Jumat, Juli 31, 2020

Demam Drama Korea (DraKor)

Semenjak diterapkannya work from home (WFH) oleh kantor di masa pandemi ini, aku jadi demam nonton drama korea lagi setelah sekian lamanya.


Ya, dulu sekitar tahun 2004, aku pernah ada masanya seneng banget nonton drakor. Pertama kali jatuh cinta sama artis cantik Song Hye Kyo di film Full House, terus lanjut nonton filmnya dia juga, Autumn In My Heart yang tiap episodenya menguras air mata tiada tara. Drakor berkesan lainnya pada masa itu Sassy Girl Chun Hyang, tapi aku ngga ikutan ngefans sama artisnya. Song Hye Kyo is the best lah pokoknya.


Seiring waktu bergulir dan aku mulai semakin disibukkan oleh begitu banyak hal seperti urusan keluarga, pekerjaan, pertemanan, dan urusan-urusan lainnya, maka boro-boro ada waktu untuk nonton serial yang panjangnya rata-rata 16 episode per judul. Sepupuku padahal selalu ngasih aku drakor setiap kali dia anggap ada yang bagus, bahkan aku selalu dikasih flashdisk yang isinya drakor-drakor pilihan dia, yang ternyata sudah ada puluhan banyaknya, namun tak satu pun sempat untuk kutonton. Hingga kini, akhirnya aku kembali merambah hobi nonton drakor.


Pilihan pertamaku jatuh pada film Crash Landing On You (CLOY) yang lagi happening di awal tahun 2020 ini. Aku pun langsung jatuh cinta pada tokoh Yoon Se Ri yang diperankan oleh Son Ye Jin. Jalan ceritanya pun menarik dan bisa dibilang cukup baru alias ngga pasaran. First lead male nya pun Hyun Bin yang tergolong kategori cowok banget kalau dibandingkan dengan aktor-aktor Korea yang mostly sweet or pretty boys. Intinya, aku jatuh cinta sama film ini dan kemudian mulai melirik judul-judul lainnya untuk mengisi waktu di sela-sela WFH.



Anyway, kenapa aku jadi nonton CLOY pada awalnya juga karena partner ikutan maksa-maksa aku nonton. Doi juga mulai nonton drakor saat WFH. Disamping itu anak-anak kami saat ini sudah beranjak remaja, jadinya suka deh sama korea-koreaan gitu. Demam korea pun tak terelakkan lagi melanda kami dan anak-anak gadis di rumah.


Setelah menonton beberapa film, selanjutnya yang bikin saya jatuh cinta adalah Hotel Del Luna. Drakor yang satu ini juga mengangkat tema yang ngga umum, dan menampilkan sisi gelap tokoh utamanya, yang saya suka banget, Jang Man Wol yang diperankan oleh Lee Ji Eun (IU). Saya pun kemudian jatuh cinta sama IU karena selain aktingnya bagus, dia juga cantik dan bersuara merdu. Dia juga penyanyi yang lagunya udah banyak. Aku pun jadi mendengarkan beberapa lagunya, tapi ngga banyak yang aku suka karena genre nya lebih ke abege. Beberapa lagu ballads nya bagus sih.


Kembali ke laptop, aku juga menonton film-film Song Hye Kyo pastinya. Setelah Full House yang produksi tahun 2003, udah jadul banget, aku nonton Encounter produksi tahun 2019. Sungguh takjub tiada tara melihat Song Hye Kyo yang ngga berubah dan tak menua sedikit pun di film itu. Amazing! Gimana bisa wajahnya bak di formalin begitu, coba? Ckckck!! Selanjutnya semua film Song Hye Kyo pun aku tonton.



Ada satu artis cantik lagi yang memanah hatiku.. eeeaaakkk bahasanya!! Jun Ji Hyun. Setelah nonton Legend of the Blue Sea dan My Love From The Star, aku pun klepek-klepek sama mommy yang satu ini karena seksinya ngga ketulungan banget, cantik pulak. Iya, dia udah menikah dan punya dua anak tapi body masih aja seksi bak perawan. No wonder juga sih secara dia artis dan kabarnya suaminya tajir melintir jugak. Ya udah lah yaa...


