Selasa, November 22, 2016

Detak Sunyi

sunyi berdetak pada jam dinding
sementara irama degup jantung
hanyalah kesunyian lain yang lebih liar


~ Wil Twilite ~
Senin, November 07, 2016

Alhamdulillah for Everything

Kisah bergulir dituliskan pena waktu, di atas kanvas kehidupan, sarat misteri, segala dugaan hanyalah menyentuh kemungkinan-kemungkinan saja.

Perjumpaan hanyalah isyarat akan adanya perpisahan di kemudian waktu. Maka senantiasa jadikan setiap detik dalam kebersamaan itu bermakna. Jalani dengan sepenuh hati.

Kebahagiaan, sejatinya hanya dapat dirasakan oleh jiwa-jiwa yang menjalani segala ketentuanNya dengan tulus, ikhlas, tanpa prasangka kepadaNya.

Percayalah, bahwa baik dan buruk sejatinya telah dituliskan dengan indah olehNya, sebelum nafas ditiupkan dan kelahiran kita dianugerahkanNya.

Aku bersyukur atas segala rahmat dan hidayahMu, Yaa Rabb.. senantiasa dalam lindunganMu di setiap langkah yang kutapaki.. Alhamdulillah..

~ Wil Twilite ~
Rabu, November 02, 2016

Pertautan takdir

Jalan hidup setiap insan telah terjalin rapi pada garis takdir masing-masing. Kadang takdir antara seseorang dengan yang lain saling bertautan.

Aku bahagia telah berpapasan takdir denganmu, yang melahirkan sebuah pembelajaran baru tentang suatu hal yang baru kupahami setelah aku mengenalmu.

Tentang cinta yang masih muda, membalut hati dalam ketertarikan yang terasa begitu asing pada mulanya, merasuki celah lain labirin pemikiranku.

Hadirmu meronakan jiwa yang tertidur pulas dalam buaian waktu, seusai reda hujan di musim yang telah terlewati. Kamu serupa pergantian musim yang paling ditunggu dari empat musim yang pernah ada.

Spring.


~ Wil Twilite ~
Senin, Oktober 31, 2016

kerling dan kerlip

Setiap kali kerling mata bertemu kerlip bintang,
terasa ada chemistry yang mengikat,
seolah keduanya pernah bersama,
tahunan cahaya silam...


~ Wil Twilite ~
one lonely star
Kamis, Oktober 27, 2016

Larik keheningan

So, if you're too tired to speak, sit next to me, because I am fluent in silence...

Tak perlu berkata-kata. Cukuplah duduk disampingku. Pun kita tak perlu saling menerka apapun di benak masing-masing. Bolehkah kugenggam jemari lentikmu, tuk sekedar mengalirkan desir di dadaku, yang semakin bergemuruh tersengat gelombang feromon tubuhmu.

Kekasih, diantara milyaran detik yang 'tlah kita bagi, dalam tiap perbincangan penuh makna, ada kalanya syahdu kesunyian memainkan larik-larik keheningan dalam iramanya sendiri.

Tetaplah menjadi dirimu, sebab usia hanyalah angka-angka. Sejatinya, kitalah yang memberi makna dalam hubungan ini.


~ Wil Twilite ~
Minggu, Oktober 16, 2016

malam ini...

Malam ini,
cintaku menyamar sebagai ingatan
yang merasuki otakmu
hingga partikel terkecil,

sehingga tiada celah tersisa untuk sesiapa,
selain aku...


~ Wil Twilite ~
Sabtu, Oktober 15, 2016

long distance

Dear Spring,

I exist in two places,
HERE, and
WHERE YOU ARE...

~ Margaret Atwood
Minggu, Oktober 09, 2016

Komitmen

Ada banyak faktor yang membuat seseorang enggan, belum mau, atau bahkan tidak ingin membuat komitmen dengan seseorang yang sedang dekat dengannya.

Menurutku, jika istilah "komitmen" itu terdengar atau terasa begitu berat dan seriusnya, dengan berbagai konsekuensi serta resiko yang menyertainya, mungkin kita bisa menggantinya dengan istilah "aturan main".

Begini. Fine, jika dia menyatakan belum siap atau apapun alasannya, untuk berkomitmen, tapi kalian berdua sudah menjalani hubungan selayaknya orang yang sedang berpacaran, seperti saling memberi greeting setiap pagi, mengingatkan tiap waktu makan tiba, ngobrol berjam-jam di telepon atau setiap kali bertemu secara langsung, menikmati setiap sentuhan yang terjadi, hingga mengucapkan selamat tidur setiap malam, dan masing-masing sama-sama tidak sedang dekat dengan perempuan lain.

