengan sepatu berlumpurnya ‘tuk bangunkan mentari. Mereka silih berganti menjaga hari.

Selamat malam, Semesta... dan tak ada yang namanya kehilangan, orang-orang datang dan pergi silih berganti, layaknya bulan dan mentari itu.


~ Wil Twilite ~
inspiring by Adik June... ^^
Senin, September 10, 2012

Merangkum Makna


Senja temaram.
Mencoba 'tuk tidak limbung melangkah
sambil menguraikan makna yang bias,
seperti pudar perlahan cahya mentari.

Tatkala hati mulai merangkum makna kehadiran yang sesungguhnya,
aku pun menutup pintu pikiran,
kubiarkan semua mengalir dan bermuara,
cukup di hati saja...

Kali ini 'kan kubenamkan 1000 tanya yang menghimpit di dada.
Biarlah hampa.
Sejenak ku ingin bebaskan gejolak rasa dengan memberi 1000 sayap.

Menarilah dengan indah, dan kepakkan sayapmu.
Sejenak ku 'kan menepi.
Memandangi kilaumu dari satu sudut tersembunyi.

Jendela yang terbuka, dan pemandangan kilas balik.
Aku dalam balutan waktu yang menyerupai kanvas bertekstur kasar.

Untai aksaramu kini sudah tak lagi mampu menyentuh ke dasar kalbuku.
Sebab kuhalau dengan tirai yang menembus batas.

Dan,
dimanakah tempat 'tuk menimbun asa hampa nan kian memasir...?
Mungkin, di gurun.


~ Wil Twilite ~
Kamis, Agustus 23, 2012

Inception. Is it possible...?


Saito: He sold you out. Failed the company and bargained for his life. So I offer you the satisfaction.

Dom Cobb: It's not the way I deal with things.
What do you want from us...?

Saito: Inception. Is it possible...?

Arthur: Of course not.

Saito: If you can steal an idea from someones mind, why can't you plant one there instead...?

Arthur: Okay, here's me planting an idea in your head. I say to you, don't think about elephants. What are you thinking about...?

Saito: Elephants.

Arthur: Right, but it's not your idea because you know I gave it to you. The subjects mind can always trace the genesis of the idea. True inspiration is impossible to fake.

Dom Cobb: That's not true.

Saito: Can you do it...?

Dom Cobb: Are you offering me a choice...? Cause I can find my own way to square things with Cobalt.

Saito: Then you do have a choice.

Dom Cobb: Then I choose to leave, Sir.


Inception #2
Senin, Agustus 13, 2012

My Evolution

Jika aku tak berkisah tentang rindu, bukan sebab ku tak merindu. Aku pun benci rasa ini, gema dinding hati, yang tak henti menggaungkan namamu.

Jika dulu masih sanggup ku menampiknya, kini ku tak kuasa. Hatiku 'tlah tertawan oleh rasa yang serta merta melemahkanku sedemikian hebatnya. Ku hanya sanggup berkisah padaNya, tentangmu, dalam syahdu kesunyian.

Ku tak hendak menodai cinta ini. Tatkala ku tersadar, hatiku kini hanya bergetar pada sentuhmu. Sementara jiwaku menginginkanmu penuh seluruh. Batinku pun bergolak.

Kuberanikan diri menyeru kepadamu, "Ku ingin terus bersamamu". Namun katamu ini salah. Lalu apa yang benar ketika kurasa lelah menyandang jubah amphibiku...? *sigh*

Bukan karenamu, jika kuingin menapaki satu jalan saja. Telah lama kupahami bahwa kelak langkah ini harus memilih. Sebab aku bukanlah pelakon drama.

Semakin lama jubah ini kian terasa menghimpit batinku. Namun bukanlah disebabkan egoku semata. Bukankah seseorang juga layak atas kebahagiaan yang lain...?

Kau tau, bukanlah atribut yang melekat padamu yang membuatku jatuh hati dan ingin mengikutimu. Melainkan siksaan batinku menjalani peran ganda. This is my internal problem. When I realize more and more, day by day that I'm exactly not into man.

Tidakkah kisahku ‘tlah jelas bertutur, pada suatu masa memang ada jalan yang terpaksa kuambil disebabkan suatu alasan...? Tidakkah pula kau tau sesudahnya...? ‘Tlah kuungkap semua tanpa menutupi, kepadamu...

Seiring waktu, aku semakin memahami diriku. Jubah amphibi ini tak lagi terasa nyaman ‘tuk kukenakan. Pergantian musim yang silih berganti ‘tlah evolusikan aku mewujud kedalam satu saja rupa.

Aku tiada putus menemuiNya di setiap malam-malam sunyi. Tak ingin jika ini hanyalah dorongan nafsu dunia semata. Semakin hari ku semakin tersiksa dalam jubah persembunyianku.

Kelak jubah ini ‘kan kutanggalkan. Ku percaya segala rencanaNya ‘kan bermuara pada kebaikan, dan kelak semua akan indah pada waktunya. Bukankah jodoh adalah rahasiaNya...? Dan di sini, evolusiku tengah berproses.

Jika ini memang takdirku terlahir berbeda, maka kuyakin Ia ‘kan tunjukkan jalan ‘tuk kulalui, dalam kondisi ini ku ingin tetap menuju ridhoNya... Insya Allah...

Rabb... Jadikan hamba senantiasa tiada berputus dari kerinduan akan rahmatMu, baik di dunia fana hingga kelak di hari perjumpaan denganMu... Amiiin...



August the 13th, 2012
Wil Twilite
Jumat, Agustus 10, 2012

Gradasi Rasa


Cinta itu sederhana,
yang merumitkannya adalah rasa,
menggeliat-geliat dalam dada,
tak terhitung jumlahnya...

Rasa yang merumitkan cinta,
milik manusia...

Rasa bergradasi,
torehkan warna-warni di atas langit cinta
seyogyanya indah bagai hias pelangi,
tak membias pucat pasi dalam warna kelabu...


~ Wil Twilite ~