Sementara sekian dulu tema drakor kali ini. Next, kalau aku ada mood, aku akan nulis lagi.


~ Wil Twilite ~

Selasa, Juni 23, 2020

Generasi Sandwich

Belakangan ini sering muncul istilahnya "perempuan generasi sandwich", apa sih maksudnya? Mungkin tulisan dari Cosmopolitan ini bisa memberi pencerahan. 

 

Konsep dan Definisi

Istilah sandwich generation pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy Miller dan Elaine Brody di 1981 yang awalnya istilah itu merujuk pada kaum wanita di umur 30-an sampai 40-an yang selain harus merawat anak-anak mereka juga masih harus memenuhi kebutuhan orangtua mereka, bos, teman-teman, dan orang lain di sekitar mereka.

Namun, pada perkembangannya fenomena ini tak hanya dirasakan oleh kaum wanita saja, tapi juga lelaki dan cakupannya pun meluas, mulai dari umur 20-an sampai 60-an. Demografinya mungkin berubah, namun secara konsep istilah ini masih sama, yaitu generasi yang “terjebak” di tengah dan harus menyokong generasi di atas dan di bawahnya yang masih harus bergantung pada bantuan mereka.

Carol Abaya, seorang ahli di isu demografi Amerika Serikat lantas mengategorikan beberapa skenario berbeda yang mungkin dialami generasi sandwich saat ini, yaitu:

Traditional Sandwich Generation: Mereka yang berada di tengah orangtua yang menua dan butuh bantuan dan anak-anak mereka yang masih diasuh dan belum bisa mandiri.

Club Sandwich: Mereka yang berumur 40, 50, dan 60-an yang berada di tengah orangtua mereka yang di usia senja, anak-anak yang sudah dewasa, dan cucu mereka. Namun istilah ini juga bisa dipakai untuk orang berusia 20, 30, 40-an yang bertanggungjawab untuk anak-anak mereka, orangtua, dan kakek-nenek mereka. Intinya istilah ini dipakai bila lapisan generasi yang terlibat lebih bertingkat.

Open-faced Sandwich: Siapapun yang ikut terlibat dalam mengurus orang lanjut usia.


Tantangan Generasi Sandwich

Menjadi bagian dari Generasi Sandwich seringkali kita dihadapkan pada tekanan finansial karena memang pendapatan habis dipakai untuk membiayai banyak orang, mulai dari orangtua yang sudah pensiun dan mungkin mulai sakit-sakitan, anak yang butuh biaya sekolah, dan tentu saja kebutuhan untuk diri sendiri dan pasangan (kalau ada) yang juga harus diperhatikan dan dipenuhi.

Selain masalah ekonomi, Generasi Sandwich juga dihadapkan pada masalah menjaga kesehatan diri sendiri secara fisik dan mental, menikmati waktu personal, dan perkembangan karier yang mungkin terhambat karena harus berkorban secara waktu, contohnya memutuskan resign dari kantor untuk mengurus usaha keluarga atau kerja di rumah agar bisa punya waktu merawat orangtua maupun anak.

Walaupun hal ini dialami baik oleh pria dan wanita, namun pada praktiknya ada perbedaan dari bagaimana masyarakat memandang fungsi keduanya. Kaum pria dianggap sudah bertanggungjawab bila mampu memenuhi kebutuhan ekonomi saja, namun bagi kaum wanita ada tekanan lebih bahwa mereka juga diharapkan untuk membantu secara emosional dan fisik. Ibaratnya, pria cukup menyisihkan gaji mereka namun bagi wanita selain mencari nafkah, mereka juga diharapkan mengerjakan pekerjaan rumah, mengasuh anak dan orangtua, hingga urusan dapur.

Merawat orangtua sekaligus mengasuh anak jelas bukan pekerjaan mudah dan menguras waktu, emosi, dan ekonomi. Ketika semua hal itu seolah tak ada habisnya dan rasanya selalu saja ada masalah baru dan pengeluaran yang harus dibayar hingga kamu tak sempat bersantai atau melakukan hal yang kamu suka, hal ini bisa berakibat negatif pada kesehatan mental dan fisikmu. Depresi, stres, dan kecemasan adalah momok yang menghantui Generasi Sandwich. Perasaan terisolasi, terjebak, tak punya tempat bercerita, dan perasaan bersalah pun sering menimpa Generasi Sandwich yang meskipun sudah berusaha keras namun merasa gagal dan belum bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga mereka.