Friend Zone semacam ini sangat rentan bahkan di dunia hetero seksual sekalipun, apalagi di dunia L. Karena wanita, sejatinya membutuhkan kejelasan dan kepastian. Jika tidak ingin hal itu disebut komitmen, tetap perlu ada "aturan main" yang jelas. Dibicarakan dari hati ke hati, memastikan bahwa dasar hubungan ini adalah perasaan saling membutuhkan. Aturan main di sini sebenarnya demi untuk menjaga apa yang telah terbina, ketika komitmen dianggap merupakan suatu tahapan yang lebih tinggi dan terkesan serius.

Padahal, menurutku, apa sih beratnya komitmen, ketika kita satu sama lain telah saling memahami situasi dan kondisi yang ada, dan bisa menerima segalanya? ada begitu banyak kisah percintaan L, di dunia timur maupun barat, dalam berbagai usia, tak peduli mereka ABG yang masih mencari jati diri, mereka yang usia 20's, 30's bahkan 40's yang memiliki hubungan berlandaskan komitmen, sudah bertahun-tahun menjalin hubungan bahkan sudah tinggal bersama, adopsi anak, dll. Toh masih bisa kandas di tengah jalan.

So, kenapa harus takut dengan komitmen? Takut mengikat, terikat, dan diikat? Apakah komitmen itu mutlak akan mengikat hubungan percintaan sampai mati? Jangankan untuk kalangan homoseksual, komitmen dalam pernikahan heteroseksual pun, yang sudah dilindungi dan diatur oleh undang-undang, masih bisa bercerai.

Mari kita sama-sama renungkan lebih dalam hakikat komitmen ini, secara personal kepada diri kita masing-masing. Sejauh mana hubungan kita dengan someone special memerlukan yang namanya komitmen?

~ Wil Twilite ~
Senin, September 19, 2016

My Comfort Zone

Comfort zone adalah senyaman-nyamannya tempat untuk menetap selama yang kita inginkan. Namun akhir-akhir ini, atau bahkan mungkin sudah sejak entah kapan, banyak kita dengar istilah "keluar dari comfort zone".

Mengapa banyak orang justru berharap dirinya mampu untuk keluar dari comfort zone, dan atau "memotivasi" orang lain untuk keluar dari comfort zone. Why?

Bila sudah berada di tempat yang begitu nyaman, biasanya orang akan merasa enggan untuk beranjak. Paradoks sekali, comfort zone ini. Orang mencari kenyamanan, dan ketika sudah menemukan dan berada di zona nyaman itu, malah ingin meninggalkannya.

Hal atau situasi yang membuat nyaman semestinya tidak untuk membuat kita beranjak kemana-mana lagi. Sebab tak mudah untuk mendapatkan kenyamanan itu. Sebagian orang meraihnya lewat berbagai upaya dan usaha, sebagian lagi karena takdir.

Seorang teman berpendapat bahwa untuk tinggal dan menetap di zona nyaman mungkin terasa aman dan menenteramkan, tapi tidak akan membuat kita berkembang. Istilahnya, bagai katak dalam tempurung. Ruang gerak begitu terbatas.

Itulah sebabnya aku merenungkan kembali tentang comfort zone ini. Apakah aku harus mulai mengubah sudut pandangku tentang kehidupan yang kujalani?

Temanku kembali menanggapi, bahwa menurutnya, aku tak perlu mengubah apapun, cukup memperluas area comfort zone yang saat ini kumiliki, untuk meraih tujuan hidupku. Atau jika tidak bisa demikian, baiknya keluar saja dari comfort zone.

Adalah merupakan pilihan, untuk tetap berada dalam comfort zone, atau beranjak meninggalkannya. Namun bila memutuskan untuk beranjak, harus jelas kemana kaki akan melangkah kemudian, dan tentunya dengan alasan yang sangat kuat. Tidak hanya sekedar pergi dan berlalu begitu saja, tanpa tujuan yang pasti.

~ Wil Twilite ~


Minggu, September 04, 2016

Kebersamaan



Perjalanan waktu menyisakan kesan, bagai aftertaste secangkir kopi yang kita bagi, seusai kita melewati malam-malam penuh bintang. Kamu, di denyut nadiku.

Ketika usia tak lagi menjadi penghalang bagi kita untuk dapat saling memahami. Kamu, perempuan muda yang menerima keterbukaan yang kuajarkan padamu sejak awal perkenalan kita.

Sejauh ini, aku bersyukur 'tlah menemukan, dan memilikimu di hidupku. Kita berjalan beriringan, saling menggenggam erat jemari. Jarak bukanlah penghalang bagi tiap perjumpaan syahdu kita.

Tetap jadilah dirimu sendiri, dan sampaikan dengan lugas apapun yang kamu rasakan, inginkan, hingga yang membuatmu merasa tidak nyaman denganku.

~ Wil Twilite ~