Faktor Pendorong Generasi Sandwich

Meskipun istilah Generasi Sandwich berasal dari Barat, namun faktanya hal ini bukan asing bagi penduduk di belahan dunia lainnya, termasuk Indonesia. Di Indonesia, Generasi Sandwich justru menjadi hal yang lumrah karena berbagai faktor, seperti:

1. Kultur Kekeluargaan

Indonesia masih menganut paham kekeluargaan yang kental di mana seorang anak yang sudah bekerja seakan wajib membalas budi orangtua dengan membiayai mereka di hari tua. Mayoritas dari kita tentu merasa itu hal yang sudah sewajarnya karena tidak sebanding dengan pengorbanan yang telah dilakukan oleh orangtua ketika membesarkan kita. Walaupun berat, namun hal ini harus dilakukan dengan ikhlas. Kita pun mungkin mengharapkan hal yang sama dari anak kita kelak, namun sebetulnya hal ini bisa menjadi lingkaran setan yang tak putus dan hanya akan memberatkan generasi-generasi berikutnya.

Takut dicap durhaka juga membuat banyak orang Indonesia enggan memilih opsi panti jompo untuk orangtua lanjut usia. Hasil Survei Ekonomi Nasional 2017 yang dilansir Katadata (April 2018) mengungkap sebanyak 62.64% kaum lanjut usia di Indonesia tinggal bersama anak dan cucunya. Selain beban ekonomi, seringkali tinggal bersama dengan orangtua juga menyebabkan ketidakharmonisan antara mertua versus menantu yang menambah beban pikiran.

2. Perencanaan Finansial yang Kurang

Minimnya pengetahuan tentang perencanaan keuangan baik untuk masa kini dan masa depan menjadi alasan kenapa banyak generasi di atas kita yang di hari tua hanya menggantungkan nasib pada anaknya. Alih-alih menyiapkan tabungan pensiun, anak justru dianggap menjadi investasi masa tua paling ampuh. Begitu pun dengan obrolan soal finansial yang kerap dianggap tak perlu diketahui oleh anak. Anak cukup fokus memikirkan sekolah yang benar tanpa harus memikirkan soal ekonomi orangtuanya. Anggapan tersebut walaupun berlandaskan rasa cinta, namun dapat membuat anak tak siap dan peka bila kelak masalah ekonomi datang menimpa. Padahal lebih baik, anak-anak terutama yang sudah masuk usia remaja ikut dilibatkan dalam obrolan finansial dan diberi pemahaman soal mengatur uang. Ups, jangan lupa juga bercermin ke diri sendiri, apakah kita saat ini sudah mulai memikirkan rencana masa tua kita atau belum? Apakah kita cenderung hidup untuk hari ini atau bahkan terbiasa berutang?

3. Tuntutan Sosial

Selamat kamu sudah lulus kuliah dan berhasil mendapat pekerjaan dan penghasilan yang tetap. Berarti sekarang tinggal fokus mencari pasangan dan menikah dong? Kemungkinan besar kamu pasti pernah mendapat komentar seperti itu baik, baik dari saudara, teman, atau bahkan orangtua sendiri yang ingin kamu segera berkeluarga. Celetukan seperti itu memang bikin gemas ya? Di satu sisi terdengar polos dan tak punya maksud buruk, tapi di sisi lain bisa terasa begitu usil dan menjengkelkan. Masih banyak lho, orangtua yang berharap atau bahkan mendorong anaknya segera menikah tanpa melihat kondisi finansial sang anak. Bila dipaksakan, hal ini cuma akan menjadi beban pikiran di masa mendatang, terutama ketika buah hati telah datang.


Siasat Menjadi Generasi Sandwich

Memutus siklus Generasi Sandwich tampaknya memang harus dilakukan secara sadar dari kita sendiri dan mulai hari ini. Semua yang pernah atau sedang berada di kondisi ini punya cara masing-masing untuk mengakalinya, dari mulai mencari penghasilan tambahan sampai menunda menikah dan punya anak. Namun rasanya kita semua setuju kalau yang paling utama adalah menambah wawasan soal finansial.

Bagi kita yang masih di usia produktif, menyiapkan dana pensiun adalah hal yang mutlak. Selain itu, sempatkan juga waktu untuk mempelajari berbagai opsi investasi dan asuransi yang mungkin kita butuhkan baik untuk diri sendiri maupun untuk orangtua dan anak kita kelak. Tidak ada kata terlambat untuk mulai menabung, lho. Kebiasaan menyisihkan gaji untuk tabungan dan membuat bujet finansial yang jelas setiap bulan akan membantu kita menghadapi hal-hal tak terduga, mulai dari kebutuhan rumah, hingga biaya sakit dan mungkin pemakaman.

Yang penting juga adalah membangun mindset bahwa kelak kita harus bisa bertanggungjawab untuk diri sendiri dan tidak bergantung pada anak. Tanamkan pola pikir untuk mengizinkan anak-anak kita nanti menikmati kesuksesan mereka di masa mendatang dan fokus mengurus diri serta keluarga mereka nantinya.

Untuk orangtua kita yang terlanjur bergantung pada bantuan kita, yang bisa kita lakukan adalah coba membantu dengan seikhlasnya, meski kadang tak mudah. Namun, bukan berarti kita tak boleh bicara jujur tentang kondisi finansial dan beban pikiran yang kita rasakan. Berikan pemahaman yang baik tentang kesanggupan kita. Bila kita punya saudara kandung, kita pun bisa berdiskusi membagi tanggung jawab dan pengeluaran dalam membantu orangtua. Begitu juga bila orangtua termasuk yang suka mendorong kita cepat menikah atau punya anak, sampaikan dengan jelas bahwa prioritas kita saat ini mungkin belum di situ.

Nah, bagaimana untuk yang sudah punya anak atau adik yang masih harus dibiayai? Sebagai orangtua, kita mungkin harus siap memberikan edukasi keuangan kepada sang buah hati, terutama bila mereka sudah masuk usia sekolah atau remaja. Mulai dari kebiasaan menabung hingga mencari uang jajan sendiri, Cosmo percaya generasi penerus kita punya potensi dan kreativitas untuk mandiri secara finansial lebih dari generasi sebelum mereka,


Beberapa tips lain yang juga bisa diperhatikan adalah:

1. Hadapi Stres dengan Tepat

Merupakan hal wajar bila kita merasa burn out dan stres bila dihadapkan dengan maslaah atau pengeluaran yang seakan tak ada habisnya, baik di tempat kerja maupun di rumah. Seperti kata RuPaul, kalau kamu tak bisa mencintai diri sendiri, bagaimana kamu bisa mencintai orang lain? Well, salah satu kunci utama adalah jangan lupa peduli dengan diri sendiri sebelum membantu orang lain. Bila kamu merasa keteteran, beberapa hal yang bisa kamu coba adalah membuat daftar prioritas pekerjaan yang harus dilakukan dan pengeluaran yang harus dibayar, tidur yang cukup, jangan lupa olahraga, dan sisihkan waktu baik untuk personal time atau bersosialiasi dengan teman dan orang lain.

2. Jangan Merasa Bersalah

Jangan merasa bersalah bila kamu merasa butuh keluar rumah untuk sekadar bertemu teman atau menghabiskan waktu sendirian. Hal ini penting agar kamu tetap bisa fresh dan punya energi positif saat kembali ke rumah. Semua orang pun punya batasan masing-masing, merasa kurang maksimal menolong keluargamu adalah hal yang normal, namun jangan biarkan rasa bersalah itu menggerogotimu dari dalam. Kamu berhak untuk hal itu.

3. Komunikasikan Secara Terbuka

Bila orangtua termasuk punya dana pensiun dan tabungan pribadi, coba ajak komunikasi dan diskusi dengan terbuka. Bila semua orang tahu kondisi finansial masing-masing, kita bisa lebih mudah membuat rencana finansial untuk orangtua kita sendiri, khususnya tabungan pengobatan dan bahkan dana untuk pemakaman. Bukan maksudnya mendoakan orangtua cepat meninggal, namun lebih baik sedia payung sebelum hujan kan? Belum lagi karena beberapa adat pemakaman di Indonesia menelan biaya yang tak sedikit. Namun, meskipun misalnya kita diberi tanggung jawab untuk mengatur keuangan orangtua, kita tetap harus ingat bahwa itu adalah uang hasil keringat mereka sendiri dan semua keputusan harusnya sesuai persetujuan atau pendapat dari mereka.


Source Generasi Sandwich

 

Jumat, April 24, 2020

Stay at Home or Dance with Us




Setelah sebulan work from home (WFH), yang awalnya ngga begitu mudah untuk "dinikmati" karena penambahan kasus positif setiap harinya yang semakin mengkhawatirkan, hingga berita-berita kematian yang lebih banyak dari biasanya, sekarang sudah mulai bisa untuk "dinikmati" secara cooling down.


Adanya trending akhir-akhir ini yang membuat tersenyum diantara sliwerannya pemberitaan, yaitu Coffin Dance Meme. Video dari sekelompok pengusung jenazah mengenakan setelan outfit warna hitam yang mana personilnya juga berkulit hitam, sungguh merupakan suatu hiburan tersendiri, deh. 


Ternyata ini merupakan tradisi pemakaman dari negara Ghana, dimana proses pemakaman dengan menari diiringi lagu semacam itu memang benar-benar dilakukan, bahkan menjadi suatu tradisi yang diyakini dengan prosesi yang demikian, orang yang meninggal akan ikut merasakan bahagia di alam sana. Hmm...


So, during this pandemic, just stay at home or dance with us. Ini emang pas banget ya gaes, supaya orang-orang tuh mikir deh kalau mau keluar rumah untuk hal-hal yang ngga penting. Ngga mau kan jadi bagian dari pasiennya si coffin dance ini? 😷



Yakin masih mau keluar rumah untuk hangout...? Ada yang nungguin tuh di depan pagar, lho... 😈


~ Wil Twilite ~

Sabtu, April 04, 2020

Perjumpaan Singkat di Bandara

Tanggal 18 Februari 2020, akhirnya kebersamaan yang semestinya kita habiskan dua hari satu malam, dipersingkat menjadi beberapa jam saja, dan itu pun di bandara.


Takdir memang lucu. Manusia boleh berencana, akhirnya Allah yang menentukan. Tiba-tiba saja aku harus menghadiri acara penting dari kantor pada tanggal itu, menggantikan bos yang berhalangan. Dengan kesal, kamu pun langsung membatalkan hotel dan meminta stafmu untuk reschedule penerbangan menjadi sehari sebelum kepulangan yang direncanakan sebelumnya. Aku pun mencoba menyesuaikan flight schedule supaya masih mungkin untuk berpapasan denganmu di bandara, setidaknya kita masih sempat meluangkan waktu untuk makan siang bersama kemudian ngopi-ngopi. Dan akhirnya berhasil. Namun betapa sulit membujukmu untuk menyetujui hal itu. Aku sempat frustasi.


Senang rasanya ketika akhirnya kamu setuju untuk berjumpa di bandara. Kita habiskan waktu yang sangat berharga, hari itu. Manis terasa. Ternyata setelah hari itu, sulit bagi kita untuk berjumpa kembali. Momen itu menjadi kunjungan terakhirmu ke Jakarta, dan aku ke sebuah kota di Sumatera, yang ditugaskan oleh kantor kita masing-masing. Setelah itu pandemi hadir mengubah banyak hal. Tak terkecuali perjumpaan kita yang satu sampai dua kali sebulan, menjadi entah beberapa bulan ke depan kita harus didera rindu yang pilu.


Syukurlah saat itu kita mengambil banyak foto untuk dikenang. Setidaknya, komunikasi pun tetap terjalin manis. Memang ujian akan selalu ada selama kita bernafas, bukan? Ujian bagi hubungan kita pun rasanya tak pernah usai, tak hanya karena jarak yang membentang maupun karena keterbatasan yang sama-sama kita miliki satu sama lain, kini ditambah pandemi.


Semoga kita 'kan mampu melewati ini semua. Semoga kita beserta keluarga masing-masing senantiasa dilimpahkan nikmat sehat oleh Allah SWT. Amin.


~ Wil Twilite ~

Minggu, Februari 02, 2020

Mengerti Kamu

Butuh beberapa lama untuk mengerti kamu, pada isi di dalam ruang, pada spasi di dalam jarak, pada rindu yang berserak. ~Sapardi


Tidakkah waktu semakin mengajarkan kepada kita tentang semuanya? Perjumpaan dan perpisahan yang terus berulang, pertengkaran dari yang kecil hingga yang dapat dikatakan besar, kemudian hanya pemahamanlah yang menguraikan semuanya. Sejauh mana kita bisa untuk saling mengerti dan memahami segala alasan di balaik segala tindakan maupun peristiwa yang di luar kehendak kita.


Setelah ini, tak singkat waktu yang kubutuhkan untuk mengerti kamu. Pun tak singkat bagimu 'tuk hal yang sama. Kini usia kita pun beranjak, kuharap kau mengerti bahwa ku ingin hadirmu tetap mengisi hari-hari, seusai terbit mentari hingga terbenamnya, setiap hari.


~ Wil Twilite ~

Jumat, Oktober 05, 2018

DIA


Ibuku uring-uringan terus setiap malam minggu tiba. Bosan aku terus ditanya soal pacar. Kedua kakak perempuanku selalu diapelin sama pacar-pacarnya setiap malam minggu, sedangkan aku tidak pernah. Memang apa salahnya, ya? Ibu selalu bertanya, "Galih, mana pacarmu? Kenalin ke Ibu, suruh main ke rumah". Selalu begitu setiap malam minggu tiba. Huh! Bosan aku!

Ibu hanya tidak tahu. Sebenarnya aku sudah naksir dia sejak kelas 1 SMU sampai sekarang. Dia adalah teman sekelasku. Ya, sudah tiga tahun duduk di bangku SMU dan kami selalu sekelas. Bahkan kelas 3 ini aku sangat beruntung, dia duduk di bangku depanku. Jadi setiap saat aku bisa memandangi wajahnya dengan leluasa, kami sering pula terlibat dalam diskusi kelompok beberapa mata pelajaran apabila guru membagi kelompok berdasarkan kedekatan tempat duduk.

Tak seorang pun aku ceritakan  tentang perasaanku pada dia. Cukup aku saja yang tahu. Dia pun tak pernah tahu, bahkan aku yakin terpikir pun tidak dalam benaknya bahwa aku diam-diam menyukainya. Ya, aku seyakin itu. Meski aku sering merasa cemburu setiap kali dia didekati oleh anak laki-laki. Ya, dia memang banyak yang naksir. Cantik, pintar, santun, the best lah pokoknya.

Tibalah hari valentine, dimana teman-teman biasanya sibuk ingin menyatakan perasaan pada orang yang disukainya, baik secara terang-terangan maupun secara rahasia. Tiba-tiba terlintas dalam benakku untuk menyatakan perasaan ini kepada dia. Ya, sudah kelas 3 dan sebentar lagi kami akan memasuki masa kelulusan. Mengapa aku tidak mencoba mengutarakan perasaan ini? Ya, mengapa?

Sudah dua jam aku mengamati secarik kartu valentine yang diam-diam kubeli di toko stationary tadi sepulang sekolah, tergeletak di atas meja belajarku. Isinya masih kosong. Aku mondar-mandir dengan perasaan tak menentu, bingung mau menuliskan apa disana. Ah, kok susah ya? Sudah bertambah dua jam kemudian, namun belum juga aku menemukan kata-kata. Akhirnya aku diamkan saja hingga hari beranjak malam. Menjelang tidur, akhirnya kuambil pena dan mulai menulis.. "Dear you, happy valentine's day.. I just want you to know that I admire you since the first time.. -G".

Esok harinya aku datang paling pagi di kelas. Kuamati belum ada siapa-siapa. Langsung kuselipkan kartu itu di kolong meja dia. Lalu aku buru-buru keluar kelas menuju kantin. Hingga bel masuk berdering baru aku masuk ke kelas. Kulihat dia sedang memegang kartu dariku. Oh My God! Dadaku berdegup sangat kencang. Kurasakan wajahku seperti panas, aku takut bila wajahku menjadi merona merah. Duh! Aku tidak pernah menyangka sekedar melihat dia membacanya saja bisa menimbulkan dampak sedahsyat ini. Kuperhatikan ekspresi wajahnya nampak bingung, mungkin dia sedang menerka siapa si pemberi kartu misterius itu? Ah! Entahlah. Tiba-tiba aku panik, merasa bodoh dan menyesal kenapa harus aku tulis inisial segala. Duh! Bodohnya aku! Bagaimana kalau nanti dia curiga?

Jantungku mau copot. Sepulang sekolah, tiba-tiba dia menepuk pundakku saat berjalan keluar kelas. "Galih. Selain kamu, rasanya inisial G di angkatan kita ngga banyak deh. Kalau yang laki-laki tuh siapa aja ya?". Dug! Rasanya wajahku bagai dihantam sarung tinju. Dengan pura-pura bodoh aku malah bertanya, "Wah. Harus lihat daftar nama siswa dulu. Emang kenapa?". Dia tersenyum, dan menunjukkan kartu itu ke wajahku. Aaaarrrggghhh!!! Kurasakan mukaku memanas dan aku tak sanggup lagi berkata. Dia seperti heran dengan ekspresi anehku yang menjadi norak seketika, dan bilang, "Kamu kenapa, sih? Kok lebay gitu reaksinya? Aku cuma nanya, siapa aja cowok di angkatan kita yang inisial G? Jadi aku bisa menduga-duga siapa diantara mereka yang kirim kartu ini".

Ya benar juga sih. Tak seharusnya aku sepanik itu. Dia ngga mungkin menduga bahwa inisial G itu adalah aku, kan? Fokusnya adalah cowok-cowok. Titik.


~ Wil Twilite ~
Rabu, Oktober 03, 2018

Jika Perlu Alasan Mencinta

Mengamati bahasa tubuh dan caramu bertutur pada setiap moment yang kita habiskan, dalam kebersamaan yang privat maupun ketika kita tengah berada diantara orang-orang yang kita kenal. Aku selalu memperhatikan dengan seksama, kamu.

Dan semakin bertambah kekagumanku seiring semakin matangnya pribadimu. Cara bicara dan sikapmu yang semakin anggun. Ah, mengapa aku semakin jatuh cinta kepadamu?

"Kamu terlalu berlebihan memujiku", ujarmu.

Tidak. Bukan seperti itu. Aku hanya menyampaikan seperti apa kamu dimataku. Itulah sebabnya aku tidak pernah ingin berpaling darimu. Dan tidak akan pernah bisa.

"Jadi itu alasan kamu cinta sama aku?", tanyamu.

Perempuan kesayangan, cinta tak pernah memerlukan alasan apapun. Namun barangkali bisa dikatakan demikian, jika perlu alasan mencinta.

~ Wil Twilite ~
Kamis, September 20, 2018

Dekat

Kedekatan itu tak dapat dipaksakan. Bila Allah berkehendak untuk mendekatkan dua hati, maka rintangan apapun akan luruh. Sebaliknya, sekuat apapun daya dan upaya dua hati ingin saling mendekat, bila bukan itu takdirnya, maka akan sulit untuk menyatu. Wallahualam.

Ilmu ikhlas-MU sungguh berat, Yaa Rabb. Sekali lagi hamba berusaha untuk lulus ujianmu tentang hati. Maka semoga Engkau perkenankan hamba untuk lulus. Amin.

Rasa ini sungguh seperti air. Mudah sekali ia berubah mengikuti ruang tak menentu. Kadang terbawa arus, kadang melawan arus. Kadang aku hanya ingin mengalir saja.

Lepaskan aku dari himpitan rasa ini, Yaa Rabb. Adakalanya aku tak sanggup menjalani sakitnya yang sesakkan dada ini, berulang kali. Dan lelah pula didera hawa nafsu yang memburu. Kadang begitu sulitnya untuk kujinakkan.

Jika sayang, maka akan abadi. Jika nafsu sesaat, maka waktu akan menciptakan jaraknya sendiri. Bukankah demikian?

Dan semua ini bagai misteri yang masih tersembunyi di lipatan takdirku dan takdirnya. Aku percaya, Engkau telah tuliskan kisah yang terindah untuk kami. Aku percaya kelak semua ini memiliki makna tersembunyi yang teramat manis. Insya Allah.

Wil Twilite
~diantara lantun tadarus menjelang adzan isya'
Jumat, September 07, 2018

Minyak Goreng Diskon

Teringat salah satu kunjunganku ke kota sang mantan. Saat itu dia sibuk mengajakku untuk buru-buru menuju bandara, padahal penerbanganku masih lama. Flight terakhir.

"Ini masih siang banget, lho. Mau ngapain kita di bandara seharian?", tanyaku.

"Di Superindo arah bandara itu sedang ada promo minyak goreng. Aku mau mampir dulu beli itu". Jawabnya santai.

"Hah? Harus banget hari ini, gitu?", tanyaku heran.

Sejenak ia diam tak menjawab. Kulihat rona wajahnya memerah. "Aku tuh dari dulu pengen banget belanja di supermarket ditemani kamu. Tapi kan setiap kamu ke kotaku, kita selalu punya agenda lain. Kali ini aku ingin merasakannya, belanja sambil ditemani kamu, mau kan nemenin aku?".

Sejenak aku speechless. Ya ampun dia masih memikirkan hal ini yang dulu sering aku candain ke dia sebelum kami menjadi mantan. Ingatanku pun memanggil memori itu. "Kapan-kapan aku mau kok nemenin kamu belanja bulanan". Ujarku saat itu. "Yakin kamu ngga akan bosan? Mau pegangin trolinya buat aku?", tanyanya saat itu. "Jangankan troli. Kamunya aku pegangin sampai selesai juga aku mau kok".

Aku menghela nafas. Kenangan itu tak hanya sekedar membuatku tertegun, namun diam-diam aku merindu kebersamaan kami yang dulu. Ah, betapa aku merindunya sebagai kekasih hati.

"Wil, kita udah sampai. Kamu kelamaan deh bengongnya. Apa ngga rela ya nemenin aku beli minyak goreng?", suaranya buyarkan lamunanku.

"Oh.. udah sampai, ya? Ayo..", aku langsung membuka pintu mobil, kemudian berjalan mengikuti langkahnya.

Dia baru saja mengulurkan tangan hendak mengambil troli, namun aku sudah mendahuluinya. Ia kaget dan bertanya, "Kamu mau beli juga?".

Aku tersenyum. Tangan kiriku memegang gagang troli, tangan kananku memberinya isyarat untuk langsung memasuki area pertokoan. Ia tersenyum simpul dan memahami apa yang kumaksud, seraya berjalan memunggungiku. Aku pun segera mensejajarkan langkahku dan berbisik manis di telinganya, "Aku pernah janji temani kamu, dan bawakan troli selama kamu belanja. Dan hari ini aku ingin tuntaskan janji itu". Ia hanya melirik sekilas dengan senyuman yang tak dapat kutuliskan dalam untai aksara. Lalu kami tenggelam dalam rak-rak yang menyajikan berbagai kebutuhan rumah tangga itu.

Seandainya setiap janji yang masih tertunda, menemui masanya dalam lorong waktu untuk diwujudkan. Bolehkah?

~ Wil Twilite ~
Minggu, September 02, 2018

Stay

Mungkin, aku harus mulai belajar mengikhlaskan bahwa semua sudah berlalu. Sekian lama waktu yang telah tercuri. Kehadiran orang lain setelahnya. Tentu semua tak lagi sama. Hati dan rasa seperti air, dapat berubah.

Meski kamu selalu di hati. Meski kamu tetaplah seseorang teristimewa. Aku pun harus memahami bahwa aku bukan lagi satu-satunya dalam hati dan ingatanmu. Tentang cinta yang selalu kujaga, tentang rasa yang tak pernah berubah, mungkin hanya sesuatu untuk ku simpan dalam diam.

Cinta ini begitu dalam hingga aku tersenyum dalam sakitnya. Hingga aku hanya ingin tinggal, meski hati ini rapuh dalam bimbang mu menakar diantara pekat dan cahaya.

Saat ini aku hanya ingin menggenggam kedua tanganmu. Menguatkan sekali lagi dalam rapuhmu. Meski aku sendiri melemah karena cinta ini yang sudah berubah warna.

Percayalah... kali ini ku akan tetap tinggal...

~ Wil Twilite ~